Hari Ulang Tahunku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 28 March 2014

“Huuahh..” sambil menguap aku bangkit dari ranjangku. Bunyi jam beker membangunkan aku dari mimpi semalam. “Huh, sial sekali..” pikirku dalam hati.

Perkenalkan namaku Agatha Rheynata, panggil saja aku Rhey. Aku adalah siswi kelas 8 di salah satu SMP Negeri di kota Surabaya. Dan aku sedikit tomboy.
“Rhey, ayo bangun!” suara mama membangunkan aku dari lamunan
“Iya, ma. Aku udah bangun kok..” jawabku sambil berlari menuruni tangga
“Tidurmu nyenyak kemarin?”
“Iya, ma.”
“Ya sudah cepat mandi sana!” perintah mama

Aku pun bergegas masuk ke kamar mandi. Setelah mandi aku menyusul mama dan kakakku di meja makan, memang hanya itu keluarga yang kumiliki, setelah ayahku meninggal 2 tahun yang lalu karena sakit. Kelihatannya mereka sudah lama menungguku.. Terlihat dari raut wajah kakakku yang sudah mulai bosan.. Hihihi..

“Luama banget sii?” tanya kakak dengan nada kesal
“Hehe, maaf deh..” jawabku sambil tertawa kecil
Lalu aku menarik kursi dan segera makan,
“Ma, kalau udah gede nanti aku pengen jadi pilot..” kataku
“Hah, pilot? Pilot pesawat kertas? Haha..” sahut kakak menertawaiku. Emang dia tuh agak usil
“Ihh, bukan kayak gitu. Pilot yang kayak di Garuda Indonesia tuh.. Wekk”
“Sudah, sudah.. yang penting kamu belajar dulu yang pinter, biar bisa jadi pilot” mama menyahut.

Eh, aku udah cerita tentang kakakku belum? Belum kan, yah? Aku cerita sekarang aja deh..
Aku punya kakak nih, namanya Martha Bagas Hendriawan.. Halah panjang, panggil aja Bagas.
Singkat kata singkat cerita nih ye, dia baru lulus dari SMA tahun pelajaran ini. Karena nilainya yang bisa dibilang memuaskan, dia sekarang kuliah di Universitas Airlangga jurusan Psikologi. Baru jalan semester satu. Udah jelas kan tentang si kakak?

Setelah makan aku dan kakak segera berangkat ke sekolah. Karena sekolahku sama dia searah, jadilah aku bareng sama dia.. Aku dan dia pamitan sama mama.

Sesampainya di depan sekolahku…
“Ngapain sih kamu? Cepetan turun..”
“… eh, kakak jelek tuh.. hahaha” kataku meledek
“Usil lu… Dasar” aku segera berlari turun dari mobil

Ini hari senin, aku bersiap-siap ke lapangan untuk mengikuti upacara bendera. Tapi… aku tidak melihat kehadiran Fay, sahabatku. Dia ini memang biasanya berangkat siang, gak tau deh kenapa..

“Haii, Rhey..”
Suara itu mengaketkanku dari belakang, “Ehh, ya ampun Fay.. aku kaget tau..”
“Hehehe.. Maaf” sahutnya meringis
“Ya udah, ayo ke lapangan!” ajakku

Saat upacara berlangsung tiba-tiba kepalaku terasa pening, lalu penglihatanku menjadi buram dan semua menjadi gelap. Ketika terbangun ternyata aku telah berada di UKS.
“Rhey, kamu gak papa kan?” tanya seorang petugas PMR
“Gak papa kok!” sahutku pelan
“Tapi kamu mimisan, Rhey..”
“Haa? Serius kamu?” tanyaku keheranan
“Iya.. udah kamu istirahat disini dulu aja ya? Mama kamu bentar lagi jemput kamu kok..” aku hanya mengangguk.

Tak lama kemudian mama datang menjemputku. Dan aku segera pulang ke rumah dibantu oleh mama dan petugas PMR. Sesampainya di rumah aku dibantu memasuki kamar. Lalu mama menanyaiku,
“Sayang, kamu gak papa? Ada yang sakit? Sini mama pijit..”
“Gak papa kok, ma.. Gausah !”
“Nanti kita ke dokter ya?”
“Gak usah, aku baik-baik aja..”
“Tapi kamu pingsan, mimisan.. Mama juga sering lihat kamu mimisan”
Aku hanya terdiam, ternyata mama mengetahui apa saja yang kualami .. Ya Tuhan.
“Kita ke dokter nanti sore, kamu istirahat dulu sekarang..”

Lalu mama keluar. Sebenarnya aku tak bisa tidur, memikirkan apa aku sakit? Ah, tidak.. Tidak mungkin.
Beberapa saat kemudian aku mendengar suara mobil kakak. Pasti dia sudah pulang. Tak berselang lama, dia memasuki kamarku..
“Eh, kata mama lu pingsan ya?”
“Tau ah, pikir aja sendiri.. Sana keluar, aku mau tidur..” jawabku sambil mengangkat selimut menutupi wajahku
“Oo tidak bisa.. Kakak temenin kamu disini, udah cepet tidur!”
“Terserah lu deh..” aku kesal

Kemudian aku tertidur ditemani kakakku. Setelah lama aku tidur, kakak membangunkan aku. Dia menyuruhku segera mandi karena kita akan berangkat ke dokter.

Sesampainya di rumah sakit, aku segera diperiksa oleh dokter.. Setelah sekian lama menunggu hasil tes, akhirnya hasil tes itu keluar. Kemudian mama masuk ke ruangan dokter, sedangkan aku di luar bersama kakak.
“Gimana dokter hasilnya?”
“Menurut hasil tes ini, ternyata Rhey positif mengidap Anorexia tingkat akut”
“Anorexia? Apa itu, dokter?” mama sedikit panik
“Penyakit berbahaya dan mematikan yang menyerang lambung, penyakit ini tergolong aneh karena tidak hanya menyerang lambung tetapi bisa juga merusak kondisi psikis penderitanya. Seperti depresi, kecemasan, perasaan tidak berguna, dan lain-lain”
“Mematikan?”
“Iya, satu-satunya jalan yang bisa kita tempuh adalah dengan menjalani kemotherapy. Jadwalnya bisa kita atur bersama nanti. Tapi lebih cepat lebih baik”
“Baik dok, saya permisi keluar”

Mama keluar dari ruangan dokter. Ada yang aneh darinya, wajahnya keliatan sangat lesu. Lalu aku menanyainya.
“Gimana, ma? Aku gak papa kan?”
Tapi mama tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan mengajak kami pulang.

Setelah sampai di rumah, mama mengajak aku dan kakak mengobrol di ruang tamu. Wajah mama terlihat sangat sedih..
“Rhey, maafin mama.. Mama harus jujur sama kamu.”
“Jujur tentang apa ya, ma?” tanyaku penasaran
“Sebenarnya kamu mengidap anorexia akut Rhey.. Maaf Rhey mungkin ini terlalu menyakitkan buat kamu, tapi mama harus jujur”
“Anorexia, ma?” aku tercengang
“Iya sayang..”
Aku tidak bisa berkata apapun, aku hanya menitihkan air mata.. Lalu aku berdiri ingin masuk ke kamarku, namun mama memegang tanganku.
“Dengerin mama dulu, Rhey!”
“Mama gak perlu jelasin, aku udah tau tentang penyakit itu” jawabku, kemudian aku berlari ke kamar. Air mata menetes deras di pipiku. Aku tau kakak mengejarku.

Segera kukunci pintu kamarku dan menangis di dalam..
“Buka pintunya, Rhey!” ucap kakak. Aku tidak menyahut
“Adek, dengerin kakak.. Buka pintunya!”
“Kakak pergi aja aku pengen sendiri..” jawabku dari dalam kamar
“Rhey…”
“Aku bilang pergi!” teriakku memotong kata-kata kakak.
Mungkin dia sudah pergi. Aku menangis sekencang-kencangnya di dalam kamar..

Aku tidak keluar dari kamar selama 3 hari, sampai pada suatu ketika tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk kamarku..
“Adek ini kakak, ayo makan dulu! Udah hampir 3 hari loh kamu ga makan.. Nanti kamu sakit”
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku. Aku hanya merenung
“Rhey. Kamu dengerin kakak gak sih?” aku tetap tidak menjawab. Mungkin hal ini membuat kakak cemas..
“Kakak mohon buka pintunya sekarang! Kamu gak sayang sama kakak ya? Kalau kamu sayang sama kakak buka pintu sekarang. Tapi kalau kamu gak buka pintu kakak akan pergi jauh-jauh dari kamu selamanya..” perkataan kakak ini membuat aku kaget.

Perlahan kubuka pintu.. kakak tersenyum.
“Kakak boleh masuk kan?” aku hanya mengangguk. Kemudian kami masuk.
“Ayo makan dulu! kakak suapin kamu..” lalu aku makan
“Kamu jangan kayak gini terus dek, Rheynata yang kakak kenal adalah orang yang selalu ceria, selalu semangat, dan gak pernah sekalipun kakak tau kamu ngeluh..”
“Kenapa harus aku kak?”
“Percayalah sayang, ini yang terbaik dari Tuhan”
“Kenapa harus aku kak? Aku gak mau sakit.. Aku benci sakit, aku benci semua ini.. Aku benci..”
Tiba-tiba aku histeris. Menangis dan berteriak..
“Rhey, tenang Rhey.. Ini jalan Tuhan sayang” kakak memelukku, dan ini cukup membuatku tenang
“Aku sayang adek..” bisiknya di telingaku
“Rhey sayang kak Bagas..” tiba-tiba aku pingsan
“Dek, kamu kenapa dek? Bangun dek..” kakak panik

Beberapa saat kemudian aku terbangun.. pandanganku masih sedikit buram.
“Kakak..” panggilku dengan suara pelan
“Iya sayang.. kamu udah sadar” dia membelaiku lembut
“Aku pingsan ya?”
“Kamu tuh ya, pingsan kok lama banget sih? Jangan bikin kakak takut dong..”
“Ahh..” aku memegangi kepalaku
“Eh dek, kamu kenapa? Apa yang sakit? Maafin kakak, kakak gak bermaksud marahin kamu”
“He’em.. Mama dimana?”
“Masih ke Supermarket. Udah gak usah mikir itu, kamu sekarang istirahat aja..” kata kakak sambil menebarkan selimut ke tubuhku. Kemudian aku tertidur.

Keesokan harinya aku kembali ke sekolah. Aku gak sabar bertemu dengan Fay, I miss you so much Fay.. Aku menunggunya di depan sekolah, tak lama kemudian Fay datang lalu kami masuk bersama.
“Rhey, kamu sakit ya? Mama kamu telepon aku, maaf aku gak bisa jenguk” ucap Fay sedih
“Gak papa kok, santai aja lagi.. aku udah baikan..” aku tersenyum, lalu Fay mengikuti

Di sekolah, aku dan Fay kembali belajar bersama, bercanda tawa bersama.. Sepulang sekolah aku diantar oleh Fay karena kakakku terlambat pulang. Aku merindukan masa-masa ini. Sungguh hari yang indah. Sejujurnya aku tak ingin hari ini usai, tapi waktu gak akan pernah berhenti berputar.

Beberapa minggu kemudian aku kembali tidak dapat masuk sekolah karena harus menjalani kemotherapy.. Aku diantar oleh mama dan kakakku. Saat kemo berlangsung aku tak henti-hentinya menjerit dan menangis, dikarenakan oleh rasa sakit yang luar biasa saat jarum-jarum yang banyak itu menusuk kulitku, dan rasa dingin yang menyerang sekujur tubuhku. Selang yang terpasang di hidungku untuk mengalirkan cairan kimia ke tubuhku membuat aku semakin kesakitan. Ditambah saat cairan-caran kimia itu menyatu dalam darahku, aku menangis meminta pengobatan itu segera dihentikan. Aku pun pingsan seketika. Rasa dingin itu terbawa ke dalam tidurku. Sekitar 2 jam kemudian kemo berakhir dan aku terbangun. Kulihat ada mama, kakak, dan Fay ada di sampingku saat aku membuka mata. Terima kasih Tuhan..

Makin hari keadaanku semakin parah. Aku semakin sering pingsan, dan mimisan. Aku juga sering merasakan sakit di sekitar perutku. Apa sebentar lagi aku akan mati? Aku masih ingin di sini, Tuhan.
Tidak! Aku tidak akan menyerah, aku gak akan kalah oleh rasa sakit ini..

Suatu senja, aku duduk di kursi teras belakang sambil menikmati indahnya bunga-bunga disana. Tapi keindahan itu terganggu karena adanya tingkah usil kakakku.. Uhh sial.
“Haiii, ayo tebak ini siapa?” Katanya sambil menutupi mataku
“Ah ini mah pasti kakak, ngapain sih? Ganggu aja..” jawabku kesal
“Eh kok kamu bisa tau? Kamu ngintip ya?”
“Aku tuh hafal sama suara kakak, udahlah kak.. Jangan ganggu, aku tuh pengen menikmati indahnya taman ini”
“Iya iya, adekku sayang..” sahutnya sembari melepaskan tangannya dari mataku. Kemudian dia duduk di sampingku. “Kakak ngapain?” tanyaku
“Nemenin kamu. Emang mau ngapain lagi?” aku tidak menjawab. Suasana menjadi hening sementara.

“Kak, kenapa sakit ini milih aku ya? Kenapa bukan orang lain aja?” ucapku
“Hemm.. Ya udah, kalau gitu kakak aja yang gantiin sakit kamu dek. Kakak mau kok” jawabnya tanpa pikir panjang, aku yang kaget memandang wajahnya lalu ia tersenyum
“Iya, kakak mau kok.. Biar kamu seneng, kalau kamu seneng kakak juga seneng” kakak meneruskan
“Kak, bukan gitu maksud Rhey.. Maksudnya, kenapa Cuma Rhey yang menderita?” aku mulai menangis
“Makanya sakit kamu dipindahin ke aku aja. Biar kakak yang menanggung semuanya”
“Enggak, kakak gak boleh sakit..”
“Boleh, apapun akan kakak lakuin buat kamu” ia tersenyum lagi
“Enggak kak..”
“Kakak gak papa kok, kalo misalnya kakak harus gantiin Rhey, kakak harus sakit untuk Rhey, harus mati untuk Rhey, kakak akan terima dengan senang hati. Apapun akan kakak lakuin supaya Rhey seneng”
“Rhey sayang kakak..” Kataku sambil memeluknya
“Iya dek.. Ayo kita masuk, dingin disini. Eh nanti kita jalan-jalan ya?”
“Jalan, kemana?”
“Ya… kemana aja pokonya nanti malem kita seneng-seneng”
“Terserah kakak aja deh”

Malam harinya kakak mengajak aku jalan-jalan. Kami berpamitan pada mama..
“Bagas.. Jaga adikmu dengan baik” pesan mama
“So pasti ma.. Rhey kan adek aku satu-satunya” jawab kakak. Lalu kami berangkat

Di sepanjang jalan aku melihat pemandangan lampu-lampu terang kota Jakarta. Aku sangat menikmati perjalanan ini.. Kakak memarkir mobil di sekitar alun-alun, dan kami berjalan berkeliling..

Kami membeli jagung bakar dan memakannya bersama di pinggir jalan, kemudian memasuki sebuah kawasan pertokoan. Disana aku melihat sebuah boneka panda berwarna merah yang lucu dan imuuut sekali sesuai warna favoritku.
“Kak, boneka itu bagus ya?”
“Emm, lumayan.. Kamu pengen?” tanya kakak, aku hanya mengangguk.
“Ya ya ya, kakak beliin deh. Tapi nanti ya, tunggu dulu.. Soalnya kakak beliin pake uang kakak sendiri..”
“Iya deh..” aku tersenyum

Kami berjalan-jalan lagi, kemudian mampir ke kedai es krim dan menikmati es krim itu sambil terus berjalan.. Disini keusilan kakakku berlanjut, dia mencolekkan eskrimnya ke wajahku. Kemudian dia berlari mendahuluiku. Namun saat aku akan mengejarnya tiba-tiba aku terjatuh, dan aku merasa tak bisa bangkit.
“Ahh..” aku merintih. Kakak berlari kembali ke arahku
“Kamu kenapa dek?”
“Gak papa ko..”
“Ayo bangun!”
“Gak bisa bangun kak..”
“Haa?” kakak kaget.. “Sini kakak gendong!” sahutnya lagi lalu menggendongku sambil berjalan.

Sebenarnya aku ingin menangis melihatnya menggendongku di sepanjang jalan. Tapi aku tak boleh terlihat menangis lagi di hadapannya.. sesampainya di mobil kakak langsung memasukkan aku ke dalam mobil, lalu mengecek kondisiku. Dia memijit-mijit kakiku
“Kerasa gak?” tanya kakak. Aku menggeleng
“Masa sih dek? Ya udah, kita pulang sekarang ya..” ajak kakak
Kakak segera menjalankan mobil. Aku merasa sangat bersalah kepada kakak..

“Kak, maafin aku ya? Harusnya hari ini kita seneng-seneng, tapi malah aku ngrepotin kakak”
“Gak papa kok dek..” kakak tersenyum manis padaku, aku tau sebenarnya dia menyimpan rasa sangat sedih dan cemas karena kakiku mati rasa.

Ketika sampai di rumah aku sudah tertidur saat perjalanan, sehingga kakak harus menggendongku lagi masuk ke kamar.. Aku sedikit tersadar saat ia meletakkan aku di tempat tidurku. Dia menutupi tubuhku dengan selimut, kemudian membisikkan sebuah kata di telingaku,
“Kakak menyayangimu dek..” lalu ia menciumku. Aku merasakan kalau ia menangis. Baru kali ini aku tau dia menangis.

Aku terbangun pada pagi hari.. Hari ini aku sekolah sehingga aku harus segera mandi agar tidak tertinggal oleh kakakku.. Hari-hari yang kulewati di sekolah masih sama dengan hari-hari sebelumnya.. Masih ditemani oleh Fay dan ciri khas tawanya..

Hari ini tanggal 28 Januari, berarti ulang tahunku 3 hari lagi.. Sepulang sekolah, seperti biasa aku ingin bersantai di tempat favoritku, taman belakang rumah.. Hari ini yang aneh dengan taman itu, aku melihat kakak tengah duduk di kursi..
“Kak..” sapaku
“Heii, udah pulang lu? Sini duduk” lalu aku duduk di sampingnya
“Dek, sebentar lagi kan kamu ulang tahun.. Kamu pengen apa?”
“Sebenernya sih Rhey pengen boneka merah yang kemaren. Tapi kalau gak ada juga gak papa ko.. yang paling Rhey pengen, Rhey bisa terus sama-sama kakak di sisa waktu hidup Rhey..”
Kakak terdiam, lalu memelukku.. “Maafin kakak ya dek?”
“Gak papa kok kak.. Kakak kok nangis sih?”
“Ihh kakak gak nangis tau, kakak kan cowok..” jawabnya sambil terus memelukku
Tiba-tiba aku mimisan, tapi aku tidak mengetahuinya aku terlalu menikmati hangat pelukannya.. Kakak yang mengetahui bahwa aku mimisan. karena darahku menetes deras di bajunya..
“Dek kamu kenapa? Kamu mimisan dek.. Ayo kita masuk!” dia langung mengangkat dan menggendongku dengan cepat. “Kakak..” teriakku kaget, secara reflek aku berpegangan pada bahunya
“Aaahh.. Pelan-pelan kak..” suaraku mengecil, sehingga tidak memungkinkan jika kakak mendengarnya. Dia terus berjalan masuk, menggendongku dengan cepat. Kemudian membaringkan aku di kursi. “Kamu tunggu kakak di sini ya, kakak ambil kotak obat dulu..” suara kakak terdengar panik.

Lalu ia berlari ke belakang mengambil kotak obat. Namun saat ia kembali, ia mendapati aku dalam keadaan sudah tak sadarkan diri dan hidungku dipenuhi oleh darah yang terus mengalir. Keadaanku yang seperti ini membuatnya semakin panik, karena mama sedang tidak berada di rumah.
“Adek, adek.. kamu kenapa? bangun Rhey.. Rhey ini kakak, sayang..” kakak berusaha membangunkanku, tetapi tidak ada respon sama sekali dari tubuhku
“Rhey.. Rhey kamu bertahan ya, sayang.. Kita segera ke Rumah Sakit, kita ke Rumah Sakit sekarang” kakak menggendongku masuk ke dalam mobil, dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi karena takut sesuatu terjadi padaku jika aku terlambat ditangani. Namun di tengah perjalanan, kami terjebak lampu merah sehingga membuat kakak sangat kesal.
“Ahh. Sial!” teriaknya sampil memukul kemudi. “Tahan sebentar ya dek!” sahutnya lagi

Sesampainya di rumah sakit dia langsung memanggil seorang suster untuk menolongku.. Lalu aku dibawa ke ruang UGD. Setelah diperiksa, ternyata aku mengalami koma.. Lalu kakak segera menelpon mama. Aku tau dia sangat sedih, dia benar-benar menangis saat itu.. Tak lama kemudian mama datang, dan mereka berdua masuk untuk melihat keadaanku.

3 hari kemudian.. Hari ini tanggal 1 Februari.
Ya.. aku memang berulang tahun yang ke 14 pada hari ini. Tapi tubuhku tidak mengijinkan aku untuk bangun. Kakak ada di sampingku dan mengatakan..
“Dek, selamat ulang tahun yang ke 14, kakak menyayangimu. Rhey.. kamu harus bangun, kamu gak boleh tidur terus, kakak kangen sama kamu, kakak pengen ngusilin kamu kayak dulu lagi..” dia menangis, kemudian melanjutkan perkataannya
“Kakak punya hadiah buat kamu. Ini.. Boneka merah sama seperti yang adek minta ke kakak. Boneka yang ada di toko itu udah terjual, jadi kakak keliling muter-muter kota untuk dapetin boneka yang adek minta. Kamu harus bangun Rhey.. Jangan kecewain kakak” kakak meletakkan boneka itu di sampingku, dia terdiam sesaat..
“Rheeeyyy… Kamu denger kakak gak sih? Dengerin kakak Rhey.. Banguuunnn Rheeeyyy… Banguun” teriak kakak sambil menangis.

Di dalam komaku, aku pun juga ingin menangis. Namun aku tak berdaya melawan rasa sakit ini.. “Rhey, jangan tinggalin kakak..” pinta kakak. Ia terus menangis

Beberapa saat kemudian aku mulai membuka mataku perlahan-lahan.. Aku melihat kakak tersenyum saat mataku terbuka. Kakak langsung memanggil mama dan Fay masuk ke dalam.
“Kakak, mama, Fay.. Kalian ada di sini?”
“Kita di sini buat kamu Rhey” jawab mama
“Boneka ini? Ini udah tanggal 1 Februari ya? Berarti Rhey tidur 3 hari dong..” kataku
“Iya Rhey, kami bersyukur kamu udah bangun. Happy birthday, Rhey..” sahut Fay
“Kakak udah dapetin boneka seperti yang adek minta. Adek seneng sekarang?” ucap kakak
“Iya kak, Rhey seneng banget.. Rhey lebih seneng lagi karena orang-orang yang Rhey cintai ada di samping Rhey saat Rhey mau pergi” kakak terlihat sedikit bingung dengan kata-kataku
“Kak, Rhey boleh bawa boneka ini pergi kan?”
“Iya Rhey.. Bawa boneka ini kemanapun kamu pergi, bawa juga rasa sayang kakak dek, dan jangan lupain kakak ya dek?” kakak mulai mengerti dengan apa yang kumaksudkan
“Rhey sayang kakak, Rhey sayang mama, Rhey sayang Fay. Rhey sayang semuanya..” hanya itu kata terakhir yang bisa kuucapkan. Kemudian aku memejamkan mata perlahan-lahan, dan hidupku di dunia ini telah berakhir.

Aku ingin menghirup langit biru dengan seluruh kekuatanku
Angin sejuk, dingin dan menyegarkan akan membelai pipiku dengan lembut
Awan putih yang bertebaran terpantul di dalam bola mata kristalku
Aku telah memimpikan saat menakjubkan ini
Aku ingin melompat ke langit biru dengan seluruh kekuatanku
Dengan tulus percaya aku akan berguna di suatu tempat

Terima kasih, terima kasih kuucapkan pertama kali untuk kakakku, kak Bagas, kakak terbaik yang pernah kumiliki di dunia ini. Yang telah setia menemani detik-detik terakhir dalam hidupku, yang selalu memberi semangat, yang selalu memberikan perbuatan usilnya di hari-hari terakhir dalam hidupku. Sehingga setiap detik-detik dalam hidupku menjadi sangat berarti, dan setiap helaan nafasku menjadi berguna. Terima kasih untuk mamaku. Yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidik aku. Sehingga aku dapat menjadi Rheynata yang kuat. Terima kasih juga untuk Fay. Untuk 9 tahun kita bersama, untuk hari-hari indah yang telah diberikan kepadaku. Terima kasih kuucapkan pula untuk semua orang yang telah mendukungku. Aku sangat senang, karena aku bisa mengakhiri perjalanan hidupku, tepat di HARI ULANG TAHUNKU..

Cerpen ini didedikasikan untuk seorang kakak, Martha Bagas Hendriawan.. (aku memang memakai nama asli dalam cerpen ini). Seorang kakak yang sangat baik. Yang selalu menemani dan memberi semangat padaku saat aku jatuh. Makasih kak, hanya ini yang bisa aku kasih untuk kakak.. :’) Ganbatte anni-chan.. 😀 :p

Cerpen Karangan: Agatha Rhea Adya Rahma (Rhey)
Facebook: Rhea Agatha

Cerpen Hari Ulang Tahunku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Restu (Part 1)

Oleh:
“Ibu dak bisa bantu apo-apo, Ibulah ngecek samo mak datuak Mantari tapi tetap dak bisa kato baliau. Kini sabalum talambek saliang manjauhlah kalian.” Kata-kata itu membuat air mata tidak

Minggu Sore di Supermarket

Oleh:
Sebagai seorang perempuan, naluri berbelanja ada di dalamku tentunya. Meskipun memang orangtuaku selalu membatasi uang jajanku setiap bulannya dan dimintai laporan keuangan setiap akhir bulan, ya perempuan tetaplah perempuan

Terima Kasih Mang Udin

Oleh:
Pagi ini seperti biasanya. Aku berpamitan ke sekolah tanpa mencium tangan kedua orangtuaku. Aku tahu itu adalah hal yang tidak seharusnya kulakukan. Tapi aku tidak peduli. Persetan ah! Selalu

Tak Pernah Berarti

Oleh:
Namaku Raifa aku adalah orang yang sangat menyedihkan. Keluargaku tidak pernah menganggapku dan teman-temanku tidak pernah menghargaiku. Aku seorang gadis yang mengidap penyakit leukimia, sekarang aku sudah stadium 3

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Hari Ulang Tahunku”

  1. Jenny says:

    kak ini Beneran ? ???? kalo benarkan kok Kakak bisa Nulis cerpennya ?
    Cuma sedih sampe nangis

  2. Silva Amalia says:

    Amazing. Sngt mngharukan dan pngen nangis. Trnyata enak banget punya kakak sprti kak Bagas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *