I’am Not Psycho

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 6 July 2018

Lagi. Mereka menatap gadis berambut sebahu itu dengan pandangan merendahkan, seakan mereka semua adalah orang paling suci.
Dalam hati, gadis itu berdua dengan disertai jeritan. Air matanya tak lagi terbendung. Dia ingin berteriak dan mengatakan kepada semua orang, ‘itu bukan salahku! Aku tidak melakukan apa pun!’

“Jangan dekat-dekat Neta, dia itu pembunuh! Orangtuanya saja, dibunuh sama dia!”
“Dia itu gila!”
“Nyeremin pokoknya!”
Dan bisikan-bisikan lain yang sering mereka ucapkan saat berselisih jalan, ataupun bertemu dengan Neta. Mereka semua mengatakan semua hal yang menyakitkan.

“Kakak, aku bukan pembunuh kan?” ucap Neta kepada kakaknya.
“Tentu saja bukan! Siapa yang mengatakan kalau kamu itu pembunuh?”
Neta memeluk tubuh kakaknya dan menangis, dia tidak menjawab pertanyaan Anton, kakaknya. Dengan lembut Anton membelai rambut adiknya itu.
“Jangan menangis.” ucapnya lembut. “Jika ada yang menyakitimu, katakan saja kepadaku. Aku akan melawan mereka!”
Neta tidak menjawab dan mengeratkan pelukannya di tubuh kekar sang kakak.

“Ini pasti perbuatan gadis itu! Dia marah kepada anak-anak itu karena sering diejek! Dia memang monster!”
Neta tidak bisa menjawab ucapan orang-orang yang menyalahkannya atas meninggalnya dua orang gadis yang sering membicarakannya. Dia hanya dapat diam saat polisi menangkapnya.
“Dasar monster!!” teriak orang-orang saat dia dibawa oleh polisi memasuki mobil patroli.
Air matanya tak lagi terbendungkan. Neta teringat saat dia disalahkan atas meninggalnya kedua orangtuanya. Padahal dia sangat tahu kejadian yang sebenarnya.

4 tahun yang lalu
Neta baru pulang sekolah dan mendengar teriakan ayahnya yang marah kepada Anton. Dia yang sangat menyayangi kakaknya itu lu berlari ke dalam rumah.
Neta terkena tamparan Ayah karena melindungi tubuh Anton. Kakaknya itu langsung marah, dia berlari menuju dapur dan mengambil sebuah pisau.
“Kakak jangan! Lepaskan pisau itu!” pinta Neta. Mendengar permintaan adiknya, Anton langsung melepaskan pisau itu.
“Neta, masuk ke kamarmu!” teriak ayah.
“Ayah, jangan memperlakukan kakak seperti itu, kakak butuh kasih sayang, bukan perlakuan kasar!”
“Kamu itu masih kecil, jangan sok bijak seperti itu!”
Neta dan Ayah saling adu mulut. Anton yang melihat adiknya mau ditampar oleh sang ayah langsung mengambil pisaunya lagi. Dia menusuk tepat di bagian jantung Ayahnya.

“Kakak!!” teriak Neta. “Astaga.. bagaimana ini? Ayah.. Ayah..” Neta bingung dengan keadaan yang sedang dialaminya.
Saat itu juga, ibunya pulang dan salah paham dengan apa yang dilihatnya. Neta tidak mengatakan apapun, karena dia yang sedang memegang pisaunya.
Saat ibu marah dan menampar Neta, tanpa ada yang tahu, Anton pergi ke dapur untuk mengambil pisau lagi. Anton menusuk ibunya dari belakang.
Neta tidak bisa berkata-kata. Kakaknya yang memang mengidap penyakit psikologis sejak kecil membunuh di hadapannya.

Kembali ke masa sekarang
Saat Neta melihat kakaknya, Anton berada di antara kerumunan orang-orang, dia langsung tahu siapa yang membunuh kedua gadis itu. Untuk melindungi Anton, dia membiarkan dirinya sendiri ditangkap oleh polisi. Anton menatap Neta dengan perasaan sedih. Neta menganggukkan kepalanya kepada sang kakak sebelum memasuki mobil polisi.

The end

Cerpen Karangan: Hilya
Blog / Facebook: Hilya

Cerpen I’am Not Psycho merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kue Bolu Buat Dimas

Oleh:
Ketika tuhan memberikan ujian kepada hamba-hambanya secara terus menerus, bukan berarti DIA membenci, tetapi malah sebaliknya tuhan sayang kepada hambanya dan akan mengangkat tinggi derajat kita jika kita berhasil

Helena oh Helena

Oleh:
Deras hujan yang turun, melayangkan lamunan seorang gadis yang tengah duduk menghadap jendela. Entah kemana arah pandangannya, entah kemana matanya menatap, dia terus membuka matanya dan terdiam. Gadis itu

Semua Untuk Ayah

Oleh:
Namaku alvi yang sudah menginjak umur 18 aku hidup di keluarga yang sederhana tapi itu menurutku sudah lebih dari cukup bahagia karena aku memiliki ibu dan ayah yang menyayangiku

Ayah, Ibu, Nenek

Oleh:
Aku melangkah ke kelas dengan wajah sedih, aku tidak mau bertatapan dengan siapapun sekarang. Nek Afi, nenekku yang merawatku sejak Ibu dan Ayah pergi ke italia dan meninggalkannya sendirian

Masih Ada Harapan

Oleh:
Yang mencintaimu tidak hanya satu orang, yang memperhatikanmu juga tidak satu orang, yang perlu kamu juga tidak hanya satu orang, ada keluargamu, teman-tamanmu, orang di sekitarmu yang perlu kehadiranmu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *