Geavandra

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 13 June 2017

Embun membasahi rerumputan segar halaman rumahku. aura sejuk membelai lembut kulit, bersama dengan hembusan angin. aku menatap sedih pada alam itu, suara decitan pintu kamarku berbunyi, adikku menghampiriku.

“kakak!”. gadis kecil 5 tahun itu menarik bajuku.
“eh amel, ada apa?”. aku memegang pundaknya.
“kakak disuruh mama bersiap ke sekolah, cepat ya!”. ia berlari ke luar kamarku.
Kesedihanku semakin membuncah, aku benci sekolah. semua temanku tau jika aku cuma anak pungut di keluarga kaya, mereka selalu menghinaku, batinku sangat tersiksa.

Setibanya di sekolah, aku duduk di bangkuku. menguatkan hatiku yang rapuh, tak ada yang menyapaku.
“geavandra!”. vania menegurku.
“iya?”.
“maaf ya, aku mau pindah bangku di sebelah anis. karena visha sudah pindah sekolah, jadi kamu duduk sendiri ya!”.
Aku mengangguk pasrah, tidak ada yang suka padaku. aku kesepian, dan juga hampa. tapi tuhan mengerti perasaanku, ia mengutus seorang murid baru di kelasku. ia seorang laki laki, dan ia menyapaku saat aku di kursi taman.

“hai, gue fahri. loe geavandra kan?”. laki laki itu tersenyum ramah padaku.
“kamu menyapaku?”. aku terkejut, tak ada yang mau menyapaku karena merasa jijik padaku.
“kenapa, kamu nggak suka?”. ia menaikan alis kirinya.
“bukan, tapi. aku tidak pernah disapa oleh temanku”. ungkapku, dan ia menertawakanku.
“ah masa sih, jangan ngawur masa temanmu sombong sama orang secantik kamu”.
“tapi ini kenyataannya, dan alasannya karena aku hanyalah anak pungut”.
“cuma karena itu?, hal itu bukanlah alasan untuk berteman kan?”.
Aku menggelengkan kepala, aku juga tidak mengerti dengan sikap mereka. rasa perih di hatiku mulai kambuh, air mata mengalir tanpa dipinta.
“inilah hidupku, fahri. lebih baik kamu menjauh dariku, daripada kamu nanti dicibir orang. aku ini menjijikan, bahkan tidak tau siapa orangtuaku”. aku terisak, ia memandang iba padaku.
“aku berteman denganmu bukan karena itu, tapi karena kamu yang kuat menghadapi cobaan”. ucapnya halus.
“jangan kasihani. aku nggak mau kamu dibenci orang karena aku”.
“sudahlah, aku tidak peduli apa kata orang. seharusnya mereka tidak seperti itu, keterlaluan!”. kebencian tampak di wajahnya.
“jangan membelaku, aku tak pantas dibela fahri!”. ucapku dengan nada tertekan. lalu meninggalkannya, aku tidak ingin dibela. seharusnya aku tidak mengungkapkan jati diriku padanya, aku takut ia memarahi temanku. akulah yang salah, aku takut mereka tambah membenciku.

Aku melewati mobil yang terparkir di taman. tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan mereka yang ingin menculik adikku, amel. aku segera berlari mencari taksi menuju rumahku. di halaman rumah, amel bermain ditemani bibi iyem. mama dan papa pergi keluar kota untuk menghadiri pesta kerabat kerjanya. aku menghampiri bi iyem yang duduk memperhatikan amel.
“sudah pulang nduk?”. tanyanya dengan logat jawa.
“iya bi, tadi gea tidak sengaja mendengar pembicaraan orang. mereka mau menculik amel atas perintah seseorang”. ucapku panik.
“astagfirullah, nduk. siapa orang itu, bi iyem takut nduk!”. bi iyem sangat khawatir.
“bibi jangan khawatir, jadikan gea aja sebagai sasaran mereka ya!”. aku menenangkannya.
“tapi bagaimana denganmu nduk, bi iyem takut kamu mati di tangan mereka nduk.. oalah nduk.. nduk”. bi iyem menangis.
“tak apa bi, kan gea cuma anak pungut. amel itu anak kandung bi, dan dia masih kecil”.
“tapi kamu tetap anak mereka nduk, kalau nyonya datang. bibi mau bilang apa nduk”.
“bilang kalau gea mau nginap di rumah teman beberapa hari ya”.

Sekelompok pencuri itu datang. bi iyem membawa amel masuk ke rumah, mereka menatap tajam padaku.
“kamu siapa?”. tanyanya tegas.
“lha, kalian yang siapa?. aku amel anak pemilik rumah ini, mau apa kalian”. jawabku tegas padanya.
“halah, jangan banyak bicara gadis manis”. mereka membiusku, dan membawaku ke mobil.

Aku terbangun dari tidurku, melihat sekitarku yang usang dan berantakan.
“mau ke mana kamu gadis manis”. seorang pria menghampiriku, lalu menyuruh anak buahnya untuk mengikatku.
“mau apa kalian, mau mati hah!”. bentakku.
“kamu yang mati, jika orangtuamu tidak membayar kami. kau akan mati haha”. ia tertawa sangat seram.
“bos, majikan kita datang”. teriak anak buahnya.
“bagus”. ia melirik licik padaku.

Seorang pria tua menghampiriku, ia menjongkok menatapku sambil mengisap rok*k cerutu. ia tersenyum senang menatapku, wajahnya menyeramkan dan terkesan licik.
“kenapa kau mau menangkapku!”. tanyaku padanya.
“karena kamu itu sumber duit bagiku”. ia tersenyum sumringah.
“bagimu?, heh. tapi kau salah. aku adalah malapetaka buatmu!”. ucapku licik padanya.
“hahaha.. kamu itu memang cerdas. ayah kau punya perusahan besar, pasti banyak duit!!”. bentak pria sinting itu yang mata duitan.
“tak malu kah kau menimba uang haram”.
Ia tersentak kaget lalu mengangkat daguku.
“jika itu tidak merugikan, aku tak malu. tapi aku suka jadi orang kaya, walaupun uang haram. mengerti!!”. teriaknya padaku.
“heh, mau seperti apa pun usahamu kau takan berhasil, pak tua botak!”. aku semakin sinis padanya, ia terlalu berharap.
Pria tua itu menatapku. ia tertawa kecil, lalu menghela nafas.
“sudahlah jangan banyak omong. percuma”.
“ini tidak percuma, malahan aku sangat senang. bisa menipu penculik bodoh”.
“apa, peculik bodoh!!”. teriaknya keras, liur menyembur ke wajahku.
“bisakah jangan berteriak, liurmu itu menjijikan pak tua botak”. desisku.
“diamlah kau, atau kubuat kau menangis”. ancamnya.
“lakukan!”.
Pria itu hendak menamparku.

“hentikan pak!”. teriak seseorang yang kukenal suaranya.
“fahri, dari mana aja kau. liat ini sumber duit kita, kau bisa dapatkan apa yang kau mau nanti”. pria tua itu menghampiri lelaki muda yang merupakan temanku, fahri.
“tapi bukan begini caranya pak, dia temanku. dan aku tidak mau bapak mencari uang dengan cara ini, uang haram hasilnya”. ucap fahri, tapi telapak tangan melayang menamparnya.
“kau tak pernah menghargaiku yang menghidupimu dengan cara ini jika tidak begini kau akan mati kelaparan!”. teriak pria tua itu yang merupakan bapaknya fahri.
“tapi bukan begini caranya pak!!”. teriak fahri tak kalah sengit.
“mau cara apa hah, pergi kau. jangan atur pekerjaanku!”. ia memarahi fahri, fahri menatap sedih padaku, lalu pergi keluar ruang gersang ini.

“fahri!”. teriaku padanya, ia menoleh padaku.
“apa!”. jawabnya.
“jangan khawatirkan aku, aku baik baik saja”. ucapku. ia tersenyum dan mengangguk, wajahnya tanpak sedih.

Hari mulai gelap, tidak ada cahaya penerangan di tempatku berada. semua gelap kelam seperti sedang buta, aku meringkuk merindukan keluarga ku dirumah. apakah papa dan mama akan percaya pada bi iyem tentang kebohonganku. sebuah remang cahaya kecil terlihat dari kejauhan, semakin mendekat padaku. entah apa yang akan dilakukan penculik itu di tempatku disekap. perlahan wajah itu kupandangi, tanpak wajah fahri yang bersinar dari cahaya lentera.
“fahri?”. gumamku, ia menutup mulutku. lalu tangannya sibuk membuka ikatan tali yang menjeratku.
“ayo pergi!”. ia menarik tanganku menerobos kegelapan malam yang mencekam. tak ada yang menyadari kepergian kami, semua sedang tertidur pulas.
“kita ke mana?”. tanyaku padanya.
“ke tempat yang sangat jauh dari sini. kalau tidak mereka akan berusaha menculikmu lagi, aku tau watak mereka”.

Kami berada entah di mana, dan akhirnya kami duduk di tepi danau.
“fahri”. panggilku. ia menoleh padaku.
“apakah kamu tidak merasa bersalah telah menentang papamu?”.
“jika dia salah kenapa kita harus merasa bersalah, apa yang dia lakukan ini tidak baik. sudah tugas kita menjauhkan orangtua kita dari dosa kan?”. ia tersenyum, aku menatapnya yang begitu dewasa dan baik.

Pagi telah tiba, kami menyusuri gang kecil. sengaja tidak melewati jalan raya, karena takut ditangkap penculik itu. dari kejauhan terlihat seorang pria berlari tergesa gesa sambil memegang tas wanita.
“copeeet!”. teriak wanita muda.
“itu copet ri, kita kejar yuk. kasihan ibu itu”. aku berlari mengejar copet itu. fahri menarik tanganku mencoba mencegahku ia menggelengkan kepala.
“tapi kasihan!”. desisku kesal.
“tapi kalau kamu ditangkap bapakku gimana?”.
“tak apa ri, aku bisa jaga diri”. aku melepas tangannya lalu berlari.

Copet itu tersesat di jalan buntu, ini kesempatanku untuk merampas kembali tas itu.
“mau kemana kau heh?”. aku menarik kerah bajunya. copet itu jauh lebih muda dariku.
“maaf kak ini tasnya, ampun!”. ucapnya.
“kamu itu kecil kecil berani mencuri, nanti besar mau jadi apa kamu”. aku mengambil kasar tas itu.
“tapi, aku terpaksa kak. kalu ngak nyopet aku nggak sekolah”. ia menangis, aku kasihan padanya. lalu kurogoh saku bajuku, kudapatkan uang 200 ribu.
“nih ambil, belajar yang benar supaya nanti bisa kerja”. aku menyodorkan uang, anak itu mengambilnya. lalu memeluku erat, ia tersenyum cerah. aku mulai membayangkan hidupku tanpa orangtua angkatku, mungkin inilah jadinya.

Wanita yang tasnya dicuri menghapiriku.
“terimakasih rena, mama bangga padamu”. wanita itu mengambil tasnya, dan memeluku erat.
“maaf tante, saya bukan rena. tapi geavandra!”.
“sudahlah nak, jangan berbohong mama tau kalau kamu rena”.
“tapi saya beneran geavandra tante!”. aku melepas pelukannya.
“dia siapa ma?”. seorang gadis yang berwajah sama denganku menghampiri kami diikuti fahri di belakangnya.
“rena, jadi ini bukan kamu?”. ia menatapku.
“dia saudara kembarku yang mama cari ya”. ia menunjukku.
“mungkin begitu, muka kalian aja tidak berbeda”. ucap fahri ikut campur.
“kamu, kamu anakku. kamu rini anakku!!”. wanita itu memenatapku tak percaya, lalu memeluku erat. rena saudara kembarku juga memelukku dengan terharu.
“sudah lama aku mencarimu kak”. gumamnya.

Aku menatap haru rumah lamaku tempatku dibesarkan, mama papa memeluku bergantian
“jaga dirimu nak jangan lupa mampir ya!”. ucap mama.
Aku baru tahu jika aku punya saudara kembar, tapi aku dititipkan ke pengasuh yang ternyata mama dan papaku sebelum mereka mapan. aku sedih dan bahagia karena akan merajut kehidupan baru di keluargaku yang sebenarnya. fahri, yang sekarang menjadi kekasihku menangis. ayahnya telah dijamin pekerjaan oleh papa, sehingga tak lagi menjadi penculik.

END

Cerpen Karangan: Ramdini Aldianti
Facebook: Ramdini Aldianti
Jika ingin berkomentar atau bertanya silahkan berteman di facebook ku ‘Ramdini Aldianti’.

Cerpen Geavandra merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Rela Ibu

Oleh:
Resya, nama yang diberikan oleh orangtuanya sejak kecil. Resya sudah berusia 18 tahun. Resya memiliki seorang adik laki-laki yang bernama Andi, dan kini dia sedang duduk di bangku SMP.

Mata Pelangi

Oleh:
Gadis kecil itu duduk di teras rumah seorang diri. Tidak ada ayah ataupun nenek yang menemaninya kali ini. Hujan masih turun membasahi halaman rumah. Taman. Bunga. Pohon-pohon. Ayunan. Semua

Sabar

Oleh:
Cinta… cinta itu adalah anugerah, cinta itu… mimpi terindah, cinta itu… luas tak ada batas. Tapi dalam cinta itu ada kesaman; menyayangi, memiliki, melindungi dan membahagiakan orang yang kita

Pisang Goreng Mama

Oleh:
Ya kalian pasti tau kan rasa pisang goreng itu sangat enak? Tapi ini beda banget rasanya. Sejak kecil aku sangat menyukai makanan yang namanya pisang yang digoreng, walaupun aku

Desa Kenangan

Oleh:
Tiin, Tiinn suara klakson mobil terdengar di mana-mana, kanan kiri depan belakang semua mobil tak bisa bergerak, setiap hari selalu begini sarapan pagi dengan kemacetan itulah Jakarta, tapi walau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *