Good bye, Sarah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 September 2015

Sarah, seorang anak berusia sekitar 9 tahun sedang duduk termenung di lapangan sekolahnya. Ia dihukum oleh gurunya karena tidak mengerjakan pr. Jika ia mengulangi perbuatan itu lagi, maka orangtuanya akan dipanggil.

“Sarah!” tiba-tiba sahabat Sarah, Reni, menepuk pundak Sarah. Sarah pun terkejut dan melihat ke belakang.
“Reni! Kamu bikin kaget aja!” seru Sarah sambil menggeser duduknya dan mempersilakan Reni duduk.
“Sar, kamu pasti haus duduk di tengah lapangan begini dari tadi. Nih, aku beliin es teh,” kata Reni sambil memberikan es teh untuk Sarah.
“Makasih, Ren,” Sarah langsung meneguk es teh tersebut tanpa basa-basi lagi.

“Eh, Sar, tadi Bu Guru bilang, sekali lagi kamu enggak mengerjakan pr, orangtuamu bakal dipanggil!” seru Reni.
“Ya, aku udah tahu,” balas Sarah singkat.
“Ibu-Bapakmu kan galak, Sar!” Reni membuat suasana jadi heboh.
“Iya, makanya itu, aku ingin berhenti sekolah, tapi nanti ketahuan Bapakku,” Sarah mendengus pasrah.
“Gimana kalau tiap sore habis pulang sekolah, kamu langsung ke rumahku aja? Ngerjain pr bareng?!” seru Reni memberi ide.
“Boleh juga, tuh. Oke, mulai besok, ya!” seru Sarah.
“Sip!” balas Reni sambil tersenyum.

Sepulang sekolah, Sarah mengetuk pintu rumahnya. Sedetik kemudian, seorang wanita dewasa berjilbab kuning berkaca mata membukakan pintu.
“Assalamualaikum, Bu,” ucap Sarah sambil menyalimi tangan Ibunya.
“Waalaikumsalam, cepat makan! Habis itu les ngaji!” suruh Ibu sambil mengecek tasku.
“Ya, Bu,” jawab Sarah sambil berjalan ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Beberapa saat kemudian, Sarah ke luar dan langsung mengambil makanan.

Sekitar 10 menit kemudian, Sarah selesai makan dan langsung memakai kerudung. Ia berjalan ke dapur untuk mengambil tas ngajinya. Selesai itu, Sarah langsung pamit ke Ibunya.
“Bu, Sarah ngaji dulu. Assalamualaikum,” pamit Sarah sambil menyalimi tangan Ibunya.
“Waalaikum salam,” jawab Ibu singkat. Sarah menuju ke Masjid Zakariya dengan berjalan kaki.

Satu jam kemudian.
“Sarah, ini kasihkan ke orangtua, ya,” ucap Ustadzah Rumi sambil memberikan selembar kertas kepada Sarah.
“Ya, Ustadzah,” balas Sarah sambil memasukkan kertas itu ke dalam tas. Setelah itu Sarah pulang kembali ke rumahnya.

Di perjalanan pulang, tiba-tiba mata Sarah berkunang-kunang. Lalu tiba-tiba Sarah hampir terjatuh pingsan. Pak Rosmadi, tetangga Sarah, langsung menolong Sarah. Saat Pak Rosmadi berlari sambil membopong Sarah, tiba-tiba saja ada truk tronton yang mau melintas. Karena Pak Rosmadi tidak berhati-hati, truk tronton itu menabraknya. Seketika segerombol orang datang membantu dan membawa mereka ke Klinik Berobat Serba Maju dekat kampung mereka.

Perlahan-lahan Sarah membukakan matanya. Ia melihat sekeliling. Ayah dan Ibu sedang berbincang dengan seorang perawat. Kira-kira begini perbincangannya:
“Maaf, Bapak, Ibu, kami sudah berusaha sekeras mungkin, tapi Sarah tidak bisa tertolong. Dia membutuhkan ginjal karena ginjal kanannya sedikit luka,” ucap si perawat.
“Tapi Mbak, saya sangat sayang sama Sarah. Saya tidak ingin Sarah meninggal,” ujar Ayah.
“Mbak, tolong, Mbak…” isak Ibu sambil menangis resah.

Sarah tertegun mendengar perbincangan tersebut. Lama-lama air mata Sarah menetes membasahi pipinya. Ibu melihat Sarah yang sudah sadar. Segera beliau berlari mendekati Sarah.

“Ibu, biarkan Sarah pergi. Tetaplah hidup bahagia sama Ayah. Sarah udah enggak sanggup menjalani hidup ini. Selamat tinggal, Ibuku Pahlawanku…” tutur Sarah sambil tersenyum kecil. Satu detik, dua detik, tiga detik… Sarah sudah pergi.

“Sarah…” isak Ayah sambil memeluk Sarah.
“Ikhlaskanlah kepergianku, Ibu dan Ayah… Biarkan aku hidup dengan tenang di alam sana,” tiba-tiba terdengar suara itu. Ayah dan Ibu yakin itu adalah suara Sarah.

Cerpen Karangan: Fidellina Azzahra
Fidellina Azzahra, tinggal di Surabaya. Lahir tanggal 28 April 2004.

Cerpen Good bye, Sarah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Doa Ku Selalu Untuk Mu, Sayang

Oleh:
Marisa Anastasya itulah adik kesayanganku umurnya 18 tahun. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan Risa, dia anak yang baik, lucu, dan cantik. Jadi tak heran jika banyak lelaki yang menyukainya.

Bait Perjuangan

Oleh:
Kala itu di sore hari, awan hitam menyelimuti langit menunggu aba-aba Tuhannya menurunkan hujan. Gerimis mulai mendarat di Desa Lalahan. Angin berhembus menerobos lubang-lubang jendela. Seminggu sudah tiap sore

Pekikan di Malam Itu

Oleh:
Di luar hujan sangat lebat, bunyi angin meraung-raung Suara pekikan malam itu sungguh mengejutkan masyarakat komplek kampung baru, sungai geringging. Suara pekikan itu sangat keras sehingga membangunkan masyarakat kampung

Berguna Untuk yang Lain

Oleh:
Hari Senin siang tepatnya pukul 11.00, ada panggilan ketua kelas. Rio selaku ketua kelas 7E segera bergegas menuju ruang guru untuk mendengarkan pengumuman, dan pengumuman yang disampaikan adalah mengenai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *