Gitar Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 30 September 2015

Masih ku ingat saat Ayah menggendongku yang terlelap di pangkuannya dan meletakkanku di ranjangku yang hangat. Sebuah melodi selalu mengalun dari dirinya diiringi gitar kesayangannya. Lagu favoritku adalah Shalawat nabi. Tapi, itu sudah lama sekali. Ya… sudah sangat lama. Ku lirik jam yang melingkar manis di pergelangan tanganku. Jarum-jarumnya sudah menunjukkan pukul 2 siang lewat 5 menit.

“Kenapa lama sekali?” gerutuku saat orang yang ku nanti muncul di hadapanku.
“Maaf…” jawabnya lembut dengan senyum manis yang selalu menghiasi wajahnya.
“Ayo! Ayah dan Bundamu pasti sudah menunggu.”
“Iya. Tadi aku beli ini untuk Ibu dan ini untuk Ayah. Bagaimana menurutmu?” ujar Zanah.
“Bagus. Kan kamu yang anak Ibu dan Ayah bukan aku.”
“Hei… anak cowok gak boleh ngambekan. Emm, Zamal..”
“Ya?”
“Aku ingin kamu seperti Ayahmu.”
“Tidak perlu kau minta. Aku akan mencoba yang terbaik.”

Zanah hanya tersenyum. Zanah adalah gadis yang akan segera menjadi calon bidadari surgaku. Sikapnya yang ramah, sopan santun, serta lembut mampu mencuri hatiku. Aku selalu merasa nyaman bersamanya. Pertemuan kami sederhana. Kami bertemu saat duduk di bangku SMA. Saat itu aku salah menafsirkan perlombaan yang akan diikutinya. Untungnya dia gadis yang ramah dan baik jadi aku tidak terlalu malu.

Kami sampai di depan rumahku. Rumah itu masih sama seperti saat aku pertama kali mulai belajar bermain gitar. Ya… sudah 10 tahunan mungkin. Di ruang tamu masih terpajang fotoku bersama Ayah. Itu foto pertamaku.
“Assalammualaikum,” ucapku dan Zanah.
“Waalaikumsalam,” jawab Ayahku dan Ayah Zanah.
“Di mana Ibu dan Bunda?” tanya Zanah.
“Ada di belakang.”
Zanah pergi ke belakang. Sedangkan aku duduk bersama para Ayah. Di sudut ruang tamu masih ku temukan gitar yang selalu mengahantarkanku ke alam mimpi. Gitar itu sudah sangat tua. Bahkan lebih tua dariku. Gitar itu sudah dimiliki Ayah sejak masih sendiri hingga kini usianya hampir mencapai setengah abad.

Malam yang sunyi hanya terdengar suara orang tahlilan dimana-mana. Gerimis mulai datang menggantikan bulan dan bintang. Sedangkan Ibuku meringkuk di dalam kamar. Air matanya mengalir bagaikan hujan yang kini mulai turun. Ku lihat Zanah sibuk menenangkan Ibu. Dan Adikku Aris mulai melangkah pasrah ke dalam kamarnya. Jam di kamarku sudah menunjukkan pukul 1 malam. Namun aku tak mampu memejamkan mataku. Sedangkan Zanah sudah terlelap karena kelelahan. Di sudut kamar remang-remang ku lihat Ayah duduk memeluk gitar kesayangannya yang kini menjadi milikku. Ku pikir ini hanya mimpi. Namun aku belum tidur. Sayup, ku dengar Ayah memintaku untuk memainkan gitar itu dengan lagu kesukaannya.

Kini tepat setahun setelah Ayah tiada. Aku mengajak Zanah berziarah serta putri kecil kami Zalwa. Namun Ibuku melarang kami untuk membawanya. Di pemakaman ku lihat Ayah tersenyum di bawah pohon kamboja.
“Zamal Ayah pasti sangat bahagia..”
“Ya..”

Gitar tua itu tetap ada hingga sekarang. Meski senarnya sudah ada yang putus. Namun sayup-sayup aku masih mendengar dan melihat Ayah memainkannya.

Cerpen Karangan: Anita Ramadona
Facebook: Dona Anizy Fhaako

Cerpen Gitar Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengkhianatan Pada Sang Agung (Part 1)

Oleh:
Dosakah kita mencintainya lebih dari yang seharusnya? Sementara Maha cinta cemburu.. Dosakah kita mengasihinya lebih dari apa pun? Sementara lagi-lagi Maha kasih cemburu Dosakah kita menggelayuti kesedihan karena kepergiannya?

Mata Mamah Pindah Ke Mataku

Oleh:
Ada seorang anak perempuan yang sangat suka memainkan alat musik. Alat musik tersebut gitar dan piano. Anak itu sangat pintar memainkannya. Tapi tuhan memang adil, dalam kelebihannya bermain alat

Inikah Hadiah Istimewa Itu?

Oleh:
Ditengah paparan sinar matahari yang menyengat, seorang gadis melangkah dengan riangnya, langkahnya yang cepat dan senyuman yang tak pernah pudar dari wajahnya mengiring perjalanan pulangnya. Hari ini adalah hari

Abu Ibu

Oleh:
Aku melamun di pinggir jendela kamar sembari mengingat peristiwa yang telah membuat kehidupanku menjadi kelam, gelap, tenggelam, hingga karam. Melihat anak-anak kecil mungil sedang bermanja-manja dengan ibunya, aku sempat

Beristirahat Dengan Tenang

Oleh:
Malam ini adalah salah satu malam di musim hujan. Aroma tanah basah dan udara dingin masih mengudara. Sesekali angin berhembus tenang dan pepohonan bergemuruh bersamanya. Damai. Kueratkan kembali jaketku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *