Hate With Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 30 October 2013

Aku tak tahu harus merasa bagaimana. Senang dan sedih. Antara itu. Aku merasa senang, tapi juga merasa sedih. Aku tak begitu yakin jika perasaanku ini baik. Aku juga tak begitu suka hal ini terjadi. Seharusnya aku merasa sedih. Tapi secercah kebahagiaan rasanya sedang menyelimutiku.

Namaku Klaus. Klaus Maxin McSween. Aku punya seorang saudara perempuan yang umurnya terpaut tujuh tahun denganku. Namanya Judy. Judy adalah saudara terburuk yang aku punya. Dia tak jauh buruk dari Ayahku walau memang tak terlalu buruk. Setidaknya dia bersikap buruk karena kesalahan dan kenakalanku yang membuatnya pusing. Berbeda dengan Ayahku, dia selalu saja mengatakan hal-hal gaib yang berada di luar batas pemikiranku. Dan itu membuatku menganggapnya buruk.

Karena itu, aku sedikit merasa bahagia bercampur sedih saat kepergiannya kini. Setidaknya aku tak akan dapat cemoohan ‘McSween aneh, McSween idiot, McSween alien’ lagi. Karena memang seluruh anak di kelasku tahu bagaimana Ayahku. Ya, semuanya karena dia. Aku menyuruhnya mengerjakan pr karanganku. Dan dia mengarang hal-hal mistis yang sangat bodoh pada karanganku itu dan membuat semua orang di kelas tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Mereka bilang itu bohong, hanya mengada-ada saja. Aku hanya berkhayal. Dan saat itu aku mulai membenci Ayahku. Dia, dia yang mengawali semua penderitaanku akibat cemoohan dan ocehan yang mengerikan itu untukku. Andai saja Ibuku masih hidup, tapi dia malah pergi terlebih dahulu saat aku berusia lima tahun. Tepat tujuh tahun yang lalu.

Hari ini aku berangkat ke kelasku dengan wajah tersenyum sumringah. Seminggu lalu Ayahku meninggal dan hal itu sudah diketahui seluruh sekolah. Setidaknya aku tak akan lagi mendapat julukan aneh dan bodoh itu dari teman-temanku. Dan mungkin juga namaku akan bersih dari ejekan tak berguna itu.

“Klaus, Ayahmu sudah pergi? Oh, sayang sekali. Aku punya banyak kata-kata untuk diucapkan padanya,” kata Peter tepat ketika aku masuk.
“Kapan kau menyebut nama depanku? Aku baru mendengarnya sekarang,” kataku dengan nada sinis padanya.
“Oh, asal kau ketahui McSw- maksudku Klaus, kita ini teman seangkatan. Kita bisa saling menyebut dengan nama depan. Seperti aku, Peter. Kau memanggilku Peter saja, tak perlu Rodianous, Peter saja,” kata Peter bersikap baik padaku.
“Aku tak pernah tahu bahwa namamu Peter Rodianous, Rodianous, cukup bagus,” balasku tersenyum sinis padanya.

Peter terlihat mengumpat padaku. Aku tinggal duduk nyaman saja di kursiku. Lagipula untuk apa aku memikirkannya? Dia tak begitu penting bagiku. Bahkan tak ada pentingnya. Dia cuma benalu yang hidup untukku. Seperti semua orang yang mengejekku, kecuali Judy dan Ginny mungkin. Mereka adalah orang yang cukup baik padaku. Aku hanya punya mereka. Lagipula untuk Judy, aku tak yakin dia harus mengumpat Ayahnya aneh, walauaku begitu. Dan Ginny, entahlah. Dia selalu berpihak padaku. Mungkin karena orangtuanya sama aneh dengan Ayahku.

“Klaus, aku sangat bersedih atas kepergian Ayahmu,” kata Ginny murung sambil menggenggam rambutnya yang terkepang.
“Tak perlu khawatir, Ginny. Aku baik-baik saja. Omong-omong, kamu masih mau jadi temanku, kan?” tanyaku sambil melemparkan tas ke atas meja.
“Oh tentu! Demi kebaikan Ayahmu, aku akan menjaga dan terus berteman dengan anaknya! Aku-aku harus melakukan itu, demi membahagiakan arwah Ayahmu di alam sana. Dan agar dia dapat tidur dalam ketenangan,” katanya antusias.

Aku menahan tawa melihat ekspresi dan nada yang dia ucapkan padaku. Seperti membaca puisi. Ya ya, walau pun dia aneh, dia cukup baik. dia mau berteman dengan orang sepertiku. Tapi entahlah aku ini seperti apa. Yang jelas, aku ini anak baik juga. Hanya punya Ayah aneh.

“Terimakasih, Ginny,” kataku tersenyum paksa padanya.
“Tentu, sama-sama. Aku selalu berharap dapat memberikan yang terbaik untukmu,” katanya lagi.

Pagi ini suasana kelas amat sepi. Entah ada apa, tapi aku merasa sedikit aneh. Apa hari ini libur, ya? Tidak-tidak! Hari ini tak libur. Tak ada tanda merah pada tanggal di sekolah. Tadi pun penjaga sekolah kulihat sedang bekerja sesuai tugasnya. Tapi mengapa hari ini amat sepi, ya?

Aku berjalan menuju lokerku. Perlahan kubuka pintu loker dan kudapati sebuah surat dengan amplop hitam tergeletak lemah di sana. Kusobek dan mulai kubaca apa isinya. Ya ampun! Ini…

“KepADa McSweEn.
BagAiMana KemATian aYahmU? Apa DiA MAti saAt MelAkUkan AsTrAl PrOjEctioN atAu Saat mElAkuKan LucId DrEAm? OcH tIdaK, aKu sAlaH! SAat teRkEna SlEep PARalysis. HahHhahA!”

Aku merobek-robek seluruh surat itu. Kuinjak-injak surat itu sampai kotor dan sangat lecet. Aku sudah tahu siapa penulis surat itu. Peter! Tak asing tulisan huruf besar dan kecil yang tak beraturan yang dia tulis. Seperti saat-saat dulu dia menulis surat-surat gila dan menyebalkan yang pernah dia kirim dan simpan lewat lokerku. Aku tahu! Si bodoh itu! PETER!

“Hahahah! Bagaimana, McSween? Apakah jawabanku benar? Hahaha!” tawanya ketika aku telah selesai menginjak kertas dan menutup lokerku.
“YA! JIKA KAU TAK PERCAYA, KAU BISA TANYAKAN PADA AYAHKU! DI MAKAMNYA!” kataku sinis sambil berlalu dari hadapan mereka dengan kaki disentak-sentak.

Peter dan teman-temannya terbahak-bahak. Aku mulai masuk ke kelas dan tiba-tiba saja…

“Arggghhh!” geramku.
“Hahhaha! Hahhaa!” tawa Peter dengan anak-anak yang tepat berlalu-lalang di depan kelasku.

Mereka tertawa keras ketika terigu yang telah dipasang Peter di atas pintu ketika aku membukanya terjatuh di atas rambut pirang dan tubuh pendeku. Kini terigu itu telah menjamah seluruh tubuhku dan membuatku putih. Aku memandang sinis mereka dengan ujung bola mata hijauku yang berkilauan terkena terigu. Aku bergerak masuk ke dalam kelas dan sangat terkejut mendapati sebuah boneka yang sedang ditindih oleh anak lelaki. Boneka itu disekap dan ditindih-tindih keras.

“Hahhaha! Apakah seperti itu cara Ayahmu mati, McSweeen?” tanya Peter sambil tertawa sinis padaku.

Aku memandangnya. Wajahku mulai merah padam dan nafasku cepat. Peter masih tertawa-tawa dan terlihat sangat enak menertawakanku. Dan pada saat itu juga, aku berlari ke arahnya dan langsung memukul keras wajahnya.

“Sudah kubilang! Jika mereka mengumpat atau mengerjaimu lagi, jangan berkelahi!” nasihat Judy sambil menjiwir telingaku dan menyeretnya sambil berjalan.
“Ah! Sakit! Aww-aww! Iya, maaf. Lepaskan!” kataku sambil memegang telingaku.
“Lihat akibatnya! Kau terlihat sangat berantakan. Apa ini wajah? Ahh!” kata Judy menghina penampilanku yang begitu acak-acakan.

Memang, tadi aku berkelahi bersama Peter. Namun sial, aku selalu saja kalah. Dia punya banyak anak buah dan teman di kelasnya. Sedangkan aku? Ahh, kalian pun sudah tahu.

“Ingat, kalau kau berkelahi lagi, kubunuh kau!” ancamnya hampir meludah ke arahku.
“Ya, kau tak mengerti aku! Mereka duluan, aku tak pernah memulainya!” teriakku pada Judy. Judy berbalik.
“Tapi kau jangan memukulnya! Lihat akibatnya!” balas Judy menunjuk wajahku.
“Ya, apakah aku harus diam saja saat dihina oleh mereka? Tidak, kan? Aku lelah mendapatkan cemoohan itu dari mereka! Kau tak pernah jadi aku! Jika kau tahu, aku selalu saja dikucilkan dan tak dianggap oleh mereka. Mereka hanya menjadikanku bahan tertawaan! Apa aku harus diam? Sudah cukup bagiku semua yang aku terima, tapi mengapa kau selalu serakah? Kau tak pernah puas! Aku menyesal pernah dilahirkan di dunia ini! Aku menyesal! Aku tak pernah mau tinggal di sini bersamamu! Aku sudah lelah mendapatkan perlakuan buruk darimu! Aku capai! Aku mau tidur! Pergi saja, aku tak peduli!” kataku keras pada Judy.

Judy hanya diam tanpa memandangku. Aku menahan air mataku sambil berjalan menuju kamarku. Arggh! Kenapa aku harus hidup kalau begini? Ini hanya semakin membuatku tersiksa. Aku sudah terlalu bersabar dengan semua yang Peter dan teman-temannya lakukan padaku. Jika dibiarkan saja, mereka malah semakin-makin membuatku menderita. Argghh! Andai Ayahku tak melakukan itu tujuh tahun lalu. Tak mencoba melakukan hal mengerikan itu pada Ibuku yang membuatnya meninggal kini. Aku benar-benar benci!

Kulemparkan tubuhku pada kasurku dan mulai berbaring. Kutatap langit-langit kamar yang hanya terlihat putih di sana. Lampu di sana – di langit-langit – terlihat beberapa kali berkedip. Dan seketika, padam. Hal ini menyebabkan kamarku sedikit gelap. Kubukakan tirai kamarku dan kembali menghempaskan tubuh di atas kasur. Tiba-tiba saja tubuhku kurasa begitu berat. Nafasku terasa sangat sesak. Aku merasa lumpuh dan tak bisa bergerak. Bahkan mataku pun tak bisa bergeser dari asalnya. Kurasa pandanganku sedikit buram dan menggelap. Namun tiba-tiba tubuhku terasa hampa dan kulihat seorang wanita tengah berdiri di ambang pintu kamarku sambil tersenyum. Apa aku sudah mati? Apa dia malaikat pencabut nyawaku? Mengapa dia tampak cantik walau terlihat sedikit tua?

“Hallo, Nak?” sapanya hangat ketika aku bangun dari tidurmu.
“Ka-kau siapa?” kataku bingung menatapnya. Wanita itu tersenyum.
“Aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” katanya manis.
“Apa aku sudah mati?” tanyaku. Wanita itu tertawa.
“Tentu tidak, sayang. Kamu masih hidup,” katanya.

Aku menghela nafas. Kutatap lagi wajahnya. Rasanya sedikit familiar. Tapi, ah bukan. Dia tak mirip siapa pun. Dia pertama kali kulihat. Tapi mengapa aku merasa Deja Vu, ya? Apa dia pernah ada di mimpiku?

“Ayo ikut aku, aku akan mengajakmu ke laboratorium Ayahmu!” ajaknya sambil mengulurkan tangan padaku.
“Mengapa ke sana? Apa maumu?” tanyaku.
“Tadi aku mendengar kau dan Kakakmu berdebat, aku hanya ingin menunjukan sesuatu yang perlu kau tahu dari Ayahmu, dia teman baikku dulu, sewaktu aku masih berumur sepantaran Judy,” katanya mengingat kapan dia berteman dengan Ayahku.
“Oh, rupanya begitu,” kataku sambil bangkit, “apa Ayahku aneh waktu dulu?” tanyaku seraya membalas uluran tangannya.
“Hahah, dia tak aneh,” kata wanita itu, “dia baik, dia juga tak seperti yang kau pikirkan,” katanya.
“Ya, mungkin begitu pemikiranmu. Aku tak tahu mengapa Ibu mau menikahinya. Bahkan aku juga bingung bahwa ada yang mau berteman dengannya,” kataku sambil berjalan menuju ruang bawah.
“Mungkin Ibumu merasa cocok dan menyukai apa yang Ayahmu kerjakan,” balasnya.
“Tapi aku tidak,” kataku malas.
“Oh, ayo! Kita sudah sampai. Apa kau ingat kau pernah ke sini?” tanya dia membuka pintu.
“Tidak,” kataku singkat.
“Ya, dulu kau ke sini. Tepat saat Ibumu masih hidup. Aku juga ada di sini,” katanya sambil masuk ke sana.

Saat aku masuk, aku terkejut. Pemandangan apa yang sedang kulihat? Kukira tempat pribadi Ayahku ini sesuatu yang buruk. Tapi ini? Indah sekali. Di sini ada sebuah padang rumput ilalang yang sangat segar. Terdapat banyak hewan yang berlarian dan bermain tenang. Juga ada taman dan banyak bunga-bunga indah di sini. Entah di mana aku dapat menemui tempat seindah ini.

“Di mana ini? Oh, aku seperti bermimpi, apa ini surga?” kataku. Wanita itu tersenyum.
“Sebagian kecil. Tapi ini di ruangan Ayahmu,” katanya.
“Berapa umurmu?” tanyaku.
“Tiga puluh sembilan,” jawabnya. “Tepat terakhir kali aku mendatangi laboratorium Ayahmu saat aku berumur tiga puluh dua tahun.”
“Kau punya anak?” tanyaku.
“Oh, ya. Dia sedang tidur di kamarnya, dia terlihat sangat lelah,” ucapnya sedikit cemas pada anaknya.
“Aku yakin, anakmu pasti sangat senang memiliki Ibu sepertimu. Aku saja sudah bisa menebaknya,” kataku sambil tersenyum padanya.
“Terimakasih, kuharap begitu,” katanya.
“Andai Ibuku masih hidup,” kataku sedikit berharap sambil memandang ke langit biru cerah yang menggantung tanpa awan.
“Dia masih hidup,” kata wanita itu dan menarik tanganku untuk duduk di bangku panjang yang ada di sana.
“Maksudmu Ibuku masih hidup? Tapi dia sudah wafat,”
“Ya. Sebenarnya Ibumu masih hidup. Walau pun dia meninggal, mereka akan tetap hidup di dimensi selanjutnya. Maksudku, walau pun Ibumu sudah wafat, dia masih hidup di alam yang berbeda denganmu, begitu juga Ayahmu dan semua orang yang meninggal,” katanya menjelaskan.
“Benarkah itu?” tanyaku ingin tahu. Wanita itu mengangguk.
“Memang, terkadang kita selalu ingat akan seseorang yang telah hilang dari hidup kita. Tapi tanpa kita sadari, mereka masih mengingat dan menyayangi kita. Mereka masih menyimpan kita dalam hati mereka,” ucapnya.

Tiba-tiba saja air mataku mengalir. Aku tertunduk. Mengapa aku jadi ingat Ibu dan Ayahku? Ada apa denganku? Apakah aku merasa kehilangan Ayah? Apakah aku benar-benar merasa kehilangannya?

“Ada apa, Nak?” tanya wanita itu cemas.
“Aku tak tahu, rasanya aku ingin menangis mengingat orangtuaku,” kataku sambil menyeka air mataku. Wanita itu tersenyum lagi.
“Mereka akan mengingatmu. Apalagi jika kau menjadi seorang anak yang baik,” kata wanita itu sambil mengusap rambutku.
“Ya, tapi aku tak tahu sesuatu. Bisakah kau beritahu aku kenapa Ibuku meninggal?” tanyaku menatapnya.
“Bukan salah Ayahmu, Ayahmu tak pernah membuatnya meninggal seperti yang kau tahu. Dia terjatuh di laboratorium Ayahmu ketika dia sedang melakukan Astral Projection padamu,” katanya.
“Padaku?” tanyaku merasa aneh.

Setahuku, Ayah memang suka melakukannya. Tapi apakah bisa dia melakukannya padaku? Maksudku pada orang lain. Pada tubuh orang lain. Apakah dia benar-benar melakukan itu padaku? Ahh, aku tertular hal-hal aneh olehnya.

“Ya, aku melihatnya. Persis melihatnya,” katanya sambil memandang langit juga.
“Apa dia ada di sana? Di atas sana, di langit. Apa mereka akan melihatku?” tanyaku. Wanita itu mengangguk. “Apa yang kau katakan benar?”
“Ya, itu benar. Aku hanya ingin kau memaafkan Ayahmu. Dia tak pernah berharap sesuatu yang buruk menimpamu, dia juga amat menyayangimu, berhentilah membencinya.”
“Apakah itu yang benar dia inginkan?” tanyaku.
“Tentu saja, manusia mana yang tak mau dimaafkan saat dia meminta maaf?” tanyanya.

Aku terdiam. Aku sangat sering mendengar kata maaf dari Ayahku. Bahkan karena seringnya aku merasa bosan. Namun, aku tak pernah menjawab satu pun kata maaf itu. Aku selalu marah dan pergi ke kamarku.

“Dapatkah kau memaafkannya?” tanya wanita itu lagi. Aku mengangguk.
“Oh, ya. Omong-omong, aku harus memanggilmu apa? Aku lupa,” kataku.
“Ibu,” katanya tenang.
“Ibu?” balasku kaget.
“Ya, Ibu.”
“Ka-kau?”
“Ya, aku Ibumu.”
“Jadi-jadi anakmu yang sedang tidur itu-”
“Ya, dia kau,” katanya.
“Lalu aku?” tanyaku bingung.
“Kau melakukan Astral rojection secara tak sengaja. Dan itu membuatmu bisa pergi ke sini.”

Aku kaget bukan kepalang. Aku menggeleng-geleng tak percaya. Aku tak pernah menyadarinya. Jadi, wanita itu, dia, dia Ibuku? Setelah tujuh tahun aku tak bertemu dengannya, kini aku dapat bertatap mata dengannya secara langsung.

“Ibu!” kataku sambil langsung memeluknya.

Air mataku turun. Aku memeluk Ibuku erat. Nyata, dia benar-benar nyata. Aku dapat memeluknya. Benar-benar terasa nyaman. Aku tak percaya, aku bisa memeluknya. Aku tak percaya, orang yang selalu kurindukan kini ada di depanku. Aku sedang memeluknya. Aku telah berbicara banyak dengannya.

“Ibu, kumohon kau kembali. Kembalilah! Bersama Ayah juga, aku akan bahagia. Aku akan sempurna!” kataku sedikit terisak masih memeluk Ibuku.
“Tidak bisa, Ibu tak bisa melanggar hukum alam. Semua kehendak Tuhan, itulah yang terjadi,” kata Ibuku sambil mengusap kepalaku.
“Tapi mengapa seperti itu? Kau tak menyayangiku?” tanyaku.
“Bukan, bukan seperti itu. Terkadang kita juga selalu merindukan orang yang jauh dari kita,” katanya, “termasuk dirimu,” balasnya juga.
“Aku merasa nyaman bersamamu,” kataku memeluknya semakin erat, “aku tak mau kehilanganmu, dan Ayah.”
“Sesuatu memang akan terasa berharga saat kau kehilangannya. Tapi terkadang, kau harus merelakannya. Bahkan mengikhlaskan, harus. Maka dari itu, kau harus menyayangi Judy sebelum kau kehilangannya,” ucapnya sambil tersenyum padaku.

Pelukanku terlepas. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan padaku. Aku merasa diriku semakin tertarik. Aku merasa diriku semakin jauh darinya. Ada apa? Ada apa ini?
Tubuhku berat. Aku mengucek mata dan terbangun dari tidurku. Kulihat pintu kamarku tertutup. Hal tadi memang seperti mimpi, tapi aku ingat bagaimana detailnya. Apakah wanita itu akan datang dan tersenyum lagi padaku diambang pintu? Apakah dia juga akan mengajakku ke tempat itu?

Tiba-tiba terdengar suara pecahan piring dari dapur. Aku segera berlari ke sana. Pastidan pasti itu adalah Judy. Ketika kulihat dia sedang memunguti beberapa pecahan piring di lantai, aku langsung membantunya mengambil beberapa pecahan itu.

“Terimakasih, Klaus,” katanya.

Aku mengangguk dan langsung memeluknya erat. Judy terlihat sangat kaget dan tak percaya.

“Aku menyayangimu, Judy. Maafkan aku, aku nakal,” kataku sambil berusaha menahan tangisanku.
“Hahah, kau jangan menangis lelaki!” katanya melepaskan pelukanku. “Lagipula, aku akan selalu memaafkanmu, aku tahu kenakalanmu itu. Aku tak pernah menganggap serius ucapan bodohmu. Sekarang, kau obati lukamu itu agar tak terasa perih,” katanya.

Aku mengangguk dan mencoba menyentuh bibirku yang sedikit berdarah. Perih juga. Langsung saja aku mengambil kotak obat dan mengobati beberapa memar dan lecet di wajahku. Aku tahu, kini Judy adalah seorang yang harus aku turuti. Walau sebelumnya juga harus begitu. Tapi aku harus melakukan apa yang seperti Ibuku amanatkan padaku. Bagaimana pun juga, Judy adalah orang yang lebih tua dariku. Aku menyayanginya. Seperti aku menyayangi Ibu, berhenti membenci Ayah, dan menyayangi diriku sendiri.

– END –

Cerpen Karangan: Selmi Fiqhi
Blog: selmifiqhi.blogspot.com
Facebook: https://facebook.com/selmifiqhikhoiriah
Twitter: @SelmiFiqhi

Cerpen Hate With Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertemuan Singkat

Oleh:
Angin malam menyapa tidurku, aku terlelap akan sapaannya. Aku merasakan perjalanan yang begitu jauh entah dimana, aku sendiri tidak mengetahui keberadaan jiwaku yang sebenarnya. Angin menghembuskan kerudungku dan belaiannya

My Life And Your Happiness Mother

Oleh:
Ujian Nasional ini merupakan akhir dari perjuanganku di jenjang SMP memang terasa sangat cepat tapi ini lah hidup, kebahagia yang kini kurasakan dengan mendapat nilai yang bagus dan memperoleh

Hancur

Oleh:
Tahun 30XX, kami para manusia seakan sudah tak berguna lagi di bumi. Semua sudah dijalankan oleh robot dan robot. Kami para manusia hanya duduk dan duduk dilayani oleh robot

Kado Untuk Ibu

Oleh:
Aisyah Az-Zahra, biasa dipanggil Aisyah adalah seorang anak berumur 8 tahun yang sudah bekerja mencari penghasilan bagi keluarga kecilnya. Ayahnya meninggal 5 tahun lalu, karena penyakit jantung yang menyerangnya.

Topeng

Oleh:
Dalam tengahnya hujan, aku menanti kendaraan. Kulihat titik hujan jatuh beraturan membasahi bumi. Menimbulkan percikan bunyi yang berdendang seperti irama piano yang dibunyikan. Samar-samar aku melihat sosok wajah teduh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *