Hidupku Berwarna Karnamu Kak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 19 June 2016

Setiap hari mentari menyambutku dengan sinarnya. Malam, malam kuhabiskan dengan senyuman bulan dan kilauan bintang yang sangat mengagumkan. Sejak hari itu semua keindahan dunia musnah begitu saja. Oh ya! Perkenalkan namaku ratna ditya putri, aku adalah perempuan buta yang hidup hanya bergantung pada ayah dan ibuku. Semenjak kecelakaan itu hidupku berubah 180 derajat dari biasanya. Dulu aku orangnya periang, suka bergaul dan selalu menjadi anak kesayangan di keluargaku. Namun kini, ya maklum aku buta. Jadi perhatian ayah dan ibu hanya berpusat pada kak rian, kakak semata wayangku. Aku heran dengan mereka, disini yang sakit itu siapa? Terus yang diperhatiin tu siapa?. Hal semacam ini yang sering membat darahku mendidih. Apa karena sekarang aku buta hingga mereka lebih menyayangi kak rian, mentang-mentang ia lebih sempurna dibandingkan aku. Aku benci ayah dan ibu apalagi dengan kak rian. Aku sangat benci bahkan sampai ke angka triliunan. Ia telah merenggut kasih sayang ayah dan ibu dariku, kenapa aku harus punya kakak, aku benci dengan hidup ini, kenapa aku harus buta aku benci dengan hidup ini.

Perayaan ulang tahun kak rian yang ke-17 tahun. Semua teman-teman kak rian diundang. Aku hanya bisa mendengar perayaan itu dari kejauhan. Kudengar ada suara kaki menghampiriku, ku coba menjauh namun suara itu terus mendekat dan semakin mendekat. “Ratna” seru seseorang yang menghampiriku itu kuraba wajahnya “kak rian? Oh ternyata kakak, ngapain kakak kemari. Pasti mau ngejek aku karena ulangtahun aku tidak dirayakan sedangkan kakak dirayakan” sahutku dengan ketus. “Bukan begitu na, kakak bukan bermaksud untuk mengejek kamu tapi, kakak hanya ingin memperkenalkan kamu pada teman-teman kakak”. sahut kak rian dengan halus. “Tidak kakak bukan bermaksud memperkenalkan aku kepada teman kakak, tapi kakak ingin mengatakan bahwa aku ini buta dan kakak pasti senang kalu semua orang mengetahui kalau aku ini buta kan?”. “Tidak na bukan itu maksud kakak”. sahutnya dengan suara agak serak. “pokoknya aku benci kak rian, aku benci kakak, aku benci, benci” sambil memukul kecil dada kak rian dan beranjak pergi.

Pagi telah tiba tidak seperti biasanya ayah dan ibu panik apa telah terjadi?, pagi ini berbeda namun, dari sejak tadi aku tidak mendengar suara kak rian dimana dia apa dia sudah berangkat ke sekolah tapi tidak mungkin biasanya sebelum berangkat ia selalu menyempatkan diri untuk membawakan sarapan ke kamarku. Apa jangan-jangan ia marah soal kejadian kemarin atau mungkin ia sudah bosan mendengar celotehan pedasku. Masa bodoh aku tak peduli.

Perutku berbunyi aku lapar bahkan amat lapar. Tapi kenapa ayah dan ibu serta kak rian belum plang ya?. Terdengar suara benda pecah di ruang keluarga, itu siapa jangan-jangan maling. Aku pergi menuju asal suara tanpa aku ketahui ada seseorang yang membungkam mulutku dan menodongkan benda seperti benda tajam pikirku. “Jangan tereak atau pisau ini nancap di leher lo”. Aku sangat takut pikiranku tidak bisa bekerja cuma ada satu nama yang terlintas yaitu kak rian “aku mohon pulanglah kak selamatkan aku” pitaku dalam hati. “jangan sakiti dia”, itu suara kak rian ia datang untuk menyelamatkanku. Terdengar suara pertarungan orang yang tadinya menodongkan pisau kepadaku pergi dan membantu kawannya yang sedang bertarung melawan kak rian. Tak lama kemudian suara langkah kaki berhamburan keluar di iringi rintihan kecik kak rian, ku coba mencari kak rian dengan merangkak disana kak rian seperti sedang terbaring lemah dengan cairan lengket yang aku rasa itu adalah darah. Ternyata pisau yang hampir menembus leherku telah mengenai kak rian, sambil memegang tanganku ia berkata. “na ini makanan buat kamu maaf kakak datengnya telat pasti adik kakak ini kelaperan”. dengan nafas yang terengah “kak kakak terluka ayo kita ke rumah sakit”. kak rian menolak ajakanku ia bilang ia bosan dengan suasan rumah sakit, karena selama 2 tahun ini aku tidak mengetahui bahwa kak rian sedang bertarung dengan penyaki kanker darah yang dideritanya dan inilah alasan semua sikap pilih kasih ayah dan ibu selama ini.

Kakaku pada akhirnya pun meninggal di pangkuanku sebelum menghembuskan nafas terakhirnya ia berpesan kepadaku untuk selalu bahagia karena sebentar lagi hidupku akan kembali berwarna lewat kornea mata yang ia donorkan.

Cerpen Karangan: Yan Nila
Facebook: Ni wayan nilawati

Cerpen Hidupku Berwarna Karnamu Kak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku

Oleh:
Tok… tok.. tok… Aku berdiri di depan pintu kamar Kakakku. Arka namanya. “Buka aja, gak dikunci..” Aku membuka pintunya. Kertas berserakan memenuhi meja belajar Kakakku. Dia sedang duduk dan

Pertemuan Singkat

Oleh:
Mentari mulai menampakkan sinarnya dan sudah siap untuk menerangi sebagian dari belahan bumi ini. Sama seperti Netta yang sudah siap untuk memulai lembaran baru di SMA Harapan Bangsa. Ya,

Surga Yang Terlupakan

Oleh:
Hidup ini…! Aku benci hidupku. Hanya ada kekurangan dalam hidupku. Kemiskinan dan hinaan melengkapi nasib ini. Mengapa Tuhan tidak adil padaku. Kenapa Tuhan pilih kasih antara aku dengan mereka.

Misteri Waktu

Oleh:
Hal yang membahagiakan di dunia ini adalah dimana seorang manusia memiliki cinta, cinta akan seseorang yang kita sayangi, cinta terhadap keluarga dan cinta pada diri kita sendiri. Aku sendiri

Maafkan Kami Nisa

Oleh:
Danissa Nur Azizah, ya gadis berjilbab yang baru berusia 13 tahun itu kini sedang menjajakan gorengan buatan ibunya. Tak kenal letih, teriknya panas matahari atau ejekan teman-temannya. Nisa, itulah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *