Gifts For Gladys

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 21 April 2013

Namanya Gladys Cindya Zafira. Gadis perempuan berumur 10 tahun, yang “tidak” mempunyai hobi. Bakatnya pun, belum terlihat. Satu-satunya yang dia benci, adalah MENULIS. Yap, MENULIS. Mau menulis apa saja, dari diary, rangkuman, cerita, humor, pantun, apa saja yang bersangkutan dengan menulis dia benci.
Berkali-kali Cindy, Aurell, Mama, dan Ayah membujuknya untuk menulis. Terutama rangkuman pelajaran, karena nilai Gladys tahun lalu menurun drastis. Dia mendapatkan ranking 15 dari 25 anak di kelasnya. Dari membelikannya sticky notes, buku tulis tebal, diary lucu, dan lainnya. Barang-barang itu tadinya menumpuk di laci Gladys hingga Aurell kakaknya yang duduk di kelas 2 SMP memakainya.

Gladys, Anak bungsu dari 3 bersaudara. Kakak pertamanya, Shafira Anidya Shalsabila, tapi dia maunya dipanggil Cindy. Cindy duduk di kelas 1 SMA. Dia baik, dan bertanggungjawab sebagai kakak sulung, juga sangat menyayangi Gladys walau kadang Cindy kewalahan dengan sikap Gladys.
Kakak Gladys yang kedua, Aurellia Zhahira Khainisa atau Aurell. Aurel baik banget, selalu mengalah, pintar (bangeeeett), dan tentunya sayang banget sama Gladys.

“Gladys, aku tadi dikasih buku tulis dua sama temenku. Bisa buat catat-catat pelajaran kan? Mau gak? Nih yang gambarnya Hello Kitty”, kata Aurell sepulang sekolahnya, sambil melepas jilbab putihnya.
“Mmm… ng… iya”, Gladys selalu gitu. Dia menerimanya lalu memasukkannya dalam laci.
Cindy dengan seragam putih abu-abunya ternyata sudah di depan pintu dan menggeleng-geleng mendapati sikap Gladys.

15 Februari. Ulang tahun Gladys…
Aurell, Cindy, mama, dan ayah berniat membuat kejutan.
Sepulang sekolah…

“Assalamualaikum! Kak Cindy! Mama! Kak Aurell!” panggil Gladys. Ayah memang biasa hari ini kerja namun di hari ultah Gladys yang ke 10 ini, Ayah mengambil cuti.
“HELLOOOOOWWW! Semuanyaaaa… pada kemana siihh?”
Gladys akhirnya teriak-teriak.

“SURPRISE!!!” teriak semua anggota keluarga intinya. Gladys hamper terjungkal karena kaget. Cindy membawa kue dengan rasa kopi-cokelat dengan angka 10, dan bertuliskan: HAPPY 10 th BIRTHDAY, GLADYS!!.

Gladys kaget banget, bungkusan kado dari ayah dan ibu besar sekali! Sebesar bungkus TV! Apa ya isinya? Setelah tiup lilin dan potong kue, sekarang… buka kado!

“Dys, ada titipan kado dari Amel” kata Aurell menyerahkan sebungkus kado.
“Kado dari ayah, dibuka terakhir ya!” pinta Cindy.
Gladys mengangguk bingung dan penasaran, sambil meraih kado dari kak Amel, teman Aurell, ternyata isinya adalah tas bermotif garis-garis warna ungu.
Gladys mengambil kado dari kak Cindy. Isinya ternyata… Pulpen yang diatasnya ada figur Hello Kitty yang jika ditekan akan menyala warna-warni dan bisa dilepas menjadi stempel. Di batangnya jika dipencet mengeluarkan sebuah kertas kecil. “Wah!! Makasih banget ya kak!”Gladys memeluk kak Cindy.
Giliran membuka punya Kak Aurell. Isinya? Isinya berupa diary yang agak sedikit besar, berwarna biru yang ada bulu-bulunya dan ada tulisan: ‘GLADYS’. Uniknya, kunci di di diary itu berupa gelangnya. Setiap beli dapat gelangnya warna biru, sudah ada sensornya jika ditempelkan ke tulisan GLADYS tadi, akan terbuka.
“WAW! Aku baru tau ada yang begini. Makasih banyak ya kak!” Gladys memeluk kak Aurell. “Sama-sama” ujar kak Aurell.

Waktunya membuka kado dari ayah dan mama yang besarrr banget! Bungkusannya bergambar kue tart. Ternyata di dalam kotak besar itu, ada kotak lagi yang lebih kecil. Terus saja begitu. Gladys bersabar membukanya, karena sih katanya ada feeling kadonya itu yang dia inginkan.
“WAAAHHH!!!… YEEESS…!” Sorak Gladys. Tepat dugaannya. Tau apa isinya? Itu benar-benar yang Gladys inginkan.

Apa coba? Yaitu netbook berwarna biru muda-putih yang di cover (depannya) ada tulisan yang diukir: Gladys Cindya Zafira. Netbook itu dilengkapi webcam juga. Juga Ayah menyerahkan modem Internet dengan nama Gladys. Gladys mengucapkan terimakasih dan memelukj keluarganya.

1 bulan kemudian…
Keluarga Gladys gempar karena Cindy memberitahukan kebiasaan Gladys sekarang. YAitu menulis diary, menulis rangkuman pelajaraan, dan mengetik cerita atau cerpen di netbook barunya.

“Dek, kok kamu jadi senang menulis?” Aurell keceplosan menanyakan itu kepada Gladys. Cindy menginjak kaki Aurell dan Aurell melotot.
“Kenapa? Lagi iseng aja. Kenapa? Gak boleh ya?” kata Gladys acuh tak acuh.
“Iyaa… bagus” kata Cindy lalu menarik tangan Aurell keluar kamar Gladys yang serbabiru –putih.

3 hari kemudian, sekolah Gladys libur 1 minggu. Pagi ini…
“Ma, aku sudah selesai” kata Gladys sambil membawa-bawa tas net book nya.
“Selesai apanya? Bangun-bangun tiba-tiba ngagetin sambil bawa netbook begitu” kata mama, setengah kaget setengah heran.
“Selesai bikin novel” kata Gladys singkat.
“Wih? Sudah bikin novel? Mama liat ya? Mau dikirimin ke penerbit gak?” Tanya mama. Dia juga baru tau putri bungsunya menulis novel.
“Iya. Ok, mama liat ya! Editkan ya! Mau dong! Kira-kira, novel Gladys dikirimin ke penerbit mana ya?” wajah Gladys menjadi bersemangat. Cindy dan Aurell berpandangan, lalu berteriak kompak, “AKU JUGA MAU LIAT DONG!”.

“Ke penerbit Kids Is Angel aja, yang menerbitkan karangan anak seusiamu.. tapi Novelmu ada berapa bab? Peraturan di penerbit Kids Is Angel, setiap bab amplopnya satu-satu…” kata mama.
“Yeee! Dikirimin ke penerbit! Ada 8 bab, Ma. Cukup tipis sih jika dibukukan” kata Gladys. Cindy merangkul Gladys.
“Oke. Kamu ambil 7 lembar amplop buat kertas, dia ruang kerja Ayah, ya! Sementara Mama akan mengedit novelmu dulu” kata Mama. Gladys berlari ke ruang kerja Ayah.

30 menit, waktu yang dibutuhkan Mama untuk mengedit naskah Gladys dan 10 menit waktu untuk mengeprint naskah Gladys yang berjumlah 147 halaman. Gladys kesenangan.

3 bulan kemudian…
Gladys sangaat bahagia. Tadi dia menerima telepon dari Penerbit Kids Is Angel, yang menyatakan bahwa novelnya yang berjudul My Lovely Ummi diterbitkan 1 bulan lagi, tepatnya 5 Juni. Sebelumnya tentu mereka sudah memastikan bahwa itu benar-benar Penerbit Kids Is Angel.

Gladys disuruh mengirim dua buah foto, pengantar orangtua, biodata, dan sebagainya. Tepatnya tanggal 4 Juni, Gladys kembali dihubungi oleh Penerbit itu. Menyatakan bahwa besok tepatnya 5 Juni novelnya sudah akan terbit. Namun karena pertama selama dua minggu pertama bukunya hanya ada di Gramedia dulu.

“Selamat ya, Gladys! Novelmu sudah terbit! Aurell, Cindy, Ayah! Novel Gladys sudah terbit nih!” Gladys, ayah, Aurell, dan Cindy bergegas ke bawah.

Besoknya, Gladys dikirimi paket dari penerbit Seri Kids Is Angel berupa 5 buah buku karyanya. Rupanya mama memang memesan 5 buah buku karyanya.
“1 untuk gurumu, 1 untuk kepsek sekolahmu, 1 untuk sahabatmu, dan 2 untuk koleksi di rumah. Pasti kamu mau kan bukumu ada di rumah” kata Mama. Gladys tersenyum.

“Demi siapapun, ini benar-benar buku kamu? BUKU KAMU?”
Aurell dan Cindy berteriak kompak, berpandangan, dan merebut masing-masing satu dari 2 buku yang dipegang Gladys.
“Waaa!” Gladys hampir terjatuh.
“Iyaaa… Tapi aku juga mau lihat dong! Aku mau lihaaaat!” seru Gladys berlari menuju kedua kakaknya yangs edang membaca bukunya di sofa. Dia membaca berdua dengan Cindy.
“Yeah, ada namaku di Ucapan Terimakasih dan isinya! Aku suruh teman-temanku beli ah!” sorak Aurell.
“Aku juga!” kata Cindy.
Aurell malah langsung mengirimi pesan lewat BlackBerry Messanger di BlackBerrynya ke beberapa temannya menagbari novel Gladys sudah terbit. Mereka menghabiskan hari itu dengan bercanda bersama, merayakan terbitnya novel Gladys.

Tanggal 18 Juni, diam-diam Mama dan Gladys berencana mengirimi naskah Gladys yang berupa Kumcer kepada penerbit Kids Is Angel lagi. Semuanya berujumlah 11 cerpen. Mama mengedit, mengeprint, dan mengirimkannya.
Tak disangka… 4 September, mereka mendapati ktelepon dari pihak penerbit seri KIA (Kids Is AnGEL) yang menyatakan kumcer Gladys diterbitkan tanggal 5 Oktober. Gladys senang bukan kepalang. Mereka langsung mengirimkan foto, dan sebagainya.

5 Oktober… seperti biasa, datang paket buku karya Gladys ke rumahnya untuk dibagikan.

“HAH? Buku kamu yang… ke… dua? Kapan ngirim? Hah?” seru Cindy yang baru pulang sekolah bersama Aurell. Aurell melempar sepatu dan kaus kakinya dan langsung merebut kumcer Gladys. Cindy lebih heboh lagi. Kumcer itu terbit dengan judul: Cindy’s Secret Admirer.
“Hiyyyaaaaaaa! Namaku di judulnya! Rel, nama tokoh utamanya Cindy, dan nama Secret Admirernya Aurell! Ada nama kita!” Sorak Cindy. Aurell melotot, masih tak percaya.
“Kapan kamu mengirim?” kata Aurell dan ayah kompak.
“Kan, aku dan mama diam-diam mengirimkannya! Heheh! Mau surprise!” Seru Gladys, mukanya tampak senang sekali. “Kamu hebat!” kata Aurell merangkul Gladys.

Diam-diam, Gladys bangga. Dia mengintip kamar kak Cindy. Ternyata kak Cindy sedang menelpon. Satu kalimat yang diucapkan kakaknya adalah:
“Adik gue, udah nerbitin dua buku sekarang lho! Dia diam-diam ngirimin naskahnya!”

5 tahun kemudian…
Gladys sekarang duduk di kelas 1 SMA. Aurell sudah kuliah tingkat satu dan Cindy kuliah tingkat tiga. Beruntungnya…
Cindy dan Aurell sama-sama mendapat beasiswa kuliah di Australia walau di universitas yang berbeda. Gladys, mama, dan ayah juga ikut ke sana dan Gladys SMA di salah satu sekolah disana. Rumahnya juga sudah disediakan.
Gladys sudah menjadi penulis yang menerbitkan 5 buku. 4 buku di Indoonesia dan dia menerbitkan buku novel berhasa Inggris di Australia ini. Gladys bercita-cita dan bertekad akan terus menulis hingga menjadi penulis dewasa professional yang terkenal.

Cerpen Karangan: Namira Assyifa Prasetio
Blog: https://namirasyifa.wordpress.com
Hai… ini cerpenku yang ke… berapa ya? pokoknya, aku sudah pernah mengirim cerpen ke cerpenmu.com #pasti
Ok. Yang mau ngasih saran dan kritik utk cerpen-cerpenku bisa kirim email ke syifaprasetio@gmail.com
Thx 😉

Cerpen Gifts For Gladys merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sarapan Untuk Bobi

Oleh:
Pagi hari seperti biasa Bobi sudah rapi dengan seragam sekolahnya dan siap untuk berangkat ke sekolah, Bobi biasa berjalan kaki ke sekolahnya karena rumah Bobi dengan sekolah jaraknya tidak

Menyeramkan dan Menyedihkan

Oleh:
Namaku Amanda Victoria Luvish Shania Aulia. biasa dipanggil Victori, Victoria dan Victo. aku punya kakak bernama Ananda Vannesa Lubis Shina Arini. Biasa dipanggil Vanessa atau Vanne dan Nessa. Aku

Kotak Impian

Oleh:
Kampung bahagia, tempat Ryan melewati hari-hari bersama ibu dan adiknya. Hidup tanpa kehadiran seorang ayah tak membuatnya kehilangan semangat, meskipun dalam kondisi ekonomi yang kurang memadai. Ryan yang masih

Slime Berubah Wujud

Oleh:
Suatu hari seorang anak bernama syikha sedang browsingan, ia iseng-iseng mencari cara membuat slime, ia tertuju pada situs yang berjudul tanpa lem, deterjen dan boraks, bahannya pun cuma dua

Hadiah Ulang Tahun

Oleh:
Namaku adalah Liana. Aku tinggal di Jawa Timur tepatnya di Surabaya. Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 11. Sekarang, aku kelas 6 SD. Aku bersekolah di Sekolah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *