Hadiah dari Mama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 2 January 2015

Mendung yang mencekam. Banyak motor dan mobil melintas. Ada juga yang menaiki sepeda. Lantas, aku pun berpikir. Bukankah sekolah ini sekolah elit? Hanya dari kalangan orang berada yang dapat memasukinya, tetapi masih ada sebagian dari mereka yang hidupnya tak berkecukupan. Namun, apalah daya? Tak banyak yang kutahu tentang kehidupan.

Kumulai langkahku menyusuri halaman depan sekolah. Terlihat sebuah mobil berwarna abu-abu berpelat nomor D 14114 RH. Ya, itu pasti mobil mama! Oh, Tuhan akhirnya mama menjemputku!
Untuk yang kesekian kalinya, dugaanku meleset. Tak nampak mama yang kutemui, tetapi justru Pak Ikhsan –supir yang sering mengantar-jemputku ke sekolah– yang kujumpa. Mungkin mama memang terlalu sibuk sampai-sampai tak pernah sedikit pun meluangkan waktunya untukku.

Di perjalanan, aku hanya terdiam. Tatapan mataku hanya tertuju pada mereka yang tertera senyuman di bibirnya. Mereka berkumpul dengan keluarganya sambil bercanda ria. Kini, bayangan-bayangan itu mulai hilang dari tatapan mata. Hanya gerimis hujan yang dapat kudengar dan kulihat sayup-sayup dari balik kaca mobil. Tak lama kemudian, kami pun sampai di rumah.

Kulihat sekelilingku. Terlihat sebuah keluarga yang sedang sibuk menata barang-barangnya. Nampak mobil pick up yang mengangkut banyak barang dan peralatan rumah tangga. Sepertinya, mereka baru pindah dan akan menjadi tetangga baruku.

Sempat terlintas di pikiranku untuk menghampiri mereka. Terlebih lagi, kulihat mama sedang berbicara bersama mereka. Aku heran, mama lebih meluangkan waktunya untuk tetangga baruku itu ketimbang menjemputku, anak semata wayangnya.
“Ryan, kamu sudah pulang? Bagaimana kegiatanmu tadi di sekolah?” tanya mama sambil menyiapkan makanan untuk kami.
“Lumayan.”, jawabku singkat. Aku tak menoleh ke arah mama sedikit pun. Mataku hanya tertuju pada gameboy yang kupegang.
“Kau marah lagi pada Mama?” tanya mama sambil membawakan makanan kesukaanku yang baru dibuat olehnya. Sejenak, kami terdiam. Kemudian, kuletakkan gameboy-ku di meja makan.
“Mama tidak pernah meluangkan sedikit waktu untukku.”, kataku dengan muka kusut. Mama menghela nafas panjang.
“Jadi, itu alasanmu menampakkan muka kusutmu di depan Mama?” tanya mama. Aku tak menjawab. Kami hanya bertatap-tatapan. Mama menghela nafas panjang untuk yang kedua kalinya.
“Habiskanlah makananmu, Ryan. Kau perlu banyak istirahat.”, kata mama kemudian pergi begitu saja.

Pagi-pagi sekali mama berangkat bekerja. Saat itu, aku baru saja menunaikan shalat Subuh. Aku mengikuti mama dari belakang. Sebelum berangkat bekerja, mama menyempatkan diri mampir ke rumah tetangga baru kami. Keherananku menjadi-jadi. Sepertinya mama akrab sekali dengan mereka!
“Ahhhh!! Sial!!” teriakku sekencang-kencangnya. Kuhantam kaca jendela kamarku. Mulai keluar cucuran darah dari tanganku. Aku tak mempedulikannya, hanya kurebahkan tubuhku ke kasur.

Aku terbangun. Ah tidak, sudah berapa lama aku tertidur? Sang fajar mulai menampakkan dirinya. Aku berusaha bangun meski kepalaku terasa berat. Kulihat telapak tanganku dipenuhi balutan perban. Siapa yang membalutnya?
Aku berjalan menyusuri ruang dapur, terdengar suara dari arah sana. Jangan-jangan ada pencuri! Astaghfirullah… Aku juga lupa mengunci pintu! Kubawa sapu ijuk yang biasa Bi Inah pakai untuk menyapu lantai. Tiba-tiba saja…
“Huaaahhh!!!” teriak kami secara bersamaan. Ternyata, dia adalah seorang gadis yang kutemui kemarin saat pulang sekolah. Ya, dia tetangga baruku!
“Hai, kau! Lancang sekali masuk ke rumahku tanpa izin! Jadi tetangga baru saja sudah mulai tidak sopan, bagaimana kalau menjadi tetangga lama!” kataku.
“Aku tidak lancang. Tadi aku sudah mengetuk pintu dan membunyikan bel selama lima kali. Tetap saja tidak ada jawaban. Tiba-tiba, Pak Ikhsan keluar dan kemudian mengizinkanku masuk.”, ceritanya. “Oh ya, bagaimana dengan luka di tanganmu?” tanyanya.
“Sudah agak baikan.”, jawabku. “Jadi, kau yang membalutkan perban ini?” tanyaku.
“Hm… Ya, benar.”, jawabnya sambil tersenyum kemudian mulai memasak.
“Memangnya ada keperluan apa kamu kemari? Kalau ingin bertemu dengan mama, percuma! Beliau sudah berangkat dari tadi.”, kataku.
“Aku sudah tahu.”, jawabnya singkat. “Aku kemari karena keinginan mamamu! Beliau mengatakan bahwa akan ada banyak pekerjaan hari ini di perusahaannya, jadi beliau menyuruhku untuk tinggal disini seharian. Lagipula, Bi Inah juga sedang pulang kampung, kan?” tanyanya.
“Kata siapa tidak ada perempuan? Masih ada adik perempuanku yang berumur 7 tahun!” jawabku sambil mengangkat kedua alisku. Gadis itu tertawa.
“Mengapa tertawa?” tanyaku heran.
“Oh… Jadi, adikmu yang masih berumur 7 tahun itu sudah bisa memasak, merapikan kamarmu, merapikan kamarnya sendiri, dan juga membalutkan perban di tanganmu?” tanyanya dengan nada meledek sambil memasak.
“Ya… enggak juga! Lagipula aku heran, mengapa mama lebih mengutamakan pekerjaannya daripada mempedulikan kami dan mengurus kami? Bi Inah juga tidak ada di rumah. Seharusnya dengan begitu mama bisa mengerti dan lebih meluangkan waktu untuk kami! Aku juga bingung, untuk apa mama hanya mengejar materi belaka!” tanyaku.
“Aku yakin, setiap orang melakukan sesuatu pasti didasarkan tujuan. Begitu juga dengan mamamu.”, gadis itu mulai berkata serius.
“Oh… Jadi, kau adalah seorang peramal? Kau lebih mengetahui apa yang dikerjakan mamaku, dibandingkan aku sendiri yang anak kandungnya?” tanyaku mulai menantangnya. Sejenak, kami terdiam.
“Mudah saja! Mamamu seorang perempuan, dan aku pun seorang perempuan.”, jawabnya. “Dan perlu kau ketahui, ini juga menyangkut logika dan perasaan. Secara logika, yang ada dalam pikiranmu hanyalah untuk apa mamamu mengejar materi? Namun, jika berbicara mengenai perasaan setiap orang pasti punya alasan kuat tersendiri untuk melakukan suatu hal.”, sambungnya. Aku membisu.
Pikiranku menerawang jauh. Memang, ada benarnya juga perkataan gadis ini! Terkadang, setiap orang hanya berpikir secara logika, dan jarang sekali berpikir menggunakan perasaan. Entahlah, mungkin sudah menjadi jiwa laki-laki yang berpikir secara logika, atau mungkin memang sifatku saja yang sekedar gengsi berpikir menggunakan perasaan.
“Oh ya, aku belum mengenalmu. Siapa namamu?” tanyaku.
“Aku Nisa.”, jawabnya singkat. Sekilas kuperhatikan penampilannya. Ia gadis yang anggun, ramah, dan tak ada aurat yang nampak darinya. Baru kali ini aku berkenalan dengan seorang gadis sepertinya.
Seharian aku menghabiskan waktu bersama Nisa. Kuajak ia berkeliling sambil mengenalkan dan menunjukkan lingkungan sekitar. Tentunya tidak hanya berdua, tetapi ditemani oleh adikku.

“Ryan, karena sebentar lagi ramadhan, mama akan berada di rumah selama sebulan dan tidak bekerja. Jadi, mama bisa menghabiskan waktu bersamamu!” kata mama.
“Benarkah itu, Ma?” tanyaku.
“Ya, Ryan.”, jawab mama. “Kamu setuju, kan?” tanya mama. Benar-benar tak kusangka! Akhirnya, Mama meluangkan waktunya untukku.
“Aku sangat setuju, Ma! Akhirnya, Mama meluangkan waktu untukku! Oh ya Ma, karena sebentar lagi mau ramadhan, Ryan mau minta maaf. Selama ini, Ryan salah menilai Mama. Mungkin, ada alasan kuat tersendiri yang membuat Mama bekerja membanting tulang untuk Ryan dan Puspa. Terkadang, Ryan tidak pernah berpikir menggunakan perasaan, tetapi hanya logika. Maafkan Ryan ya, Ma!” kataku. Terus terang, aku tidak bisa membendung air mata. Aku jatuh di pelukan mama.
“Mama juga minta maaf, Ryan. Mama telah menyembunyikan sesuatu darimu.”, kata mama.
“Maksud Mama?” tanyaku heran.
“Kamu kenal dengan Nisa? Orangtua Nisa adalah rekan bisnis Mama. Mama bersikap seperti ini kepadamu karena Mama ingin supaya kamu bisa lebih mandiri. Mama berpikir bagaimana jika nanti Mama telah tiada, dan kamu hanya tinggal berdua dengan adikmu. Hanya saja, mungkin cara Mama yang salah menyampaikannya. Mama sempat bingung untuk memberi penjelasan kepadamu. Karena itu, Mama menyuruh Nisa untuk tinggal disini selama seharian kemarin dan memberi penjelasan padamu.”, cerita mama.
Aku sempat tercengang mendengar penuturan mama. Ternyata memang benar perkataan Nisa! Ada saatnya kita harus berpikir menggunakan perasaan, bukan logika. Semua orang bisa berpikir secara logika, tetapi tidak semua orang dapat berpikir menggunakan perasaan.
“Mama, tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat kesalahan. Mama tahu? Dua kejutan yang Ryan dapatkan sebelum ramadhan tahun ini, Nisa dan pelajaran berharga yang telah diajarinya. Terima kasih ya, Ma!” kataku akhirnya.

Cerpen Karangan: Fitri Khairunnisa
Blog: fitrikhairunnisa.blogspot.com
Facebook: Fitri Khairunnisa (Fitri Anis)
Mempunyai nama lengkap Fitri Khairunnisa dan biasa dipanggil Anis atau Fitri, adalah seorang gadis yang masih duduk di bangku SMA. Mencoba belajar dari kesalahan yang pernah dibuatnya, memperbaiki diri demi ridho-Nya. Bisa lihat di blog nya fitrikhairunnisa.blogspot.com atau e-mail di fitri.khairunnisa14[-at-]gmail.com

Cerpen Hadiah dari Mama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


You’re The Only Pride Sister!

Oleh:
“Putriii!!” suara mama memanggil. “Ya ma sebentar”. Putri segera turun ke bawah untuk menemui mama, papa, serta kakaknya di meja makan. “Hari ini apa menunya Ma?” ujar Kakaknya Gigih.

Topeng

Oleh:
Dalam tengahnya hujan, aku menanti kendaraan. Kulihat titik hujan jatuh beraturan membasahi bumi. Menimbulkan percikan bunyi yang berdendang seperti irama piano yang dibunyikan. Samar-samar aku melihat sosok wajah teduh

Goodbye Father

Oleh:
Hai, namaku Lisa violita. Aku biasa dipanggil Lisa. Aku memiliki ayah yang hebat. Ayahku sangatlah tampan dan memakai kacamata. Pekerjaan ayahku adalah pegawai kantor. Aku sangat bangga memiliki ayah

Ibu Aku Mencintaimu

Oleh:
Ibu, itulah panggilanku kepada seorang wanita yang telah melahirkanku. Ia bekerja keras banting tulang untuk menghidupi aku dan 1 adikku. Oh iya, aku lupa memperkenalkan diri, namaku Syamila Anastasya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *