Hadiah Untuk Bunda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 13 January 2017

Namaku Driya Andana, aku kelas 4 sd di sekolah Generasi Bangsa. Aku mempunyai Bunda yang tunarunggu dan tunawicara sebelumnya Bunda bukan tunawicara karena syok saat mendengar ayah meninggal Bunda menjadi bisu, sedangkan ayahku, ia sudah 3 tahun tiada.

Seperti biasa Bunda selalu membangunkan aku sebelum jam 5. Alasannya kami harus membaca firman Tuhan dan agar manna tidak terlewatkan. Kata Bunda manna adalah roti pemberian Tuhan kepada Musa dan bangsa Israel.

Sekarang aku sudah siap untuk ke sekolah, “Bunda, Ana berangkat ya” pamitku sambil mencium pipi Bunda. Bunda tersenyum bermaksud mengiyakan dan hati-hati
Meskipun bunda tidak bisa mendengar, ia masih bisa menangkap pembicaraanku lewat gerakan bibirku
Kukayuh sepedaku sampai tiba ke sekolah.

Lili menghampiriku dengan senang,
“Nda, besok Hari Ibu, nanti sepulang sekolah aku minta izin sama mama ke rumahmu ya? Terus kita sama-sama pergi beli kado ya? Jangan lupa!” Ucapnya kemudian berlari menyusul Missel dan Panji. Aku terdiam kemudian duduk, akan kubelikan apa ya untuk Bunda? tanyaku dalam hati, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya kepada guruku.
“Pak Guru, apa yang harus Ana beli untuk Bunda? Ana tidak tahu kado apa yang istimewa buat Bunda” tanyaku setelah masuk ke kantor guru.
“Menurut Bapak, belilah Alat Bantu Dengar untuk Bundamu, gunakanlah tabunganmu untuk membelinya” jawab Pak Guru.
“Wah, terima kasih atas sarannya pak!” ucapku senang kemudian pamit ke kelas saat bel masuk berbunyi.

“Selamat Siang Bu, Terima kasih Bu!” salam kami ketika selesai berdoa. Selesai salam aku segera ke parkiran, kuambil sepedaku lalu aku mengayuhnya.

Sesampainya di rumah, aku menaruh sepedaku dan melepas sepatu dan kaus kakiku dan menyimpannya ke rak sepatu, aku pun membasuh tanganku dan kakiku dengan air keran yang tidak begitu deras, setelah itu aku mengeringkan tangan lalu bersalaman dengan bunda, mencium pipi kanan dan kiri.

“Bunda sudah makan?” tanyaku, bunda mengganguk.
“Bunda, nanti Ana pergi sama teman ya, Ana mau beliin sesuatu, Ana ambil uang tabungan ya?” Tanyaku sambil tersenyum.
Bunda mengganguk dan tersenyum kemudian memelukku, Bunda membimbingku ke kamar dan menunjuk ke seragamku, kemudian menunjuk handuk dan menunjuk ke ruang makan, itu artinya bunda menyuruhku mengganti pakaian, mandi dan makan siang. Aku mengganguk mengerti kemudian bunda pergi ke kamarnya.

Tok… tok… tok…
“Nda, selamat siang nda! Sudah siap?” Panggil Lili di luar.
“Siang juga, silahkan masuk, bantu aku hitung uangku ya?” sahutku sambil menghitung uangku.
“Iya” jawabnya kemudian membantuku,
“Kamu nanti beli apa?” tanyanya lagi.
“Aku mau beli Alat Bantu Dengar buat bunda” jawabku.
“Oh, nah sudah nih, 250 ribu Rupiah!” ucap Lili,
“250 ribu Rupiah juga, semoga cukup” ucapku kemudian berkata “Let go to the Mall, ayo ayo!” Seruku sambil mengunci pintu kemudian meraih sepedaku.

Kami pun memasuki Mall, Lili berjalan ke toko perhiasan, aku mengikutinya dan melihat-lihat. sebuah kalung cantik berharga 150 ribu terlihat olehku, itu kalung yang diinginkan mama, aku pun membelinya tanpa berpikir panjang. Lili sudah membeli kado untuk mamanya, sudah dibungkus pula, aku akan membungkus hadiah ini bersama dengan ABD (Alat Bantu Dengar) nanti.
Lili pun membawaku ke tempat ABD dijual. Bermacam-macam harga terlihat dan aku pun membeli yang terbagus, harganya 450 ribu tapi di potong harganya menjadi 300 ribu.
Setelah dibungkus bersamaan dengan kalung tadi. Aku dan Lili segera pulang.

Bunda sedang menyulam, aku bersalaman dan mencium kening Bunda, “Bunda, selamat Hari Ibu ya?, ini hadiah dariku” ucapku pelan kemudian tersenyum senang.
Bunda memelukku kemudian membuka hadiah, Bunda senang dengan kalung pemberianku kemudian terheran-heran dengan hadiah keduaku, bunda menunjuk 2 sambil mengernyit heran, “iya bun, 2 kado untuk Bunda” jawabku pelan. Bunda membukanya dan ia tersenyum senang melihat ABD pemberianku, Bunda sampai terharu, “terima kasih nak!” ucapnya tiba-tiba.
“Bu… Bunda berbicara!?, Bunda!” Seruku senang. Kupeluk bunda, kemudian memakaikan bunda Alat pendengarnya.
“Iya nak, bunda… bunda bisa berbicara lagi, terima kasih Tuhan!, terima kasih anakku” ucap bunda. Kami berpelukan senang sekali, besok aku akan kabarin kabar bahagia ini kepada Lili.

Cerpen Karangan: Marisa
Facebook: Marisa Ling
Kelas 9 Smps Era Pembangunan A (sekolah kristen)
Maaf kalau ceritaku kurang..

Cerpen Hadiah Untuk Bunda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengalaman Bersama Sahabat

Oleh:
Kringg… Bunyi jam wekerku, “Hmm… Jam berapa ini?” Ucapku seraya melihat hp-ku. “Apa sudah jam 07:78!” Ucapku kaget Ting… Ting… Ting. Ada misscall dari Fatimah. Namaku Ica. Aku mempunyai

Misteri Kejadianku

Oleh:
Hai.. Namaku Tiara Sherlya Audin, panggilanku Audin. Aku mempunyai seorang kakak bernama Sherly Auditya, pangilannya kak Sherly dan seorang adik bernama Gerby Laura Sherly, biasanya kupanggil Dek Laura. Besok

Pohon Mangga Dari Misionaris

Oleh:
Belum semenit aku sampai di rumah kami, tiba-tiba terlihat olehku anak gadis bermata teduh sedang berdiri memainkan biolanya. Anak-anak kecil sedang bergembira ria mengelilinginya. Gadis itu lebih suka memainkan

Berlibur Ke Rumah Nenek

Oleh:
Pagi yang cerah aku dan keluarga bersiap siap untuk pergi ke rumah Nenek yang berada di kalimantan tengah. “Ayah kita naik apa ke rumah Nenek?” tanya Adikku Dina. “naik

Kecelakaan Maut Kereta Api

Oleh:
Sungguh tragis nasib remaja berusia 21 tahun bernama Minto. Dia bekerja di kota sebagai pegawai kantor. Di hari liburnya dia menelepon orangtuanya lewat hp tuk mengabari ibunya bahwa dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *