Harapanku Pupus di Pulau Kecil Nusa Penida

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 16 August 2019

Pernahkah terbayang di benak kalian bila menghabiskan waktu dengan orang yang paling kalian benci di dunia ini?. jika pernah, pasti kalian akan merasa bahwa dunia telah kiamat. Aku rasa kali ini kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa memahami isi perasaan kalian. Bagaimana tidak hal semacam ini sudah lama aku alami bahkan di setiap detik, menit, jam maupun hari. Dan apakah kalian tahu? orang yang paling aku benci di dunia ini adalah adikku sendiri. Ia adikku, adik tiriku. Perasaan benci itu berawal dari pernikahan kedua orangtua kami, ayahku sangat mencintai bundanya Alia (nama adik tiriku) katanya si cinta pada pandangan pertama waktu ketemu di pulau kecil nusa penida. Tempat wisata yang jauh dari kesan keramaian dan hiruk pikuk kemacetan kota metropolitan seperti Jakarta ini. Apa mungkin cinta pada pandangan pertama itu benar ada? kalau ada bagaimanakah rasanya?.

Oh ya! sampai lupa aku belum mengenalkan diriku pada kalian. hem, hem perkenalkan namaku DITAN RAMA DIPUTRA, seorang pelajar dari sma yang cukup ketermuka di Jakarta, dengan wajah tampan, kulit putih, dan seyum yang amat manis. Ada yang minat? Kalo ada ni nomor hempon me: 081 999, bercanda kok. jangan marah ya! Ayo lanjut. makanan favoritku betutu sambel hijau dari bali dan ledok dari nusa penida yang sering dibuat oleh nyokap tiri ketika mengingat kenangan bersama pak wayan sahabat sekilas yang dijumpai nyokap dan bokap waktu di nusa penida, aku ahli dalam segala bidang, terlebih lagi aku selalu menang dalam segala permainan baik game online, sepak bola, futsal, basket, kriket, bahkan panco sekalipun.

Tak ada gading yang tak retak artinya pasti tahu kan? ya aku juga termasuk dalam kelas manusia itu walau aku jago memainkan berbagai macam permainan tapi aku tidak bisa dan tidak pernah mau memainkan permainan ini! Permainan yang bisa membuat seseorang terluka, apa kalian bisa menebak permainan apa kah itu? salah. bukan. Apa kalian sudah menyerah? Jawabannya adalah, memainkan perasaan seseorang. Bukan bermaksud sok atau ingin mendapat pujian dari kalian tapi bagiku perasaan bukan hal yang bisa dimainkan bukan juga barang yang senaknya diperlakukan, perasaan itu patut dijaga, supaya kelak bias digunakan untuk menyayangi dan mencintai malaikat pendampingmu di dunia ini.

Hari pertama libur semester merupakan hari peringatan kematian bunda di hari ini juga bertepatan dengan hari ulang tahun nyokap tiriku. Bagiku tante nia adalah orang yang dikirim tuhan untuk aku dan ayah sebagai pengganti bunda, aku sangat menyayangi tante nia walau sampai detik ini aku belum bisa menyebut dia dengan panggilan bunda tapi ia tidak pernah merasa keberatan. Kehadirannya di rumah ini membuat hari-hariku indah kecuali satu orang yang tidak pernah aku inginkan menjadi bagian dari anggota keluargaku kalian pasti tahu kan iya ALIA NIA WINATA.

Sarapan pagi telah disiapkan, suasana hening disaat makan yang terdengar hanya bunyi sendok dan pisau yang memotong roti, kata ini terucap begitu saja dari mulutku.
“selamat ulang tahun bunda nia”
Dua pasang bola mata melotot ke arahku. mereka terdiam, tidak ada respon. Tante nia hanya mengeluarkan setetes air mata, yang meluncur ke pipinya. Dengan bibir sedikit tersenyum. Aku merasa bingung dan bertanya–tanya kenapa ia menangis apa aku telah menyakiti hatinya?
“maaf bun jika rama membuat bunda menangis! tapi jujur rama tidak bermaksud begitu”.
Ia menggelengkan kepala kemudian memeluk rama.
“terimakasih sayang air mata yang menetes ini adalah air mata kebahagiaan untuk ucapan yang selama dua tahun terakhir ini yang ingin bunda dengar dari mulut kamu”.
“ayah merasa bahagia ram mendengar kata itu keluar dari mulut jagoan kecil ayah yang sudah mulai dewasa dan mau menerima nia sebagai ibu kamu”. timpal ayah
“sebenarnya sejak ayah dan bunda nia menikah aku ingin sekali memanggil bunda nia dengan sebutan bunda, tapi aku takut yah” Terdiam.
“kamu takut kenapa ram?”
Rama mencoba untuk bicara dengan suara gemetar “aku takut jika aku mulai membuka hatiku, dan membiarkan bunda nia menyayangiku, menganggapku sebagai anaknya. Aku akan melupakan bunda yang telah melahirkanku bukan hanya itu yah aku juga takut kalau-kalau aku sudah menyayangi bunda nia dan menganggap dia sebagai ibu kandungku sendiri, dan kemudian pergi meninggalkan aku sama seperti bunda. bagaimana bisa aku bertahan dan melanjutkan hidup ini” kataku dengan mata yang digelinangi air mata.

Mendengar hal itu bunda semakin terisak kemudian memelukku dengan semakin erat, ia begitu terkejut dan merasa bahagia. Atas kejadian ini ayah mencoba menjelaskan kepadaku bahwa sesungguhnya tiada manusia yang ingin meninggalkan orang yang mereka sayangi. itu semua telah menjadi hukum alam atau suratan takdir yang telah dibawa oleh manusia itu sendiri semenjak ia dilahirkan.

Sebagai perayaan karena aku telah memanggil tante nia dengan sebutan bunda, ayah mengajak kami sekeluarga untuk berlibur. Dan tempat yang dipilih adalah bali, tempat kenangan termanis dalam hidup pasangan pengatin paruh baya ini. Sebagai anak, aku harus mengalah terlebih lagi bali juga tempat favoritku. Di sana aku bisa menyalurkan hobi baru seperti mencoba bermain skiy atau mencoba menunggangi sang kuda besi keliling perairan bali (motor sekiy). Kurasa liburanku tidak akan berkesan jika si bawel (alia) ternyata tinggal di bali, sebenarnya aku tak penah mengenal sosok alia karena sejujurnya selama pernikahan orangtua kami alia lebih memilih ikut dengan kerabat papanya ketimbang ikut dengan bunda nia. Aku bisa membenci alia padahal kami belum bertatap muka secara langsung karena ayah selalu membandingkanku dengannya dalam segala bidang seperti: dalam bidang pelajaran alia selalu menjadi juara umum 1 sedangkan aku hanya mendapat peringkat 3 itupun hanya di kelas, alia sangat mandiri dan aku manja, alia nggak pernah ngeboros lah dan aku selalu hura-hura, alia ini lah, itu lah, beginilah, begitu lah. pokoknya yang bagus-bagus selalu alia yang jelek-jelek pasti datangnya ke aku. Aku merasa alia itu telah menghancurkan harga diriku di depan ayah makanya aku sangat, sangat membencinya.

Pekerjaan kantor yang mendesak membuat ayah tidak bisa ikut pergi. sedangkan bunda sendiri diminta ayah untuk tetep di Jakarta bersamanya supaya ia tidak kesepian, Terpaksa aku berangkat sendiri menuju bali.

BERSAMBUNG

Cerpen Karangan: Nila
Blog / Facebook: Wayan Nila

Cerpen Harapanku Pupus di Pulau Kecil Nusa Penida merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Ibu Sakit

Oleh:
Ibu sakit, siapa yang tidak sedih? Aku dan Ratifah pun tak dapat memungkiri hal itu. Hampir setiap malam, aku selalu berdo’a kepada Tuhan, supaya Ibu disembuhkan. Agar dapat kumpul

Trouble of Sisters (Part 2)

Oleh:
Siangnya, Emely dijemput oleh papanya. Jika ia mengikuti kompetisi itu, ia bisa mendapatkan uang sebesar 15.000 dollar. Ya, itu pun kalau menang. Ia membayangkan, 15.000 dollar itu bisa digunakan

Takdir

Oleh:
Sore ini hujan kembali jatuh membasahi bumi, kupandangi tetes demi tetes butiran hujan dan sesekali kuulurkan tanganku untuk merasakan dinginnya hujan sore ini dari jendela kamarku. Angin bertiup seakan

Maaf Untuk Mama (Part 1)

Oleh:
“nggak aku nggak mau, aku nggak mau ikut sama kamu, aku nggak mauuuuuuu…! hosh hosh hosh” ternyata mimpi buruk itu lagi, aduh siapa sih sebenarnya perempuan itu, kenapa dia

Hari Istimewa Bunda

Oleh:
Pagi itu, aku terbangun dari tidurku. Aku melirik jam dindingku. Ternyata, waktu telah menunjukkan pukul 05.00. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu, dilanjutkan dengan menunaikan ibadah Sholat Shubuh.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *