Ibu Bintang Di Hatiku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 April 2018

“Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa…
Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia…”
Setiap kali aku mendengar lantunan syairnya, aku selalu percaya bahwa ibu juga sangat menyayangiku…

“Saras…”
“Saras tunggu aku…” Seseorang berteriak di belakangku, saat itu hari mulai petang. Gerbang sekolah sudah disantap habis oleh anak-anak itu, mereka berlari menemui orangtua mereka yang sudah menunggu. Aku selalu melirik sambil sesekali menoleh ke belakang, berharap seseorang juga menjemputku pulang. Mereka mencium lengan ibunya setelah itu saling berpelukan. Kemudian semua lenyap begitu saja, tapi ingatanku masih saja membekas.
“Kapan ya ibu mau menjemputku pulang? seperti mereka! pasti sangat menyenangkan”

Seseorang menepuk pundakku…
“Sarassssss… Kamu ini tuli ya. Aku panggil dari tadi kamu tidak dengar juga. Melamun saja kamu ini, nanti kerasukan bagaimana?”
“Elin, kamu bikin kaget aja. Bukan kerasukan lagi tapi mati karena jantungku copot bagaimana?”
“Ah sudah-sudah, ayo kita pulang. Oh iya sar, aku dengar di berita. Katanya ada seorang ibu yang tega meracuni anaknya”
“Ada-ada aja, mana ada seorang ibu yang begitu. Sudah aku tidak mau dengar lagi”
“Ah iya deh..”

Dengan muka yang sedikit muram, elin terus berjalan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Elin tahu bahwa aku tak pernah suka membicarakan hal semacam itu, tapi aku tak menafikkinya karena kenyataan itu memang ada. Sejak ibu meninggalkanku enam tahun yang lalu, ibu tak pernah lagi menemuiku. Bahkan sejak kejadian itu, ibu tak lagi menghubungiku. Aku sangat menyesal…

“Sar, kamu ini kan sahabatku. Aku ini juga sahabatmu bukan? apakah kamu tak mau mengatakan sesuatu hal yang sangat penting? jangan rahasiakan semuanya dariku sar” Katanya sambil terus menatapku.
“Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu. Tentu saja, sejak tiga tahun lalu hanya kamu yang mau berteman denganku. Sejak kita sama-sama sekolah di sini, sudah lama ya dan akhirnya sebentar lagi kita harus berpisah”
“Selama itu ya sar? selama itu juga kamu pendam semuanya. Fakta yang sebenarnya, aku ini bukan sahabatmu kan? tentu seorang sahabat akan menceritakan semuanya pada sahabatnya”
“Fakta apa maksudmu? tentu saja aku selalu menceritakan semuanya padamu”
“Sudahlah, aku pulang duluan sar.. Daaahhh”
Sambil melambaikan tangan, elin terus berlari menjauh. Aku tahu, ada air mata di sudut matanya.

“Assalamuallaikum”
“Wa’alaikumussalam, sudah pulang nak?”
“Sudah bunda”
“Sini sayang, kenapa mukanya seperti itu? saras sedang sedih ya?”
“Tidak bunda, saras cuma capek aja. Bunda sudah makan? Bagaimana keadaan bunda? sebaiknya bunda dirawat oleh suster, saras tidak bisa terus menemani bunda. Ayo kita ke rumah sakit”
“Tidak usah sayang, bunda baik-baik saja. Saras ganti baju dulu sana”
“Saras kekamar dulu ya bunda”
Sekeras apapun keinginanku, secemas apapun aku tetap saja tak bisa melawan perkataannya!

Bunda yang tengah terbaring menatapku seperti menerawang. Setiap apa yang terjadi, aku tak pernah menceritakannya pada bunda. Karena aku tak ingin membuatnya khawatir, tapi sepertinya aku tak pernah bisa menyembunyikannya seakan bunda selalu tahu apa yang kurasakan!

Malam seperti tanpa bintang…
Bintang yang hilang dalam diriku, aku tak bisa menyembunyikannya lagi. Kesedihan itu semuanya merenggut kebahagiaanku. “Bunda, aku selalu menyayangi bunda, tapi aku sangat merindukannya…” Batinku terus menangis, mengingat semua yang telah terjadi sebagai mimpi.

Beberapa tahun silam…
“Dasar, kamu itu anak yang tak berguna. Karena kamu, aku kehilangan uangku” Ia terus berteriak tanpa mempedulikanku yang sudah terbaring. Darah yang mengalir dari pelipis kepalaku membuat semuanya menjadi samar-samar.
“Sudah ka, sudah jangan marahi saras terus. Semua ini bukan kesalahannya. Lihat sekarang ia sedang terbaring di sana, saras membutuhkanmu”
“Aku tidak peduli dengannya”
Setelah itu, yang aku tahu. Aku sedang terbaring di sebuah bangsal rumah sakit, aku hanya melihat tante susan yang kini kupanggil bunda tengah tertidur duduk di sampingku.

“Tante susan, tante bangun…”
“Ah saras sudah sadar. Kamu baik-baik saja sayang, tante akan menjaga kamu di sini”
“Iya tante, aku tahu kalau aku baik-baik saja. Ibu di mana tante?”
“Ibu sedang bekerja, kan untuk saras juga”
“Ah iya, aku selalu menyusahkan ibu. Ibu pasti lelah bekerja, apalagi aku sedang sakit”
“Sudah jangan dipikirkan, sekarang saras harus segera sembuh. Sekarang saras makan dulu ya”
“Saras tidak mau makan tante, ibu bilang tidak perduli dengan saras. Saras dengar ibu teriak-teriak. Saras selalu buat ibu marah, ibu pasti benci saras”
“Sayang, tak ada seorang ibu yang membenci anaknya. Ibu perduli pada saras, kalau tidak mana mungkin saras tumbuh sebesar ini. Ibu marah karena sayang pada saras”
“Apa benar tante? saras juga sayang ibu”
“Tentu, sekarang saras makan ya”

Di balik bilik kamar…
“Mau berapa lama lagi anak itu dirawat di sini? nanti uangku habis, anak itu selalu membuatku sial. Cepat katakan pada pihak rumah sakit, aku ingin membawanya pulang sekarang”
“Saras itu anakmu ka, tega sekali kamu bilang tak perduli padanya. Bukannya kamu sendiri yang melakukan ini? kalau saja kamu tak memukul kepalanya dengan kotak kayu, saras tidak mungkin ada di sini. Biar aku yang bayar semuanya”
“Baguslah, untung dunia punya orang seperti kamu. Urus saja anak itu, bukannya kamu adalah dewa penolongnya”
“Aku ini sahabatmu ka, tentu saja aku sangat menyayangi saras. Dia permata yang harus kamu jaga”
“Uuuuuh berisik sekali”

Setelah beberapa hari sejak kejadian itu, aku baru menyadari bahwa aku hanya membuat kesedihan di hidupnya. Beberapa kali aku melihat ibu menangis tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Aku memeluknya dari belakang “Ibu jangan menangis, saras nakal ya bu? maafkan saras bu” ibu mendorong tubuhku menjauh, sepertinya rasa kebencian ibu padaku amat sangat besar. tapi aku selalu menepisnya, tante susan selalu bilang “Ibu adalah bintang”. Setiap malam, saat bintang-bintang itu bersinar aku selalu membayangkan wajah ibu di sana. Di antara sinarnya, ibulah yang paling bersinar terang.

Beberapa kali ibu memukulku hanya karena aku selalu meminta ibu untuk menemaniku, membacakan dongeng saat tidur dan menjemputku saat pulang sekolah. Ibu bilang “Jangan banyak minta, aku kan sudah membesarkanmu. Jadi baik-baiklah denganku, jangan besar kepala. Ayahmu sudah tak ada, siapa yang akan bekerja mencari uang?” aku hanya menatap ibu, aku menangis saat itu. Tapi sekali lagi ibu memukulku. Aku yang saat itu masih kecil sangat mengerti bahwa ibu sangat lelah, membesarkanku seorang diri. Ayah meninggal saat aku berusia 3 tahun dan sejak saat itu ibu berbeda! Sudah lama sekali ibu mengabaikanku, kasih sayangnya hilang setelah kenyataan bahwa “Hidup ini memang pahit” semuanya menjadi berubah, aku bukan hanya kehilangan ayah tapi juga ibuku.

Saat ibu mengandung, ternyata ayah sudah punya istri lain di luar sana. Saat aku lahir, ayah tak menemani ibu karena ayah menemani istrinya yang lain yang baru saja melahirkan anak mereka. Usianya hanya berbeda beberapa hari denganku, ibu tak pernah menceritakannya padaku. Tiga tahun kemudian ayah mengalami kecelakaan lalu meninggal. Kisah ini kutahu setelah semuanya sudah terlambat.

Beberapa tahun ibu membesarkanku, tapi tak seperti mereka. Aku dibesarkan dengan penuh kebencian. Yang selalu menyayangiku adalah tante susan, tante susan sangat baik padaku!
Meskipun aku masih sangat kecil, tapi aku merasakan kasih sayangnya dan kebencian ibu.

Suatu hari aku pulang terlambat. Setelah pulang sekolah, aku menyusuri jalanan ibukota yang ramai. “Dek, sedang apa? mau beli bakso?” Kata bapak itu, “Tidak pak, aku ingin bekerja di sini. Apa aku bisa membantu bapak?”. “Ah, ada-ada saja. Memangnya usia kau berapa?”. “Aku masih kelas 3 SD pak, tolong aku ingin membantu ibuku mencari uang” Bapak itu hanya menatapku, kemudian berteriak keras. “Gila sekali ibumu, membiarkan anak sekecil ini bekerja. Sudah pulang saja, bukannya membantu tapi kau malah akan merepotkan”. Aku berlalu begitu saja, terus berjalan tanpa tujuan. Tapi aku ingin menangis, tanpa sengaja air mata keluar begitu saja.

Seseorang menepuk pundakku.
“Hei, kau sedang apa? aku hery, namamu siapa?”
“Namaku saras”

Ia menarikku dari jalan itu, tanpa aku sadari tadi aku sedang berdiri di tengah jalan. Hampir saja aku tertabrak mobil.
“Melamun di tengah jalan, apa yang sedang kau pikirkan? ayo, ceritakan padaku. Namamu saras kan!”
“Ia, tadi kenapa tidak langsung menarikku? kamu malah menanyakan namaku dulu, kalau aku tadi tertabrak bagaimana?”
“HAHAHAHA, harusnya kau berterima kasih dulu padaku. Itu kan supaya kau kaget, buktinya juga kau selamat kan”
“Ah iya iya, terimakasih hery”

Kemudian aku menceritakan semuanya. Hery mau membantuku, kebetulan ia juga seorang anak yatim. Setiap hari hery berjualan tisue di jalan, aku membantunya berjualan dan pulang malam hari. Karena asik bercerita dengan hery, aku melupakan waktu. Jam menunjukkan pukul 7, ibu pasti sudah pulang. Aku memang tak pernah tahu pekerjaan ibu, tapi aku tahu ibu pulang setelah matahari mulai tenggelam.

“Ke mana saja kamu? dasar anak tidak tahu diri, mana seragammu? kamu bolos sekolah lalu bermain ya” ibu terus berbicara tanpa membiarkan aku menjawabnya. Aku menyodorkan uang sepuluh ribu hasil kerja kerasku, semua itu untuknya. Tapi ibu memukulku hingga kulihat bayangan ibu dimana-mana. “Uang apa ini? kamu mencurinya untuk menyogokku ya. Uang segini itu tak ada artinya untukku, kalau kamu mau memberiku uang. Beri aku uang yang banyak” Kemudian aku tergeletak tak sadarkan diri. Kebetulan tante susan datang menengok!

“Lagi-lagi kamu memukulnya. Sadar ka, saras itu sudah tumbuh besar. Sampai kapan…”
“Sudah, jangan campuri lagi urusanku. Atau kamu bilang kamu menyayanginya kan! aku ini sahabatmu kan, kalau begitu kamu saja yang urus dia. Aku akan pergi untuk beberapa tahun, kalau kamu tidak mau biar saras ikut denganku dan kamu tidak akan lagi seperti dewa penolongnya”
“Tapi…”
“Putuskan, mau atau tidak?”
“Biar aku yang mengurusnya, biar aku yang tetap menyayanginya. Kau akan menyesal”
“Baiklah”
Ibu pergi begitu saja meninggalkanku, beberapa bulan kemudian ibu menelepon tante susan. Ibu tak mau bicara padaku, tante susan bilang “Ibu baik-baik saja. Ibu bilang saras harus belajar dengan rajin, buat ibu bangga”.

Setahun berlalu…
“Eh lihat itu, dia kan tidak punya ibu”
“Iya kasihan ya”
“Hei saras, ibumu membuangmu ya? ibumu kejam sekali. Hiiiih, aku sih tidak mau punya ibu seperti itu”
“Ibuku baik, dia sayang padaku” Lalu aku melemparkan vas bunga yang berada diatas meja guru dan mengenai kepalanya. Setelah itu semuanya menjadi ramai.

Saat malam, telepon rumah tante berbunyi. Itu dari ibu, tante susan menceritakan semuanya. Akhirnya setelah sekian lama, ibu mau bicara denganku.

“Hallo, ibu”
“Hei anak sial, kamu berbuat apa? kamu harus tahu, aku membencimu. Jangan harap aku akan menghubungimu lagi. Terus saja menyusahkanku, kamu memangnya mau jadi penjahat ya? kamu sama saja dengan bapakmu. Pembawa sial”
“Ibu, tapi mereka…” Ibu menutup teleponnya

Aku menangis kencang. Tante susan menenangkanku, tante susan selalu bilang semuanya baik-baik saja. “Tante, ibu marah padaku. Tante, ibu benci padaku” Aku berlari menuju kamar.
Tante mengejar, tapi aku mengunci pintunya. Tante terus berteriak “Saras sayang, buka pintunya”. Kali ini aku menjawabnya, perasaan yang selama ini kutepis. “Tante, tante jangan lagi bilang semuanya baik-baik saja. Aku tahu semuanya, ibu tak pernah menyayangiku. Ibu membenciku tante. Jangan lagi bohong padaku, aku benci tante”. “Saras sayang, maafkan tante nak. Tante tidak akan katakan itu lagi. Jangan benci tante saras”. “Pergi tante, pergi. Tante sama saja dengan ibu”. “Saras, tolong buka pintunya”. Aku membuka pintunya, tante memelukku. Tante menangis dan berkata “Lupakan ibumu, panggil tante bunda. Sekarang tantelah ibunya saras. Bunda susan, bundanya saras”. “Bunda… Aku benci ibu” Sejak saat itu, kami tak pernah lagi membicarakan ibu dan ibu tak pernah lagi menghubungi kami.

Hari-hari berjalan begitu saja. Aku juga sudah melupakannya. Aku sangat bahagia seakan tak pernah terjadi sesuatu yang pahit. Ingatan tentang ibu kukubur manis bersama kerinduannya. Tiba saat kelulusan, bunda mengajakku pindah keluar kota. Kami pindah meninggalkan jakarta ke kota yang sama sekali belum pernah kupijakki. Karawang, kata bunda aku akan menemukan sesuatu disana.

Setelah berkemas, akhirnya kami akan meninggalkan kenangan di sini. Selamat tinggal jakarta…
Tiga kali menggunakan angkutan umum, tiga jam menunggu akhirnya kami sampai juga di kota karawang. Tidak jauh beda dengan jakarta, bunda bilang kami akan tinggal di sebuah desa yang dikelilingi banyak sawah. Tapi yang kami temui malah banyaknya gedung bertingkat dan terik matahari yang menyengat. Bunda bilang, seiring berjalannya waktu semua akan berubah. “Semoga aku bisa membuka lembaran baru tanpa bayangan ibu”

Aku bersekolah di SMP negeri, awalnya aku tak mempunyai teman. Tapi seseorang datang padaku dan menawarkan senyumnya. Namanya elin, dia yang sekarang menjadi sahabatku. Tiga tahun aku bersahabat dengannya, aku sama sekali belum pernah datang ke rumahnya. Elin bilang ibunya bukan orang yang ramah, ibunya tak suka jika ada teman yang mengunjunginya.

Elin selalu menceritakan keburukan ibunya, sama seperti yang kualami dulu. Ibunya sering sekali memukulnya tanpa alasan yang jelas. Tapi aku selalu saja menolaknya menceritakan hal semacam itu, bukannya aku tak mempedulikannya. Aku hanya tak mau terbayang lagi sosok ibu. Elin adalah anak dari keluarga berada, tapi semua yang dipakai elin seperti tak layak dipakai. Seragamnya lusuh dan sepertinya sudah sangat sempit di tubuhnya. Buku tulis yang elin gunakan hanya buku-buku bekas. Aku menceritakan semuanya pada bunda. Lalu bunda membelikannya seragam baru, tapi hanya dipakai sekali kemudian ia memakai seragamnya lagi yang lama. “Ibuku menggunting seragamnya, ibu bilang tak boleh meminta apapun pada orang lain. Sudahlah saras, ibuku tak akan pernah suka”.

Setahun kemudian sikapnya berbeda. Elin tak lagi menceritakan soal ibunya. Elin dan aku lebih banyak meluangkan waktu untuk belajar. Kami sudah tidak lagi main bersama, aku disibukkan kegiatan organisasi di sekolah. Hingga suatu hari, aku menemukan elin tergeletak di depan pintu toilet sekolah. Kulihat ada sebuah luka lebam di sudut mata kirinya, aku berteriak berharap seseorang menolongku. Akhirnya elin dibawa ke ruang UKS, kebetulan aku boleh menjaga dan merawatnya karena aku bagian dari Palang Merah Remaja.

“Lin, sadarlah. Kamu kenapa?” aku terus membalurinya minyak kayuputih, elin setengah sadar.
“Saras, aku di mana?”
“Di ruang kesehatan, ada apa lin? ini luka apa?”
“Ah aku… Gak papa sar. Ini aku habis jatuh dan akhirnya lukanya jadi seperti ini”
“Benarkah? jadi ini bukan karena ibumu? lalu kenapa kamu pingsan tadi?”
“Tentu saja, ibuku sudah tidak lagi memukuliku. Walaupun begitu, itu karena aku yang salah. Aku hanya belum sarapan saja sar”
“Baiklah, aku akan belikan sarapan dulu untukmu”

Sepulang sekolah, aku menemui elin…
Aku tahu, semua yang dikatakannya adalah bohong. Elin tak bisa membohongiku dan menyembunyikan perasaannya.

“Hei, ayo ikut denganku”
“Ke mana? aku tidak bisa sar. Nanti ibu mencariku”
“Nanti malam aku tunggu di perempatan jalan, kamu mau datang atau tidak. Aku akan menunggu. Sampai bertemu nanti elin” aku berlari meninggalkannya. Elin hanya terus berteriak memanggilku.
“Saras tunggu…”

Cerpen Karangan: Dheea Octa
Facebook: Octavhianie Dheea

Cerpen Ibu Bintang Di Hatiku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Trouble of Sisters (Part 1)

Oleh:
Rambut hitam terurainya, hidung mancung bak putri bangsawan, kulitnya yang putih seputih salju, dan kaki jenjangnya yang bagaikan gadis remaja 17 tahun. Dia adalah Emely, penyanyi cilik profesional yang

Nggak Jadi Main Timezone

Oleh:
krinnnggg…. krinngg….krinnngg bunyi alarm ku. Dengan sangat berat aku pun bengun. Lalu aku segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat menuju sekolah tercinta. sebelum berangkat terlebih dahulu aku meminta izin

Cacat Hati

Oleh:
Hari itu, senja mulai mendatangiku, adzan sudah di pangkal tenggorokan. Dan hatiku merintih kesakitan. Air mata mengalir membasahi pipiku yang melekat di atas bantal. Air itu menggenang kemudian meresap

Memories Of Mother

Oleh:
Seperti biasa. Di malam seperti ini. Seperti malam-malam yang telah lalu. Ada saja yang mengingatkan tentang mu. Tentang bagaimana kau mengajari ku di dunia yang fana ini. Tentang semua

Sabar

Oleh:
Cinta… cinta itu adalah anugerah, cinta itu… mimpi terindah, cinta itu… luas tak ada batas. Tapi dalam cinta itu ada kesaman; menyayangi, memiliki, melindungi dan membahagiakan orang yang kita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *