Ibu Bintang Di Hatiku (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 April 2018

Malam harinya elin datang, aku yang sudah menunggunya buru-buru menyambar tangannya. Menariknya menuju tempat yang sudah kusiapkan.
Lilin-lilin yang mengitari tempat singgah kami menerangi tanpa malu. Kami duduk di sekelilingnya sambil ditemani suara malam, bintang-bintang bersinar terang. Kuputar lagu dari handphone bunda, kira-kira liriknya seperti ini “Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa…” bunda selalu menyanyikannya saat bunda tahu aku sedang bersedih. Sambil tertidur kami menatap ke arah langit, menggapai bintang.

“Kata bunda, ibu itu adalah bintang. Bintang yang paling bersinar. Aku ingin suatu hari nanti aku menjadi seperti bintang”
“Kamu sudah menjadi bintang, bintang di hatinya sar. Ibumu sangat baik padamu dan aku…”
“Semua yang terlihat belum tentu adalah nyata. Saras sayang elin, Tetap jadi sahabatku ya”
“Memang, ayo kita ambil bintang itu. Kita akan selalu bersama”

Bintang-bintang berkelap-kelip, kami menggapai bintang itu dan menyimpannya dalam hati. “Tetaplah di sini ibu” Lalu cahaya berkilauan. Warna kuning keemasan datang menghampiri kami. “Itu kunang-kunang, ayo kita tangkap” aku dan elin berputar-putar menangkapnya. Kami sangat bahagia, terlebih aku melihatnya. Melihat ibu di langit…

“Selamat ulang tahun elin”
“Waaah kamu ingat…”
“Tentu, ini untukmu (Sebuah kotak berwarna merah jambu)”
Setelah itu kami memutuskan untuk segera pulang…

“Aku tak perduli kau dari mana, sepertinya kau sudah bosan tinggal di sini”
“Tidak ibu, aku hanya…”
“Elinaaaaa… Aku sudah muak melihatmu. Jika bukan dendam untuk anakku, aku sudah membuangmu. Malam ini, kau tidur di luar”
“Tapi ibu, aku takut. Aku janji aku tidak akan nakal lagi”
“Sudah cepatlah, aku tidak perlu melemparmu keluar bukan. Jangan manja, anakku dulu juga seperti ini. Kau tahu? anakku menderita karenamu, kotak apa ini? kemarikan”
“Jangan ibu itu dari sahabatku”

Keesokan paginya aku tertidur pulas hingga waktu menunjukkan pukul 09:00 wib…
“Ibu, maafkan aku. Ibu kembalilah… Aku janji aku tak akan nakal lagi ibu. Jangan marah padaku, aku sayang ibu. Aku akan belajar terus dan bawa uang yang banyak untuk ibu”
“Ibu… Aku tidak salah, mereka menghina ibu. Aku tidak suka… Ibu jangan pergiii” Ibu mendorong tubuhku dan berlalu begitu saja.

“Saras, bangun sayang…”
“Bundaaa, aku mimpi ibu. Aku rindu ibu”
“Saras mau bertemu ibu?”
“Tidak… Saras benci ibu” Aku bergegas meninggalkan bunda. Saat itu aku hanya ingin sendiri.

Beberapa bulan terakhir, kesehatan bunda menurun. Bunda sudah tidak lagi bisa bekerja. Kami hanya tinggal berdua, ini semua salahku. Karena aku, bunda memutuskan untuk tidak menikah. Bunda membatalkan pernikahannya saat ayah meninggal. Kini aku satu-satunya keluarga bunda, orangtua bunda meninggal saat bunda masih kecil. Aku akhirnya memutuskan bekerja paruh waktu di sebuah rumah makan. Hari-hari kusibukkan dengan bekerja dan malamnya sibuk membereskan rumah yang sudah tak beraturan. Bunda kini terbaring di kamar tidurnya, bunda selalu menolak dibawa ke rumah sakit terlebih aku tak punya uang sama sekali.

Awalnya bunda masih bisa berbicara dan kami masih sempat bercerita. Kini bunda tak lagi membacakan dongeng untukku, karena sakitnya bunda semakin parah. Aku jadi jarang sekali bertemu elin, karena kami juga akhirnya berbeda kelas.

Hari-hari berjalan dengan cepat namun kondisi bunda masih saja seperti itu. Sudah setahun berlalu. Tiba saat kenaikan kelas, saat itu aku telah bertambah usia. Elin mengajakku ke suatu tempat, dimana dulu aku mengajak elin melihat bintang. Elin memberikanku sebuah hadiah “Kalung berbentuk bintang”. Seperti dulu, sambil menatap ke arah langit kuputar lagu itu. Serasa ibu sedang bersama kami.

Beberapa bulan kemudian bunda sembuh. Aku sangat bahagia, suatu keajaiban yang tuhan berikan. Aku menghabiskan banyak waktu bersama bunda.

“Ayo bunda, kejar aku dong”
“Curang, bunda kan tidak bisa berlari. Awas ya saras nakal”
“Hahahaha, bunda ayo duduk di sini”

Aku dan bunda duduk di tepi danau, sebelumnya aku sudah memetik bunga mawar. Aku memakaikannya di telinga bunda, bunda sangat cantik. Aku ingin suatu hari nanti bunda mau menikah dan bahagia. Mempunyai seorang anak yang lucu, yang saat itu menjadi adikku. Tapi aku tak bisa memaksakan keinginanku jika bunda tak menginginkannya. Bunda bilang “Dengan memiliki saras saja sudah cukup”.

Sekarang aku sudah kelas III, banyak kegiatan yang menyita waktu. Saat bersama bunda hanya pada malam hari, bunda kini menekuni bisnis menjahit. Setiap hari banyak sekali pesanan, tapi aku belum sempat membantu bunda. Pada malam itu bunda memberikan sebuah kebaya berwarna merah hasil jahitan tangannya sendiri. Aku sangat suka!

Karena kesibukkanku aku jadi jarang sekali memperhatikan bunda hingga suatu hari bunda terbaring lemah. Kejadian tahun lalu terulang lagi. Dokter bilang sel kanker yang pernah hinggap di tubuh bunda kambuh lagi, itu adalah kenyataan terburuk dalam hidupku. Mengapa bunda merahasiakan semua ini dariku! Hingga seminggu sebelum kelulusan, elin sepertinya marah padaku. Aku memang menyembunyikan sesuatu darinya, tapi aku sangat membutuhkan elin saat itu. Kondisi bunda semakin memburuk hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Semua yang kelam dalam hidupku kembali mengusik. Aku sangat takut kehilangan bunda, aku ingin menceritakan semuanya pada elin. Terlebih aku sebenarnya sudah kehilangan bunda. Tak ada lagi tempat berbagi cerita, waktu kuhabiskan untuk merawat bunda.

Tiga hari sebelum kelulusan, elin mengirimkan surat padaku…

Untuk Saras Josoehandy…

Cerita apa yang belum kamu lunasi? aku masih menantinya, ingin sekali aku mendengar ceritamu. Tapi kita mempunyai hidup yang sulit untuk diceritakan, bahkan mungkin kita mempunyai cerita yang sama…

Saras… Percayalah aku menyayangimu.
Aku tak pernah marah padamu, aku sudah tak sanggup lagi bermimpi. Tetaplah berjalan, aku selalu di belakangmu. Namun waktu memisahkan, maaf aku belum bisa menemuimu lagi. Saat pulang sekolah kemarin itu, mungkin waktunya kamu menceritakan semuanya. Tapi kamu masih saja ingin menyembunyikannya. Aku berharap kita benar-benar bersahabat, tapi aku ini bukan sahabatmu…

Mungkin pertemuan kemarin adalah yang terakhir, kita bertemu lagi nanti ya! Maafkan aku jika aku juga menyembunyikan semuanya.
Jaga dirimu baik-baik…

Elina. J

Saat aku selesai membaca surat darinya, aku berniat mencarinya meskipun selama ini mungkin aku terlihat tak peduli. “Tunggu aku lin, aku juga sayang padamu” Setelah beberapa jam mencari alamat rumahnya tiba-tiba handphone bunda berbunyi…

“Hallo”
“Apa? saya akan segera ke sana”

Setibanya di rumah sakit…
Aku tak mempunyai keberanian untuk melihatnya. Kenyataan bahwa bunda pergi secepat ini!

Di bawah langit yang redup, aku duduk di samping tanah yang masih basah. Aku merasakan kehadiran bunda… Menatap batu nisan, nama bunda tertera disana. Kutitipkan do’a pada hujan yang menemaniku saat itu, menghapus air mata dan duka. Tak sekalipun kulihat elin di sana, seharusnya elin sudah tahu berita kematian bunda sebab teman sekolahku pun datang kepemakamannya.

Setelah itu, aku tak lagi mencari elin. Sudah kuputuskan sejak dulu, aku akan kembali ke jakarta dan bekerja di sana. Aku tak berniat melanjutkan sekolah ke tingkat akhir. Ternyata pindah ke sini pun tak menghapus ingatanku tentang ibu. Rumah bunda yang dijual dahulu, aku merindukannya. Saat kembali ke jakarta, aku akan mencari uang yang banyak dan membeli kembali rumah itu.

Saat hari kelulusan…
Bunda tak hadir di sana, kulihat semua anak hadir bersama orangtuanya. Aku menggunakan kebaya merah yang bunda buatkan dulu. Warnanya masih cantik dengan hiasan bunga dibagian dada sebelah kiri, rambutku digelung berhiaskan benda berwarna putih mengkilau dan kalung berbentuk bintang yang bersinar terang. Saat pembacaan puisi yang seharusnya dibacakan elin, tak juga kulihat elin. Hingga sesuatu yang terjadi membuat semua orang ramai membicarakannya. Kabar dari elin membuyarkan semua ingatanku. Belum habis kesedihanku, elin sahabatku yang malang dilarikan ke rumah sakit akibat diracuni ibunya.

“Aku sudah lelah bu, aku ingin bertemu mama”
“elin sayang lelah? ibu juga. Hahahaha, elin mau makan? ini enak, tidak seperti biasanya. Nasinya tidak basi dan ini bukan tulang, ini daging yang enak”
“Sampai kapan ibu mau memaafkanku? ini sudah 4 tahun sejak ibu datang dan menghancurkan semuanya. Kembalikan mamaku bu”
“Elina mau mama? elin makan dulu, sudah 2 hari elin belum makan. Ibu kasihan, elin juga pasti tidurnya tidak enak. Di sini banyak tikus ya, ibu janji setelah ini semuanya berakhir”

Aku berlari ke ruang UGD, dokter melarangku untuk masuk menemui elin. Linangan air mata merusak wajahku, kebaya yang kugunakan sudah tidak cantik lagi. Semuanya tak beraturan! dokter keluar bersamaan dengan mayat elin, semuanya sudah terlambat. Kain putih yang menutupi tubuh elin, elin tak menyingkirkannya. Tubuhnya dingin dan kaku.

Lagi-lagi semuanya terasa seperti mimpi. Tiba-tiba dokter datang memberikan surat yang elin titipkan padanya sebelum pergi. Aku membukanya sebelum pemakaman dilangsungkan.

Untuk Saras Josoehandy…

Maaf seharusnya aku membicarakan ini langsung padamu. Sepertinya akhir-akhir ini kamu sibuk sekali, sampai waktu memisahkan kita. Kudengar bundamu masuk ke rumah sakit, maaf aku tak bisa menemanimu. Mungkin seminggu ini aku tak masuk sekolah karena ibu mengurungku di dalam gudang. Jangan marah pada ibu, aku yang nakal. Surat yang kuselipkan di pintu rumahmu waktu itu, aku menyempatkannya karena berhasil lolos dari ibu tapi ibu menemukanku dan menyuruhku untuk menjauhimu. Ibu tak membencimu, ia hanya takut aku melukaimu…

Kisah yang akan kuceritakan…
Empat tahun lalu, kupu-kupu hidup bahagia bersama ibu dan ayahnya. Kemudian ibu kunang-kunang datang dan merebut semuanya. Kebenciannya terhadap kupu-kupu teramat dalam hingga membunuh ibu dan ayahnya, kemudian kupu-kupu hidup sendiri dan ibu kunang-kunang menemaninya. Setiap hari, kupu-kupu hidup menderita. Ibu kunang-kunang menceritakan bahwa ia juga ibu dari kupu-kupu yang telah lama dibuang. Akhirnya mereka hidup bersama, tapi ibu kunang-kunang selalu menyiksanya. Kupu-kupu menjadi sedih. Suatu hari kupu-kupu bertemu kunang-kunang yang cantik, mereka akhirnya berteman. Sinar kunang-kunang yang indah membuat kupu-kupu juga bersinar terang. Kupu-kupu adalah aku dan kunang-kunang itu bernama SARAS josoehandy…

Aku dan saras akhirnya bersahabat, kami satu kelas. Hanya saras yang mau berteman denganku. Kami bersahabat cukup lama hingga kusadari nama belakang kami sama. Namaku disingkat menjadi Elina J karena ibu yang menyuruhnya. Hingga suatu hari aku meminta bunda susan menceritakan semua tentangnya. Dan benar, saras adalah adikku. Adikku yang manis, maafkan aku yang menyembunyikan semua darinya. Aku tak berani mengatakan padanya, aku takut sarasku membenci kakak yang sudah merebut kebahagiaannya.

Saras, aku akhirnya mengerti mengapa ibu memperlakukanku dengan buruk. Ini semua demi kamu, ibu bilang saras juga pernah menderita seperti ini. Ini semua salahku, andai saja mama tak menikah dengan ayah yang ternyata sudah menikahi ibu. Tepat saat hari kelulusan adalah hari kelahiranku dan seminggu setelahnya adalah hari kelahiranmu, masih ingat? setiap tahun kita merayakannya dengan saling menatap bintang, semoga kita masih bisa melihat bintang dihari itu. Melihat mama…

Tiga tahun sejak kita lahir, ayah lebih memilih menghabiskan waktunya di karawang bersama aku dan mama. Hingga suatu hari ayah pergi ke jakarta untuk menceraikan ibu, kenyataannya ayah tak kembali karena ibu mensabotase mobilnya hingga terjadilah kecelakaan yang menyebabkan ayah meninggal. Tapi ibu datang dan mengatakan ayah menceraikan mama, mama sangat terpukul dan akhirnya menikah lagi. Ini semua salahku, maafkan aku saras…
Semoga kamu tidak membenci kakakmu ini. Aku rela membayar semuanya untuk menebus kesalahanku. Pasti selama ini, saras menderita ya? Kenapa kamu tak pernah menceritakan semuanya? aku hanya ingin tahu, apa kamu membenciku? tapi aku ini memang bukan sahabatmu…
Jika nanti aku telah tiada, jaga dirimu baik-baik. AKU SAYANG KAMU adikku yang manis…

Elina. J

Aku memakamkannya di samping makam bunda. Aku masih menatap batu nisannya…
Elina Josoehandy Binti Josoehandy
Lahir 2002
Wafat 2017

Kehilangan orang-orang yang kusayangi adalah hal yang paling menyedihkan dalam hidupku.
“Ka elina… Tak seharusnya ibu melakukan ini pada kita. Seharusnya kita bahagia bersama-sama, ibu memilih jalan hidup yang salah. Aku tahu ibu sangat menyayangiku, aku percaya pada bunda. Maafkan aku, ini semua bukan salah kakak juga bukan salah ibu. Aku sayang kalian. Aku tak membenci kakak, maaf aku tak menceritakannya karena aku begitu sangat merindukan ibu. Mengapa kalian pergi sebelum aku berhasil membahagiakan kalian”

Keesokan harinya aku mendatangi kantor polisi yang menahan ibuku…
“Permisi pak, saya ingin bertemu dengan pelaku pembunuhan anak kemarin. Beliau bernama Erika moela”

Pihak kepolisian menyatakan bahwa ibuku mengalami masalah kejiwaan. Ibuku dipindahkan ke rumah sakit jiwa di jakarta. Keputusanku untuk pindah ke jakarta semakin bulat.

Aku mendatangi makam bunda dan ka elina…
“Bunda, kakak… Maafkan aku, aku meninggalkan kalian di sini. Aku harus menjaga ibuku. Doaku selalu menyertai kalian”

Aku akhirnya kembali ke jakarta. Dengan sisa uang tabunganku. Setelah beberapa hari mencari kosan, akhirnya aku menemukannya. Meskipun kosannya sangat kecil dan murah, tapi aku sangat senang karena dekat dengan rumah bunda dulu. Aku lupa jika hari itu adalah hari kelahiranku, malam datang lagi bersama bintang. Aku menatapnya, di sana ada ayah, ibu, bunda, kakak dan aku. Kami tertawa bersama.

Setelah itu, uangku mulai menipis
Beberapa bulan kemudian…
Sambil bekerja aku menulis sebuah novel berjudul “Bintang Di hatiku”. Sudah beberapa hari setelah novel itu terbit, datang seorang produser menawarkan agar novel yang kubuat dijadikan sebuah film. Beliau bernama… “Hery pradiyo”

“Saras Josoehandy”
“Setelah membaca novelmu, aku tambah yakin bahwa kau adalah orang yang kucari selama ini. Kau adalah saras teman kecilku, apa kau betul-betul melupakanku?”

Dia adalah hery, anak laki-laki yang dulu sudah membantuku. Karena terpukul atas kepergian ibu, aku jadi melupakannya. Berkat kegigihannya, akhirnya hery sukses menjadi produser film di jakarta.

“Aku selalu menunggumu di bawah jembatan dimana dulu kau menceritakan semuanya. Aku tak pernah melupakanmu, walau hanya sekali kita bertemu”
“Maaf, aku…”
“Sudahlah, aku tahu semuanya lewat novelmu. Ayo ikut denganku”
Hery terus menarik tanganku menjauhi beranda rumah. Hanya dengan berjalan kaki, kami sampai di sebuah rumah.

“Rumah bunda”
“Iya, aku membelinya kemarin saat kutahu ini rumah bundamu”

Aku bergegas masuk ke dalamnya, air mata mengucur dari balik mataku. Meskipun tampak berbeda, semua kenangannya masih sama. Tertata rapi pada tempatnya. Dering handphone peninggalan bunda berbunyi, kali ini nada deringnya adalah lagu yang sering bunda nyanyikan saat aku sedang sedih.

Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa…
Hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia…

Kulihat bayangan bunda tersenyum padaku, saat kulihat layar “Ibuuuuuuuuuu…”

“Hery aku harus pergi menemui ibuku…”
Aku berlari meninggalkan hery, selama di jakarta aku hanya 2 kali menemui ibu! karena sibuk bekerja di sebuah toko mainan.
“Heiii, biarkan aku yang mengantarmu”

Setibanya di rumah sakit, aku melihatnya. Senyuman itu…
“Jadi itu ibumu?”
“Iya, bintang di hatiku…”

Selesai

Cerpen Karangan: Dheea Octa
Facebook: Octavhianie Dheea

Cerpen Ibu Bintang Di Hatiku (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabatku Di Papua

Oleh:
Hai, namaku Amanda Floresia dan biasa dipanggil Flo. Aku asli Jogja tapi sementara ini aku tinggal di Papua karena ayahku mendapatkan tugas di sini. Aku senang di sini karena

Gadis Bermata Sendu

Oleh:
Gadis itu berlari, tak peduli angin menerpa. Matahari begitu terik, sampai burung tak berkutik. ia terus melangkah dengan derap yang sangat cepat. “Ibu kembali, Bu! Kumohon” teriak si gadis

Mempunyai Adik Baru

Oleh:
Hai namaku Nabilah Azahro, cukup panggil Aza saja. Aku bersekolah di Min Pelaihari. Pada hari Senin (Tanggal 20 juni 2016) pada jam 4 subuh terdengar suara orang menangis, pada

Rumah Kenanga

Oleh:
Terik matahari di Jakarta pagi ini tidak sedikit pun menghapus semangat gadis berusia 19 tahun ini. Ia sibuk sekali dengan perabotan yang sedang ia masukan ke dalam sebuah kardus

My Brother is My Life

Oleh:
“Ma! Al! Kakak berangkat ya!” pamit kak Vivo. “Iya, kak!” jawabku dan Mama. Hai, Aku Alicia Clara Lauretha. Biasa dipanggil Alicia atau Al. Aku memiliki kakak bernama Vivo Ali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ibu Bintang Di Hatiku (Part 2)”

  1. purwa says:

    Wah bagus cerpennya!!! Menyentuh bgt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *