I Just Want To Say Sorry

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 July 2013

Kuamati lekat-lekat wajah itu. Mungkin hanya beberapa detik yang tersisa untukku berada disampingnya. Sorot matanya mulai meredup. Sepertinya aku harus mengatakannya sekarang. Kata-kata yang telah lama kupendam dan membuatku seolah digerogoti oleh penyakit ganas karena kata-kata yang takkunjung kuucapkan itu. Tapi, mungkin sekarang bukan saat yang tepat. Aku terlalu takut mengungkapkannya. “Oh Tuhan… Berilah keberanian untukku mengatakannya.” Rintihku dalam hati.

Kupegang erat jemarinya. Dia memandangku. Sorot matanya berbicara namun bibirnya tetap terbungkam. Penyakit stroke telah membuatnya tak berdaya. Dia hanya bisa terbaring dan melihat orang-orang yang silih berganti menjenguknya. Aku benar-benar marah pada diriku sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa untuknya. Aku seolah mengantarkannya menemui malaikat maut. Yach… Karena ketidakberdayaanku ini.

Kualihkan pandanganku darinya. Aku tak ingin dia melihatku meneteskan air mata. Perasaan bersalahku ini membuat dadaku terasa sesak hingga melelehkan air mata yang telah lama membeku di mataku. Sekilas aku tak sengaja melihat jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul 11.15 WIB. Hal itu mengingatkanku pada memori masa laluku dengannya. Saat itu tepat pukul 11.15 WIB, acara TV favoritku akan dimulai. Aku telah bersiap-siap di depan TV sejak pukul 10.00 WIB tadi. Aku benar-benar tak ingin melewatkan acara yang menjadi tontonan wajibku setiap hari Senin hingga Jumat itu. Apalagi jika ada yang menggangguku, aku pasti akan sangat marah.

Ketika acara TV itu sedang berlangsung, Ayah memanggilku. Aku sama sekali tak menghiraukannya. Panggilan itu seperti angin lalu bagiku. Karena sedetikpun aku tak ingin mengalihkan perhatianku dari layar TV. Saat Ayah mendekatikupun aku tak memperdulikannya. Aku begitu menikmati acara itu. Namun, tiba-tiba remote TV yang ada ditanganku direbut oleh Ayah. Emosiku terpancing. Sepertinya seluruh darah di tubuhku mengalir menuju ubun-ubunku. Aku geram. Namun aku tak ingin meluapkan emosiku dengan kata-kata. Kualihkan kembali perhatianku ke arah layar TV. Suasana makin memanas. Aku merasa risih dengan kedatangan Ayah. Bisa-bisanya Ayah menggangguku seperti ini.

Aku tak ingin bertengkar dengan Ayah di saat-saat seperti ini. Hanya buang-buang waktu saja. Lagi pula acara yang kutonton ini jauh lebih menarik daripada bertengkar dengannya. Namun di saat emosiku telah meredam seperti itu, Ayah kembali berulah. Acara TV yang kutonton diganti dengan acara berita. Padahal acara berita adalah acara yang paling kubenci. Karena menurutku acara itu sangat membosankan. “Aku heran mengapa acara seperti itu sangat disukai oleh orang-orang dewasa.” Ucapku setengah berbisik.
“Kamu seharusnya menonton acara berita seperti ini.” Kata Ayah sambil menatap layar TV.
“…” Aku hanya terdiam menahan amarah.
“Dengan menonton berita, kita bisa tahu apa yang terjadi di bumi ini.”
“…”
“Jangan terlalu sering menonton acara seperti yang kau tonton tadi. Acara seperti itu kurang mendidik.”
Kali ini aku tak mau tinggal diam karena Ayah telah mengolok-olok acara favoritku. Emosiku memuncak. Aku tak tahan lagi dengan perilaku Ayah itu.
“Apa bagusnya acara berita seperti itu. MANA REMOTE-NYA!!! Aku yang lebih dulu menonton di sini!!!” Bentakku pada Ayah.

Aku berusaha merebut kembali remote TV yang ada di tangan Ayah. Namun Ayah menggenggam remote itu dengan erat. Aku sangat kesal. Aku terus berusaha mendapatkan remote itu. Hingga akhirnya Ayah melepaskan genggamannya dan membiarkan remote itu kuambil. Namun hal itu tak membuat emosiku menurun. Justru sebaliknya, aku membentak-bentak Ayah lagi. Hingga kulontarkan beberapa kalimat yang tak seharusnya diucapkan oleh seorang anak kepada Ayahnya.

Ayah terkejut dengan ucapanku itu. Sepertinya Ayah sangat kecewa dengan apa yang baru saja kuucapkan padanya. Mungkin Ayah sakit hati setelah mendengar kata-kataku. Aku tak pernah membentak-bentak Ayah sebelumnya. Aku pun baru menyadari ucapanku itu ketika melihat ekspresi Ayah. Aku merasa sangat bersalah.

Aku menyesal karena telah menyakiti hati Ayah. Rasanya aku ingin meneteskan air mata. Tapi aku malu bila Ayah melihatku menangis. Sesegera mungkin kulangkahkan kakiku ke arah kamarku. Kututup pintu kamarku. Dan… – BRAK – Pintu kamarku menutup dengan keras. Tanpa sengaja aku mendorong pintu itu dengan keras. Entahlah aku tak bisa mengendalikan emosiku yang tengah bercampur aduk antara marah, sedih, dan menyesal. Aku mengutuk diriku sendiri. Masih pantaskah aku menjadi anaknya? Aku menyesal.

Hingga sampai saat ini, di detik-detik terakhir hidupnya, kata-kata penyesalan itu tak kunjung kuungkapkan pada Ayah. Padahal sudah 4 tahun lamanya aku memendam kata-kata itu. Sejak usiaku 10 tahun hingga saat ini usiaku telah menginjak 14 tahun, bibirku masih terbungkam untuk mengungkapkan kata-kata itu. Entah apa lagi yang kutunggu. Sampai kapan aku memendamnya?

Kulihat kondisi Ayah mulai memburuk. Aku menangis sambil memanggil-manggil Ibu. Beberapa orang yang berada di sekitarku mendekati Ayah. Satu di antara mereka berlari memanggil Ibu yang saat itu masih di kamar mandi. Beberapa saat kemudian Ibu datang dengan raut muka yang sedih dan khawatir. Ibu duduk di samping Ayah sambil memegang tangan Ayah. Aku tak kuasa melihat momen-momen seperti itu. Air mataku terus mengalir. Namun kutahu hal itu takkan menghalangi kepergian Ayah. Ayah meninggal di usianya yang telah lanjut.

Hingga Ayah menghembuskan nafas terakhirnya pun aku masih belum mengucapkan kata-kata itu padanya. I just want to say sorry. Aku menyesal. I just want to say sorry. Aku berharap bisa membeli waktu untukku bisa bertemu kembali dengan Ayah dan mengungkapkan semuanya yang telah lama kupendam dalam hatiku selama 4 tahun. Tapi semua itu hanya akan menjadi mimpi. Dan hanya lewat mimpilah berkali-kali aku bertemu dengannya. Mimpi yang sama dan dialog yang sama. Di mana aku bertemu dengan Ayah dan kukatakan padanya, “Ayah… Aku minta maaf”. -I just want to say sorry-.

Cerpen Karangan: A’inatul Mardliyah
Facebook: Ainah Zaa Filzah

Cerpen I Just Want To Say Sorry merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berpisah Untuk Bertemu

Oleh:
“Syell gue pinjam duit dong Syell,” “Emang lo butuh berapa?” ucap Syella. “Nggak banyak banyak sih cuma buat ongkos pulang aja,” jawab Icha. “Kalau boleh tahu lo gak dikasih

My Red Rose

Oleh:
“Dihabiskan ya makanannya, jangan sampai ada yang tersisa” kata Ibuku yang membawa makanan ke kamarku. “Iya bu” jawabku seadanya. Seperti biasa, aku selalu membuang separuh dari makananku. Mulai dari

Masa Sebuah Warna

Oleh:
Menengadah ku di dalam keheningan. Teringat masa lalu yang amat menyakitkan. Ku masuki setiap pintu di memoriku akan semua yang terjadi. Kilatan cahaya membingungkanku. Terdapat 4 buah pintu dengan

My Love Story

Oleh:
“Biar ku sudahi saja perasaan ini, secara perlahan” gumanku dalam hati seraya mengusap tetesan air mata yang sudah membasahi pipiku. Mencoba bangkit dari rasa terpuruk akibat cinta yang berdusta.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *