Hanum Bidadari Kecil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 29 August 2015

Seperti biasa setiap malamnya Hanum gadis manis kelas 3 SD dari pasangan Herman dan Sarah ini hanya asyik dengan buku gambarnya, malamnya hanya dilalui dengan asisten rumah tangganya yaitu mbok Parni. Sementara Ayahnya harus mencari nafkah setiap malam harinya, dan Ibunya harus pergi meninggalkannya, bukan karena ia sengaja meninggalkan Hanum begitu saja, namun karena kondisi rumah tangganya yang sudah tidak bisa dipertahankan lagi, dan setahun perceraian Ibu Sarah, Ibu kandung dari Hanum meninggal dunia karena mengalami kecelakaan.

Hanum adalah salah satu anak dari sekian banyak anak korban perceraian orangtuanya, kasih sayang orangtuanya tak lagi ia dapat, Ayahnya yang mempunyai hak asuh penuh terhadap Hanum selalu disibukkan dengan pekerjaannya, tak ada waktu sedikitpun untuk meluangkan waktunya untuk anak sematawayangnya itu.

Deringan jam weker kamarnya menyudahi perjalanan alam bawah sadarnya, Hanum, ia harus bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah, sejak perceraian orangtuanya ia mulai terbiasa melakukan semuanya sendiri, sementara asisten rumah tangganya itu hanya menyiapkan makanan dan menemani Hanum berangkat dan pulang dari sekolahnya. Pagi yang cerah waktu itu membuat Hanum bersemangat berangkat ke sekolah, dendangan-dendangan khas lagu anak-anak ditembangnya sampai habis, dan satu hal yang selalu ia ingin lakukan setiap paginya yaitu berpamitan dan mendapat ciuman manja Ayah di keningnya.

“mbok, Ayah mana?” Tanya Hanum.
“Ayah ada di kamar sedang istirahat, tapi neng Ayah neng baru pulang dan sepertinya ia sangat kelelahan, kalau neng bangunin Ayah, Ayah pasti marah” jawabnya mbok Parni.
Seketika wajah cerianya berubah menjadi kisut, harapan dapat ciuman Ayah di keningnya memudar, karena ia pun tahu, jika Ayahnya dibangunkan dari tidurnya pasti akan marah besar.

Seperti biasa Hanum hanya sekilas melihat Ayahnya dari balik pintu kamarnya itu, baginya dengan melihatnya saja sudah menjadi obat rindu kepada Ayahnya yang sudah jarang ada waktu untuknya. Dengan memasang wajah kecewa Hanum terus menatap Ayahnya lekat-lekat, namun waktu menunjukan lonceng sekolah akan berbunyi, tidak ada pilihan lain ia harus kembali pergi sekolah tanpa pamit ataupun sekedar mendapat ciuman manja di kening dari Ayahnya.

Lonceng sekolah dibunyikan, anak-anak dengan kompak bergegas masuk kelasnya masing-masing, pagi itu kelas Hanum mendapati mata pelajaran Bahasa Indoneisa yang dipimpin oleh Ibu Hani guru muda yang sangat cantik dengan ramah tamahnya kepada kebanyakan anak, membuat ia menjadi guru favorit SDN 96 Bandung itu.

“Selamat pagi anak-anak!” sapa Ibu Hani hangat.
Dengan lantang dan serempak anak-anak semuanya menjawab sapaan Ibu Hani.
“Baik sebelum kita mulai pelajarannya Ibu ingin bertanya tentang cita-cita kalian apa nanti kalau sudah dewasa, baik dari kamu Dito, apa cita-cita kamu?”
“Bajak Laut Bu…” jawab dengan khas penuh imajinasinya anak-anak yang polos sebagai bajak laut.
Sontak siswa dalam kelas tertawa gemuruh menertawakan apa yang diucapkan oleh Dito anak lelaki yang berawakan subur itu. sementara Ibu Hani hanya tersenyum ringan dan melanjutkan pertanyaannya ke siswa lain.
“Selanjutnya, Dina kalau sudah besar mau jadi apa?”
“Dokter Bu..” jawabnya dengan mendapatkan banyak tepuk tangan dari teman-temannya.
“Sekarang, Hanum kalau kamu besar nanti mau jadi apa sayang?”
“eeeeuu.. Pel*cur Bu..” jawabnya polos.

Sontak semua siswa diam dan tak mengerti maksud dari jawaban Hanum, tak terkecuali Ibu Hani yang kaget mendapati jawaban dari Hanum yang sangat ia tidak sangka sebelumnya. Tak beberapa lama ada seorang anak yang bertanya.
“Pel*cur itu apa bu? Tanya Temannya yang duduk di belakang Hanum, Ibu Hani kebingungan menjawab pertanyaan siswanya. Karena menunggu Ibu Hani tak juga menjawab Hanum pun berinisiatif untuk menjawab pertanyaan temannya.
“Pel*cur itu..”

Belum sempat menyelesaikan jawabannya Ibu Hani langsung menghentikan jawaban dari Hanum, dan melanjutkan pertanyaannya ke siswa lain. Selang istirahat Hanum dibawa ke ruang guru berasama Ibu Hani yang sedari tadi masih bingung dengan apa yang telah diucapkan oleh Hanum. Dengan lemah lembut Ibu Hani bertanya.
“Hanum, malasah tadi di kelas kamu tahu, apa yang kamu katakan tadi?” tanya Ibu Hani.
“Tau bu, Pel*cur itu orang yang memberikan hiburan kepada orang lain, dan kata Ayah orang yang menjadi pel*cur akan cepat kaya bu, karena banyak dapat uang bu” jawabnya polos.
“Jadi, kata-kata kamu barusan semua dari Ayahmu?”
“Iya bu, kata Ayah aku kalau sudah besar nanti harus menjadi pel*cur bu, biar aku cepat sukses, dan bisa bahagiain Ayah” jawabnya semangat.

Ibu Hani hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Hanum yang seharusnya tidak mendapatkan pendidikan seperti ini dari orangtuanya, tanpa pikir panjang Ibu Hani berniat menemui orangtua Hanum untuk memperjelas dan mengetahui apa alasan orangtuanya mengajarkan anaknya sendiri seperti itu.

Mentari kian kusut menampakan bias yang tak terang, Hanum pun telah pulang dari sekolahnya dan berencana menemui Ayahnya sebelum Ayahnya berangkat berkerja seperti biasanya.
“Ayah, Hanum ingin bicara sama Ayah” ucapnya dengan memasang wajah memelas.
“Kamu ingin bicara apa sama Ayah nak” jawabnya hangat.
“Ayah dipanggil Ibu Hani untuk menemuinya di sekolahan”
“Apa, pasti kamu nakal di sekolah, pasti kamu buat ulah di sekolah, dasar anak tidak berguna bisanya hanya buat masalah saja, bukannya bantu Ayah cari uang” marahnya.
“tapi.. yah..”
“sudahlah Ayah pusing mendengarkan kamu bicara”
Sontak Ayahnya langsung berlalu, sambutan yang hangatnya tadi berubah menjadi petaka bagi Hanum, ia hanya menangis tersedu karena kemarahan Ayahnya.

Esoknya dengan wajah yang sangat lelah akibat kerja semalaman Ayahnya dengan amat terpaksa menemui Ibu Hani untuk menyelesaikan masalah anaknya.
“Selamat pagi pak, dengan Ayahnya Hanum?” sambut Ibu Hani hangat.
“Iya benar sekali, ada apa dengan anak saya, apa yang dia lakukan di sekolah?” tanyanya yang sudah tersulut emosi.
“Hanum tak melakukan apapun, saya hanya bingung kemarin saat saya tanya cita-citanya apa kepada Hanum, ia menjawab ia ingin sekali menuruti omongan bapak yaitu menjadi sebagai pel*cur” ucap Ibu Hani, Sontak Pak Herman Ayah dari Hanum terdiam sejenak dengan mimik kebingungan.
“Maaf sebelumnya kalau saya lancang, perkerjaan Bapak sendiri apa?” tanya Ibu Hani lagi.
Kembali sejenak Pak Herman diam ia sangat kebingungan untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Ibu Hani.
“Saya kerja di tempatnya para P*K atau semacam Club Malam, dan saya termasuk pengepul di situ, jika sekolah ini tidak menerima anak dengan Ayahnya Gig*lo, Ibu tak usah khawatir biar Hanum kupindahkan ke sekolah lain” jawabnya sedikit tergesah-gesah

Ibu Hani terkaget-kaget kembali mendengar pengakuan dari Pak Herman, belum juga Ibu Hani melanjutkan perbincangan dengan Ayahnya Hanum, datang berita yang berkabar bahwa Hanum pingsan di kelas, tanpa kesepakatan perbincangan pun terakhiri, semua perhatian beralih kepada Hanum yang tak tahu sebabnya tiba-tiba pingsan di dalam kelas saat mengikuti pelajaran matematika Ibu Laila yang memberi kabar kepada Ibu Hani dan Pak Herman bahwa Hanum pingsan, apa mungkin Hanum terlalu phobia atau pusing menghadapi pelajaran yang diampuhnya pagi itu sehingga Hanum pingsan, namun tidak mungkin.

Tanpa pikir panjang pihak sekolah langsung membawa Hanum ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Tak lama dokter memberi kabar bahwa Hanum positif mengidap Kanker otak stadium 3. Mendegar kabar buruk itu Pak Herman hanya bisa menunduk dan tak mampu membendung tetesan-tetesan air matanya. Ibu Hani yang mencoba menenangkannya tak juga ia hiraukan, karena bak terpukul benda yang sangat keras, begitulah kesedihan yang dialami pak Herman.

Sudah hampir 6 hari Hanum dirawat, dengan rambut yang semakin mengikis Hanum terkulai lemah dengan alat-alat yang menyangkut di sela-sela tubuhnya untuk membantunya bertahan melawan kanker ganasnya itu.
“Ayah..” terdengar suara memanggil yang tak asing lagi bagi Pak herman yang senantiasa berharap menunggu anaknya ini pulih kembali.
“Hanum.. kau sudah tersadar nak” Hanum yang koma selama 5 hari lamanya, tak terbendung air mata Pak Herman mengalir yang juga disaksikan oleh Ibu Hani yang tak juga kalah setia menemani melewati masa-masa komanya Hanum.
“Ayah.. apa Hanum hanya bermimpi ataukah Hanum sudah di surga bisa ku rasakan lagi pelukan Ayah yang hangat ini” ucapnya Hanum.
“Kamu tak lagi bermimpi atau apapun itu, kapanpun kamu minta Ayah memelukmu, Ayah akan memelukmu selama yang kamu mau” ucapanya tersedat-sendat tangisannya.
“Ayah Hanum minta maaf sudah membuat Ayah marah, Hanum janji akan menuruti apapun perintah Ayah, Hanum tidak akan nakal lagi” ungkap Hanum lagi.
“Tidak nak, Ayah yang justru meminta maaf padamu, Ayah sudah salah mendidikmu, Ayah sudah salah menganggap Hanum anak yang nakal, Hanum itu Bidadari kecil Ayah yang paling baik”
“Ayah.. setelah Hanum sembuh nanti, Hanum janji akan melanjutkan cita-cita Hanum yang pernah Ayah bilang pada Hanum”

Mendengar Hanum yang masih ingat cita-cita yang dinginkan Ayahnya terhadap anaknya membuat Pak Herman tersedu semakin keras dengan nada sesal.

“Kenapa Ayah menangis, Ayah tidak boleh sedih.” Ungkap Hanum.
“Maafkan Ayah ya nak, Ayah sangat menyesal dengan semua yang Ayah lakukan padamu”
“Ayah.. sakit, rasanya sakit Ayah, tolong Hanum Ayah.. seketika Hanum mendadak kesakitan di bagian kepalanya, tangis Ayahnya sejenak terhenti berganti dengan rasa kepanikan, Ibu Hani yang yang juga tak kalah panik langsung memanggil dokter.

Sementara rintih Hanum semakin menjadi membuat Ayahnya tak tahu apa yang harus ia lakukan, Ibu Hani tak juga kembali membawa dokter ke ruangan, dengan sekejap nadinya berhenti berdenyut, detak jantungnya berhenti berdetak, napasnya tak lagi terurai tanda-tanda kehiupan tak lagi nampak dalam raga Hanum. Hanum pun pergi untuk selama-lamanya meninggalkan semua kehidupan nyatanya, tak terkecuali mimpi-mimpi saat sehat dan hidupnya.

The End

Cerpen Karangan: David Prasetyo
Facebook: https://www.facebook.com/david.c.angel.7

Cerpen Hanum Bidadari Kecil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kebahagiaan Singkat

Oleh:
Ini kisah tetang alasan dibalik nama gue. Nama gue boleh lo panggil Randy. Gue siswa salah satu SMA di Jakarta. Dari gue kecil gue selalu di tanya arti nama

Janji Yang Membisu

Oleh:
Janji kebersamaan kita yang tak akan pernah pupus terlekang oleh waktu. Kini kau telah tenang disana sayang, menanti kehadiranku kembali untuk melanjutkan cerita kita dulu. Tuhan punya cara untuk

Surat Untuk Papa

Oleh:
Dari anak gadismu yang paling kau sayangi, saat aku menuliskan ini untukmu umurku sudah beranjak dewasa. Apa yang aku tuliskan di sini adalah semua dari yang aku rasakan selama

Pengorbanan Seorang Ayah

Oleh:
Naila kebingungan saat ini ia harus segera berangkat menuju kampus sebab waktu telah menunjukan pukul 13:00. sementara itu ia belum mengetahui siapa yang akan mengantarkannya menuju kampus saat ini.

Kesempatan Kedua (Part 1)

Oleh:
“..allah huakbar allah huakbar…” adzan subuh yang terdengar keras dari masjid kecil di dekat rumah sunarto langsung membangunkan si sunarto yang merupakan duda dengan satu orang anak ini dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *