Hilang Harapan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 26 February 2016

Kisahku berawal di akhir tahun 2015, ketika semua keluargaku masih lengkap dan utuh. Namaku Annisa Padhila, umurku 19 tahun, aku terlahir dari keluarga sederhana, aku mempunyai adik perempuan yang bernama sahara. Ayahku seorang pekerja keras begitu juga dengan ibuku. Tapi sayang, kebahagiaan kecilku dari setiap sorot pancaran mata kedua orangtuaku kini tak pernah ku dapati lagi. Hingga aku merasa hidup sendiri walaupun di sekitarku penuh dengan keramaian.

pada saat itu, tepatnya di akhir tahun ayah dan ibuku pergi berlibur bersama keluarga ayah ke pekan baru dan padang, sumatera barat tetapi aku tidak ikut dengan mereka, aku lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah sampai mereka pulang. Seminggu kemudian, tepatnya di hari minggu, mereka pulang dengan raut wajah yang penuh lelah. Kisahku berlanjut di sini, ketika pulang berlibur kesehatan ibuku mulai menurun dan ibuku mulai sakit-sakitan lagi. Setelah 3 tahun terakhir ibuku yang terbaring terus di rumah, hampir sering keluar masuk rumah sakit, kini harus mengalami hal yang sama untuk kesekian kalinya.

Aku hampir saja kehilangan ibuku, tetapi Allah maha penyayang masih memberikan kesempatan untuk ibuku. Ku pandangi wajahnya yang penuh lelah dan perjuangan untuk menafkahiku selama ini, baru ku sadari betapa besar pengorbanan ibuku selama ini hingga aku sebesar ini. Aku bangga terlahir dari rahimnya karena dari kecil aku sudah diajarinya bagaimana hidup susah dan bertahan hidup ketika orang lain mulai menggoyahkanku. Ibu, Ibuku kini terbaring lemah, aku hampir tidak tahu harus berbuat apa selain menemaninya sepanjang malam. Sepanjang malam aku hanya berdoa dan terus berdoa.

Ayahku yang ku dapati dengan raut wajah yang sedih yang mulai melemah melihat kondisi ibuku yang sangat lemah membuat dia tidak semangat untuk menjalani hidup ini. Hingga akhirnya kami sama-sama untuk bangkit dan terus berusaha menjaga dan merawat ibuku sampai sembuh. RS. Sari Mutiara, tepatnya di akhir januari ibu benar-benar tidak mampu bertahan lagi hingga akhirnya kami membawanya ke rumah sakit dengan keadaan tidak sadarkan diri. Di dalam benakku hanya satu, “Allah tolong sembuhkan Ibuku, aku hanya ingin melihat dia lebih lama lagi hingga aku sukses.”

Keajaiban Allah di dalam doaku dan akhirnya ibuku sadar dengan kondisi yang kritis. Aku memanggil ibuku, tetapi ibuku hanya diam dan melihat wajahku dengan penuh rasa sedih dan berlinang air mata, aku pun tak dapat menahan rasa sedihku dan ku ku peluk ibuku sambil menghapus air matanya, aku berbisik, “Ibu pasti sembuh, Ibu harus semangat,” ibuku tidak menjawab sepatah kata pun, dia hanya menangis dan mengeluarkan air mata yang tak henti-hentinya. Malam itu aku memutuskan untuk menjaga ibu sampai ibu benar-benar sembuh, aku mengabaikan kuliahku , semua kegiatan kampus demi kesehatan ibu.

Seminggu kemudian, minggu tanggal 01 Februari 2015, aku mendapat kabar baik dari dokter bahwa ibuku sudah boleh pulang tetapi dengan kondisi ibuku yang lupa ingatan, ibuku sungguh mengkhawatirkan, dia tidak mengenal siapa pun kecuali aku dan ayahku, bahkan dia tidak mengenal adikku. Senin, 02 Februari 2015, di sini awalku menjaga ibuku yang penuh dengan kesedihan. Tak ku dapati lagi sosok ibu yang ku kenal dulu, ibu yang ku rawat saat ini adalah ibuku yang benar-benar kehilangan arah. Sepanjang hari aku hanya mampu berdoa dan pasrah kepada Allah SWT agar ibuku dapat diberi kesembuhan.

Hari demi hari aku menjaga dan merawat ibu, tetapi kondisi ibu bukan membaik tapi sebaliknya kondisi tubuhnya menurun lagi. Malam itu, tanggal 05 Februari 2015, aku tidur bersama ibuku dan ibuku memelukku sangat erat, aku merasa ibuku seakan ingin pergi jauh. Tetapi perasaan itu coba aku hilangkan, dan ibuku bercerita kepadaku bahwa dia sudah lelah dengan semua penyakit yang diderita dan aku pun menangis melihat raut wajahnya yang benar-benar pucat dan menyedihkan. Aku hanya memeluknya dan menghapus air matanya tanpa bicara sedikit pun.

Keesokan harinya, jumat 06 Februari 2015, pagi ini ibuku terlihat sehat tidak seperti malam-malam kemarin, aku tidak tahu ini pertanda apa tetapi aku hanya berpikir positif dan membawanya jalan pagi untuk menikmati udara pagi yang hampir tak pernah dirasakannya lagi. Siang itu kami ngumpul bersama di rumah dengan ayah, ibu, aku dan adikku. Ibuku hanya tersenyum melihat kami sambil mengeluarkan air mata dan berkata, “Aku cape, aku pengen tenang,” kami pun hanya diam sambil memeluknya. Tepat pukul 15.00, ibuku bangun dari tidurnya, masih ku dapati raut wajahnya dengan memandangiku, aku masih memandikannya dan memakaikan baju cantik untuknya yang ternyata untuk terakhir kalinya. Tepat pukul 17.00, Ibuku meminta makan dan ku ambilkan untuknya, dan tiba-tiba dia pun seperti orang yang terkena penyakit struk.

Innalillahi Wainnailaihi Rojuin, ternyata ibuku pergi untuk selama-lamanya. Isak tangis yang tak bisa ku bendung, air mata yang terus mengalir, aku melihatnya sendiri ketika Allah memanggilnya untuk pulang kembali ke sisiNya. Aku hanya bisa menangis dan menangis, semua harapanku hilang, masa depanku hilang dan kebahagiaanku hilang. Aku seperti anak yang tidak mampu menjaga ibuku dengan baik. Aku seperti orang bodoh yang tak mampu membuat ibuku bisa bertahan lebih lama, tapi aku bisa apa ketika Allah SWT sudah berkehendak, aku hanya bisa menerima.

Bukan hanya aku yang hilang harapan tetapi adikku, ayahku, kami semua hilang harapan ketika kami sudah berjuang untuk terus berusaha menyembuhkannya. Dan sekarang perjalanan hidup kami terasa hampa dan sangat hampa, tak ku dapati lagi raut wajah kebahagiaan dari ibuku yang sudah pergi selamanya dan ayahku yang hanya murung tanpa semangat lagi, kami seakan ikut mati dalam duka yang sangat mendalam. Ibuku kini pergi untuk selamanya dan kami harus menjalani hidup kami yang masih panjang dan penuh dengan kegelapan tanpa sedikit pun tanpa rasa kebahagiaan lagi.

Cerpen Karangan: Annisa Padhilla
Facebook: Annisa Fadhillah
Nama: Annisa Padhilla
Umur: 19 Tahun
Alamat: Jl. Sei Batu Gingging
Kegiatan: Kuliah & Kerja
Perusahaan: PT.Pilaren dan Yayasan Politeknik Ganesha Medan

Cerpen Hilang Harapan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesedihan Tak Terbendung

Oleh:
Hatiku sakit.. sangat sakit. Aku selalu merasa teraniaya oleh keluargaku sendiri. Orangtuaku, kakakku, adikku, mereka selalu membuat hatiku sakit, berderai air mata, berdiam sendirian. Ya tuhan.. aku gak sanggup,

Ayah… Modus

Oleh:
Minggu pagi, Pak Badri sedang membereskan beberapa dus di warung. Bu Badri juga merapikan barang jual yang dipajang. Anak sulung Pak Badri, Vonni membantu Pak Badri menyusun dus. Anak

Sayangi Aku Ibu

Oleh:
Hari kelulusan sekolah waktunya telah tiba dengan suasana yang bercampur suka dan duka. Hari terakhir mereka berkumpul bersama dan akan membawa kenangan masing-masing. “Selamat ya” Ucap Sella kepada Yusuf.

Kembar Yang Terpisah

Oleh:
Halo namaku Arimbi! Aku punya sahabat namanya itu hampir sama kayak namaku, namanya Marimbi. Muka kami hampir sama, tanggal lahir kami sama lebih tepatnya tanggal 23 maret. Kami lahir

Why Did You Leave Me?

Oleh:
Hai, namaku Milaya Amalia Zakila. Aku bisa dipanggil oleh keluarga, dan teman-temanku Kila. Aku tinggal di Bogor, Jawa Barat. Aku bersekolah di SD At-Taufiq. Aku punya 4 sahabat. Mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *