Hadiah Keberhasilan Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 11 November 2015

“Tidak, aku tidak mungkin bisa, aku tidak mungkin bisa bermain gitar.” kataku kepada Kak Fia, seraya pergi ke kamarku dan menutup pintu rapat rapat.

Sesampainya aku di kamar, aku pun menangis, dalam hati aku berkata dan bertanya tanya. “kenapa sih aku gak bisa seperti Kak Fia yang pandai sekali bermain gitar? Kenapa aku gak bisa? Padahal aku udah berusaha, apa mungkin usahaku belum cukup? aku kan baru kelas 6 SD sedangkan Kak Fia kelas 2 SMA, mana mungkin aku bisa? ku rasa aku gak mungkin bisa seperti Kak Fia?” sambil menangis terisak-isak.

Sebenarnya tadi aku sedang latihan bermain gitar dengan Kakakku , Kak Fia di ruang keluarga, tapi karena begitu sulit memainkannya aku pun merajuk dan marah-marah seraya masuk ke kamarku. Akhirnya untuk melepas kesedihanku, aku pun tidur. Lagi pula ini sudah malam dan sudah waktunya aku tidur. Besok aku harus sekolah jadi aku harus bangun pagi pagi.

Keesokan harinya aku pun pergi ke sekolah dengan menggunakan sepedaku bersama teman-temanku. Sampai di sekolah kami pun kumpul bareng dan cerita-cerita. Sebenarnya di dalam hatiku aku ingin sekali bisa main gitar, karena kalau aku melihat orang lain main gitar, aku melihat mereka sangat menikmati lagu dan bunyi petikan gitar yang mereka mainkan dan aku merasa hati mereka begitu damai dan tenteram.

Contohnya kejadian tahun lalu saat Kak Fia sedih sekali, soalnya sahabat baiknya pindah sekolah dan pindah tempat tinggal. Kak Fia merasa amat sedih. Sehingga waktu pulang dia menangis dengan mata yang merah, Kak Fia pun langsung ke kamar dan di kamar itulah terdengar bunyi-bunyian gitar yang begitu merdu. Setelah ia bermain gitar aku melihatnya lebih baik dari sebelumnya. Wah senangnya kalau aku bisa main gitar, pasti semua kesedihan yang aku alami akan mudah aku hilangkan, selain itu jika aku bisa main gitar, aku akan tampil di sebuah panggung dan membuat orang lain senang, pasti Ayah dan Ibuku bangga dan pasti aku keren banget tampilnya.

“Wenda kamu kenapa sih? Kok melamun gitu?” tanya sahabatku Eva seraya memegang pundakku.
Aku pun terkejut, “eh.. eh.. enggak kok gak melamun, emang ada apa sih?” tanyaku lagi.
“tuh kan kamu bohong sama aku, kalau seandainya kamu gak melamun pasti kamu udah dengar bunyi lonceng. Cepetlah yuk kita masuk teman kita yang lain udah masuk kelas.”

Di kelas, menunggu Ibu guru datang, Eva bertanya kepadaku “Wenda tadi kamu ngekhayal ya? Sampai ngelamun gitu.” Tanya Eva penasaran kepadaku.
“eh enggak kok aku gak ngekhayal tadi.” Jawabku. Mendengar jawabanku. Eva langsung mempercayainya. Dalam hati aku berkata “em sebenarnya aku tadi memang ngekhayal. Aku ngekhayal aku itu bermain gitar sambil bernyanyi di sebuah panggung. WOW keren banget.”
Akhirnya guru pun masuk dan pelajaran pun dimulai. Aku belajar seperti biasa dan pulang seperti biasa juga.

Sampai di rumah aku langsung berganti baju, setelah ganti baju aku pun makan. Lalu aku pun mengerjakan pr, soalnya di sekolah tadi aku banyak dikasih pr sama guruku, belum beberapa lama aku mengerjakan pr, tiba-tiba tinta penaku habis. Jadi, aku pun meminjam pena kepada Ibuku. Tapi ternyata Ibuku lupa letak penanya di mana, terus kata Ibu aku disuruh ambil aja penanya di kamar Kak Fia. karena Kak Fia belum pulang dari sekolahnya yaitu sekolah SMA jadi aku ambil aja penanya di kamar tepatnya di meja belajarnya.

Awalnya aku hanya berniat untuk mengambil penanya saja. Tapi di samping meja belajarnya aku melihat gitar cokelat yang begitu mengilap. Gitar itu seakan menyuruhku untuk memainkannya. Aku pun mengambilnya dan memainkannya. Sebenarnya aku masih belajar kunci-kunci dasar dan belajar cara memetiknya. Aku pernah belajar main gitar sama Kak Fia. Tapi aku malah ngambek. Lalu aku mencoba beberapa kunci gitar dan memetiknya. Ternyata bunyi petikan gitar itu terdengar oleh Ibuku. Ibuku pun pergi melihatku. Aku pun terkejut melihat Ibu yang sedang berdiri di pintu kamar dan melihatku.

“em… em… tadi aku cuma… cuma…” belum sempat aku melanjutkan kalimatku Ibuku sudah memotong kalimatku dengan berkata, “kamu harus terus berusaha lebih giat lagi” Ibu berkata dengan tatapan mata yang penuh cinta dan kasih sayang.
“iya bu, aku akan berusaha lebih giat lagi. Tapi ku mohon jangan kasih tahu Kak Fia soal ini bu. Dan mungkin aku akan latihan bermain gitarnya saat Kak Fia gak ada, sekali lagi ku mohon jangan kasih tahu Kak Fia. Please!” pintaku kepada Ibu dengan nada mengiba. Ibuku pun mengangguk tanda setuju.
Setelah peristiwa itu aku pun berlatih secara diam diam tanpa diketahui oleh Kak Fia. Jadi, aku belajar bermain gitar melewati buku buku cara bermain gitar. Dan setelah aku bermain gitar aku pun meletakkan gitar itu sesuai tempat asalnya. Jadi Kak Fia gak curiga sama sekali.

Tapi pada suatu hari, aku tidak sengaja memutuskan senar gitar tersebut, lalu ku dengar Kak Fia sudah pulang, entah mengapa hari ini dia pulang lebih cepat. Karena panik dan bingung akhirnya aku meletakkan gitar itu tidak pada tempat semula, dan langsung pergi ke kamarku. Saat Kak Fia masuk ke kamarnya, dia pun tekejut dan bingung, dan berkata “kenapa gitarnya begini? Siapa yang telah memutuskan senar gitarku?”dengan nada marah.

Setelah Kak Fia ganti baju, Kak Fia langsung mencari tahu tentang semua ini. Ia lalu masuk ke kamarku dan bertanya kepadaku.
“Wenda jawab dengan jujur, apa benar kamu yang telah memutuskan senar gitar Kakak?” dengan marah.
“e… e… en eng… eng…enggak.” jawabku gemeteran.
“em… aku semakin curiga terhadapmu, Wenda bohong itu dosa loh, ayo cepat ngaku?” Kak Fia semakin mendesakku.

Akhirnya aku pun berkata yang sejujurnya, “pertama-tama aku minta maaf karena aku telah memakai gitar Kak Fia tanpa seizin Kak Fia. Jadi sebenarnya gini udah hampir sebulan ini aku latihan main gitar dengan menggunakan buku-buku cara bermain gitar tanpa sepengetahuan Kak Fia. Sebenarnya Ibu udah tahu tentang semua ini. Tapi aku sengaja merahasiakan semua ini sama Kak Fia, soalnya aku takut kalau Kak Fia marah karena aku udah pakai gitar Kak Fia. Terus aku malu kalau seandainya aku salah pasti mbak Fia ketawain. Jadi gitu ceritanya.” Setelah mendengar penjelasanku amarah Kak Fia mulai meredam dan Kak Fia pun berkata.

“Kak Fia gak marah kok kalau kamu pakai gitar Kakak. Asalkan dijaga dengan baik, masalah senar yang putus itu nanti bisa dibeli lagi kok senarnya. Mm… terus kamu gak perlu takut belajar gitar sama Kakak, lagi pula kalau kamu salah Kakak gak akan ngetawain kamu. Oh.. iya.. Kakak mau dengar deh kamu nyanyi sambil main gitarnya.” Setelah mendengarkannya aku pun mengikuti apa yang disuruh Kak Fia, aku menyanyikan sebuah lagu dengan menggunakan gitar Kak Fia tersebut.

Setelah melihat aku bernyanyi dengan menggunakan gitar, Kak Fia berkata “Wenda aku bangga sekali sama kamu. Kamu tahu gak Kakak baru bisa main gitar itu waktu kelas 2 SMP. Terus waktu itu jari jari Kakak pada sakit dan luka luka semua, mungkin Kakak terlalu memaksakan diri supaya kunci gitar yang Kakak buat itu bunyi. Tapi kamu gak seperti Kakak dulu, lihat jari jari kamu tetap lembut. Wen Kakak punya usul gimana kalau waktu perpisahan kamu tampil dengan menggunakan gitar tersebut. Tapi, kamu harus lebih giat lagi belajar. Setelah mendengarkan Kak Fia, aku merasa bangga sekali pada diriku. Hal ini membuat aku semakin percaya diri dan aku pun bersedia tampil saat perpisahan nanti. Semenjak saat itulah aku belajar main gitar sama Kak Fia.

Akhirnya saat yang dinanti nanti pun tiba, acara perpisahan pun dimulai, acara perpisahan di SD-ku itu cukup meriah. Akhirnya tibalah aku tampil di panggung sekolah ku itu. Aku mulai mengucapkan salam dan setelah itu aku pun bernyanyi sambil memainkan gitar. Setelah aku bernyanyi tepuk tangan yang begitu meriah pun terdengar, tepuk tangan dari teman-teman, guru, wali murid siswa dan orangtuaku yang menghadiri acara perpisahan itu. Mereka sangat bangga kepadaku. Tapi sebenarnya aku ingin Kak Fia melihatku tampil di panggung ini, di panggung perpisahan SD-ku ini.

Tapi gak apa-apa deh kan Kak Fia lagi sekolah mana mungkin dia libur cuma gara-gara ingin melihatku tampil. Wah ternyata impianku terwujud, impianku adalah ingin berada di atas panggung bernyanyi sambil bermain gitar. Walaupun panggung ini kecil tapi memiliki pengalaman yang begitu mengesankan olehku dan membuatku semakin ingin mengembangkan bakatku dalam bidang musik ini, supaya suatu saat nanti aku dapat tampil di sebuah panggung yang lebih besar dan lebih mewah dari pada panggung di sekolahku ini.

Sesampainya aku di rumah aku pun langsung ganti baju, makan dan kemudian tidur. soalnya aku kelelahan di sekolah tadi. Aku pun tertidur dengan lelapnya. Setelah cukup lama aku tertidur aku pun bangun. Dengan mata yang masih sipit aku pun berjalan menuju ruang keluarga. Di sana aku dikejutkan olah Kak Fia, Ibu dan Ayah. Mataku langsung terbuka besar seakan melotot saat aku melihat sebuah kado yang cukup besar di tangan Kak Fia.

Kak Fia berkata, “Wenda selamat ya penampilan kamu sukses banget tadi. Kakak udah melihatnya.” Seraya menunjukkan kamera yang berada di atas meja. Oh… ternyata Ibu dan Ayah merekamku saat aku tampil. Dan menunjukkannya kepada Kak Fia. Alhamdulillah doaku terkabul ternyata Kak Fia dapat melihatku tampil. Aku pun berkata, “makasih ya kak atas ucapannya, lagi pula ini semua berkat Kak Fia juga soalnya Kak Fia udah ajarin aku dengan sabar” aku berkata dengan senang.

“oh iya Wenda ini ada sedikit hadiah untuk kamu karena kamu udah tampil dengan sangat baik.” Kata Kak Fia sambil memberikan kado yang dipegangnya kepadaku.
Betapa senangnya hatiku mendapatkan kado itu aku pun segera membukanya. Yang lebih membuatku senang karena ternyata isi hadiahnya adalah sebuah gitar berwarna putih bersih, mengilap dan cantik banget. Aku pun berterima kasih kepada Ayah, Ibu, dan Kak Fia.

Hari ini aku senang sekali ditambah lagi Ayahku akan mengajak kami semua makan di sebuah retoran, malam ini. Hadiah yang keluargaku berikan itu membuatku semakin ingin lebih lagi mempelajari hal hal yang berhubungan dengan musik, terutama tentang gitar. Dengan gitar baruku itu semakin membuatku minat dengan gitar dan ingin lebih lagi mempelajarinya. Aku pun semakin bertekat menggapai impianku sebagai seorang gitaris profesional dan terkenal.

Cerpen Karangan: Miftahul Farhani Isty

Cerpen Hadiah Keberhasilan Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Jalan Adikku

Oleh:
Alfi berjalan menuju kamarnya, yang berada tepat di samping kamarku. Tak ada yang aneh dari kamar anak yang berusia 9 tahun itu, tapi tiba-tiba perasaanku jadi tak enak. Karena

Terimakasih Motivatorku

Oleh:
“Besok aku berangkat” ucapku seraya menundukkan kepala, “Kapan kamu kembali?” ucap Irma sahabatku sambil menepuk bahuku yang lesu, “Mungkin 6 tahun lagi” jawabku pelan “Lama ya, bukannya saat itu

My Destiny (Part 1)

Oleh:
“Oka-san (ibu), Oto-san (ayah)… Aku berangkat, ya…!” kataku seraya menyalimi tangan Oka-san dan Oto-san bergantian. “Hati-hati, Otoha. Jangan tersesat, ya! Kamu ‘kan belum terlalu hafal jalan disini,” kata Oka-san

Adik Angkat Lissa

Oleh:
Lissa mempunyai seorang adik yang sangat nakal. Namanya Leni. Tiap hari selalu saja bertengkar memperebutkan sesuatu atau mungkin berdebat. Selisih umur mereka 3 tahun. Saat Lissa pulang sekolah, Lissa

Jenang Grendul dan Es Cendol

Oleh:
Ting… Tong…!! Ting… Tong…!! ‘Siapa, ya? Siang bolong ada yang kerumah?’ Aku segera menuju bawah (kamarku di lantai atas) dan membuka pintu. Walah… Ternyata Ilona, teman dekatku. “Eh, Lona.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *