Hidup Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 30 December 2015

Masih gelap. Matahari benar-benar baru ingin menggantikan bulan. Angin dingin masih berhembus. Sungguh, ini benar-benar sulit dipercaya. Hari benar-benar masih pagi. Aku terbangun karena mendengar suara teriakan dan benda-benda yang sepertinya telah pecah. Aku hanya mampu terdiam.
“Sampai kapan kalian akan terus seperti ini?” terdengar suara kakak dari pintu kamarnya. Ia pasti baru saja menyaksikan pertengkaran itu.
“Sampai kapan kalian akan seperti ini? Sampai kapan?!” terdengar lagi suara kakak. Ayah dan ibu menghentikan pertengkaran mereka.
“Sampai kapan kalian akan terus berteriak-teriak seperti itu? Sampai kapan kalian harus memecahkan barang-barang itu? Kenapa tidak sekalian rumah ini saja yang kalian bakar?!” suara kakak tercekat. Dia pasti tidak sadar dengan apa yang baru saja dikatakannya.

Hening.

Pertengkaran ayah dan ibu menjadi biasa sejak tiga bulan terakhir. Ayah yang baru saja naik jabatan di kantornya, jadi lebih sering pulang larut. Bahkan, tak jarang juga ayah pulang menjelang subuh. Menurut pengakuan ayah, beliau harus mengerjakan lebih banyak pekerjaan lagi di kantor. Lain lagi ibuku. Beliau adalah seorang staff administrasi di sebuah kantor pemerintahan. Ibu biasa pergi ke kantor bersamaan dengan jam sekolah kami, dan pulang pukul 3 sore. Kakakku. Dia adalah anak sulung di keluarga ini. Kakaklah yang paling rapuh hatinya ketika mendengar perkelahian itu. Berbanding terbalik dengan adik laki-lakiku, dia lebih memilih tidak peduli.

Kejadian pagi itu benar-benar mengagetkanku. Ayah yang baru saja pulang, mendengar teriakan kakak, akhirnya memutuskan pergi dari rumah. Ibu yang saat itu sedang emosi, membiarkan ayah pergi begitu saja. Hanya kakak yang sedang menahan tangis. Aku pun hanya bisa melihat dari celah pintu kamarku. Menatap miris. Awalnya biasa saja sejak kepergian ayah yang memang sudah jarang di rumah. Hingga seminggu yang lalu. Ayahku pulang. Mungkin kalian akan berpikir bahwa itu hal yang indah. Tapi kalian salah teman. Itu bahkan menjadi awal yang buruk. Yang memulai semua kisah pilu ini.

Ayah yang pulang dengan wajah lelah dan tubuh lemah, langsung bertemu dengan ibu. Entah setan apa yang merasuki ibu saat itu, ibu minta diceraikan. Ia bilang, ia tidak tahan lagi menjalani hidup dengan ayah. Ibu bilang bahwa ayah telah menyayat-nyahat hatinya. Ayah berusaha menjelaskan pada ibu. Tapi ibu tak bergeming. Tetap keras dengan keputusannya. Aku yang baru saja pulang sekolah, benar-benar kaget melihat hal itu. Aku memandang wajah ayah yang sedih. Ketika berpapasan denganku, ayah tersenyum tipis.

Ayah memelukku, lalu berkata, “Anakku, Ayah tidak tahu sampai kapan Ayah bisa bernapas. Tapi ketahuilah, Nak. Ayah sangat menyayangimu. Ayah menyayangi Ibumu, juga Kakak dan Adikmu. Maafkan Ayah, Nak. Ayah tak bisa menjadi Ayah yang baik untuk kalian. Jaga dirimu, sayang. Jaga dirimu.” Air mata ayah mengalir. Ia memelukku semakin erat. Tapi tak begitu lama setelah itu, ayah melepas pelukannya, menatapku sejenak, lalu pergi meninggalkan aku yang hanya bisa menatap kosong.

Hari sudah pagi. Hujan. Langit gelap. Berita itu benar-benar mengagetkan kami. Merubah seluruh hidup kami. Sejak kejadian memilukan itu, kami mendapat kabar bahwa ayah telah meninggal dunia. Wajah ibu pias ketika mendengar berita itu. Kami buru-buru pergi ke rumah sakit. Menjenguk ayah yang pasti sudah terbaring dengan kain putih di atas tubuhnya. Oh, temaaan.. Ini sangat menyedihkan.

Kami berlari ke ruang jenazah. Ibu yang berlari paling kencang. Ibu masih berharap, bahwa kabar yang diterimanya itu adalah dusta. Hanyalah lelucon semata. Tapi ibu salah. Yang terbaring di tempat tidur itu benar-benar ayah. Benar bahwa sudah ada kain putih yang menutupi tubuhnya. Tubuhnya yang dingin, kaku, dan wajah yang pucat. Aku hanya bisa berkata dalam hati. “Ayah.. kenapa kau tinggalkan kami di saat-saat seperti ini?”

Ibu benar-benar menjerit melihat mayat ayah. Memeluk tubuh ayah dengan erat, mengguncang-guncangnya, memanggil nama ayah, berharap ayah akan segera terbangun.
“Bangunlah, ku mohon. Apa yang kau lakukan di sini? Apa yang bisa kau lakukan di sini? Bangunlah ku mohon. Ku mohon maafkan aku. Bangunlah. Bangunlah!” Ibu menangis.
Percuma. Aku, kakak, dan adikku tentu saja sedih melihat itu. Adikku yang sangat benci melihat adegan menyakitkan itu, lebih memilih pergi sambil mengepal tangannya. Begitu pula kakak. Tak lama setelah adikku pergi, kakak ikut menyusulnya. Kakak pergi dengan hati hancur. Berderai air mata. Berlari meninggalkan ruang jenazah itu. Benar-benar kejadian yang menyayat hati, teman.

Ayah dimakamkan pada pukul sembilan pagi. Banyak sekali para pelayat yang datang. Memang, semasa hidupnya, ayah terkenal ramah dan memiliki banyak relasi. Setelah prosesi pemakaman, ibu tertunduk lama di samping pusara ayah. Ibu hanya menatap kosong. Ibu menyesali perbuatannya. Aku merangkul pundak ibu, berusaha menenangkan, “Sudahlah, Bu. Semua sudah berakhir. Ibu tak perlu menyesali semuanya. Tak akan ada yang terulang kembali, Bu. Tak ada gunanya ibu terdiam sedih di sini.” Ibu tidak menggubrisku. Hanya tetap melanjutkan tatapan kosong itu. Kejadian yang lebih buruk bahkan baru terjadi setelah itu. Ibu ternyata depresi. Kakak pergi dari rumah. Adikku pun pasti sudah pergi kalau saja aku tidak mencegahnya.

“Mau ke mana kau?” tanyaku.
“Aku ingin mencari kebahagiaan, Kak.” Jawabnya.
“Ke mana kau ingin mencari kebahagiaan itu?”
“Aku tidak tahu, Kak” jawabnya dengan suara bergetar.
“Tak ada gunanya kau pergi. Kau laki-laki. Kau harus bisa untuk bertahan di kondisi ini. Kau harus bisa menguatkan hati dan segera mencari solusi. Ku mohon bantu aku. Kau tak boleh pergi.” Kataku hampir menangis. Dia hanya menatapku iba. Lantas membatalkan rencananya.

Ibuku benar-benar depresi, teman. Ayah ternyata sering pulang larut malam karena menjalani pengobatan. Ada kanker ganas yang menyerang tubuh ayah. Dan tak mungkin untuk berobat di siang hari karena ayah harus tetap bekerja. Ibu dulu berpikiran buruk tentang ayah. Cemburu butanya membuat ia kehilangan akal sehat. Sebanarnya, ayah dan ibu masih saling mencintai. Hanya saja, yang satu terlalu cemburu dan satu lagi tak berhasil membuktikan pengakuannya. Mereka benar-benar menyiksa diri sendiri. Kisah cinta yang pilu. 20 tahun pernikahan, harus berakhir karena kecemburuan dan keegoisan.

Kakakku. Sejak kepergiannya dari rumah, dia ternyata telah terjerumus ke dalam lembah dosa. Ia pengguna nark*ba sekarang, dia juga hidup berkeliaran di gelapnya malam. Pernah beberapa kali aku berusaha meminta kakak untuk bertaubat. Tapi kakak hanya menjawab, “Untuk apa aku berubah? Aku bahagia dengan hidupku. Aku bahagia.” katanya sambil mabuk.
“Percuma saja kau membujukku. Percuma! Lebih baik kau pergi saja. Urusi dirimu sendiri! Urusi Ibumu yang gila itu! Sekarang pergilah! Jangan usik hidupku lagi!” lanjutnya.

Berulang kali, teman. Berulang kali aku membujuk kakak. Tapi tak kunjung berhasil. “Ayolah, Kak. Ku mohon. Kembalilah. Kami masih membutuhkan Kakak.” Aku bahkan mengingatkannya tentang dosa. Aku mengingatkan kakak tentang banyak hal. Tapi yang terjadi adalah kakak semakin menjauh.

Ya, temanku. Iya. Aku tahu. Aku sudah paham. Di hidup ini, mungkin akan ada saatnya orang yang kalian sayangi tidak mau mendengarkan kebenaran yang kalian katakan. Bahkan akan ada hari, dimana orang yang kalian sayangi hanya akan pergi karena tidak sanggup menerima kebenaran itu. Aku memang tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi aku yakin. Allah hanya akan mengujiku, sesuai kemampuanku.

Langit masih tetap biru. Awan masih saja bergantung di langit. Nah, bukankah akan selalu ada harapan? Ada banyak hal yang bisa kita pelajari di hidup ini. Misalnya saja, kita harus selalu bersabar, optimis, dan percaya diri. Memang temanku, hidup kita tidak mudah. Ada begitu banyak perbedaan. Misalnya saja ayah dan ibuku yang bertengkar karena kesalahpaman. Baiklah. Akan ku beritahu satu hal. Yang terpenting dari suatu hubungan adalah kepercayaan.

Ketika kau tidak bisa mempercayai orang itu, ibarat meja, kau kehilangan tiga dari empat kakinya. Hubungan apa pun itu, kau tidak bisa menjalaninya dengan prasangka buruk. Kau harus yakin. Benar-benar harus yakin. Di saat lain, mungkin saja kita juga harus menghadapi banyak situasi sulit. Yang terpenting adalah, bagaimana kita menghadapinya, dan bagaimana kita menyelesaikannya dengan baik. Temanku. Bahagia itu sederhana. Ketika kau bisa membahagiakan dirimu dan orang yang kau sayangi, selalu tersenyum dan membuat mereka tersenyum. Itu sudah cukup.

Cerpen Karangan: El
Facebook: Rafika Elmutiah

Cerpen Hidup Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Persahabatan Chintya dan Sisca

Oleh:
Siang yang panas, sepanjang perjalanan pulang ramai kendaraan berlalu lalang. Chintya segera merapat ke punggung mamanya yang sedang menyetir sepeda motor. Namun hawa panas masih terasa menyengat tubuh Chintya.

Kehidupan Yang Kedua

Oleh:
Kuterdiam dalam kegelapan, kuhidup dalam kesunyian dan kuberlari dalam angan, benda benda yang menempel di tubuhku taklagi dapat kurasakan. Kutapaki lorong panjang yang tiada ujung. Lelah rasanya menentukan langkah

Andai Kita Tau Hari Esok (Part 2)

Oleh:
Siang itu semua telah berkumpul di kediaman Bu Lasmi dan Pak Darto, banyak, sangat banyak yang hadir disitu. Mulai dari Seorang Ibu yang hadir lebih dulu Bu Zami namanya,

Mereka Yang Kubutuhkan

Oleh:
Aku terperangkap di ruangan yang gelap gulita, tiada cahaya sedikitpun. Aku tidak tahu harus kemana aku berlari dan apa sebenarnya tujuanku. Aku sendirian, aku menjerit meminta pertolongan namun jeritan

Tinta Merah

Oleh:
Darah mengalir dengan perlahan dari luka yang terbuka. Kau tersenyum padaku seakan menjahit mili demi mili luka ini. Perih menjalar ke urat sarafku menyadarkan otakku, aku mulai memutar lagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *