Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 23 October 2014

Namaku Yesi Aliani Kristiani. Aku hanya memiliki Ibu sejak kelas 3 SD, semenjak Ayahku meninggal dalam kecelakaan mobil setelah bermabuk-mabukan dengan teman-temannya. Sejak kecelakaan itu juga Ibu merawat, menjaga dan melindungiku, Anak semata wayangnya, dengan penuh kasih sayang seorang Ibu meskipun kami harus hidup miskin karena Ayahku tidak dapat menafkahi kami lagi. Tangan kuat Ibu yang merawatku sudah membuatku menjadi seperti sekarang, Bintang Televisi terkenal. Tapi jujur, aku kesal setiap dengan Ibuku. Saat Ayah meninggal, Ibu menjadi overprotective terhadapku. Aku tidak bisa bebas bermain lagi seperti dulu. Saat aku mengeluh tentang hal itu, Ibu hanya berkata bahwa dia tidak ingin kehilangaku.

Saat ini, aku yang sukses telah perlahan melupakan Ibu. Aku merasa Ibu akan baik-baik saja tanpaku. Dan sepertinya firasatku tentang Ibu betul, dia baik-baik saja dan bahkan sangat-sangat baik tanpaku. Terbukti dengan jarangnya dia menghubungiku.

Malam ini, aku menelepon Managerku. Aku membatalkan semua jadwalku hari ini karena aku betul-betul ingin istirahat sejenak dari jadwal padatku yang memusingkan ini. “Lho, kenapa toh Bu?” Tanya Managerku heran. “Saya mau istirahat aja, kok. Nggak ada apa-apa” Jawabku ramah. “Ya sudah, Ibu. Kalau emang Ibu mau istirahat. Saya ndak bisa melarang” kata Managerku. “Terimakasih” Ucapku sebelum akhirnya memutuskan sambung telepon.

Aku mengendarai mobilku dengan cepat menyusuri jalanan Jakarta yang sedang tumben-tumbennya tidak macet. Tidak lama kemudian, aku sampai di rumah megahku yang ku tinggali sendiri bersama beberapa pembantuku. “Selamat datang, Bu. Pulangnya cepat sekali ya..” Mbok Minah yang sedang menyapu garasi menyambutku sambil tersenyum. “Iya, nih, Mbok. Lagi enggak ada jadwal” jawabku, membalas senyum Mbok Minah. “Ibu pasti kepengen istirahat, kan, Bu? Saya antar Ibu ke kamar ya” kata Mbok Minah lagi. “Tidak usah, Mbok. Selesaikan pekerjaan Mbok aja” aku menolak. “Ya udah, Ibu” Jawab Mbok Minah seraya melanjutkan acara sapu-menyapunya itu.

Aku berjalan masuk melalui pintu utama yang lebih dekat dengan tangga menuju kamarku. Tanpa sadar, pandanganku tertumbuk pada sebuah benda yang masih kelihatan baru karena selalu dibersihkan dan dicat ulang. Benda itu adalah kotak surat berwarna merah. Aku tiba-tiba tertarik untuk membukanya, sekedar iseng-iseng atau aku sedang penasaran dengan isinya. Saat aku membuka kotak surat merah tersebut, sebuah surat terjatuh ke tanah. Aku cepat-cepat menutup kotak surat yang sudah kosong dan memungut surat yang jatuh. “Ibu?!” Pekikku terkejut saat melihat nama pengirim surat. “Akan ku baca saat sampai di kamar” Aku memutuskan.

Aku berlari menuju kamarku di lantai dua. Aku menghempaskan badanku, lelah. Aku mandi, mengganti baju dan akan bersiap-siap untuk tidur jika aku tidak teringat dengan surat dari Ibuku. Aku merobek kertas posnya dan mengeluarkan isinya. Aku menemukan sebuah kertas usang yang penuh dengan tulisan tangan Ibu. Aku jadi merindukan Ibu. Dengan tergesa-gesa, aku membaca surat dari Ibuku.

“Hai anakku yang paling ku sayangi, Yesi Aliani Kristiani,
Ibu pikir mungkin terlalu terlambat untuk mengatakan ini tetapi Ibu akan menyesal selamanya jika tidak mengatakannya.
Saat kau masih kecil, saat Ayahmu sudah pergi meninggalkan kita, ingatkah kau saat aku selalu berdiri mengawasimu di ujung jalan untuk mengawasimu bermain? Aku tau betapa bencinya kau padaku saat itu. Kau benci karena aku selalu memperhatikanmu sedangkan teman sebayamu dapat bermain dengan bebas.
Kau selalu bersembunyi di balik pohon besar. Aku tau kau berharap aku pergi dari hadapanmu. Tapi aku malah mencarimu dengan raut wajah cemas, bukan?
Aku selalu mengawasimu kemanapun dan apapun yang kau lakukan. Saat kau terjatuh, aku berlari menghampirimu, memapahmu, menuntunmu ke rumah kita. Aku bertanya “Apa kau baik-baik saja?” Sedangkan kau menatapku dengan raut penuh kebencian.
Aku selalu menyisipkan sepotong roti ke dalam tasmu saat kau duduk di bangku sekolah dasar. Aku tau betapa tidak sukanya kau dengan roti yang aku sisipkan. Kau ingin bebas jajan di sekolahmu. Tapi yang harus kau tau, jajanan di sekolahmu benar-benar tidak sehat. Aku sangat kecewa ketika melihat roti-roti yang ku buatkan untukmu sudah busuk dan berjamur. Apakah kurang enak? Aku minta maaf.
Pada pesta kelulusanku sebagai Siswi SMP, aku membuatkanmu sebuah gaun hingga tidak tidur sampai jam 4 pagi. Aku tidak ingin kau tampil buruk di pesta kelulusanmu, meskipun aku harus memakai baju tua yang compang-camping sekalipun. Aku sangat bangga, aku mengumumkan bahwa gaun yang kau kenakan itu adalah hasil karyaku. Tapi kau malah menghardikku, “Ibu tolol sekali! Selera Ibu sangat kuno, bahkan kain gaun ini sangat murahan!” Betapa terlukanya hatiku saat itu.
Aku tau aku tidak punya cukup uang untuk membelikanku pakaian-pakaian mewah seperti anak-anak lain, tapi aku selalu berusaha untuk membuatmu tidak merasa kalah dari anak-anak lain. Aku jauh lebih terluka melihatmu menangis saat aku tidak mempu membelikanmu barang-barang seperti teman-temanmu yang lain.
Sekarang, kau telah menjadi Bintang. Aku tau kau sibuk saat ini karena itu lah kau tidak bisa menghubungiku. Tapi, aku mohon, tolonglah sempatkan dirimu untuk menghubungiku saat waktu luangmu. Kau tau betapa aku merindukanmu, Yesi? Mungkin ini permintaan terakhir Ibu, Nak. Tapi jangan datang ke rumah kita. Saat ini Ibu sudah sakit-sakitan. Kamu pasti jijik melihat keadaan Ibu sekarang. Cukup hubungi Ibu saja, itu lebih dari cukup.
Ibu sayang padamu.”

Aku beruraian air mata membaca surat dari Ibu. Memoriku terputar ke kejadian-kejadian pada surat Ibu tersebut. Aku langsung menyambar kunci mobilku dan melesat pada alamat rumah yang sangat ku kenal, alamat rumahku dan Ibu. “Yesi! Sudah Ibu bilang, jangan datang ke sini!” Ibu membentakku. Aku sudah berlinang air mata melihat kondisi Ibu. Aku berlari memeluk Ibuku. “Ibu, jangan tinggalkan Yesi, Bu!” Aku menangis meraung-raung. Aku tidak bisa menahan sedihku. “Yesi.. Karena Ibu sudah menemuimu, jadi Ibu bisa pergi dengan tenang. Ibu sayang padamu, Yesi” kata Ibuku dengan suara bergetar. Ibu membacakan doa pertobatan. “IBUUU!!” Teriakku diiringi dengan hujan yang turun dengan deras.

Aku menangis sejadi-jadinya saat jenazah Ibu dimakamkan. Banyak orang yang datang saat pemakaman Ibu. Saudara-saudara dari pihak Ibu menyabarkanku. Setelah semua orang pulang, aku menatap pusara Ibu dengan air mata berlinang. “Ibu.. Aku mencintaimu” ucapku terbata-bata. Aku terisak-isak, menyesali perbuatanku. Aku yang seharusnya menemani Ibu di usia tuanya malah sibuk dengan duniaku sendiri. Tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras, seperti kemarin saat Ibu menghembuskan napas terakhirnya. Aku berlari ke arah mobilku terparkir. Satu kalimat untuk Ibuku, “Ibu, aku bangga mempunyai Ibu sepertimu”

Pesan moral: Sayangi, hargai, dan hormati Ibu kita selama kita masih bisa melakukannya. Karena pengorbanan Ibu tidak bisa terbayarkan oleh apapun. My mom, my hero! I love you, Mom!

-TAMAT-

Cerpen Karangan: Wenny Wijaya
Blog: www.superdaydream.blogspot.com

Nama : Wenny Wijaya
Tgl lahir : 9 April 2002
Blog : www.superdaydream.blogspot.com
Student of SD Frater Thamrin Makassar. God is my life source. I love writing, listening to music and many more. Reach me on twitter @wennywijaya9

Cerpen Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Goodbye My Lover

Oleh:
Hmmm… Entah bagaimana perasaan yang aku rasakan saat ini. Apakah ini bentuk penyesalan yang teramat mendalam atau apakah ini hanya untaian masa lalu yang membuatku kadang bisa gila memikirkannya.

Kakak Ku Hidup Di Hati Ku

Oleh:
Saat itu. Aku terisak-isak dalam tangisanku. “Karin, Karin kenapa? kok nangis gitu,” Tanya Kak Syahrin kepadaku dengan lembut. “itu ka Mama dan Papa bertengkar lagi, aku takut kak,” Jawabku

Ibu Apa Aku Anugerah Untukmu?

Oleh:
Pagi, namaku Nina, aku tinggal di Desa sukaraja bersama ibuku. Ibuku bekerja sebagai Desaigner baju, ibu juga sangat sibuk bekerja di sebuah griya butique Melati, karena kesibukan ibuku tersebut

Cinta dan Keadaan

Oleh:
“Rudi.. Jangan lupain aku ya..” sebuah ucapan terakhir dan lambaian tanganya, sampai sekarang tak pernah kulupakan. Aisyah nur aini. Adalah teman kelas sekaligus sahabatku di sekolah. Orangnya baik, pintar,

Tak Selamanya Tercapai

Oleh:
Sepasang mata memandang dari kejauhan, mengawasi tingkah laku yang diperbuat oleh seseorang yang berperawakan kecil, kulit hitam manis, dan mata coklat bening yang terlihat fokus dan berkonsentrasi pada buku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ibu”

  1. Rizzky Hiidayat says:

    Bagus banget cerpennya.. Aqu jadi terharu bacanya.. Pesan moralnya juga bagus..
    Overall I like it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *