Hari Yang Bersamaan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 February 2017

Tiga jam berlalu aku buang sia-sia untuk melamun, mondar-mandir kesana kemari tak punyai tujuan tertentu, memandang atap yang tertutup esbes berwarna putih ternyata dapat memberiku ide,
“Dina”. Iya aku rasa dia orang yang tepat, aku ingin mencurahkan hati kepadanya aku ingin melepaskan penat dan pilu yang selama ini aku alami. Aku harap dia mau menerima aku kira juga pasti mau dia orangnya baik dan asyik sekali selalu membuat orang-orang di sampingnya tersenyum dan tertawa ngaklak oleh humor konyolnya. Iya segera kuraih hp untuk menelepon dina.

Sore itu aku menemui aldo dan teman-teman di lapangan, tepat di depan mereka aku langsung menyapa, “Hay…” tapi semuanya pada diam aku tak mengerti, saat aku memandang ke arah kerumbunan mereka aku melihat sosok dewi, “Dewi” ujarku dalam hati. “Dugh..” perasaanku sudah mulai tak enak rasanya ada yang tidak beres.
“Pada kenapa sih, jadi nggak main vollynya?” tanyaku santai merasa tak tahu apa-apa. Tapi mereka masih tenggelam oleh tatapan sinis padaku.
“Do… Ada apa sih?” tanyaku penasaran.
Kutanya mereka satu persatu tapi tak ada satu pun di antara mereka yang mau menjawab. Tapi kemudian fauzi yang menjelaskan semua dari awal sampai ahir. Inilah tujuan sebenarnya mereka ingin menyelesaikan permasalahan ini rupanya. Satu masalah yang merambat panjang sekali.
“Bukannya maksudku untuk menghianati adanya persahabatan ini tapi aku benar-benar tidak bermaksud dengan semua itu, aku tidak pernah menjauh dari kalian ak… Aku hanya sekedar mengimbangkan. Wahyu dan kawan-kawan, mereka semua juga temanku, kenapa kalian berfikir sampai separah itu padaku.” terangku menjelaskan kesalah fahaman ini.
“Soal dewi..,” ujar aldo tapi aku segera memotongnya.
“Itu bukan kesalahan kalian sendiri, kalian kan yang sudah bermain api di belakangku. Kenapa dia merasa tersakiti bukankah dia dulu yang menyakiti aku”
“Hechh… Jangan salah ngomong lho, lho itu… Memang penghancur semua persahabatan ini, dan ini pantas kita selesaikan dengan…” ujar mahmudi memang sangat marah padaku. Oh tuhan jangan perpanjang kesalahfahaman ini. Aku menyayangi mereka. Dia masih memenggal kata-katanya aku pun setia menunggu. Semoga saja mereka memaafkan aku.
“Berantem” lanjutnya mengagetkan aku dan tiba-tiba saja mereka mulai menyerang, aku tidak membalas serangan itu dan hanya menghindari pukulan yang ditimpalkan. Percekcokan dan adu mulut itu kini sudah menjadi peperangan dan apa yang bisa aku lakukan aku tak mampu lagi. Aku tidak ingin menyakiti mereka, wajahku sudah penuh darah bercucuran tapi mereka belum juga mengakhiri semua ini.

“Heyyy…” teriakan keras tiba-tiba muncul suara yang tak asing bagiku, “Wahyu” gumamku dalam hati.
“Jangan main keroyok kalian kalau berani lawan aku” tantangnya pada gengnya aldo dan damar. Tapi mereka tak menanggapi dan selintas memandangiku
“Itulah yang namanya pengkhianatan” tuturnya pelan tapi menusuk. Kemudian mereka pergi tanpa menaggapi wahyu. Aku dan wahyu ahirnya pulang sebelumnya dia mengobati lukaku terlebih dahulu.

Dua minggu kemudian, aku memang sudah benar-benar dibenci oleh mereka, hariku kosong karena sikap kami yang saling menjauh, dan saat itu juga dia menjauhiku mungkin dia sudah tidak mau lagi mengenal aku, dewi, satu-satunya perempuan yang aku cintai setelah ibu. Mengapa aku kesepiaan dan apa harus aku sendiri, oh tidak… Aku tak dapat hidup tanpa mereka.
Ada apa semua ini hanya masalah sekecil itu kok diungkit-ungkit melulu, aku harus bagaimana, “Ibu…” aku jadi teringat padanya. Aku rindu ibu, ibu kapan kembali aku tidak mau sendiri di sini, aku memang cemen, betul sekali memang parah ada laki-laki seperti ini.
“Saat aku rapuh aku hanya berdiam diri di sini, kesana kemari kucari-cari namun tak satu pun kudapatkan jejakmu, cukup sudah mengapa hidup serumit ini ternyata. Ibu kenapa kau tak mengajariku untuk menghentikan cobaan yang terus menghujam ini.”

Tepat pukul 20.00 wib. Awalnya aku berniat untuk ke gor tempat biasa aldo dan teman-teman berkumpul. Tapi aku dapat sms dari wahyu kalau noura masuk rumah sakit akibat keracunan. Oh.. Ada apa lagi ini mengapa begitu mudah masalah datang berturut-turut. Malam ini sepertinya aku tidak bisa datang, aku harus menyelesaikan masalahku dulu, setelah itu pasti aku akan ke rumah sakit. Bergegas aku mengambil motor dan melajukannya dengan cepat.

Malam ini sepi sekali tidak seperti biasanya, cuacanya dingin, oh kabut putih juga mengganggu perjalananku rupanya juga ia menghalangi pandangan mata. Tapi aku kuatkan demi berhasil sampai tujuan. Tak ada satu jam aku sudah sampai di gor. Betul ternyata memang mereka berada di sini.
“Dewi..” panggilku saat dia lewat di jalan satu arah padaku. Sebenarnya aku sungguh tak bisa dan berat sekali untuk mengucapkannya.
“Ada apa lagi kamu menemui aku” tanggapnya menusuk dan membuat aku tak tahan untuk mendengarnya.
“Aku di si… Di sini cuma…”
“Cuma apa? Mau mencari teman-teman mu itu si wahyu dan gengnya, iya, mereka di sini tepat sekali kamu” timpalnya lagi mengenaiku. Dan sungguh aku terkejut ada apa lagi ini.
“Maksudmu…”
“Alah nggak usah sok nggak tahu deh”
“Oh.. Ya kok nggak ke rumah sakit kan pacarnya lagi keracunan, kasihan lho.. Di sana sendiri”
“Oh jadi kamu kira noura itu pacarku, maaf ya dia sudah ada yang punya, wahyu” jelasku dewi begitu salah faham.
“Sudah sekarang di mana mereka”
“Di atas” jawab dewi masih dalam keadaan diam terpaku. Aku segera menuju kesana dan sebelumnya mengucapkan terima kasih kepada dewi sambil mencium tangannya.
Oh.. Tuhan, sesaat aku hanya bisa diam terpaku melihat keadaan di depan mata, teman-temanku semua berantem semua itu karena aku karena aku wahyu jadi terlibat ke dalam masalah ini dan semuanya begini.
“Cukup…” teriakku sekeras mungkin agar mereka menghentikan semua ini. Dan akhirnya alhamdulillah mereka berhenti. Aku minta kepada mereka untuk menyelesaikan semua masalah dengan baik, perbincangan adu mulut dan berdebat sudah dimulai. Wahyu yang mengawali dengan menjelaskan semua yang terjadi dan ternyata ini semua berkait oleh noura, mereka, aldo dan kawan-kawan yang membuat ulah semua itu. Aku tidak menyangka, kenapa mereka separah ini tega berbuat hal keji seperti ini. Yang aku inginkan hanya satu yaitu semua berdamai, damai dan damai. Dua hari lagi ayah dan ibu pulang dan hari itu tepat juga hari ulang tahunku dan salah satunya yang aku inginkan adalah kedamaiaan teman-teman semua. Aku ingin sekali di saat itu aku dapat berkumpul lagi dengan orang-orang yang aku sayangi. Ujarku dalam hati seperti apa yang aku katakan pada dina dulu.

“Kalau kamu laki-laki maju lawan kami” terang mahmudi menantang geng wahyu, ia merasa masih belum puas menyelesaikan masalah hanya dengan berdebat begitu saja. Oh tidak pasti wahyu menanggapinya. Dia orang yang paling tidak suka direndahkan. Aku takut sekali dan akhirnya ouh.. Semua sudah terjadi, bagaimana ini.
Aku mencoba melerai tapi mereka tak menaggapi aku sekali pun, kesana kemari… Bagaimana ini tetap tak didengar, dan tiba-tiba hpku berbunyi. Ah paman lagi dia meneleponku, 15 panggilan tak terjawab berarti sudah sejak tadi ia menghubungi aku, begitu khawatirnya dia padaku, tapi maafkan aku paman di sini keadaannya genting sekali, ada sms masuk tapi aku acuhkan, saat aku memasukkan hp tiba-tiba aku lihat oh tidak, wahyu hendak menyerang aldo dengan benda tajamnya, ia mulai mengeluarkan pisau dari saku yang tebal itu ketika itu oh… Aku harap pisaunya tak mengenai aldo tapi, huchhh… Mengapa dewi berteriak dan ia memanggil namaku dan aku lihat perkelahian dihentikan betapa senangnya aku, semoga mereka semua mau berdamai. Wahyu kutatapi muka cowok ganteng itu ia membalas dengan tatapan mengharukan oh, dia memang teman baikku, sesekali kupeluk dia dalam pelukan yang erat, dan mulai saat itu aku sudah tak bisa melihat apa-apa, dadaku sesak dan badanku terasa lemah kucoba untu menahan dan menguatkan diri tapi oh aku tak bisa.
“Selamat malam semua” ujar ku kepada mereka dengan daya yang tak mendukung, terasa berat sekali dan perih begitu juga sangat sakit. Kulihat aldo dan dewi di dekatku aku sudah tak bisa apa-apa lagi hanya tersenyum manis yang dapat aku berikan. Darahku lihat lagi ada darah bercucuran.
Ssstrtpppp… Oh tidak pisau ini tepat mengenaiku, sakit rasanya saat tertusuk dan aku… Ak..U ehh sudah tak mampu berdiri, badanku sempoyongan aku tak dapat menguatkan diri lagi.
Kututup mataku perlahan-lahan, dan mereka menjerit sekeras mungkin. Ada apa ini mengapa aku harus ditangisi dan dipanggilnya namaku sekencang mungkin. Aku senang akhirnya ku dapat melihat mereka berkumpul kembali dengan baik.

Diary alfin,
Bunda maafkan alfin aku tahu bunda malam itu setelah paman meneleponku bunda mengirim sms untuk alfin, maafin alfin bun alfin tidak mendengarkan nasehat paman alfin memang anak yang bodoh, hukum alfin bun. Terimakasih, bunda sudah mau jadi ibu yang terbaik untuk alfin. 18 tahun kita bersama dan besok kuharap ku dapat merayakan pesta hari yang indah bersamaan dengan kedatangan kalian. Tapi malam ini cukup kuat menghancurkan mimpi-mimpi alfin, alfin harus berbuat apa lagi semuanya sudah lah menjadi keputusan yang terbaik, bundaku.
Dan dewi, maafkan aku sudah membuatmu kecewa aku tidak ada maksud menyakitimu aku benar-benar menyayangimu, kenapa kau selalu salah faham sayang mereka bukan siapa-siapa untukku, hati dan cintaku hanya satu dan teruntuk kamu. Mengapa kau tega menduakan aku aku sakit rasanya dew,
Teman-teman, hanya karena aku semua jadi salah faham, mengapa semua berdebat, berkelahi aku tidak ingin semua itu terjadi aku hanya ingin kalian bersatu dan tidak menjadi musuh lagi.
Maafkan aku semua untuk orang-orang yang alfin sayangi, kumohon kalian menyayangi alfin 18 belas tahun tepat kita bersama dan kita akhiri perjumpaan ini.

Tertuliskan dari hati yang tulus alfin.
The ending.

Pagi ini warga wantilgung sedang menyambut kebahagiaan atas pulangnya ibu alfin dari tanah suci, tapi dari sisi lain mereka juga menyambut mobil putih yang tertuliskan “Mobil jenazah”. Ditengah kedamaiaan asyiknya merayakan kepulangan ibu dan bapak alfin saat itu juga ia pulang dalam keadaan tenang. Tawa hilang tergantikan oleh air mata oh mengapa begitu cepat dia meninggalkan kita

“Innalilahi wa inna illaihi roji’un”
Suara yang berkumandang hanya satu itu dan disertai jerit tangisan. Semua tak ada yang senang kecuali bersedih. Penuh penyesalan untuk mereka teman-teman alfin, mengapa harus sekarang baru dapat terselesaikan kenapa tidak sejak dahulu mereka damai andaikan tanpa berkelahi ini semua tidak akan terjadi. Janganlah terlalu disesali memang setiap penyesalan itu berada di akhir.

Dewi tangisnya juga begitu sesak melihat orang yang disayangi kini sudah pergi, pasti sangatlah sedih dia juga menyesal kenapa ia harus menyakiti orang yang sudah begitu berarti dalam hidupnya, ia menangis sekencang mungkin rasanya melihat sang kekasih sudah terselimuti kain putih. Ia tidak menyangka ternyata alfin juga masih menyayanginya. Apalagi sejak ia mendengar cerita dina semua yang diceritakan alfin kepada dina sudah diceritakan semua kepadanya juga teman-teman. Bukan tangis yang hanya mereka rasakan tapi juga penyesalan yang begitu besar. Yang ternyata seoarang kawan alfin adalah teman yang bijaksana.

Juga orangtuanya sangatlah sedih lebih dari segalanya. Mereka pulang sudah membawakan kado hadiah yang dijanjikan. Kenapa ia malah pergi, apa ia tak mau kado ini. Ibunya lagi-lagi menangis dan hanya bisa menangis bersedih.
“Happy birth day to you… Sobat” alfin semoga di sana kau dapat merayakan pesta yang lebih baik, selamat jalan kawan.

Cerpen karangan: Marefa
Facebook: marefa

Cerpen Hari Yang Bersamaan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Wake Me Up

Oleh:
Jakarta, 19.34 WIB. Gadis itu menatap layar komputernya dengan tatapan kosong. Seolah-olah ada hal buruk yang baru menimpanya. Lima menit yang lalu. Ia merasakan aliran deja vu menghampiri hidupnya.

Dunia Baru Sahabatku

Oleh:
Namaku Celia, aku memiliki seorang sahabat bernama Nala, kami biasa pergi bersama berdua, menonton, jalan-jalan, bersenda gurau sambil duduk di resto pinggir jalan. Masa remaja kami begitu indah, dipenuhi

Manusia Tak Bertulang

Oleh:
Senja sore ini, seolah datang dengan cepatnya, sang surya bewarna kekuningan keemasan masih menggantung di langit jingga, yang membentang di batas cakrawala, seakan memberikan tanda bahwa sebentar lagi senja

Si Dogol

Oleh:
Dogol adalah anak semata wayang dari pasangan ibu tuti yang hanya sebagai ibu rumah tangga dan bapak rahmat hanya seorang petani. sebenar nya dia adalah anak yang pandai hanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *