Hanya Pena, Penggaris, dan Penghapus

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 15 May 2013

Hari ini adalah ulang tahun Adi yang ke-6. Kebetulan saat itu hari libur, sehingga Ayah dan Ibu Adi libur bekerja serta Kakak Adi tidak ada jam kuliah. Ayah, Ibu, dan Kakak Adi pun membawa Adi pergi ke sebuah restoran untuk merayakan ulang tahun Adi. Banyak yang mereka pesan. Tapi, Adi hanya memesan jus saja, ia pun kelihatan tidak senang.

Melihat tingkah Adi, Ibu Adi bertanya padanya, “Adi, kamu, kok, keliatan tidak senang? Apa kamu tidak suka dengan restoran ini?”.
“Oh, tidak, Bu!” Jawab Adi.
“Apa kamu inginkan hadiah? Kalau begitu hadiah apa yang Adi inginkan?” Tanya Ibu Adi lagi.
“Hmm… Adi ingin pena dari Ibu, penggaris dari Ayah, dan penghapus dari Kakak!” Jawab Adi polos.
“Hanya itu?” Tanya Ibu Adi.
“Ya, hanya itu!” Jawabnya.
“Apa kau tidak salah?” Tanya kakak Adi.
“Iya, Ka.”
“Oke, kita pergi ke toko buku sekarang,” sahut Ayah Adi.

Mereka pun pergi ke toko buku. Di sana Ayah, Ibu, Kakak Adi membeli apa yang diinginkan Adi. Mereka membeli pena, penggaris, dan penghapus yang paling baik kualitasnya. Setelah mereka membelinya, mereka memberikannya pada Adi dengan bungkusan terindah. Adi pun senang, ia melihat pena, pengaris, dan penghapus itu.

Tapi rupanya…
“Bukan ini yang Adi inginkan!” Kata Adi dengan agak kesal.
“Yang kamu minta kan pena, penggaris, dan penghapus? Ini dia kan pena, penggaris, dan penghapus?” Ibu Adi heran.
“Memang, tapi bukan pena, penggaris, dan penghapus yang seperti ini!”
“Banyak permintaan ya kau!” ledek Kakak Adi.
“Hus, Kakak, kamu tidak boleh seperti pada adikmu!” Tutur Ayah Adi.
“Iya, iya,” kata Kakak Adi.
“Baiklah kita pergi ke toko buku lain saja ya!” Kata Ayah Adi.

Ayah, Ibu dan Kakak Adi pun sedikit heran dengan apa yang Adi ucapkan. Padahal, pena, penggaris, dan penghapus yang mereka beli semuanya dapat di gunakan dan masih bagus. Akhirnya, mereka pergi ke toko buku lain.
Dan, lagi…
“Bu, Pa, Ka, bukan yang seperti ini yang Adi inginkan! Ini tidak bisa di gunakan sama sekali!” Ucap Adi dengan kesal.
“Lalu, pena, penggaris, dan penghapus apa yang kamu inginkan?” tanya Ibu Adi agak kesal.
“Bu, pena yang Ibu berikan nggak bisa di gunakan. Adi mau pena yang dapat menulis ‘Ibu, Adi sayang Ibu. Tapi kok, Ibu jarang ada buat aku?’ di hati Ibu. Soalnya, Ibu jarang banget nemenin aku di rumah. Aku sampai lupa kapan terakhir kita bersama di rumah. Pa, bukan penggaris ini yang Adi minta. Adi ingin penggaris yang dapat meluruskan dan memperdekat hubungan kita. Soalnya, Ayah sibuk kerja mulu bahkan jarang pulang. Adi merasa nggak punya Ayah deh! Ka, penghapus ini jelek. Penghapus ini gak bisa menghilangkan kebencian Kakak dan kemarahan Kakak pada Adi. Kecerobohan Adi yang membuat Kakak marah!” Ujar Adi dengan begitu polos.
Seketika Ibu, Ayah, dan Kakak Adi menangis. Mereka menyadari begitu jarangnya mereka berkumpul bersama. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing sehingga lupa dengan keluarganya.

“Adi gak perlu lagi pena untuk menuliskan itu semua! Soalnya, Adi sendiri sudah menuliskannya!” Ujar Ibu dengan lembut
“Adi juga gak butuh penggaris untuk memperdekat dan meluruskan hubungan kita. Hubungan kita pasti akan dekat lagi, sayang!” Ujar Ayah terharu
“Adi, juga gak pake itu penghapus untuk menghilangkan kebencian dan kemarahan Kakak! Adi udah menghapus semua dengan ucapan Adi yang polos!” Tukas Kakak sambil menangis.
“Beneran Pa, Bu, Ka?” Tanya Adi kegirangan.
“Benaran sayang,” jawab Ibu Adi
“Hore…!” Celetuk Adi setengah berteriak.
Ibu, Ayah, dan Kakak Adi hanya tersenyum melihat tingkah Adi.
“Yuk kita pulang sayang!” Ucap Ibu Adi
“Terima kasih Tuhan” batin Adi. Mereka pun pulang.

Cerpen Karangan: Nico Pardamean
Facebook: Nico Pardamean

Cerpen Hanya Pena, Penggaris, dan Penghapus merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mama, Tuhan dan Hidup

Oleh:
Orang baik yang selalu bersyukur akan menjadi tokoh yang serba kekurangan dan teraniaya, sedangkan orang jahat akan menjadi tokoh dengan kekayaan berlebih namun angkuh, dan enggan memikirkan sesama-nya. Jika

Kupu-Kupu di Dalam Hujan

Oleh:
Saat sebuah kasih sayang tak dapat dipisahkan, jarak dan waktu selalu memaksakannya. Ketika sebuah kasih sayang mulai pudar, jarak dan waktu juga yang selalu membuatnya kembali hidup dan datang.

Salah Orang

Oleh:
Membayangkannya saja aku sudah tertawa. Begini, aku punya pengalaman yang tak terlupakan saat kecil. Waktu itu, hari Minggu. Jadi, aku libur sekolah. Bundaku mengajakku berbelanja ke supermarket terdekat. Kami

Kisah Si Tukang Iri

Oleh:
Udara sejuk di pegunungan memang tak ada bandingannya. Sangat sangat segar. Jauh dari hiruk pikuk kota. Sebuah asrama alam yang berada di pegunungan itu tampak sangat megah di antara

White Rose

Oleh:
Seorang pemuda yang begitu senangnya menyambut hari ibu, dia mengupdate sebuah status di sebuah akun sosial media yang dia punya sebagai bentuk ungkapan “Selamat Hari Ibu” dan juga sekaligus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *