Hari Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 2 May 2017

Aku bingung. Kalimat pertama yang cocok untuk puisiku. Besok hari ibu. Madrasahku mengadakan berbagai macam lomba. Ada lomba membaca puisi dengan tema ibu, menyanyi lagu tentang ibu, membuat gambar tentang ibu, dan menulis dan membaca cerpen tentang ibu. Aku mengikuti lomba membaca puisi. Akhirnya aku mendapat ide. Sebait, dua bait, tiga bait… Akhirnya selesai juga. Aku latihan mimik wajah, penghayatan, dan intonasi puisi bersama Mas Allam (kakakku). Aku menggunakan suara kecil, agar bunda tidak mendengar. Biar besok kubuat surprise pada saat lomba. Memang besok boleh membawa ibunya.

PUKUL 05.00 WIB…
KRING… KRING… KRING…!!!
Bunyi jam wekerku berbentuk menara eiffel. Aku segera terbangun. “Hoam!!” uapku seraya mematikan jam weker. “Aulidia!!! bangun, dah pagi!!!” teriak bunda dari dapur. “Iya Bunda. Aulidia mandi dulu!!!” teriakku lembut. Aku menyambar handuk dan segera mandi. Usai mandi, aku mengenakan baju lengan panjang warna merah polos, celana jeans semata kaki, kerudung putih, rompi panjang tanpa lengan warna biru tua bergambar hati. Hampir seluruh rompi bergambar hati!Tak lupa jam tangan. Memang dibolehkan memakai pakaian bebas kecuali perempuan wajib pakai kerudung putih. Lalu kuisi tas ransel kecilku dengan kertas puisi, uang sangu, smartphone (memang boleh bawa handphone/smartphone), air minum, dan beberapa snack. Lalu kugendong tas dan menuju meja makan.

“Pagi Bunda, Mas Allam!” sapaku sesampai di meja makan. “Pagi, Aulidia,” sapa mereka. Lalu aku sarapan. Oya! aku kelas 4 MI Indahnya Islam. Mas Allam bersekolah sama denganku, ia kelas 6. Usai sarapan, aku mengenakan sepatu dan menuju madrasah.

Sesampainya, aku menuju kelasku. “Hai Auli!” sapa seseorang. Itu Shiren, my BFF. “Hai Ren!” sapaku. Kami mengobrol. “Oya! kamu ikut lomba apa, Ren?” tanyaku. “Hmmm… aku cuma ikut lomba membuat gambar. Kamu ikut apa, Aul?” jawab Shiren. Memang Shiren pandai menggambar. Asal kalian tahu, setiap pelajaran menggambar dia selalu mendapat nilai tertinggi di kelas! “Aku membaca puisi,” jawabku.

Akhirnya lomba pun dimulai. Para ibu wali murid sudah duduk di kursi yang disediakan. Ini saatnya lomba puisi. Duh, deg-degan coy!
Peserta pertama dari kelas 4. Sesuai absen! untung aku yang keempat. Pertama Aan Saputra, kedua Afisa Setyaningsih, ketiga Atiqah Laurren, keempat… “Kita panggilkan peserta keempat dari kelas 4, Aulidia Hasty Firdausi!” panggil Ustadzah Ritha, selaku MC lomba. Aku segera maju. Kubungkukkan badan. “Assalamualaikum, WR.WB!” salamku. “Waalaikum salam WR.WB!”.

Kutarik napas pelan, lalu ku membacakan puisi tanpa teks. Memang aku sudah hafal benar.

Pengorbanan Ibu
Karya: Aulidia Hasty Firdausi

Setetes-setetes darah mengalir…
Keringat dan air mata yang mengucur
Kau tak pedulikan semua itu… Demi Anak-anakmu…

Do’a mu yang tulus nan sederhanamu…
Siang… Malam.. Kau tak pedulikan…
Di Fikiranmu hanya membuat anaknya menjadi sukses
Pengorbananmu kadang kulupakan

Sampai akhirnya…
Maaf jika baktiku belum sempurna kepadamu…
Selamat jalan.. Ibu
Sampai akhirnya usia menjemputmu.. Ibu..
Menempuh jalan panjang menuju haribaannya…
Tuhan Semesta jagad raya

Semoga…
Kita dipertemukan oleh takdir…
Kita kan tersenyum beriringan
semerbak harum surga
amin…

Prok.. Prok.. Prok.. Tepuk tangan yang sangat, sangat bergemuruh. Kulihat sekilas mata bunda dari kursi penontong berkaca-kaca. Aku membungkukkan badan, dan turun dari panggung. Aku beri teks puisiku kejuri. Langsung kupeluk bunda. “Puisinya sangat bagus, sayang. Kejutan yang sangat istimewa,” ucap bunda seraya mencium pipiku. “Makasih bunda!” jawabku. “Bagus, sekali, Aulidia. Tak sia-sia mas ngajari kamu,” ujar mas Allam tiba-tiba datang. “Andai ayah di sini, pasti bisa melihatku. Sayang, ayah dinas ke Brunei Darussalam,” uraiku. “Bun, aku ke kelas dulu!” pamitku seraya menuju kelas. “Bagus sekali, Aul!” ucap Shiren. Ternyata Shiren sudah siap menggambar. Lalu aku dan Shiren mengobrol.

Akhirnya pengumuman juara. Pertama menggambar. Shiren ternyata juara 2. Ini saatnya lomba puisi. Duh, tegang rasanya!
“Baik, saatnya juara lomba membaca puisi dengan tema ‘ibu’. Juara tiga adalah Vica Varysta. Vica segera maju. Juara 2 adalah Sheno Naveero. Sheno silakan maju. Dan juara satu adalah…,” Ustadz Maulana (Kepala madrasah) memutuskan pembicaraannya. ‘Ih! Ustadz Maulana suka begitu!’ batinku. “AULIDIA HASTY FIRDAUSI!!! Aulidia segera maju ke depan.” Aku tak menyangka bisa juara 1! Puji syukur kuhanturkan pada Allah. Aku menerimanya. Bunda bangga kepadaku. Ia memelukku sangat erat. Bukan kemenangan yang kubahagia-in, tetapi peluk dan cium dihari istimewa ini. Oya! mas Allam, juara 1 lomba menggambar! Hebat, ya mas Allam…

Cerpen Karangan: Alyaniza Nur Adelawina
Facebook: Alya Aniza
Maaf kalau nggak nyambung. Soalnya kehabisan ide…

Cerpen Hari Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tekun Awal Yang Sukses

Oleh:
Burung berkicauan, di antara hempasan gelombang yang tinggi menerpa pantai. Nama ku fachri aku hanyalah anak seorang nelayan, penghasilan ayahku tidak terlalu tinggi, tapi kedua orangtua ku tetap berusaha

Best Friend Forever

Oleh:
Hai, namaku Cerry! Nama lengkapku Cerry Ceria. Aku mempunyai kakak perempuan bernama Cerry bahagia, biasa dipanggil Bahagia. Nama ayahku Cerry Ketawa, biasa dipanggil Pak Ketawa karena ayahku ini suka

Bunga Persahabatan Dari Hawa

Oleh:
“Hm…. disini saja simpannya.” kataku Kring.. kring… ponselku bergetar. Aku pun mengambilnya. “Hawa?” kataku sambil membuka pola kunci ponselku. ‘Assalamualaikum, Asiah kamu suka bunga dariku tidak?’ itulah yang Hawa

Kucing Ku Yang Malang

Oleh:
Pagi ini aku sangat senang sekali karena hari ini hari jumat dan pasti pulang sekolahnya cepat. Setelah beresin tempat tidur aku pun langsung mandi selesai mandi aku siap-siap berangkat

Ojek Payung Merah

Oleh:
Di sebuah Desa tinggallah seorang Anak yang bernama Alia. Dia anak yatim piatu. Ayah meninggal karena kecelakaan dan Ibunya meninggal karena sakit-sakitan. Dulu, Alia tinggal bersama neneknya. Tiba-tiba neneknya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *