Hadiah Ulang Tahunku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 6 October 2017

Aku tersenyum sumringah menatap kalender di dinding kamarku. Segera saja, aku berlari menuju kamar Ibu dan Ayah. Mereka berdua, yang sedang sibuk dengan ponselnya masing-masing terkejut melihatku mendobrak pintu kamar mereka.

“Ada apa, Nayla? Ibu sampai kaget.” Ibu menurunkan ponselnya dari tatapan matanya, dan menatapku.
“Nayla, jika ingin masuk, ketuk pintunya dahulu! Jangan ngeloyor masuk saja.” peringatkan ayahku sambil menaruh ponselnya di meja sebelah kasur. Aku nyengir.
“Maaf, bu, yah. Habisnya, aku terlalu bahagia.”
“Bahagia?” Ibu dan Ayah berpandangan bingung.
“Hari ini, kan, ulang tahunku, bu, yah!” sorakku gembira. Aku menyodorkan kalender kepada mereka. Kalender bulan April dengan lingkaran merah di tanggal sepuluh.
“Masa’ sih? Bukannya besok, ya?” Ibu menggeleng tak percaya.
Aku cemberut, “Huh, bagaimana sih. Kan, ibu yang melahirkanku. Masa tidak tahu?” gerutuku sebal.
“Hehehe, iya, iya. Oke, Nayla mau hadiah apa?” tanya Ibu dan Ayah sembari tersenyum.
Aku tersenyum senang, “Emmm… gimana kalau hari ini kita ke toko buku? Aku mau membeli novel!” usulku riang. Kedua orangtuaku berpandangan.

“Nayla, sebaiknya jangan toko buku. Toko buku kan, sangat jauh dari rumah kita. Adikmu, kan, sedang sakit.” ujar Ibu tidak setuju. Aku berpikir, mencari usul lain. Ke restoran? Ahh, tidak. Aku tidak suka makan di restoran, bukankah sama rasanya seperti makan di warteg? Kursinya saja yang beda.
“Baiklah. Aku dan Ayah saja. Ibu di rumah menjaga Mila. Ya? Ya? Ya?” pintaku sembari memelas.
“Tidak bisa, Nayla. Hari ini, ayah ada rapat di Jakarta.” tolak Ayah. Aku mendengus kesal.
“Huh. Aku, kan, tidak minta macam-macam, bu, yah! Aku hanya minta 2 novel saja di toko buku. Aku tidak minta handphone, laptop, PSP, atau Kamera. Aku kan, hanya minta dua buah novel.” gerutuku. Ibu tersenyum.
“Soal novel, ibu punya banyak.” sahutnya sembari turun dari ranjang dan mengajakku ke ruang kerjanya.
“Ah, masa? Palingan, hanya ada novel resep memasak, tutorial hijab-lah, atau novel harry potter.” aku berkata yakin. Karena, di ruang kerja ibu hanya ada 10 macam novel. Diantaranya, novel kisah hidup Hellen Keller, novel harry potter, novel tutorial hijab, novel resep memasak, dan novel bahasa Inggris. Mana suka aku seperti itu?

Ibu tersenyum saja. Ia pun berjalan masuk ke ruang kerjanya, dan mengambil kardus di bawah meja kerjanya. Setelah itu, Ibu membuka kardus tersebut. Aku terbelalak melihat isinya.
“Novel…” desisku. Ya, isi kardus itu novel. Novel anak dengan judul-judul yang mengagumkan. Aku mengambil satu novel dari kardus itu. Dengan judul, ‘Mawar dan Melati’. Aku terpesona melihat sampulnya. Gambar dua tangkai bunga Mawar dan Melati di vas bunga berwarna biru berukir batik. Di paling bawah sampul depan, tertulis besar-besar nama, ‘MELISA ANDRIANI’. Aku terkejut. Aku menatap ibu.
“Bu… ini karya ibu…?” tanyaku setengah tak percaya. Ibu tertawa.
“Ya, Nayla. Ini karya ibu dahulu. Ketika masih SMA dan kuliah. Ibu sering menulis di waktu luang. Lalu, setelah mengetiknya di komputer, ibu mengirim naskahnya ke penerbit melalui e-mail. Ibu juga sering menulis di majalah. Ada 5 majalah yang menerbitkan cerita ibu. Di kardus itu juga ada.” Ibu mengambil majalah di kardus itu. Itu majalah Bobo lama. Masih tak berwarna. Ibu membuka majalah Bobo itu. Dan menyodorkan padaku. Ada cerpen dengan judul, ‘Fotografer Cilik’, yang di bawah judulnya tertera nama Ibu. Aku terbelalak lagi, hampir tak percaya.

“Ada juga, novel yang ibu tulis ketika ibu sudah menikah, dan kamu umur 2 tahun. Judulnya ‘Putri Kecilku’. Semua kisah tentangmu ada di situ. Kamu bisa cari novelnya di kardus ini juga. Jadi, tak perlu repot-repot ke toko buku. Dan, selain ‘Putri Kecilku’, ibu juga menulis 2 novel setahun lalu. Ini sudah diterbitkan.” Ibu tersenyum, mengambil novel lagi. Aku dengan mulut ternganga, menatap tak percaya kumpulan novel itu.

“Kapan ibu menulis ketika itu? Bukankah ibu sibuk bekerja?” tanyaku bingung. Ibu adalah seorang manager di perusahaan ternama. Kadangkala, pulangnya sampai jam 10 malam. Melebihi waktu jam kerja ayah, yang bekerja sebagai pengusaha pakaian. Untunglah, sekarang ibu tidak lagi bekerja sebagai manager. Ibu bekerja membantu ayah menjual pakaian di dunia online.
“Ibu menulis ketika waktu luang, Nayla. Sekarang, ibu juga tengah menulis, lho.” jawab Ibu ringan. Aku terpana lagi.
“Wah, ibu hebat! Kalau besar nanti, aku mau jadi seperti ibu. Penulis sekaligus dokter!” sorakku. Ibu tersenyum, mengacungkan jempol. Penulis adalah pekerjaan yang bisa dilakukan siapa saja. Penulis bisa kita jadikan pekerjaan sampingan, di samping profesi kita lainnya. Seperti Ibuku. ini adalah hadiah ulangtahun yang paling istimewa seumur hidupku!

Cerpen Karangan: Alma Chairani
Facebook: Qonita Tsania
Nama: Alma Chairani
Follow IG: @nbl.fiana & @qonitatsn

Cerpen Hadiah Ulang Tahunku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Penjilat Makanan

Oleh:
Rio adalah teman sekelasku ia dicap sebagai si penjilat makanan, karena rio sering makan makanan sisa bekas orang. Awalnya tidak ada yang mengetahui tentang perbuatannya ini, Sampai akhirnya semua

Geometri

Oleh:
“Yang jelas, geometri itu bentuk!” Ujar salah satu temanku ketika aku bertanya pada mereka. “Bukan. Geometri itu permainan. Geometry dash!” Ujar temanku yang lain. Ah, entahlah. Aku tak tahu.

Anak Zaman Sekarang

Oleh:
Ini adalah tahun ajaran baru. Tak sabar ku melihat murid-murid kelas 1 yang lucu dan iimut imut. O iya, sebelumnya perkenalkan namaku Nurul guru kelas 1 SD Cahaya. Oh

Terpisahkan

Oleh:
Namaku Keyla. Duduk di bangku SMP kelas 3. Aku mempunyai seorang sahabat bernama Meyla. Dia adalah kembaranku. Dari di perut ibuku aku sudah berteman dengannya. Dialah satu-satunya sahabatku di

Bahagia Yang Semu

Oleh:
Menjadi anak tunggal tak selamanya enak, contohnya Meji. Gadis kelahiran Menado itu harus hidup kesepian tanpa adik atau kakak. Dia terlahir sebagai anak tunggal pada keluarga kaya, papahnya juragan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *