Goresan Terakhir Dicky

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 19 May 2014

Terlihat seorang anak laki laki berusia 6 tahun yang sedang berlarian di koridor rumah sakit sambil menenteng boneka Stitch kesayangannya.
Disitu pula terlihat gadis cantik yang tengah mengejar anak laki laki itu sambil membawa piring berisikan makanan.
“ayo dicky… makan dulu. Jangan lari terus.” Ucap wanita cantik itu yang bernama Elena Putri Wirawan, yang biasa disapa Elena. Anak laki yang sedang berlarian itu mempunyai nama lengkap Dicky Rio Wirawan.
Dengan tergopoh gopoh Elena atau sang kakak berlari mengejar sang adik yang sedang melarikan diri dari ruangannya.
“Dicky… berhenti dong. Dimarahin Mamah loh, makan dulu nih.” Ucap Elena seraya mengejar dicky yang sedang berlari, berlari sangat pelan.
Namun lama kelamaan Dicky yang mulai lelah berlari itu pun berhenti dari aktivitas berlarinya dan Elena pun menyuapkan makanan yang diberikan khusus dari rumah sakit.

Dicky Rio Wirawan, seorang anak laki laki berusia 6 tahun yang didiagnosa menderita Leukimia Lymphoblastic Akut. Kedengarannya memang sangat menakutkan dan menyentuh hati, namun Dicky menganggap sakitnya itu sebagai sahabat bukan musuh baginya.

“Makan dulu ya sayang, abis itu minum obat.” Ucap Elena lembut seraya memangku dicky yang kini sudah berada di dalam ruangan yang telah disinggahinya selama 2 bulan ini.

Dicky hanya melahap dua sendok bubur, yang mungkin rasanya sangat hambar.

“Udah ya kak, Dicky udah kenyang.” Ucap Dicky.

Dicky pun turun dari pangkuan sang kakak dan kemudian menyalakan Televisi yang sudah tersedia.
Elena pun segera memberikan obat yang biasa diminum oleh Dicky setiap harinya.
Saat Dicky sedang menulis sesuatu di atas ranjangnya, dengan tiba tiba ia memeluk sang kakak dan terisak.

“Dicky gak mau mati kak… Hiks… Dicky takut…” ucap Dicky tiba tiba, yang membuat sang kakak tercengang kaget mendengar perkataan sang adik.
“Dicky gak akan meninggal. Dicky akan selalu hidup untuk Mama, Papa, Kakak dan teman teman Dicky. jadi Dicky gak perlu takut.” ucap Elena.

Matanya pun mulai berkaca kaca seakan akan ia ikut merasakan apa yang adiknya rasakan saat ini. Elena pun menidurkan dicky dengan cara menceritakan sebuah dongeng yang sangat disenangi oleh Dicky.

Pagi ini, Dicky sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah karena kondisinya sudah cukup membaik kata dokter.
Dicky yang mengetahui ia akan pulang hari ini ia bersorak bahagia bersama boneka Stitch kesayangannya.

Namun tidak dengan orangtua Dicky dan Kakaknya yang terlihat sangat sedih setelah dokter mengatakan suatu hal pada mereka.
Dokter mengatakan bahwa hidup Dicky tinggal 135 hari lagi, namun hanya Tuhan yang tau akan takdir.

“Ayo Mah pulang, Dicky udah kangen sama teman teman Dicky.” Ucap Dicky bersemangat.

Dicky pun diturunkan dari atas ranjangnya oleh sang Papa, dan Elena menggandeng Dicky menuju mobil yang berada tepat di depan rumah sakit.

“Hmmm.. Kak Elena sayang sama Dicky?” Tanya Dicky tiba tiba, saat mereka berdua telah sampai di dalam mobil.

“Kok Dicky tanyanya gitu sih, Kak Elena jelas sayang dong sama Dicky, sayang banget malah.” Ucap Elena seraya memeluk tubuh Dicky yang terlihat sangat kurus dari samping.

Dicky hanya tersenyum manis saat mendengar penuturan Elena sang Kakak.

Ketika orangtua Dicky, dan Elena diberitahu bahwa Dicky hanya akan hidup tinggal beberapa hari itu, maka sejak saat itu, setiap harinya mereka berusaha mebuat momen momen Spesial untuk Dicky. Mereka tidak ingin fokus pada penyakit Kanker Dicky. Namun mereka hanya ingin melakukakn apapun yang Dicky inginkan.

Semakin hari tubuh Dicky semakin kurus dan semakin lemah. Hingga orangtua dicky menyewa seorang perawat rumah sakit untuk menjaga Dicky.

“Mah, Pah, Kak… kalau semisal Dicky gak bisa lagi sama sama Mama, Papa, sama Kak Elena lagi, Dicky mohon jangan pernah nangis ya. Dicky bakalan sedih kalau kalian sedih.” Ucap dicky dengan wajah polosnya yang terlihat pucat.

Sang mama yang mendengar perkataan anaknya itu menangis sambil memeluk Dicky erat dan sangat erat, begitupun dengan Elena.

Di malam yang sunyi ini, Dicky terlihat sangat sibuk dengan kertas kertas yang terdapat tulisan tulisan yang selama ini ia tulis.

“Mama tercinta, Dicky tau Mama akan kehilangan Dicky… tapi Dicky akan selalu ingat sama Mama dan akan terus menyayangi Mama, meskipun Dicky udah gak bisa mengatakan AKU SAYANG MAMA.” Ucap Dicky di kesunyian malam.

Semakin hari kondisi Dicky semakin melemah, hingga ia tak mampu lagi untuk berjalan, dan Dicky sekarang bergantung pada kursi roda.
Yang lebih buruk lagi kini Dicky sudah tidak bisa berbicara lagi. Meskipun Dicky tidak bisa lagi berbicara lagi, ia tetap menyuarakan isi hatinya melalui sebuah tulisan yang nantinya diberikan untuk keluarganya saat Dicky bener benar pergi.

Saat makan malam tiba, tiba tiba Dicky yang sedang makan makanan yang telah disiapkan khusus oleh sang Mama tiba tiba Dicky merasakan sakit di tubuhnya dan keluar cairaan kental berwarna merah dari hidung anak laki laki itu.
Sang mama, Papa dan Elena yang melihat Dicky, merengkuh kepalanya dan menjerit kesakitan meskipun tidak bersuara itu, mereka langsung membawa Dicky ke Rumah Sakit.

Di dalam mobil hanya ada suara isak tangis haru mengiringi perjalan mereka menuju rumah sakit. Dicky yang memang sudah tidak bisa berbicara lagi, ia hanya mencengkeram telapak tangan sang mama erat seakan tidak ingin ditinggal.

“Sayang, bertahan ya, Mama mohon.” Tangis sang Mama.

Dicky yang tidak mampu berbicara hanya tersenyum kemudian meraih tangan sang mama kemudian ia letakan di pipi chubynya, air matanya meleleh begitu saja.

Sampainya di Rumah Sakit, Dicky segera dilarikan menuju UGD menggunakan Brangkar yang di dorong oleh Suster.

Dengan perasaan cemas, takut, sedih bercampur menjadi satu mereka menunggu Dicky yang sedang diperiksa oleh dokter spesialis penyakit dalam.

Setengah jam kemudian keluarlah Dokter yang menangani Dicky. Wajahnya terlihat sangat kecewa dan sedih.

“Dokter, gimana keadaan anak saya? Hiks…” Ucap sang Mama yang menangis sesenggukan.

Dokter itu hanya menggeleng

“Maaf… saya sudah berusaha semaksimal mungkin namun anak anda tidak dapat tertolong lagi.”
“Ya Tuhan… mengapa anakku yang tidak berdosa bisa terkena kanker? Apa Tuhan sudah tidak peduli lagi? Dimana engkau Tuhan ketika anak laki lakiku membutuhkanmu?” Mama Dicky bertanya dengan hati remuk dan sakit.

Dicky meninggal pada usia 10 tahun, usia yang sangat kecil bukan?. Bayangkan saja seorang anak kecil yang belum berdosa itu sudah di berikan cobaan seberat itu dengan diberikannya penyakit yang sangat mengerikan. Jadi jangan pernah menyia nyiakan hidup yang telah diberikan Tuhan, dan selalu mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan.

Keesokan harinya Dicky dimakamkan dan semua pelayat merasa sangat kehilangan sosok Dicky yang sangat pemberani dan tegar menghadapi penyakit mematikan itu.

Seusai pemakaman, keluarganya kembali ke rumah. Sesampainya di rumah Elena menemukan banyak Surat berbentuk love yang di selipkan di antara laci, almari, rak buk dan di tempat lainnya.

Orangtua dicky juga menemukan banyak surat di sekitar rumah. Setelah dikumpulkan, ternyata catatan itu sudah terkumpul dalam tiga kotak besar. Elena, sang Mama, dan Papa pun membaca beberapa surat yang ada di catatan berbentuk love itu.

Beberapa tulisan yang digoreskan yaitu

“I Love You Mah, Pah, Kak. Dicky bersyukur punya Mama, Papa dan Kakak yang selalu sayang sama Dicky.”
“Meskipun Dicky gak mau mati, tapi Dicky tau kalau Dicky pasti akan mati dan pergi ninggalin semuanya.”
“Dicky selalu mencintai Mama sampai suatu saat kita akan bertemu lagi”.
“Jangan bersedih memikirkanku, sekarang Dicky udah ada di tempat yang indah”
“Tebak Ma, Pa, Kak apa yang terjadi? Dicky boleh duduk di pangkuan tuhan dan berbicara dengan-Nya seolah olah Dicky orang yang sangat penting”.
“Dicky senang karena Dicky gak tahan merasakan sakit dan Tuhan juga tidak tahan melihat aku kesakitan. Maka dari itu Tuhan mengirimkan Malaikat untuk menjemputku”.

Itu adalah beberapa catatan kecil yang ditulis oleh Dicky, anak laki laki yang sabar dan pemberani.
Dicky telah meninggalkan sebuah kisah tentang ketabahan hati, harapan dan yang terutama, cinta.
Sebenarnya kita tak pernah benar benar kehilangan seseorang … karena semua yang kita miliki bukanlah milik kta sejatinya, hanya titipan-Nya semata.

Semua orang punya cerita.
Semua akan indah pada waktunya, ada waktu untuk berduka pasti ada waktu untuk bersuka.
Ada waktu untuk berpisah pasti ada waktu diketemukan lagi kelak di surga.
Tetap yakin dan peracalah surga-Nya sangat indah.

Cerpen Karangan: Hilda Sheffy AlMeyda
Facebook: Hilda Sheffy

Nama: Hilda Sheffy AlMeyda (Sheffy)
Umur: 12 th
Social Media
Facebook: Hilda Sheffy
Twitter: @hildasheffy24 @hilda_sheffy
Berkarya untuk bangsa
Terima Kasih 🙂

Cerpen Goresan Terakhir Dicky merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kado Ulang Tahun Spesial

Oleh:
Besok ulang tahun Fani, sahabat Intan. Tetapi, Intan masih bingung apa yang harus diberikan pada Fani. Intan memang anak yang kurang mampu. “Bu, besok ulang tahun Fani. Intan bingung

The Story of Her

Oleh:
Aku memiliki seorang teman, namanya Keysha. Aku sudah bersahabat dengan Keysha selama kurang lebih 5 tahun, dia sering menceritakan keluh kesahnya kepadaku, terutama tentang pacarnya, Aldo. Awalnya Keysha tidak

Dia Dan Mimpi

Oleh:
“Hei kamu ngelanjut SMA mana? Kuliah?” Tiba-tiba kamu menanyakan itu padaku. Dengan semangat aku langsung menjawab dengan menyebutkan SMA dan Universitas terbaik dunia. “jangan kebanyakan mimpi, itu yang kamu

Kidung Luka di Kolong Senja

Oleh:
Aku tak bermaksud menciptakan duniaku sendiri di tengah megah dunia kalian. Tapi aku tak berdaya. Setiap goresan luka dan sayatan perih yang kalian hadiahkan padaku di semua waktu, memaksaku

Kopi Perjuangan

Oleh:
Wajah ayah belum lama murung pada duka yang melata masuk tanpa sapa. Ibu masih sibuk dengan ekonomi yang tidak seberapa yang selalu ayah hasilkan dari aktornya menjadi sosok karyawan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *