Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 16 June 2017

Kutarik lagi tas yang melorot di pundak kananku. Pegal rasanya berjalan kaki mengelilingi kota ini. Mungkin tidak hanya diriku yang berjalan dengan menenteng amplop cokelat di tengah kota yang padat ini. Sudah lama sekali sejak aku datang ke kota ini dengan tekad untuk memperbaiki nasib. Tapi nasib memanglah nasib, aku belum bisa mengalahkannya.

Hpku bergetar, ternyata sebuah telepon. Dari siapa? Ini nomor baru.
“Halo?”
“Assalamu’alaikum?” Suara ini? Suara yang sangat kukenali. Suara yang sangat kurindukan sejak aku pergi jauh darinya.
“Assalamu’alaikum?” Sahutnya lagi.
Aku masih terpaku. Tidak menyangka.
“Naak? Bisa dengar Ibu? Ini Ibu Nak.”
“Ya Buu, Mia dengar” suaraku tersendat, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Sungguh, aku merindukannya.
“Apa kabar Nak? Ibu merindukanmu.”
“Alhamdulillah… Mia di sini baik Buu.” Tetes air mataku terjatuh.
“Alhamdulillah, Ibu senang akhirnya bisa meneleponmu. Kenapa tidak pernah mengabari Ibu? Apa kamu sangat sibuk dengan pekerjaanmu itu?” Aku diam. Aku bahkan tidak pernah memberinya kabar apapun.

Ya Allah… Ibu mengira aku terlalu sibuk bekerja. Sementara aku belum mendapat pekerjaan apapun di sini. Aku harus menjawab apa? Aku tidak ingin mengecewakan hatinya jika berkata jujur. Namun tidak mungkin juga jika aku berbohong.

“Naak? Tidak apa-apa jika kau sibuk. Tapi cobalah luangkan sedikit waktumu untuk memberi kabar. Ibu sangat khawatir Nak.”
“Maafkan aku Ibu.”
“Tidak apa-apa. Berjanjilah untuk memberi kabar pada Ibu ya?” Aku bisa merasakan Ibu berkata dengan senyum tulusnya.
Ya Allah… Ibu masih mau memaafkan diriku. Padahal aku telah mengecewakannya. Sungguh aku merasa sangat bersalah. Ibuu… Maafkan aku tidak mengatakan yang sebenarnya.

“Ya Buu, aku berjanji. Buu? Ini nomor Bulik yang baru?”
“Bukan, ini nomor telepon Pak Tomo. Bulik sedang tidak di rumah.”
Aku yakin Bulik ada di sampingnya. Tadi aku mendengar suaranya. Air mataku terjatuh lagi. Ibu berbohong padaku. Pasti karena tagihan pulsa teleponnya belum dibayar, bukan karena Bulik sedang pergi. Anak macam apa aku ini?? Aku tidak memberi kabar dan sekarang aku tidak tau bagaimana keadaan mereka semua. Kuusap air mataku, aku sudah bertekad untuk mengubah nasibku bukan? Aku harus kuat dan bertahan.

“Ibuu, Mia minta doanya ya? Semoga semua urusan Mia di sini dimudahkan.”
“Pasti Naak, tanpa kamu minta pun Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”
“Terima kasih Bu. Mia sayang Ibu.”
“Ibu juga sayang Mia, hati-hati di sana ya? Jangan telat makan, minum air putih yang banyak dan jangan pernah lupa Ibadahnya Nak.” “Baik Bu…”
“Ya sudah. Ibu tutup teleponnya. Assalamu’alaikum..” “Waalaikumsalam…”

Cerpen Karangan: Yurika
Facebook: Yurika

Cerpen Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku

Oleh:
Tak terasa sudah liburan semester. Aku dan keluarga berencana liburan ke pantai Pelabuan Ratu. Hari berlibur pun tiba, kami segera berkemas-kemas untuk pergi ke pantai. Terjadi keributan kecil ketika

Tangga Nada Berjalan

Oleh:
Cahaya terang itu berebutan memasuki area penglihatanku, sehingga aku tak kuasa membuka kedua mataku dan akhirnya akupun menangis sejadi-jadinya. “Oak… oak…” ya begitulah kiranya suara tangisanku yang khas nan

Lighter (Part 1)

Oleh:
Ku temukan janji manis dari kumpulan kata-katanya, teduh dari gema suara baritonnya. Seperti gulali dari toko manisan di depan rumah, manisnya mengikat lidah. Seperti pohon besar menjulang tinggi di

December 22nd

Oleh:
Ibu, kau tau, ia adalah bidadari tanpa sayap yang telah dipercayakan oleh Tuhan menjadi tamengmu, menjadi pedangmu, dan menjadi rumah tinggal bagimu. Menyayanginya? Tentu saja, Mengecewakannya? Lebih dari sering.

Ayah Maafkan Aku

Oleh:
Namaku Fitria, panggil saja dengan panggilan Fitri… Kini aku duduk di bangku Sekolah menengah pertama, tepatnya aku kelas VII. Sejak kecil aku buta, aku mempunyai seorang ayah yang bernama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *