Ibu, Aku Juga Anakmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 March 2017

Seperti anak lain pada umumnya, aku tumbuh di tengah keluarga yang penuh cinta. Kedua orangtuaku menyayangiku, mereka memberikan kasih sayang yang melimpah padaku. Sehingga tak ada hal lain yang mampu kuucapkan selain rasa syukur yang amat dalam untuk mereka.

Karena cinta mereka pula, aku sampai lupa kapan terakhir kalinya menangis. Bila diingat lagi dan dihitung, mungkin sudah bertahun-tahun lamanya. Terakhir kali yang kuingat, saat itu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Lalu ayah bilang padaku, “Nak, kamu sudah besar. Jangan menangis! Ayah juga yakin, kamu adalah anak yang kuat, jadi jangan menangis lagi! Mengerti?”
“Iya ayah…” sahutku mengangguk pelan.
“Nah, sekarang hapus air matamu!” aku pun lantas mengusap pipiku yang basah karena air mata.

Itu adalah terakhir kalinya aku menangis. Seiring bertambahnya usia, aku sudah tidak pernah menangis lagi. Meskipun terkena lemparan bola, goresan pisau yang secara tidak sengaja, kemudian lecet lantaran jatuh, bahkan luka jahitan pasca kecelakaan. Aku tak sekalipun mengeluarkan air mata.

Namun kini ketika usiaku bertambah, dan membuatku tumbuh sebagai remaja, sebuah keadaan memaksaku kembali meneteskan air mata. Kondisi yang tidak pernah kuinginkan. Jangankan ingin, membayangkannya saja tidak pernah. Apalagi harus memikirkannya setiap hari.

Ya, semua berawal dari kecurigaanku yang tak semestinya mengganggu perasaanku. Sebagai seorang anak, pastilah ingin memperoleh kasih sayang serta perhatian dari kedua orangtuanya. Benar, aku memang mendapatkannya. Akan tetapi tidak selayaknya yang kuharapkan.

Sebagai anak, aku tidak tumbuh sendirian. Aku memiliki seorang kakak. Usianya tidak beda jauh denganku. Kita hanya berselisih tiga tahun. Namaku Dela, usiaku 17 tahun. Sementara kakak tertampanku bernama Dion, usianya 20 tahun. Aku duduk di bangku kelas dua SMA. Sedangkan kakak, sekarang adalah seorang mahasiswa.

Setiap pagi, kami semua kumpul dalam satu meja makan, untuk sarapan bersama-sama. Ibu sudah menyiapkannya sedari kami belum bangun. Ketika akan makan, kerap ibu menawarkan beberapa makanan. Kemudian mengambilkannya, lalu menaruh dalam piring. Tapi tidak padaku, melainkan untuk kakak.

“Kamu mau ikan?” tawarnya.
“Iya,” sahut kakak mengangguk.
“Mau tumis kangkung?”
“Iya ibu,” langsung ibu memberikan beberapa bagian dalam piring kakak. Seperti itulah kondisi yang terjadi setiap pagi.

Kemudian saat kami akan berangkat. Ibu akan memberikan kecupan manisnya untuk kakak, namun tidak buatku. Usai mencium tangannya, ibu lantas mengusap kepalaku. Lalu membiarkan kami pergi dengan lambaian tangannya.
Meski terlihat sepele, tapi sikap ibu membuatku merasa ada perbedaan diantara kami. Tapi aku cuma diam tak berucap apapun, selain menyaksikan. Walaupun sebenarnya ada perasaan aneh di dalam hati.

Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Ibu selalu memberikan perhatiannya kepada kami. Tapi entah mengapa aku merasa ada yang janggal dari perhatiannya. Ibu seakan tak peduli dengan apa yang aku lakukan. Namun berbeda dengan kakak.
Aku memang senang, ibu mengizinkanku mengikuti beberapa kegiatan di sekolah. Tak jarang membuatku sering pulang kesorean. Sikap ibu nampak biasa saja, meski aku pulang terlalu sore. Ia bahkan membiarkanku pergi bersama teman, sampai pulang larut malam. Ia tak pernah marah maupun menegur.

Sementara kalau kakak, ibu seakan protektif padanya. Jika sore tiba, dan kakak belum pulang. Pastilah ibu sangat khawatir dan cemas. Ia akan buru-buru menelepon. Kalau tidak dapat jawaban, sontak ibu menyuruhku pergi untuk segera mencari keberadaannya. Walaupun sebetulnya aku tidak tau, ibu tetap memaksakan kehendaknya supaya lekas mencari kakak.

“Del, cepat cari kakakmu!”
“Tapi aku tidak tau dia di mana bu?”
“Ibu bilang cari, cepat cari!” serunya membentakku. Sontak kakiku bergegas pergi, meski tidak punya tujuan.

Ya, aku tak dapat melawannya. Dengan menaiki sebuah sepeda motor aku berkeliling di tempat-tempat biasa, yang memungkinkan kakakku ada disana. Usai berputar semalaman, aku tetap tak menemukannya. Akhirnya kuputuskan pulang, pikirku pasti kakak sudah pulang. Sebab jam menunjukkan pukul 9 malam.

Ternyata dugaanku salah, ia belum pulang. “Apa sih yang kamu cari?! Masa menemukan kakakmu saja tidak bisa!” bentak ibu mengagetkanku. Hatiku seakan runtuh. Aku melihat kemarahan dalam tatapan matanya.
“Maaf bu, aku benar-benar tidak tau,” sahutku merasa was-was dan takut. “Aku sudah mencari kakak di berbagai tempat. Tapi tetap nggak ketemu,” ujarku lagi menjelaskan. Kecemasan memenuhi hatiku. Aku takut kalau ibu akan membentakku lagi.
“Ahh… kamu…!” gerutunya. “Kemana dia jam segini? Mengapa belum pulang?” keluh ibu nampak cemas. Suasana nampak mencekam. Aku melihat kemarahan dimatanya. Ayah cuma diam saja, tak berkata apapun. Sementara aku, terus saja merasa cemas melihat ibu yang masih berdiri dan tampak kebingungan.

Selang beberapa menit, kakak muncul dari balik pintu. “Hey, kenapa kalian berkumpul di sini!” serunya melangkah menghampiri kami.
“Dion! kemana saja kamu? Kenapa tidak memberi kabar? Ibu kan cemas memikirkanmu,” tukas ibu nampak sumringah melihat kedatangan kakak.
“Tenanglah bu. Tadi Dion mampir ke rumah Oki, sampai lupa waktu. Maaf ya?” sahutnya sambil memegang pundak ibu. Terlihat pipi ibu mengembang, ia tersenyum, dan mengangguk.
Melihat pemandangan itu, seakan kekhawatiranku berkurang. Benar, aku tidak perlu cemas akan kemarahan ibu. Kini dia tersenyum, membuatku lega. Tapi di sisi lain, hatiku merasa sedikit sakit. Sebagian duniaku rasanya mulai berubah.

Aku melihat kekhawatiran di mata ibu ketika kakak tidak ada. Sebuah kecemasan yang ditunjukkan oleh seorang ibu, kepada anaknya. Pikiran nakalku pun melayang, “Apakah ibu juga akan seperti itu saat aku pulang telat. Mungkinkah dia mencemaskanku, seperti waktu dia mengkhawatirkan keadaan kakak? Tapi kenapa dia tidak mengubungiku, bahkan ketika aku pulang larut malam? Dia bahkan tidak menegurku sama sekali,” tanpa kusadari, air mataku menetes jatuh membasahi pipi.

Malam itu adalah pertama kalinya aku menangis lagi. Setelah bertahun-tahun tidak pernah membiarkan air mataku keluar. Aku merasa ada perbedaan dengan sikap dan perhatian ibu kepada kami. Sebagai seorang anak, aku juga ingin dikhawatirkan olehnya. Tapi rasanya seperti, ibu cuma mencemaskan keadaan kakak. Ia lebih memikirkan kakak, ketimbang aku.
Hatiku serasa teriris, dan meninggalkan bekas luka. Ingin sekali tak menghiraukannya, namun pikirku tak mampu kuhindari. Aku terus saja memikirkannya. Keadaan ini membuatku merasa tak adil.
Terbukti ibu tidak pernah semarah itu, saat aku pergi maupun pulang larut malam. Ia juga tidak mencoba meneleponku. Bahkan menanyakan bagaimana keadaanku. Apakah aku baik-baik saja atau tidak. Berbeda dengan kakak, ibu pasti selalu menayakan keadaannya. Tak jarang lantas membuatkannya secangkir teh hangat, lalu memijit pundaknya.

Kecurigaanku terus berlanjut. Lantaran ibu seringkali memberikan apapun yang kakak inginkan. Mulai dari sepatu baru, tas baru, beberapa potong pakaian, termasuk sebuah laptop. Sontak hal itu membuatku melongo. Sebab ibu tidak pernah memenuhi permintaanku.

Aku masih ingat, saat minta padanya untuk dibelikan tas baru. Bukannya mendapatkan keinginanku, ibu dengan tegas langsung menolak. Alasannya sedang tidak punya uang. Uang dari ayah, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Semula aku mengira pembedaan itu hanya kecurigaanku saja. Tapi lama-kelamaan tidak. Memang begitulah kenyataannya, ibu memperlakukan kami berdua dengan cara yang berbeda. Aku yang tak pernah ingin menangis. Mulai sering meneteskan air mata. Rasa sakit dan kesedihan yang kurasakan tak dapat dibendung.

Jika mengingat perlakuan ibu, perhatian serta sikapnya pada kakak, pastilah membuatku menangis. Bak mendapati sebuah reruntuhan. Begitu pula runtuhan jatuh mengenai hatiku. Sakitnya sangat menyesakkan dada.

Berulang kali aku berpikir dan mencoba tak menghiraukan prasangka ini padanya. Tapi ketika itu, aku harus kembali dihadapkan pada keadaan yang memaksaku melihat pembedaan perlakuan antara aku dengan kakak. Ujungnya aku sendirilah yang akan merasakan kesedihan.

Ingin rasanya aku berteriak, “Ibu! Aku juga anakmu! Tidakkah kau melihatku?!” Tapi bibirku seakan terbungkam. Tak mampu mengucapkan kata tersebut. Aku hanya bisa diam, menangis sendirian di dalam kamar.

Andai ibu tau akan kesedihanku, ada banyak hal yang ingin kusampaikan padanya. Aku juga menginginkan perhatian darinya. Kemudian mendapat perlakuan yang sama dengan kakak. Serta kecemasan ketika aku tak kunjung pulang ke rumah. “Hiks… hiks… hiks…” isak tangis tak sanggup kutahan.
Rasanya aku tak mampu melewati ini semua. Pikirku terus berkecamuk, “Ibu cuma menyayangi kakak. Dia lebih perhatian padanya ketimbang aku. Ibu justru seolah tak mempedulikan keberadaanku. Ini tak adil bagiku ibu.”

Kesakitanku semakin memuncak. Waktu melihat ibu memeluk kakakku dengan erat. Sebuah pelukan yang selalu kuharapkan darinya. Pelukan dari seorang ibu kepada anaknya. “Ibu, aku juga anakmu,” ucapku lirih dari kejauhan sembari menyaksikan pemandangan tersebut. Diiringi air mata yang jatuh membasahi pipiku.

Cerpen Karangan: Putri Andriyas
Blog / Facebook: Www.putriandriyas.wordpress.com / Putri Andriyas
Saat ini tengah sibuk membuat cerpen dan aktif menulis di blog. Ingin melihat tulisan saya? Kunjungi saja langsung blog saya.
Bisa hubungi saya
Via email: putriandriyas[-at-]gmail.com
Atau via FB & Twitter : @putriandriyas
On instagram @Putriandriyas
Yuk berbagi cerita denganku!

Cerpen Ibu, Aku Juga Anakmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berondong Tua

Oleh:
Berondong, berondong tua Sukanya mencari mangsa Keluar masuk lubang buaya Mencari wanita-wanita muda Mungkin lagu itu lah yang cocok untuk mengambarkan keadaanku saat ini. Oh iya nama aku cinta,

Harusnya

Oleh:
~ Kau lebih dari sekedar bintang-bintang. Kau lebih dari sekedar sang rembulan ~ Suara Naga Lyla mengalun dari ponselku. Pertanda sebuah pesan baru masuk. Dengan cepat, jemariku meraih ponsel

Tuhan Jagalah Mereka

Oleh:
Kulihat pemandangan di pagi hari dari balik jendela kamarku seusai bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Melamun sambil menghirup udara sejuk yang membuatku lebih semangat untuk menjalani hidup ini. Tuhan

Piano Bunda

Oleh:
Aku selalu duduk di pangkuan bunda, bunda akan memainkan sebuah lagu dengan piano putih kesayangannya. Biasanya tanpa sadar aku akan terlelap di pangkuan bunda, bunda adalah ibu yang sangat

Dunia Luna

Oleh:
Luna berjalan menemui Ranti di rumahnya, sahabat dari SMP yang selalu bersamanya. Namun saat di rumah Ranti, Luna melihat Ranti sedang bersama seseorang yang Luna kenal yaitu Alvin, Alvin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *