Hadiah Buat Mama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 July 2015

Suatu hari saat Ina baru saja pulang sekolah, dia dikagetkan oleh suara mamanya yang memanggil namanya.
“Ina… ina…”
“iya ma ada apa?” Jawab Ina dengan sopan.
“kamu itu lagi ngapain? Pulang sekolah bukannya bantuin mama malah ngurung diri di kamar.” Ucap mama Ina sambil melototi Ina.
“maaf ma, Ina capek. Tadi Ina pulang sekolah jalan kaki. Ina istirahat bentar lagi ya ma.” Jawab Ina dengan terbata-bata.
“apa kamu bilang? Istirahat? Butuh berapa jam untuk istirahat? Istirahat 5 menit cukup Ina. Kamu dari tadi istirahat sudah lebih dari 5 menit, masih minta istirahat lagi? Kamu itu memang kebangetan.” Ucap mama Ina sambil memukuli Ina dengan tangannya yang lebih besar dari Ina.
“ampun ma! Maafkan Ina ma. Sakit ma…” teriak Ina yang mulai menangis kesakitan.
“maaf katamu. Percuma kamu minta maaf kalau setiap hari kamu masih seperti ini.” Jawab mama Ina yang masih terus memukuli Ina dan menarik-narik rambut Ina yang terurai panjang.
“Ina janji ma, Ina tidak akan mengulanginya lagi.” Ucap Ina dengan melas.
“ma kamu itu apa-apaan si? Hentikan perbuatanmu itu. Ina itu anakmu ma!!!” Teriak papa Ina yang berusaha membela Ina.
“papa diam deh!!! Nggak usah ikut campur sama urusan mama!!! Dia itu kurang ajar pa!” Papa Ina hanya diam mendengar ucapan mama Ina.
“tapi kamu sudah keterlaluan ma. Dia itu anak kamu sendiri, jangan perlakukan dia seaakan-akan anak tiri ma.”
“sudahlah pa. kamu nggak usah sok ngebelain anak kesayangan kamu ini.”
Mendengar perkataan istrinya, papa Ina hanya diam dan membawa Ina ke ke kamarnya.
Dari dulu papa Ina memang tidak pernah melawan istrinya. Dia sadar, jika dia melawan maka istrinya akan melampiaskan kemarahannya pada anak kesayangannya yaitu Ina.

Malam itu tepat jam 12, mata Ina masih tidak mau dipejamkan. Ina sedang memikirkan hadiah yang ingin dia berikan kepada mamanya esok hari. Karena besok tepat tanggal 22 Desember adalah hari ibu. Ina ingin memberikan hadiah pada mamanya sebagai ucapan terimakasih. Beberapa menit kemudian Ina menemukan hadiah yang dipikirkannya.
“ma besok aku akan memberikanmu sebuah hadiah yang sangat kau sukai. Bunga mawar merah kesukaanmu. Aku harap mama mau menerimanya. Mama, besok aku ingin mendapatkan pelukanmu yang hangat..” gumam Ina dalam hati.

“teeet… teeet…”
Bel berakhirnya jam sekolah telah berbunyi. Ina segera membereskan buku-bukunya yang berserakan. Seperti biasanya, Ina pulang sekolah bersama sahabatnya yang bernama Irata Sukma Wirati. Dia biasa dipanggil Ira, dia berasal dari keluarga yang berada. Mereka berdua berjalan beriringan sambil berbincang-bincang. Ina memang sudah terbiasa menceritakan semua keluh kesahnya terhadap Ira. Hari ini Ina bercerita kepada Ira tentang mamanya. Sebenarnya Ina belum pernah bercerita soal mamanya pada Ira, dia takut jika Ira akan meninggalkannya setelah tahu sifat mamanya, tapi Ina benar-benar butuh seorang teman untuk menjadi curahan hatinya. Ina mulai membuka pembicaraannya dengan Ira.
“ira…”
“iya Na, ada apa?” jawab Ira dengan senyuman yang tersungging manis di mulut mungilnya.
“hmmm…” jawab ina ragu-ragu.
“kamu itu kenapa si? Kalau ada masalah cerita dong Na.” jawab Ira sambil mendorong tubuh Ina yang mungil dengan tubuhnya yang lebih besar dari Ina.
“tapi kamu janji ya, setelah aku cerita kamu nggak boleh ninggalin aku.” Mohon Ina dengan wajahnya yang polos.”
“ya nggak mungkin lah Na. kamu kan sahabat aku.” Jawabnya sambil melirik Ina dengan matanya yang agak sipit.
“mama aku Ra.” Jawab Ina dengan lemah gemulai.
“mama kamu kenapa? Sehat-sehat aja kan?” jawab Ira penuh perhatian.
“mama aku sehat kok, hanya saja….”
“kenapa berhenti”
“kenapa ya, mama aku nggak seperti mama kamu yang baik, perhatian, sayang sama kamu.”
“mama kamu juga kayak gitu kan Na?”
“nggak Ra, mama aku itu beda.”
“beda gimana?”
“aku cuma cerita sama kamu lo Ra, aku percaya sama kamu, aku harap kamu nggak akan mengkhianatiku.”
“ya nggak lah Na. kamu percaya aja sama aku.”
“mama aku itu kalau di rumah suka nyiksa aku ra.”
“nyiksa gmana Na? mama kamu sering marahin kamu gitu?”
“bukan gitu Ra, tapi mama aku itu suka mukulin aku.”
“ah nggak mungkin Na!” jawab Ira yang keheranan.
“mungkin kamu nggak percaya, aku sudah terbiasa sejak kecil dipukuli mama. Tapi baru kali ini aku berani cerita sama kamu.”
“aku nggak nyangka ternyata mama kamu suka main kekerasan.”
“nggak apa-apa kok Ra. Aku sudah terbiasa. Meskipun mama ku seperti itu, aku tetap sayang sama mama.”
“kamu itu memang anak yang baik Na. aku salut sama kamu.”
“makasih Ra. O ya Ra, hari ini kan hari ibu, aku ingin memberikan bunga mawar merah kesukaan mama. Kira-kira mama mau tidak ya menerima bunga itu.”
“mama kamu pasti mau menerimanya. Kan niat kamu baik.”
“kira-kira pantas tidak jika aku memberikan bunga untuk hadiah mama?”
“tentu saja pantas, itu malah hadiah yang indah menurut ku Na.”
“benarkah…?”
“tentu saja.”
“baiklah, aku akan membelinya di tepi jalan sana. Kalau begitu aku duluan ya Ra. Nggak apa-apa kan aku tinggal?”
“ya nggak apa-apa lah. Udah cepet sana, keburu kesiangan lo.”

Ina segera pergi dan berlari ke tepi jalan di seberang jalan sekolahnya. Di sana ada penjual bunga segar yang setiap harinya berjualan. Ina membeli bunga mawar merah kesukaan mamanya. Setelah mendapatkan bunga mawar itu, Ina berjalan pulang menuju rumahnya. Wajahnya berseri-seri, hatinya berbunga-bunga membayangkan mamanya akan memeluknya dengan penuh kasih sayang.

Beberapa jam kemudian dia telah tiba di depan rumahnya. Wajahnya terlihat letih, namun ada gurat kebahagiaan di wajahnya. Pantas jika Ina kelelahan, karena jarak sekolahan dengan rumahnya lumayan jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. Ina langsung memasuki rumah. Dia sengaja membuka pintu pelan-pelan supaya ibunya tidak mendengarnya pulang. Ina menemukan mamanya sedang asik menonton TV. Ina memeluk mamanya dari belakang.
“mama… selamat hari ibu ya ma. Ini ina belikan bunga mawar merah kesukaan mama.” Ucap Ina dengan nada manja.
“kamu apa-apaan sih? Pulang sekolah bukannya mengucapkan salam malah mengagetkan mama. Tidak sopan tahu.” Bentak mama Ina dengan kasar.
“maaf ma. Ina hanya ingin memberikan sedikit kejutan sama mama. Ini ma, Ina belikan bunga untuk mama.” Ucap Ina gemetar.
“heeeh anak nakal! Kamu uang dari mana bisa beli bunga sebagus ini ha? O…! apa jangan-jangan kamu nyuri uang mama ya? Iya kan?” Tuding mama Ina pada anaknya..
“nggak ma. Ina membeli bunga ini pake uang jajan Ina kok ma.” Jawab Ina yang mulai ketakutan.
“kamu itu bego apa gimana sih? Ngapain uang kamu buat beli barang yang nggak ada gunanya? Bentar lagi juga layu, terus dibuang. Kamu kalau mau bertindak dipikir dulu kenapa. Jangan bertindak seenaknya sendiri. Emang kamu pikir nyari duit itu gampang apa?” Ucap mama Ina kasar sambil memukuli Ina dengan bunga mawar yang Ina beli.
“ampun ma! Ina tidak bermaksud seperti itu kok ma. Ina hanya ingin membuat mama senang.” Ucap Ina sambil menangis.
“nih bunganya. Mama nggak sudi menerima bunga pemberian kamu!” Bentak mama Ina kasar sambil melempar bunga mawar tepat di wajah Ina. Ina hanya diam dan menangis terisak. Dia merapikan bunga mawar yang berserakan di lantai dan membawanya masuk ke kamar.

Saat Ina sedang belajar, tiba-tiba dikejutkan dengan suara mamanya yang memanggilnya.
“Ina…”
“iya ma..!” jawab Ina.
“sini kamu.”
“iya ma ada apa.?” Jawab Ina lugu.
Saat itu suasana rumah Ina dalam keadaan sepi karena ayahnya sedang menjengut neneknya yang sedang sakit parah. Kebetulan saat itu HP ayah Ina tertinggal di rumah.
“ngggak ada apa-apa sih. Mama Cuma mau tanya sama kamu, kira-kira ini sms di HP papa dari siapa ya?” Tanya mama pada Ina sambil memperlihatkan sms yang ia maksud.
“mana aku tahu ma. Aku kan tidak pernah mainan HPnya papa. Mungkin itu hanya teman bisnis papa ma. Mama tenang saja, papa tidak akan mengecewakan mama.” Jawab Ina dengan santai. Namun wajah mama Ina terlihat marah mendengar perkataan Ina.
“dasar kamu anak nggak tahu diuntung. Ditanya malah jawaban kamu itu ngawur. Mana sopan santunmu?” Teriak mama sambil melemparkan remot TV tepat di kepala Ina.
“aku memang tidak tahu apa-apa ma.!” Hanya itu jawaban Ina saat dilempar remot Tv oleh mamanya. Dia memang tidak pernah melawan mamanya meskipun mama Ina kasar terhadapnya, namun Ina tetap menyayangi mamanya. Baginya kekasaran mamanya terhadapnya belum seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan mamanya untuk membesarnya, bahkan neneknya sangat kagum dengan Ina. Nenek Ina tidak pernah bosan-bosannya untuk menasehati cucu kesayanganya itu. Ina selalu mengingat kata-kata neneknya yang selalu dia jadikan sebagai penyemangat untuk bertahan menghadapi mamanya. Inilah perkataan nenek Ina yang selalu dia ingat.
“ina kamu tahu sendiri bagaimana sifat mamamu. Nenek harap kamu terus bersabar. Jangan pernah melawan mamamu. Bagaimanapun kelakuannya padamu, dia tetap mama kamu yang telah melahirkan kamu. Sebisa mungkin kamu harus bisa membuat mamamu menyesal dengan perbuatannya padamu. Kalau perlu korbankan nyawamu di tangan mamamu. Agar mamamu sadar dengan perbuatannya.” Itulah ucapan nenek Ina yang selalu terngiang di telinga Ina. Ina kira mamanya sudah cukup puas melempari Ina dengan remot TV hingga remot itu pecah di kepalanya. Namun, dugaan Ina salah, mama Ina semakin menjadi setelah mendengar jawaban Ina. Dia mendekati Ina dengan wajah yang penuh amarah. Dia langsung menyarang Ina. Dia menendang kaki Ina hingga Ina terjatuh, dia menjambak rambut Ina hingga Ina kesakitan. Belum puas melihat Ina yang menangis sesenggukan, dia menggunakan kukunya untuk melukai anaknya. Dia mencakar wajah Ina dengan garang. Kini wajah Ina sudah berlumuran darah. Ina hanya berdiam diri mendapatkan perlakuan kasar dari mamanya. Ina melihat pisau yang tergeletak di meja TV, dia berlari menghampiri meja itu, mamanya mengejar Ina secepat mungkin, saat Ina dapat meraih pisau itu, mama Ina terdiam.
“mama berhenti ma!” Teriak Ina dengan membawa pisau di genggamannya.
“mama lihat pisau ini kan ma? Dari pada aku harus terus menerus mendapatkan siksaan dari mama, lebih baik mama bunuh Ina dengan pisau ini.” Ucap Ina menangis sambil memberikan pisaunya kepada mamanya. Mendengar perkataan Ina, mama Ina tidak memperdulikannya. Dia terus menerus menghardik anaknya dengan kasar.
“ma Ina mohon ma, insyaf ma, insyaf! Sebelum semuanya terlambat ma!” Ucap Ina dengan sisa tenaganya.
“apa kamu bilang? Isyaf? Beraninya kamu menasihati mama seperti itu. Seharusnya kamu yang insyaf dengan perkataan kamu sama mama.” Ucap mama Ina yang semakin keras memukuli Ina.
“ampun ma! Sakit ma! Tolooong… tolong aku!” Teriak Ina minta tolong. Namun saat itu, di rumah sedang tidak ada orang satu pun selain Ina dan mamanya. Keluarganya sedang pergi mengunjungi neneknya yang sedang sakit. Sebenarnya Ina diajak oleh ayahnya, tapi Ina tidak tega meninggalkan mamanya sendirian di rumah. Ina tidak mengira jika mamanya akan berbuat sekeji ini padanya.

Ternyata teriakan Ina didengar oleh tetengganya. Tetangga Ina hanya berdiam diri melihat Ina yang dihardik oleh mamanya sendiri. Mereka tidak berani menolong Ina, karena mereka sudah tahu sifat mama Ina yang kasar. Saat mama Ina melihat tetangganya yang berkerumunan di depan rumahnya, dia langsung mengusir mereka dengan kasar dan menghentikan perbuatannya pada Ina. Dia meninggalkan Ina sendirian dengan penuh luka di sekujur tubuhnya. Ina berjalan menuju kamarnya dengan tergopoh-gopoh. Ina membersihkan lukanya sendirian. Ina yakin, dengan perbuatan mamanya kali ini pasti mamanya akan berubah. Namun dugaan Ina salah. Tiba-tiba mama Ina datang ke kamar Ina dengan wajah yang garang. Mama Ina mendekati Ina. Ina berjalan mundur untuk menghindari mamanya. Ternyata mama Ina tidak menyentuh tubuh Ina sedikitpun. Dia hanya mengambil HP milik Ina dan membantingnya hingga benar-benar rusak mama Ina tidak hanya sekali membanting HP milik Ina, namun berkali-kali hingga HP milik Ina hancur.
“ma hentikan ma! Hentikan. HP itu satu-satunya barang yang Ina punya ma.” Teriak Ina berusaha menghentikan mamanya. Namun mama Ina tidak memperdulikan anaknya. Setelah puas menghancurkan HP Ina, mama Ina pergi meninggalkan Ina yang sedang merapikan Hpnya yang hancur.

Suatu hari saat Ina berjalan pulang dari sekolah, dia mulai menghayal. Saat Ina akan menyabrang jalan, dia kaget melihat mamanya di seberang jalan yang celingukan kanan kiri karena akan menyebrang. Ketika mamanya menyebrang, Ina melihat mobil dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi. Ina berteriak memanggil mamanya agar menghindar.
“mama awas ma!” Teriak sambil berlari ke arah mamanya dan mendorong mamanya hingga jatuh ke tepi jalan.
Namun ternyata Ina masih tertinggal di tengah jalan, seketika itu juga Ina tertabrak mobil kijang berwarna hitam dengan kecepatan tinggi hingga terpental sejauh 5 m. Saat mama Ina menyadari apa yang terjadi dengan anaknya, dia langsung berlari menghampiri anaknya.
“Ina! Ina sayang! Bangun sayang. Bangun sayang. Maafkan mama. Sayang mama janji akan menyayangi Ina dengan sepenuh hati. Mama mohon bangun sayang.” Ucap mama Ina yang tak kuasa menahan tangis sambil memeluk tubuh Ina yang berlumuran darah.
“ma..ma..” ucap Ina lirih.
“iya sayang, ini mama. Maafkan mama sayang.” Jawab mama Ina sambil menangis sesenggukan.
“iya ma, Ina sudah memaafkan mama jauh-jauh hari sebelum mama minta maaf pada Ina.” Ucap Ina yang mulai berat untuk berbicara.
“Ina jangan banyak bicara dulu ya. Kamu harus sembuh dulu.” Bujuk mama Ina penuh kasih sayang.
“ma Ina sudah nggak kuat lagi ma. Ina hanya minta pelukan dari mama. Ina mohon ma. Ina ingin pergi dengan tenang di pelukan mama.!”
“sayang jangan pernah berkata seperti itu. Kamu pasti sembuh.” Ucap mama Ina sambil memeluk Ina erat-erat.
“terimakasih ma. Ina sayang mama.” Seketika itu juga Ina pergi meniggalkan mamanya.
“Ina… bangun nak bangun. Tolong! Pak tolong anak saya pak.” Teriak mama Ina meminta bantuan.

Saat mama Ina berhasil mendapatkan bantuan, dia langsung melarikan Ina ke rumah sakit. Namun hasilnya nihil. Ina benar-benar telah pergi. Saat itu mama Ina langsung menelepon suaminya untuk memberi kabar bahwa anak satu-satunya telah tiada. Saat papa Ina mengetahui bahwa Ina telah tiada, dia langsung pergi ke rumah sakit. Saat sampai di rumah sakit, papa Ina memarahi istrinya.
“kamu apakan anak kita ma? Apa yang terjadi dengannya hingga dia pergi secepat ini.”
Mama Ina hanya terdiam, dia tidak dapat berkata apapun terhadap suaminya, dia benar-benar terpukul dengan kepergian anaknya, apalagi setelah mendengar suaminya bercerita tentang Ina, bahwa Ina selama ini sangat menyayanginya. Dia tidak pernah mempunyai perasaan dendam terhadap dirinya. Mama Ina benar-benar menyesal telah berbuat kasar terhadap anaknya. Kini mama Ina hanya dapat menangisi kepergian Ina dengan berat hati.

Esok harinya setelah pemakaman Ina, di sebuah tanah pekuburan yang masih basah tampak papa dan mama ina sedang meratapi keperegian anak semata wayangnya.
“huuuuuu” terdengar suara tangisan mama Ina.
“mama sudah lah ma, ikhlaskan Ina ma supaya Ina bisa tenang di sana.” Bujuk papa Ina untuk menenangkan istrinya.
“kenapa papa tidak mengatakan dari awal sama mama jika Ina sebenarnya merindukan mama pa?” jawab mama Ina yang masih terus menerus menangis dengan kondisi matanya yang lebam.
“bukan seperti itu maksud papa ma. Papa hanya ingin menyadarkan mama.” Jawab papa sambil memeluk istrinya.
“aku gagal menjadi seorang ibu pa, aku gagal pa. aku tak pantas bersanding denganmu pa. aku malu pada diriku sendiri pa.” teriak mama Ina sambil mamukuli tubuhnya sendiri dengan penuh penyesalan yang begitu mendalam.
“ma, ma, mama.. dengarkan papa. Percuma kamu menyiksa dirimu sendiri, Ina tidak akan mungkin bangun lagi ma. Jangan pernah kamu mengatakan jika kamu tidak pantas untuk papa. Papa hanya ingin kamu berubah ma. Rubahlah semua sifat kamu ma. Maka papa juga akan memaafkan perbuatan mama.”
“benarkah itu pa?”
“benar ma.”
“kalau begitu mulai sekarang mama berjanji akan mengubah semua tingkah laku mama.”
“baiklah papa pegang janji mama. Kalau begitu mari kita pulang ma.” Mereka berdua pulang ke rumah dengan penuh senyuman kebahagiaan.

Seminggu kemudian, mama Ina mulai memperlihatkan keseriusannya untuk berubah. Kini dia selalu bangun pagi untuk melayani suaminya yang akan berangkat bekerja. Kini wajah kemarahan yang biasanya selalu terlukiskan di wajahnya benar-benar telah hilang, yang ada hanyalah wajah kebahagiaan. Mama Ina yang biasanya tidak pernah keluar rumah dan tidak pernah bergaul dengan tetangganya, dia kini sangat ramah pada mereka, bahkan dia sangat suka membantu tetangganya yang sedang membutuhkan.

Cerpen Karangan: Nurwahid
Facebook: Wahead Mbah Punyea
nama saya Nurwahid, saya suka nulis baru-baru ini. saya terus berusaha menulis lebih baik

Cerpen Hadiah Buat Mama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kota Kelam

Oleh:
Aku duduk di teras depan rumahku sambil memandangi langit gelap yang tak ada bulan. Kemarin, hari ini, hingga esok mungkin aku akan melakukan ini. Karena di rumah sederhana ini

Inilah Hidup Ku

Oleh:
Perkenalkan nama ku Riana Dewi, panggil aja aku ana. Aku terlahir dari keluarga yang biasa, dan aku mempunyai kakak perempuan, serta adik laki-laki. Tapi kakak ku sudah lama menikah

The Fight of One Couple

Oleh:
Hari yang membosankan! Orangtua dinas, kakak kencan dan aku? Tentu saja di rumah. Aku harus holiday! Itu nggak adil, mereka jalan-jalan sedangkan aku berada di rumah bersama adik yang

Martini

Oleh:
Ada seorang wanita tua dan miskin terbaring lemah di rumahnya yang jelek. Tatapan matanya kosong hanya ada bulir-bulir air mata penyesalan yang jatuh dari kedua matanya. Wanita ini hidup

END

Oleh:
“ Mata indah itu masih bisa untuk aku tatap…….. Senyuman manis itu masih bisa ku lihat……… Suara merdu itu masih bisa ku dengar………. Tapi apakah hati itu masih bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *