Geng Berandal-12

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 4 May 2013

Bos, begitulah teman-temanku memanggilku, tak ada yang berani menyebutku dengan nama asliku (Noprijal austin) kecuali para guru. Di sekolah aku adalah orang yang paling ditakuti oleh seluruh murid, ma’lum saja aku adalah ketua baru “BERANDAL-12” (geng anak-anak berandal kelas 12) periode 2012-2013. Kehormatan ini di berikan oleh sepupu ku yang udah jadi ketua Geng ini pada periode sebelumnya. Alasan dia memberikannya padaku karena dia bilang kalau akulah yang paling sangar di antara yang lainnya, postur badanku yang lumayan cukup tinggi dan besar
plus satu codetan di pipiku memang membuatku terlihat sangar.

Malak, nyontek, brantem, bolos udah jadi agenda kegiatan sehari-hariku. Makanya tidak jarang aku di beri peringatan dan hukuman oleh para guru, namun bukan bos Codet namanya bila gitu saja udah kapok.

Bel istirahat pun berbunyi, aku berinisiatif mengadakan rapat tertutup anggota yang pertama kalinya di lakukan dalam persejarahan Geng “BERANDAL-12”. Sontak saja sebagian dari mereka ada yang tertawa, namun hal itu tidak aku biarkan begitu saja, aku beri mereka sedikit pelajaran dengan satu kenikmatan sentuhan empuk kepal tanganku ini yang udah merindukan bonyoknya muka-muka pecundang kaya mereka. Rapat ini aku adakan di markas utama (Gudang). Dalam rapat yang berlangsung tegang dan begitu hidmat ini di bahas mengenai Anggaran pemasukan yang nantinya akan di gunakan untuk membuat pakaian seragam anak ‘Berandal-12’ untuk memberi kesan sangar dan kompak.

“siapa yang punya ide, dari mana kita dapet pemasukan?” tanyaku memecah ketegangan sambil membuka forum rapat asal-asalan ini.
“gimana kalo kita buat koperasi sekolah aja bos, kan di sekolah kita belum ada..!” saran si Toing sambil ngacungin tangannya.
“heh Tongo, lu kira ini rapat DPR apa? Pake koperasi segala” bentak si doni sambil jitak pala si Toing.
“itu Geng Sekolah kreatif namanya Dono, yang lain belum adakan?” balas si Toing sambil melancarkan serangan balasannya.
Akhirnya mereka berdua saling jitak-menjitak, Suasana yang tadinya tegang kini buyar karena tingkah mereka berdua. Si Bara, si Boni, dan yang lainya terlihat mulai rilek dan teresenyum manis.
“udah, diam kalian,,,” bentak ku melerai mereka sambil menatap mereka berdua dengan pandangan bak singa menerkam, tentu saja suasana yang tadinya mulai cair kini mencekam kembali.

Melihat muka mereka yang tegang dan luarbiasa mengenaskan, membuatku tak tahan untuk tertawa terbahak-bahak kaya orang gila. Namun anak buahku hanya bengong kebingungan karena belum menyadari celana si Toing yang basah karena ompolnya. Entah karena ketakutan atau udah kebiasaan, yang jelas celana si Toing terkena banjir bandang.
“yaaah, celana eke basah dech” kata si Toing sedikit rempong sambil memandang ke arah celananya.
Sontak saja seluruh anggota dewan-dewan beradal yang hadir melihat ke aranya, dan menertawainya.
“ikh, jijik banget lu Tongo-rempong” ejek si doni sambil menutup rapat-rapat kedua hidungnya.
Karena bau pesing ompol si Toing, membuat semua anggota ‘BERANDAL-12’ yang hadir hampir mati terkecut-kecut kebauan hingga akhirnya rapatpun di pindah ke Kantin sekolah. Sementara si Toing pulang kerumahnya untuk mengganti celananya yang jibrug.

Di kantin, si Bara melontarkan ide busuknya yang brilian.
“Gimana kalau kita malak ke tiap kelas di sekolah ini, ya minimal per kelas nyetor 100.000-lah perhari” saran si Bara sambil nyantap Bala-bala (Bakwan) kesukaannya.
“ide bagus tuh bos, tumben elu pinter Bar?.” ucap si Doni sambil menepuk pundak si Bara.
“yaah.. elu don, dari dulu kali kalo dalam urusan kaya gini gua pasti jagonya..” balas si Bara dengan nada sombongnya.
“tapi gimana kalau mereka lapor ke guru?” tanya ku sambil mengira-ngira.
“yeeh si bos, mana mungkin mereka berani lapor, kita kan pengusaha, eh maksud gue penguasa yang paling ditakutinin disini bos” jawab si Bara belepotan.
“iya bener bos, ancam aja mereka, kalau berani lapor kita kekh..” tambah si Doni sambil menggesekan jari telunjuknya ke leher pendeknya.
“tapi apa upetinya gak ke tinggian tuh bar…?” tanya si Yoda yang dari tadi khusyu mendengarkan dialog kami dengan yang lainya.
“kalo besarnya uang upetinya terserah si Bos aja..” jawab si Bara sambil melirik ke arahku.
“gimana kalo kita minta seikhlasnya aja?” usulku.
“apa gak enakan di mereka tuh bos?” tanya si Bara dengan terheran-heran..
“kalau kita tentuin, kasian buat mereka, bisa-bisa mereka pada kabur dari sekolah ini, gimana kalian setuju?” jawab ka bak hakim yang bijak.
“ya setuju..,” jawab mereka dengan kompak.
Bell kembali berbunyi, sebagai pertanda kami haru masuk ke ruang kelas yang membosankan.

Waktu pulang sekolah pun tiba, aku bergegas pulang menuju rumahku. Setibanya di rumah terlihat ayahku dengan kejamnya menampar ibuku yang tak berdaya. Ayahku marah-marah entah karena apa. tanpa basa-basi aku berlari menuju ayah ku dan “bruk…” ayahku tersungkur terkena terjangan hebatku.
“dasar lu anak durhaka, aku ini bapakmu tolol…” sahutnya dengan geram.
“gue gak pernah nganggep punya bapa, dari dulu elu hanya bikin gua dan ibu sengsara, bapa kaya apa lu, kerjanya cuma minta duit sama istri..!” jawabku dengan emosi tingkat dua belas.
Dia hanya terdiam, tak menjawab perkataanku. Dia berjalan keluar rumah dengan terengah-engah kesakitan. Ibuku terus mencucurkan air matanya dengan deras.
“Sudahlah Bu, buat apa nangisin si Tua bangka itu, Percuma..!”
Ibuku hanya menangis tak menjawab perkataanku sedikit pun. Airmatanya terus mengalir dari deras matanya.
“Bu, mengapa sih itu terus menangis? Lain kali kalau tua bangka itu datang lagi, ibu telpon saja aku. Aku pasti akan datang dan menghajar dia habis-habisan”
aku menenangkan ibuku yang tak henti-henti menangis. Dan betapa terkejutnya aku saat ibu yang paling ku sayangi ini berkata:
“ijal anaku, hati ibu sudah cukup sakit oleh tingkah ayah mu, tapi mengapa kamu menambah sakit dalam hati ibu, kamu bertingkah laku seperti ayahmu yang berandalan itu, apakah ini yang ibu ajarkan pada mu hah..?” kata ibuku sambil memalingkan pandangannya.
Entah kenapa tiba-tiba aku serasa tersambar petir, tubuhku begetar, hati ku risau, dan air mataku pun keluar.
“Bu, maafin ijal bu, ijal pikir kalo ijal jadi berandalan, ijal bisa lindungin ibu dari siksaan ayah, ijal tak tahan melihat ayah yang selalu menyiksa kita dari dulu..” kataku sambil berlinang air mata.
“ijal, kamu tidak boleh membalas api dengan api, ibu harap kamu jadi anak baik, sukses dan tidak jadi berandalan. Ibu pasti maafin kamu jika kamu tidak jadi berandalan lagi” balas ibuku dengan tangisnya yang mulai reda.
“iya bu, ijal janji…,” jawabku dengan tulus.

Dua hari berlalu, aku tidak sekolah karena menunggu ibuku yang sakit di rumah. Sebenarnya aku mau bawa dia ke Rumah sakit tapi aku bingung karena gak punya uang.
Di hari ketiga ibuku mulai terlihat membaik dan dia memaksaku untuk sekolah meski aku sebenarnya tak mau karena keadaanya yang masih belum pulih total tapi aku terpaksa sekolah karena ini permintaannya yang harus aku patuhi.

Di Sekolah, aku berjalan menyusuri teras kelas 11 menuju kelasku yang berada di paling ujung. Terlihat tatapan-tatapan anak kelas 11 yang terlihat setengah benci, setengah ketakutan melihat tampangku bak melihat setan. Namun aku hanya acuh tak perduli dan terus berjalan menuju ruang kelasku.
Setibanya di kelas, aku melihat wajah-wajah murung si Doni, Bara, Yoda dan yang lainnya.
“hey kenapa kalian pada manyun? Manyunnya Kompak lagi..?” tanyaku sedikit akrab dan penasaran.
“A. A ampun bos, kita gagal meminta upeti ke mereka, mereka lapor ke Kepsek.. dan kemarin kita di BP (Beri Peringatan) dan hampir saja kita di keluarin dari sekolah.” jawab si Doni dengan sambil membuang mukanya ke bawah.
“iya gakpapa, lu pada jangan manyun begitu, sekarang gue udah gak niat lagi sama urusan-urusuan berandalan sekolah dan rencananya gue mau bubarin Geng Berandal-12. And gue minta maaf ama lo semua..” jawabku sambil memancarkan senyuman tulusku.
Mereka terbengong-bengong dan heran mendengar ucapanku.
“bener bos..?” kata si Bara dengan wajah tanda tanya.
“iya bener, dan jangan panggil gue bos ya, risih gue dengernya… Heheh” balasku mencoba akrab.
“Siap bos, eh bos, heheh … Maaf” ucap si bara aga belepotan.
“terus kita-kita harus panggil apa?” tanya si Toing yang nyeruduk dari belakang kerumunan.
“panggil aja gue ijal, biar akrab, dan sekali lagi gue minta maaf ya ama semuanya..” jawabku dengan hangat.
“sama-sama mas Bro…” balas si Bara di iringi anggukan semua murid yang ada di kelas sambil menjulurkan lidah eh lidah, (maaf penulis lupa) Menjulurkan tangan kanannya sebagai simbol persahabatan.
Akupun membalasnya juluran tangan kananku, dan semua teman-teman sekelas pun mulai tersenyum akan munculnya kedamaian di sekolah.

Awan hitam telah berlalu, mentari bersinar cerah di Sekolahku tercinta, kini ku rasakan nikmatnya hidup baru. Indahnya persahabatan, tidak ada kekakuan di antara kita, dan aku pun belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat lulus di bulan April nanti.
Waktu pulang sekolah tiba, di tandai dengan merdunya suara bel di ujung kelas sana. Aku bergegas pulang menuju rumahku.
Setibanya di rumah terlihat ibuku yang duduk di kursi tua teras rumahku. Ia tampak sedih dan lagi-lagi air matanya mengalir dari kedua matanya. Hatiku mulai risau dan penuh tanda tanya.
“Ibu, ibu kenapa lagi bu? Ibu kecewa ya sama ijal? Maafin ijal bu, jika ijal belum bisa buat ibu bahagia?” tanyaku dengan pelan mendekati ibuku.
“engga jal, ini bukan karena kamu, tapi ini menyangkut bapa mu..” jawabnya tersenda-senda di sela-sela tangisannya.
“bapa nyakitin ibu lagi ya?” tanyaku agak kesal
“bukan jal..” jawabnya sambil menundukan kepala.
“lalu apa?” tanyaku makin penasaran.
“Bapa mu meninggal,” jawabnya dengan simpel tapi membuat hatiku merasa bersalah atas kejadian empat hari yang lalu.

TAMAT..

Cerpen Karangan: Trisna Nurdiaman
Facebook: Asezao Trisna Inflashi
Aku Baru kali ini buat cerpen, cerpenya pun masih amatiran, hehehe.. jadi mohon beri komentarya..

Cerpen Geng Berandal-12 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku

Oleh:
Aku adalah Nisa, seorang gadis yang lemah, aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Ibuku bekerja setiap paginya sebagai penjual kue. Beliau sendiri harus menafkahi aku dan kedua adikku karena

Kok Aku Sih Yang Kena

Oleh:
Ku awali hariku dengan bersekolah di pagi hari. Aku berangkat agak sedikit sebel dan cemberut, memang beberapa hari yang lalu aku sedang dicuekin dan cuek dengan para sahabatku. Saat

Grandfather Rules (Part 1)

Oleh:
Aku tau jika kehadiranku tidak diharapkan di keluarga ini. Pamanku, bibiku, saudara sepupuku tidak ingin aku ada disini. Mereka sama sekali tidak ingin melihat wajahku ada di depan mereka,

Hujan Pun Mengerti

Oleh:
Di bawah hujan aku terdiam, tak kurasakan butiran air yang menerpaku. Tak kurasakan dingin yang menyelimutiku, dan tak kudengar gemercik air yang jatuh. Datangnya hujan tak mengusik lamunanku. Sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Geng Berandal-12”

  1. alviani mariska says:

    keren…cerpen geng berandal 12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *