Hanya Untuk Mama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 19 June 2013

Ku hela napas panjang dan ku pejamkan mata, “Aku Pasti Bisa!” ucapku sambil membentangkan senyum selebar mungkin. Ku tatap wajah juri yang tak dapat ku artikan, raut wajah penonton yang ada di depan ku pun tampak diam membisu. Kini yang ada dipikiranku hanya satu. Ya, mama. Bayangan senyum mama dan sebuah kado spesial dari Mama jika ada menang lomba pidato ini adalah semangat yang berarti bagiku. Walaupun mama tidak dapat hadir disini, pasti Ia sedang berdoa untukku di seberang sana. Aku Yakin.

Ku mantapkan hati dengan mengucap basmalah. Kini, aku telah siap! Pidato ini pun kubawakan dengan semangat membara.

Hembusan angin sore ini kurasa cukup kencang, karena mampu mengibarkan rambutku yang ku biarkan tergerai. Sudah seharian penuh ku berada di tempat yang cukup sesak ini. Karena disinilah tempat berkumpulnya manusia berbakat demi meraih satu gelar yang cukuo membanggakan. Ya! Menjadi juara lomba Pidato bahasa Inggris tingkat Nasional. Dimana pemenangnya akan di kirim ke Tokyo, Jepang. Untuk mengikuti lomba tingkat Internasional. Membanggakan bukan? Ya, yang aku tau, itu cukup membanggakan. Tapi aku tidak yakin termasuk dalam salah satu manusia berbakat itu. karena, aku hanya mampu menmberikan yang aku bisa.

Hatiku berdegup kencang. Aku tak bisa duduk tenang. Semula anggota tubuhku bergetar. Lisanku terus melantunkan doa kepada sang Halib. Juara 3 dan 2 telah dibacakan oleh Juri. Kini, tiba saatnya untuk membacakan siapa yang berhak meraih Juara Pertama.
Ya, ku terus pejamkan nmata sambil terus melafalkan doa doa itu. dan tak lama kemudian, ku dengar seseorang memanggil namaku.
“Yugi Catherina”
Langsung kubuka mataku, mencari tahu siapa yang telah memanggilku. Sampai namaku di panggil untuk kedua kalinya dengan suara yang sama
“Ya. Yugi Catherina dipersilahkan untuk menaiki panggung”
Aku benar-benar tak percaya. Aku yang di panggil oleh juri sebagai juara pertama.

Dengan hati yang berdegup kencang, aku menaiki anak tangga sambil mencubiti tanganku untuk memastikan bahwa ini bukan sekedar mimpi di siang bolong.
“Selamat ya, Yugi.” Ucap salah satu juri sambil memberikan piala, piagam dan sejumlah uang tunai.
Kupampangkan senyum selebar mungkin. Hatiku benar-benar bahagia. Aku merasa sangat puas dengan apa yang telah aku lakukan. Rasanya aku ingin cepat-cepat pulang. Aku ingin mama adalah orang pertama yang mengetahui kemenangan ku ini.

Di sepanjang perjalanan pulang, aku bersenandung kecil sambil membayangkan reaksi mama bila mendengar semua ini, dan kado apa ya yang kira-kira akan mama beri padaku?
Kulangkah kaki ini dengan riang, menyusuri liku gang kecil untuk menuju rumahku. Aku sudah tidak sabar lagi untuk bertemu mama. Kupercepat langkah kakiku sambil tersenyum-senyum sendirian. Mungkin sebagian orang telah menggangapku sebagai pasien yang habis pulang dari rumah sakit jiwa, atau apalah. Aku tak memperdulikannya
Tetapi langkahku terhenti ketika melihat bendera kuning pucat tertancap begitu dalam di sela pagar bambuku. Semua tubuhku bergetar. Semangat yang sedari tadi membara seketika berubah menjadi cemas. ‘Siapa? Siapa yang telah.. Bukankah aku hanya tinggal bersama mama?’

Tubuhku terasa begitu lemas. Air mataku kini telah membendung di pelipis mata. Ku lihat tubuh mama telah terkujur kaku dengan kain putih berpori yang menutupi seluruh tubuhnya. Perlahan, ku buka penutup wajah mama, begitu bersih dan penuh damai. Ku belai wajahnya seraya kutumpahkan air mata yang sedari tadi ku bendung.
“mama.. kenapa mama harus pergi secapat ini? mama harus tau, kalau aku menang lomba pidatonya mah. Mama harus peluk aku. Mama harus bangn, mah.” Ucapku sambil menggoyahkan punggungnya.
“Suah yugi, kamu jangan terlalu meratapi kepedihan ini. Saya juga mengerti. Kejadian ini terjadi sore tadi, sewaktu ibumu sedang membelikan kado spesial untukmu. Katanya ini adalah hadiah yang sangat kamu inginkan.” ucap salah satu tetanggaku yang sedang berada dirumahku sambil menyerahkan sebuah kotak bewarna merah cerah berhias pita merah muda yang berada ditengahnya.
Kuterima kotak itu dengan tangan gemetar sambil terus mengeluarkan air mata yang telah tak terhitung lagi jumlahnya.
“Dan ketika ibumu hendak menyebrang jalan, ia tak melihat jika ada motor yang melaju kencang. Akhirnya motor bersama pengendaranya jatuh terlempar hingga cukup jauh. Sedangkan ibumu sudah terkapar lemas di bawah aspal dengan darah yang berceceran dimana-mana. Ibumu langsung di bawa kerumah sakit, tetapi dokter menyatakan bahwa ibumu sudah tidak dapat di tolong. Benturan dikepalanya yang cukup keras, mengakibatkan luka parah diotaknya. Sabar ya Yugi. Di setiap kejadian pasti ada hikmahnya, kamu harus menerima ini. Karena tuhan telah menetapkan takdirnya.” Lanjut tetanggaku.
Aku yang mendengar ceritanya hanya bisa diam membisu. ‘semua ini gara-gara aku. Coba aja aku nggak menyuruh mama untuk memberikan mama untuk membelikan kado, pasti semua ini nggak akan terjadi’ gumamku.
‘Mah maafin Yugi..’

Kutatap kalung liontin yang berlapis emas itu. Tepat ditengahnya, terpampang jelas fotoku dan mama sedang tersenyum hangat di balik bukit hijau nan indah. Perlahan butiran air mata ini kembali menghujani pipiku. Aku akui, memang sejak dulu aku ingin sekali mengenakan kalung liontin seperti teman-temanku. Tapi keinginan itu telah ku pendam karena keadaan ekonomi keluargaku yang masih di bawah batas layak aku memang sempat menceritakan hal ini pada mama, tapi aku tak pernah meminta mama untuk membelikannya

Maafkan Yugi mah, sebenarnya yang paling Yugi inginkan adalah senyum mama, pelukan hangat mama, dan kasih sayang maa.
Warna hitam gelap telah menyelimuti seluruh malam, dihiasi bintang-bintang yang berkelip bergantian, seketika senyumku melebar menatap bintang-bintang itu. Mungkin mama berada di salah satu bintang itu, sedang tersenyum bersama para bidadari.

Sang mentari telah keluar dari peraduannya. Menyinarkan seungguk cahaya yang dapat menghipnotis setiap pasang mata yang melihatnya. Kehangatan yang selalu terpancar dari cahayanya menjadkan semangat untuk menjalani aktivitas pagi ini.

Kuambil sepeda bewarna pink muda, kesayanganku. Perlahan ku kayuh sepeda yang mulai rapuh ini, menyusuri liku jalan yang penuh kebisingan suara kendaraan yang bersahut-sahutan, sampai aku tiba di tempat yang penuh kedamaian ini.
Ku letakkan sekuntum mawar merah segar di atas gundukan tanah yang belum mengering ini. Dan kulafalkan ayat-ayat suci untuk menenangkan hatinya. Tak lama aku bergegas untuk kembali ke rumah. Namun sebelumnya ku sempat menyelipkan selembar kertas yang di kemas dalam balutan amplop berwarna merah muda. Disana kutulis kata demi kata yang tetangkai hanya untuk mama. Ya, hanya untuk mama.

“Mama..
Terimakasih selama ini kau telah memberikanku kasih sayang yang tulus
Terimakasih kau telah mendidik, merawatkuu bahkan dengan seorang diri
Terimakasih kau telah menjadi mama sekaligus ayah untukku
Maafkan Yugi mah
Yugi belum bisa menjadi anak seperti yang mama impikan di setiap malam
Yugi belum bisa menjadi malaikat yang selalu menjaga mama, bahkan sampai ajal menjemput mama, Yugi belum bisa membahagiakan mama
Mah.. doakan Yugi
Doakan Yugi untuk tetap bisa melanjutkan hidup ini walau tanpa mama lagi
Doakan Yugi untuk tetap tegar menghadapi semua yang akan terjadi
Yugi yakin
Pasti mama sekarang disana telah tenang
Hidup bersama para malaikat yang senantiasa menjaga mama
Dan Yugi yakin
Di setiap hela napas Yugi akan terselip doa mama
Yugi rindu mama dan Yugi sayang mama..”

Cerpen Karangan: Tutut Setyorinie
Facebook: Tutut Setyorinie

Cerpen Hanya Untuk Mama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dekapan

Oleh:
Retha Cahyawon namaku.. Re dari nama Papaku Rey dan Tha dari nama Mamaku Thania, Cahya Penerang dan Won adalah Pemenang. Kata orang, namaku Unik dan sangat berarti untuk penunjang

Ayah kami bukan kriminal

Oleh:
Kami sedang berduka. Ayah kami ditangkap polisi karena dituduh merencanakan pembunuhan. Ayah tak mungkin ada niat membunuh walau dendam sekalipun. Ayah bilang ia dijebak oleh karsiman, sang direktur perusahaan

Hadiah Terakhir

Oleh:
Sejak aku berumur 8 tahun ayahku meninggal dunia dan sejak saat itu juga aku dibesarkan oleh ibu seorang diri. Namaku Refiska Ayu biasa aku biasa dipanggil Fiska, kata ibuku

Aku

Oleh:
Aku adalah Nisa, seorang gadis yang lemah, aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Ibuku bekerja setiap paginya sebagai penjual kue. Beliau sendiri harus menafkahi aku dan kedua adikku karena

Parasit Yang Kurindukan

Oleh:
Sinar matahari telah membangunkanku dari keranda pingsanku tadi malam, tak kukira ia telah melambaikan sinarnya hampir di atas kepala, dengan menggebu gebu aku langsung mengambil ponselku. Bulu kudukku merinding

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hanya Untuk Mama”

  1. agustin says:

    ceritanya sdih bnget ,,,,nd bgus

    emmz jdi pngen peluk mama ,,,

    i love mom ,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *