Harus Kemana Aku?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 7 December 2018

Jam sudah menunjukkan pukul 01:00 pagi dan aku masih belum bisa tertidur. Berhari-hari mataku ini tak bisa diajak kompromi. Entah hanya karena insomniaku atau pikiranku yang belakangan ini sangat mengganggu. Aku hanya mendongak ke langit-langit dan melihat sekeliling kamar. Sejenak aku hanya diam dan bertanya, “Apa yang salah denganku?”. Seketika aku hanya diam terpaku pada satu titik: foto orangtuaku. Lekas aku beranjak dari tempat tidurku, mendekati dan mengambil foto tadi. Air menetes di sudut bingkai foto, tak kusangka aku menitihkan air mata. “Kau kenapa? apa kau merindukan mereka?”, batinku. Sembari duduk di pinggir kasur, aku terus memikirkan kedua orangtuaku dan mengingat janji-janjiku pada mereka.

Kala itu di Yogyakarta, aku dapat cerita dari teman kalau ia sukses di tanah rantauannya. Ia menceritakan semuanya di telepon dan aku tertegun mendengar ceritanya. Ceritanya tadi membuatku terus berpikir dan mondar-mandir di kamar dengan segala sesuatu yang membuatku bingung. Pertanyaan terus muncul di benakku. “Apa aku juga harus merantau?”, “Apa merantau bisa mengubah kehidupanku?”, “Kalau aku merantau, apa aku akan sukses dan jadi kaya raya?”. Semua pertanyaan ini sungguh membuat kepalaku pusing. Aku merebahkan badanku di atas kasur. Berpikir, berpikir dan terus berpikir. Pikiranku campur aduk. Aku sangat ketakutan dan cemas dengan apa yang akan aku hadapi nanti jika aku merantau. Jauh dari orangtua dan berada di tanah orang.

Satu jam berlalu dan aku akan memutuskan untuk merantau mengikuti jejak temanku. Keputusanku sudah bulat. Aku mantap dengan tekadku untuk merantau. “Pak, bu tekatku bulat, aku siap merantau”, kataku tegas. Bapak ibu hanya diam seribu bahasa. Aku semakin bingung, “Apa mereka mencemaskanku?”. Aku melanjutkan izinku dan menyampaikan beberapa janji yang akan kutepati. Ibu angkat suara, “Jika ini sudah tekadmu Nak, merantaulah. Tapi jangan sekali-kali engkau lupakan tanah pertiwi yang telah membesarkanmu ini”.

Malam itu di sudut kamar aku hanya terpaku. Menghembuskan napas keras dan berusaha menahan air mataku yang dari tadi sudah berteriak ingin keluar. Mengingat janji menggebu-gebu yang telah kuucapkan pada mereka waktu. Aku ingat sekali, waktu itu aku berjanji pada mereka untuk sukses di tanah rantau. Janji akan membanggakan mereka dengan apa yang telah kuraih. Janji akan selalu mengirimkan kabar. Namun apa yang kulakukan? Betapa bodohnya aku. Aku telah melanggar janji-janji itu. Tiada satupun janji yang kutepati.

Seketika udara di kamarku terasa sangat panas. Ah, sekarang dadaku terasa begitu sesak. Dengan berjalan tergopoh-gopoh, aku segera mengambil air wudhu dan shalat malam. “Pak, Bu kumohon maafkan anakmu ini”, diakhir doaku. Kupanjatkan doa untuk kedua orangtuaku, sembari terus berdzikir. Kuambil Qur’an yang mereka bawakan dan tak sengaja selipan foto mereka jatuh. Ah, aku menangis. “Pak, Bu aku terlalu takut”. Aku takut apa yang akan mereka katakan saat aku kembali nanti. Aku takut mereka menagih janji-janjiku waktu itu. Aku takut terlalu mengecewakan mereka. Maafkan aku Pak, Bu hingga tidak mengangkat telepon dan hilang kabar selama ini.

Entah mengapa aku menjadi selemah dan setakut ini. Aku begitu sudah tak tahan dengan keadaanku ini. Hingga aku pernah berniat untuk mengakhiri hidupku di sini. Namun aku masih mengingat mereka.

Jika aku boleh jujur, aku sungguh merindukan tanah kelahiranku. Tapi aku tidak akan pulang dengan keadaan seperti ini. Apa kata orang-orang nanti. Terutama kedua orangtuaku. Aku bingung, harus bagaimana aku? Jika aku pulang dan meninggalkan tanah rantauan, apa yang akan mereka katakan?

Pak, Bu apa kabar kalian di sana? Bu, aku rindu tempe goreng buatan ibu. Pak, aku rindu teriakan bapak ketika aku belum shalat. Pak, Bu aku merindukan kalian dan tanah kelahiran tercinta. Apa kalian mau memaafkanku dan menerimaku lagi? Sungguh hati ini terasa begitu rindu. Pak, Bu aku hanya ingin pulang…

Cerpen Karangan: Rheynisa DA
Blog: http://tintapenaa.wordpress.com

Cerpen Harus Kemana Aku? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Untukmu yang Tercipta Untuknya

Oleh:
Aku terbangun. Aku melirik jam weker yang ada di meja belajarku. Menunjukkan pukul satu malam. Akhir-akhir ini, aku selalu terbangun tengah malam karena sebuah mimpi. Mimpi yang diperankan oleh

Ayahku (bukan) Ustaz Badut

Oleh:
“Ayah lucu kayak badut!” ujar adikku yang terkecil. Sakit hatiku mendengar kalimat itu meluncur deras dari bibir mungil adik bungsuku yang belum mengerti apa-apa. “Bagaimana kalau kita panggil saja

Lagu Terakhir Untuk Bunda (Part 1)

Oleh:
Namaku Tya, Ayahku meninggal ketika aku berumur 11 tahun, tepatnya 4 tahun yang lalu. Kini aku tinggal bersama Ibu yang sangat menyayangiku dan Kakakku yang selalu mendukungku. Nama Kakakku

Peluk Aku Papa

Oleh:
Pak bromo kelihatan bingung. Barusan dia dihubungi oleh pihak sekolah. mereka memberitahukan bahwa dilla tidak masuk. Pak bromo yang khawatir menelpon ke rumahnya. Namun Dilla tidak ada. Hal ini

Potongan Memori

Oleh:
Semilr Agin berhembus sendu, seakan tau, tentang kesedihan ku saat ini… Bukan hanya angin… Mentari pun ikut bersembungi, karena takut air matanya akan menetes ke muka bumi ini… hanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *