Hujan Dalam Gelap

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 January 2016

Rintik air menari di jemariku. Aku memandang langit berwarna kelabu sambil terus memainkan jari-jariku di tetesan hujan yang turun tanpa henti. Gelap, gelap! Ku katakan langit kelabu, ketika raja siang harus rela menyembunyikan seberkas cahayanya karena hujan. Selain itu, sore hari sudah jelas menjelang, dan sang surya tak mungkin untuk menyalahi kodratnya. Pikiranku semu dan tak tentu arah. Semua tahu, aku berasal dari keluarga karir. Orangtuaku, mereka amat tak mengerti untuk sesekali berkumpul bersama anak semata wayangnya ini. Aku tahu, aku telah menginjak usia 11 tahun.

Tetapi haruskah aku rela berjam-jam dalam kesendirian? Haruskah aku bersabar hati tatkala hanya ditemani dua orang pembantu yang telah mengabdi 5 tahun di rumah ini? Aku mendengus kesal. Diam-diam, aku berpikir bahwa mereka, orangtuaku, tak menyayangiku lagi. Oh, tidak! Sedari kecil malah. Mereka hanya meluapkan kasih sayangnya dalam bentuk mainan barbie dan boneka padaku. Ini tak adil! Aku iri pada teman-temanku. Ketika mengambil raport, mereka didampingi ayah atau ibu mereka. Sedangkan aku, hanya didampingi oleh dua orang Nanny.

Ayah dan ibu, dengarlah seruanku. Aku tak mungkin berdusta, aku kesepian. Kalian pulang ketika rembulan sudah berada di atas kepala. Kalian pulang kerja ketika aku sedang terlelap dalam mimpiku. Aku ingin kalian bisa mengambil cuti satu hari… saja. Untuk bercanda ria untuk pertama kalinya dalam hidupku. Nanny Okta, pernah bilang kalau orangtuaku bekerja demi aku. Aku sudah tahu itu. Tetapi tidak begitu caranya. Nanny, mengertilah perasaanku. Lebih baik aku menjadi anak petani dan pedagang kecil saja. Aku mendambakan, ibu di rumah sedang memasak nugget ikan kesukaanku yang biasanya dimasak oleh Nanny Mira.

Aku mendambakan ayah, sedang mengajariku PR Matematika yang tak ku bisa. Tetapi semuanya hanya dambaan. Tuhan, kenapa kau rela aku hanya berteman dengan dua orang Nanny dan… Rintik hujan ciptaanmu? Rintik hujan, kau pasti telah mendengar curhatku. Apakah kau bisa membantuku mencari solusi. Ah sudahlah! Aku sadar bahwa kau sama kejamnya dengan Nanny-ku. Mereka tak peduli dan tak mengerti pada perasaanku.

Suatu hari nanti, aku berharap kalau aku bisa berkumpul dengan orangtuaku sebagaimana anak-anak lainnya. Aku mengusap rintik hujan pada wajahku pertanda mengakhiri doaku. Dalam kegelapan malam, aku melihat mobil sedan biru melaju menuju rumahku. Ya, mereka orangtuaku. Aku gembira. Mereka pulang seperti waktu yang ku harapkan. Pukul delapan malam mereka pulang? Ini bukan mimpi buruk. Hingga akhirnya mereka menekan bel glamour di luar rumah. Nanny Okta membukakan pintu. Aku menghambur ke luar kamar sambil menuruni anak tangga satu persatu secepat kilat.

“Selamat malam nyonya, silahkan masuk!” sapa kedua Nanny dengan sopan pada seorang wanita yang memakai lipstik mengkilap dan pakaian sutra. Dia adalah ibuku.
“Ibu… Ayo kita makan malam.”
“Jangan sekarang sayang. Ibu ke sini belum waktunya untuk pulang. Tapi ada sesuatu milik ibu yang tertinggal. Hmm… Aku meletakkan dokumen itu sepertinya di dalam kamar.” ujar ibu, tak peduli pada rengekan permintaanku. Aku langsung berlari ke dalam kamar.

Ruam kekecewaan dalam wajahku terlihat jelas. Mataku sembab dan memerah. Air mataku tidak ada artinya. Ayah ke luar rumah dengan pakaian necisnya sambil menggamit tangan ibu. Lalu mereka dipayungi oleh dua orang pelayan mobil. Begitulah kehidupan keluargaku. Bagai hujan dalam gelap. Air mataku tidak ada artinya dalam kegelapan hati orangtuaku. Aku memandang ke luar jendela. Langit makin kelam. Hatiku juga makin kelam. Namun, aku sangat sayang pada mereka, orangtuaku.

Cerpen Karangan: Farah Aulia Ghufran
Facebook: Farah Aulia G

Cerpen Hujan Dalam Gelap merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku

Oleh:
Aku adalah Nisa, seorang gadis yang lemah, aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Ibuku bekerja setiap paginya sebagai penjual kue. Beliau sendiri harus menafkahi aku dan kedua adikku karena

Kedana dan Kedini

Oleh:
Di sebuah desa yang indah, hiduplah sebuah keluarga. Keluarga itu terdiri dari 3 orang, Ibu, Kedana dan Kedini. Kedana dan Kedini itu anak yang nakal. Pada suatu hari Ibu

Sorry, Mom

Oleh:
Sudah tiga tahun lamanya, sejak ayah dan ibu berpisah. Hari itu tanggal 20 Agustus 1998 bertepatan dengan ulang tahunku. Ayah pergi meninggalkan aku dan ibu setelah pertengkaran dashyat pada

Kisah Nyataku

Oleh:
Kenalin namaku putri andini miftakhu mas’udah, biasa di panggil putri. Sekarang saya bersekolah di SMPN 1 PRAMBON, saya kelas 7e. Cerita saya kisah nyata saya dulu waktu saya masih

Batik Buat Bunda

Oleh:
“Persembahan Untuk Bunda tercinta yang selalu memberikan kasih sayangnya tanpa kenal waktu, yang selalu memberikan perhatiannya tanpa kenal keadaan, dan selalu bekerja dengan kerasnya tanpa kenal lelah, Andi sayang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hujan Dalam Gelap”

  1. Malika Sekar R. says:

    Ada lanjutannya g?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *