Hadiah Dari Bunda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 January 2014

“via, ayo bangun, sudah jam 6 nanti kamu telat lagi ke sekolah” kata bunda membangunkanku.
“hoaaam.. iya bunda, lagian masih jam 6 kan” jawabku yang masih menutup mata
“viiaa.. ayo bangun, cepat mandi dan sarapan, bunda akan menunggu di bawah.” Kata bunda meninggalkan’ku
“hooaamm…” aku beranjak dari tempat tidur dan segera mandi. Setelah itu bersiap dan sarapan bersama bunda.
“loh bunda?, kok Cuma susu?, rotinya mana?.” tanyaku kaget melihat tidak ada makanan di atas meja, hanya susu dan ya, hanya susu. Bunda tidak menjawab pertanyaanku, bunda hanya diam dan melanjutkan meminum susunya. Aku segera meminum susuku dengan cepat dan berlari keluar.

“huhh, bunda kenapa sih, masa anak mau sekolah gak disiapin makanan.” Keluhku di dalam mobil.
“ada apa sih sayang?, dari tadi papa lihat kamu marah-marah mulu.” Tanya papa yang melihatku di kaca yang ada di depannya.
“tau ah,” jawabku tak peduli.

Akhirnya aku sampai di sekolah, kedua sahabatku sudah menungguku di pintu gerbang. Aku segera turun dan menghampiri sahabatku itu.
“eciiyyee, pagi-pagi wajahnya udah ditekuk aja!”. kata Dinda sahabatku yang tomboy
“tau nih, smile donk!” kata rina sahabatku yang feminimnya kebangetan.
“kalian tau gak?, masa tadi pagi aku gak dikasih makan?” kataku.
“hahahah, itu sih udah biasa.” Kata Dinda
“biasa gimana?, kalau aku pingsan gimana?.” kataku.
“lebaaayyy.” Teriak Dinda dan Rina bersamaan
“pelan-pelan bisa gak?” kataku yang sudah jengkel melihat tingkah laku temanku ini
“ya udah deh, kita ke kelas duluan ya..” kata Dinda dan Rina meninggalkanku.
“byeee viaa.” Kata Rina
“loh?, kok aku ditinggal?.” Kataku heran.

Hari ini adalah hari yang sangat aneh bagiku. Bagaimana tidak, semua orang bersikap cuek padaku. aku tidak tau apapun tentang hari ini.
“hhh…” desahku. Aku duduk sendiri di bawah pohon dekat lapangan basket. Tiba-tiba ada yang menepukku dari belakang.
“dorrr..” suara itu mengagetkanku. Aku pun menoleh ke belakang, namun tak ada seorang pun disitu. Aku kembali merenungi nasib hari ini. Tiba-tiba suara kepala sekolah membuyarkan lamunanku.
“viaa.” Panggil kepsek itu. Aku kaget dan sontak aku menjadi latah.
“eh via.. via. eh via..” kataku dengan latah!
“ehm maaf pak, ada apa?” tanyaku yang semakin penasaran.
“kamu ke ruangan saya sekarang.” Kata pak kepsek, yang membuatku takut.
“baik pak,” jawabku dan segera berjalan menuju ruang kepsek.

“kamu saya hukum.” Kata pak kepsek tanpa basa basi dan segera duduk di kursi kesayangannya itu.
“haa?, dihukum?,” jawabku sangat kaget. Aku benar-benar tidak tahu apa yang kulakukan sehingga aku harus dihukum.
“iya, kamu harus hormat di tiang bendera sampai jam istirahat tiba.” Kata pak kepsek dengn mudahnya.
“haa?, baik pak.” Jawabku dengan suara yang menunjukkan pasrah.
Aku segera pergi menuju lapangan dan hormat pada tiang bendera hingga jam istirahat tiba.

Kubuka mataku perlahan. Ku lihat langit-langit menjadi putih, dan di sekelilingaku terdapat beribu obat-obatan. Di sampingaku sudah ada Rina dan Dinda.
“aku dimana?.” Tanyaku, lemah.
“kamu di UKS vi, tdi kamu pingsan waktu hormat di lapangan.” Kata Dinda menjelaskan.
“terus yang ngangakat ke sini siapa?.” tanyaku
“ya guru lah, kita mana kuat.” kata Rina lalu mengajak Dinda keluar dari UKS
“hh, aneh!,” pikirku. Kepalaku terasa sakit dan masih pusing. Aku tak menghiraukan sakit itu, aku segera berjalan menuju kelas.
“darimana kamu?,” bentak seorang guru saat aku baru memasuki kelas.
“ahhh, maaf bu, tadi saya dari UKS.” Jawabku,
“alahh itu pasti Cuma alasan kamu saja kan?, biar kamu tidak mengikuti pelajaran saya, iya kan?.” Tanya guruku memarahiku.
“iya bu, pasti dia hanya alasan, biar tidak mengikuti pelajaran ibu.” Sahut Rina dari belakang
“loh?, rin tadi kan kamu nungguin aku di UKS.” Kataku heran. Mengapa tiba-tiba Rina menjadi seperti ini.
“iya bu, dia pasti alasan” kata Dinda meyakinkan ucapan Rina.
Aku semakin tak mengerti Rina dan Dinda bahkan tidak mau bicara yang sebenarnya.
“viaa, kamu harus saya hukum.” Kata guru itu.
“tapi buu.” Belum slesai aku berbciara guru itu sudah menarik tanganku ke depan papan tulis.
“kamu harus berdiri di sini sampai jam pelajaran saya selesai.” Kata guru itu.
“hahahahaha,” tawa murid-murid seraya menyorakiku.
Aku mulai pasrah, aku tak mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya. Hari ini adalah hari sial bagiku.

Jam istirahat telah berbunyi, aku mulai lega saatnya mengakhiri hari sial ini. Namun dugaanku salah ternyata hari sial ini masih berlanjut. Tiba-tiba ada air yang mengguyurku dari atas. Aku segera menoleh ke atas, dan sontak aku sangat kaget ternyata yang melakukan ini adalah..
“Rina?.” kataku kaget.
Aku tak menghiraukan lagi, aku segera berlari menuju toilet dan…
Sssss… aku terpeleset Karena kulit pisang yang kececeran di lantai sekolah.
“hahahhaahha…” terdengar tawa Rina dan Dinda di balik tiang pembatas. Mereka cukup puas menertawaiku.

Aku kembali berjalan menuju toilet. Aku berharap kesialan ini tak akan terjadi di toilet. Ternyata memang tidak terjadi. Aku segera pergi menuju kantin dan memesan 1 porsi bakso dan 1 es teh. Aku segera mengambil tempat duduk yang ada di sebelah tempatku membeli. Kulihat Dinda dan Rina telah berada di sampingaku. Dia mengambil sambel dan memeberikannya pada baksoku sekitar 7 – 10 sendok. Aku sangat kaget, bagaimana bisa aku memakan makanan sepedas ini.
“ayo makan!.” perintah Dinda
Aku menggeleng,
“ayo makan!” kata Rina sedikit membentakku.
Aku tetap menggeleng.
“kalian saja yang makan, kan kalian yang menambahkan sambel pada bakso itu.” Kataku menolak
“okee.. buu, pesan bakso 2 sama es teh 2 lagi ya.” Kata Rina memesan makanan di tempatku tadi.

Setelah pesanan datang Rina dan Dinda memakannya dan makanan itu habis seketika.
“buu, uangnya minta di via ya.” Kata Dinda dan Rina berlari meninggalkanku.
“haa?, kok aku, yang makan kan mereka.” Batinku.
“ayo bayar semuanya 12 ribu.” Kata ibu penjual bakso dan es teh itu.
“haa? 12 ribu?, tapi bu, uang saya gak cukup.” Kataku memelas.
“gak usah alasan, kamu tetap harus bayar, kalau tidak kamu akan saya laporkan ke kepala sekolah.” Kata penjual itu.
“tapi bu, uang saya gak cukup.” Kataku
“ya sudah, begini saja, kamu harus membantu saya mencuci piring.” Kata ibu itu lagi.
“tapi bu, jam istirahat sudah hampir selesai.” Kataku
“sudah, sudah, pokoknya kamu harus bantu saya mencuci piring sekarang juga,” kata ibu itu.
“tapi bu..” kataku, terpotong karena buru-buru disahut oleh ibu itu.
“gak ada alasan lagi, cepat!!.” kata ibu itu
“baik bu.” Jawabku

Akhirnya waktu mencuci piring sudah selesai, tanganku sangat kasar sekarang, tak pernah sebelumnya aku mencuci piring sebanyak itu. Aku segera berlari menuju kelas, ternyata aku sudah meninggalkan 2 jam pelajaran untuk mencuci piring.
“tok.. tok.. tok..” aku mengetuk pintu kelasku yang tertutup itu.
“kreekkk.” Suara pintu terdengar telah terbuka.
“via.?” Kata orang yang membuka pintu itu.
“eh, ibu indah, heheh. Boleh masuk gak bu.” Tanyaku sedikit meringis.
“masuk, tapi jangan duduk dulu.” Kata ibu indah, guru matematika itu, dan sekaligus guru BK di sekolahku.
“baik bu.” Kataku memasuki kelas.
“hahahaha..” suara tawa itu terdengar jelas lagi di telingaku.
“Ya Tuhan, apalagi ini?” batinku. Hatiku mulai deg-deg’an, entah apa lagi yang akan terjadi setelah ini.

Bu indah mengambil posisi berdiri dengan sempurna di sampingaku.
“dari mana saja kamu? kamu tau, kamu sudah 2 jam tidak mengikuti pelajaran saya! dan sekarang tersisa hanya 15 menit lagi.” Bentak bu indah padaku
“maaf bu, tadi saya dari UKS.” Kataku berbohong agar tidak dimarahi
“benar kamu dari UKS?.” Tanya bu indah.
“i.. iya bu..” jawabku gugup
“bohong bu, paling juga dia nongakrong di kantin.” Kata Rina
“ehh, jangan asal ngomong yaa!, enak aja!,” kataku membela diri.
“yang benar yang mana ini!, ayo cepat katakan, kalau tidak kamu akan saya bawa ke ruang BK dan melaporkanmu ke kepala sekolah.”
“ehm, saa.. sa.. saya dari kantin bu.” Kataku
“apa?, ngapain kamu ke kantin?, apa kamu menghindar dari pelajaran ibu?” bentak bu indah yang membuatku kaget.
“saya habis mencuci piring bu.” Kataku menundukkan kepala
“hahahahahah…” suara tawa itu lagi..
“tenang anak-anak.” Kata bu indah menenangakan murid-muridnya yang gaduh itu akibat menertawaiku.
“mengapa bisa kamu disuruh mencuci piring?.” Tanya bu indah lagi padaku.
“karena saya gak bisa bayar makanan yang dibeli Rina dan Dinda bu.” Kataku masing menundukkan kepala
“hhahahahah..” kali ini bukan suara tawa yang ditimbulkan oleh anak-anak melainkan suara tawa yang berasal dari bu indah sendiri. Aku sampai menjadi bingung melihatnya.
“kalau kamu gak bisa bayar, kenapa kamu mentraktir mereka?” bentak bu indah tiba-tiba.
“eh, bukan saya bu yang…” lagi-lagi kata-kataku terpotong.
“sudah, jam pelajaran ibu sudah selesai.” Kata bu indah mengambil barang-barangnya di atas meja dan pergi meninggalkan ruangan kelasku ini.
“arrggghhh… aku benar-benar benci hari ini..” kataku

Akhirnya jam pulang telah tiba, aku adalah murid terakhir yang keluar dari kelasku. Aku memberskan buku-buku dan pensilku yang berserakan di atas meja. Setelah itu aku segera berjalan keluar dan menunggu jemputan di depan pintu gerbang. Namun sudah hampir 1 jam aku menunggu, tidak ada seorang pun yang datang untuk menjemputku, akhirnya aku putuskan untuk jalan saja sampai rumah, tetapi aku tidak yakin dengan omonganku ini, karena jarak sekolah dengan rumahku sangatlah jauh. Untung saja ada angakot yang melewati rumahku lewat, aku segera memberhentikan angkot itu dan naik.

“panasss..” keluhku. Dalam angakot ini sangat panas, gerah, dan aku tak tahan dengan cuaca di dalam angkot ini. Aku ingin segera sampai dan menyalakan AC di dalam kamarku dan tidur. Sekian lama aku naik angkot yang tak bersahabat denganku, akhirnya aku sampai. Aku segera turun dan membayar angkot itu.
“lohh, kok sepi?.” kataku heran, rumahku tampak sepi seperti rumah tak berpenghuni.
Aku memutuskan untuk masuk dan…
“Happy Birthday To You…” terdengar nyanyian selamat ulang tahun yang sangat jelas dan sangat keras dari ruangan ini, ternyata mereka semua yang menyanyikannya. Dinding-dinding terlihat sangat indah dengan hiasan balon. Dan kado- kado yang mengeliling suatu box besar. Aku tampak tak mengerti apa maksud semua ini. Kue ulang tahun berbentuk hati dan lilin bertuliskan angaka 13 sangat indah dipandang.
“loh bunda, ayah, Rina, Dinda, bu indah, teman-teman?” aku heran melihat semua orang berkumpul di rumahku yang bisa dibilang cukup besar.
“kau suka sayang?” Tanya bunda.
Aku semakin heran,
“loh bunda, yang ulang tahun siapa?.” tanyaku dengan wajah yang tampak polos.
“hahahahah,” seisi ruangan tertawa mendengar pertanyaanku yang menurut mereka aneh.
“kok ketawa sih yah, bun, rin, din?, sebenarnya ada apa sih?.” tanyaku semakin polos dan aku pun menjadi sangat bingung.
“huuu…” Dinda dan Rina menyorakiku.
“ulang tahun sendiri kok lupa.” Kata Dinda.
“iyaa nih, masih muda kok udah pikun.” Tambah Rina.
“ulang tahun?.” Aku mulai mencermati kata-kata Dinda tadi.
Aku segera berlari melihat kalender, ternyata hari ini adalah tanggal 24 oktober dan hari ini adalah hari ulang tahunku.
“Happy birthday ya vi, semoga panjang umur dan sehat selalu.” Kata Dinda.
“tau gak ini semua ide siapa?.” Kata Rina
“emang ini ide siapa?” tanyaku
“ini semua ide bunda kamu loh..” kata Rina
Aku berlari menuju bunda dan memeluknya.
“terima kasih bunda.” Kataku

Beribu ucapan dan harapan diberikan padaku. Aku harap hari esok akan lebih baik dari hari ini.
DAN AKU BERTEKAD UNTUK MENCABUT KATA-KATAKU BAHWA “HARI INI HARI YANG MENYEBALKAN” AKU MENGGANTINYA DENGAN “HARI YANG PALING BAHAGIA” 🙂

Cerpen Karangan: Dian Eka Pratiwi
Facebook: Dian Pratiwi

Nama: Dian Eka Pratiwi Nasution
Kelas: VIII – SMPN 1 KRIAN
Birthday: 24 Oktober 2000

– Baru kali ini mencoba buat share cerpen, mudah-mudahan bisa lolos. TUNGGU CERPEN SELANJUTNYA YAAA :))

Cerpen Hadiah Dari Bunda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pesan Terakhir Ibu

Oleh:
Jakarta hari itu sudah berganti malam. Cahaya matahari sudah tergantikan cahaya lampu-lampu neon yang menyinari setiap sudut kota. Keramaian siang, berganti keramaian malam, tak jauh berbeda. Debu-debu dan asap

Dibalik Perjodohan

Oleh:
Bulan tanggal tua mengapung kesepian. Selembar awan tipis membelainya dengan penuh kasih sayang. Cahayanya yang redup tak mampu memberikan bayangan pada pucuk pohon cemara. Nampak, Irma sedang duduk ditemani

Takut

Oleh:
Suara ketokan pintu terus saja terdengar, diikuti pula detak jantungku yang terus berdetuk sangat kencang. Namaku Khalifah Hairunnisa. Panggil aja Nisa. Malam jumat ini aku dan ketiga temanku akan

35 Hari

Oleh:
Di balik balkon setinggi pinggang orang dewasa itu, Irene menyandarkan perutnya yang rata. Siswi kelas 3 itu berada di lantai dua SMA Pahlawan. Dia berkulit putih pucat, berambut panjang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *