Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 June 2013

Lagu “Afika – you’re my everything” mengalun mesra, Senja kembali hadirkan suasana hening, cahayanya menembus jendela kaca menerpa mataku.

Aku terbangun dengan cepat ketika guyuran air comberan menggigilkan tubuh kurus ini. Seorang wanita dengan sapu dan ember hitam di tangan, berdiri dengan wajah yang di buat jelek padahal memang sudah jelek, wanita cantik ini bukan tukang sapu jalanan tapi dia adalah ibuku.

Namaku julia, hari libur kuliah seperti ini memang paling mantap ngopi bareng malaikat di alam mimpi.
Ya, seandainya itu bisa, karena mamaku tak akan mengizinkannya, menyebalkan memang, tapi aku tak punya pilihan istimewa selain mengerjakan apa yang bisa ku kerjakan hari ini setidaknya meringankan beban hidup kami, mulai dari jaga toko, membersihkan rumah dan nonton Tom and Jerry kids sambil nangis-nangis jungkir balik di plafon? ok… itu tidak penting..!

Namanya ku Julia, dan Wanita yang tak bisa bicara itu adalah Ibuku, kalian bisa memanggilnya Melinda.

kejadian dua tahun yang lalu, rumah kami terbakar membawa semua kesenangan yang ku anggap istimewa saat itu. Harta, surat penting, terlebih lagi Ayah dan kaka ku yang ku sayangi. Aku tahu tuhan lebih sayang

Sejak itu Ibuku tak mau bicara, dan dokter mengatakan Tragedi kebakaran itu membuat Ibuku trauma yang teramat dalam dimana hal itu membuat otak tak berfungsi sepenuhnya. entah apa maksudnya tapi yang ku tahu sekarang Ia tetap Ibuku, wanita yang melahirkanku dengan pertarungan nyawa.

Hanya teriakan doa di setiap malam ketika aku ingin terlelap untuk kesembuhan ibuku, meski sekarang keadaannya lebih baik, hampir 90 % kondisinya, tapi ia masih tidak mau berbicara. kadang aku kesal. karena di rumah ini terasa seperti kota mati, dimana seorang Ibu dan Anaknya yang tak bisa saling menyapa.

Setiap malam ketika aku ingin berkutat dengan skripsiku, atau ketika aku terlelap indah dengan tidurku.
aku terpaksa bangun dan menenangkan ibuku yang meronta dan berteriak di kala malam dingin, seperti biasa pasti ia mimpi lagi.
dan biasanya hanya itu yang membuatnya sedikit tenang dan memeluk tubuhku dan mencekramnya kuat sambil menyebut Nama ayah dan kaka ku, aku hanya terdiam terpana terbata menahan sesak di dadaku, tangis yang tak bisa lagi ku bendung.
Memang tak setiap malam namun, menurutku itu mengusik tetanggaku. walau semua tetangga memakluminya.

Mamaku yang terlahir dari keluarga berada, menikah dengan ayahku yang seorang pengusaha dan membangun segala bisnisnya dari Nol sampai jatuh bangun, walau pada akhirnya kesibukan itulah yang terkadang membuatku dan kakak hanya bisa pasrah.

Ketika pulang dan ingin makan yang kami temukan secarik kertas bukan mereka, hanya lembaran kertas perintah untuk kami memesan makanan, ketika aku melihat semua anak berjalan di keramaian dan memegang erat tangan mama atau papanya, aku akan tertunduk dan memperhatikan dengan perasaan iri sekali, terkadang aku ingin seperti itu. Walau untuk sekarang rasanya tak mungkin.

Pada suatu malam kakak ku pulang dengan sempoyongan, dari bicaranya bau alkohol dan pada siang harinya kakakku over dosis, namun tuhan masih sayang padanya, ia masih di beri kesempatan setelah menjalani beberapa kali rehabilitasi, Namun lagi-lagi ia terjebak dengan Nark*ba. Ayahku sangat marah dan menampar serta mencabuk punggung kakakku dengan ikat pinggang, tapi mungkin karena pengaruh obat, ia hanya mengeluarkan air mata dan sumpah serapah pada ayah yang membuatnya makin kalap.

Mamaku memelukku kuat dan kami hanya ketakutan sambil mengintip dari lubang jendela.
Dari situ mamaku memutuskan berhenti mengurus bisnis dan berjanji menjaga kami di rumah, menyiapkan segala yang kami butuhkan, aku dan kaka sangat senang, meski terasa kurang karena Ayah yang sibuk sekarang.

Sekarang lagi-lagi ayahku yang berulah dengan tingkahnya membuat makan malam kami berantakan malam itu karena keributan Ayah dan Ibu di ruang makan. Kakak ku menaruh sendoknya dan berjalan lunglai ke lantai dua dan menghidupkan musik sekerasnya, mungkin ia iangin berteriak pada nestapa dunia. Aku juga pergi ke wc meninggalkan papa dan mama yang perang kata-kata. Seperti hewan malam yang siap bertarung mendapatkan kekuasaan, sungguh aku benci melihatnya.

Aku menatap bayangan ku pada kaca, memperhatikan seluruhnya dari ujung kaki sampai rambutku yang mulai tak terurus, aku bisa merasakan tak ada kebahagian disana, sebutir cahaya terang pun tidak nampak.

Hujan malam ini hadirkan kesunyian dan kebisuan, rumah ini terasa seperti kota mati dimana penghuninya adalah Ibu, Ayah, Kakak dan Aku namun lebih terdengar seperti penghuni kuburan yang walau untuk menyapa saja enggan karena alasan yang tak jelas.

Aku meraih remote tv dan menghibur diriku dengan menonton, namun tak ada hiburan untuk hatiku, semua terasa memuak kan. Aku naik ke kamarku dan wanita cantik itu alias mamaku berdiri di pintu, membawa makanan ringan di tangannya, beberapa kali mengetuk pintu, mungkin ia mengira aku akan membuka pintu, ia tak menyadari aku mengintip di belakangnya, ia pergi sambil meletakan makanan itu di lantai dan sebuah surat, aku berlari mengambil dan melihat isinya


Mama tak sanggup lagi julia!! Kamu tahu mama amat menyayangi dirimu, kakamu, dan ayahmu tapi aku lelah sekarang, aku bosan, aku muak…!

Apa yang harus ku lakukan?
Jika aku tak ada suatu hari nanti maafkan aku dari lubuk hatimu.
Terkadang semasa aku remaja, aku membayangkan sebuah pernikahan yang istimewa punya anak dan hidup bahagia seperti cerita cinderella
Itu memang kebahagiaan itu terjadi di awal dan setelahnya aku sadari kini tak ada yang penting selain bersama kalian

Aku berlari ke kamar Ibu dan memeluk dirinya erat, perlahan ia terbangun dan membalas pelukanku, diiringi tangis mendalam malam itu seperti teletubies yang berpelukan.

Aku keluar dan melihat kaka ku yang tertidur pulas di depan tv, aku mengambil selimut dan membungkus tubuhnya yang meringkuk kedinginan.

10-03-13
Pagi ini mamaku tak bisa bangun karena alasan sakit, papaku pergi dengan mobil pribadi tanpa menegur kami yang sedang sarapan di meja makan. seperti kami bukan Anaknya. Mamaku menaruh rotinya dan mengambil roti untuk Aku Dan Kakak yang sedari tadi terdiam dengan kebisuan ini.
“makanlah nak!, nanti kalian sakit seperti Ibu” sambil mengolesi selai dan memberikan pada kami.

13-03-13
Hari ini Ayah pulang cepat, menaruh koper dan mengajak kami jalan-jalan untuk pertama kalinya. Ia pasti tahu mama hanya pura-pura sakit dan untuk pertama kalinya ia mengecup kening mama dengan cinta. Ibuku memeluk tubuh Ayah seakan tak mau di lepas lagi di dalam mobil. Aku dan Kaka tertawa kecil. Hari ini semua terasa spesial, aku merasakan kedamaian luar biasa. Kami berjalan ke taman Jaya Ancol. menikmati hiburan Biang lala. Meteor attack, perang Bintang dan banyak lagi. Sampai pulang kelelahan.

16-03-13
Hari ini ayah terlihat murung di dekat jendela menatap langit, di samping ibuku, mereka terlihat menangis dan sepertinya mereka membicarakan kami. Mulai dari aku menyelimuti kaka di depan tv, mama menaruh makanan di depan kamarku, dan aku yang memeluk mama malam itu. ternyata ayah mengintip dan melihat itu semua, ia mengatakan ingin merasakan itu juga suatu saat nanti. Mama memeluknya dan mereka terdiam untuk waktu yang lama.

“mama bisnis kita gagal, saya minta maaf tidak bisa mempertahankan apa yang sudah kita tekuni beberapa tahun ini? kata papaku ketika esok menjelang dan ia tak masuk kerja. Ia duduk di meja makan sambil mengolesi selai ke rotinya tanpa tenaga.
Ibuku menatap kami dan melihat Ayahku yang tak bisa tersenyum lagi.
“tidak apa-apa sayang, yang penting kita bisa mempertahankan keluarga kecil ini” kata mama yang perlahan membuat Air mata papa mulai jatuh.
“jadi Mama tak marah..?” Ayahku seperti orang penasaran.
Ibuku menggeleng dengan pasti. Ayahku langsung berdiri memeluk serta mencium kening mama. Aku dan kakak berdiri dan ikut memeluk mereka.

18-03-16
Hari ini rumah kami terbakar karena konsleting listrik, aku dan mama yang berhasil di selamatkan petugas pemadam kebakaran. sementara Ayah dan Kakak…

Mamaku beberapa hari ini belum menunjukan tanda-tanda pemulihan. infus menjalar di tubuhnya dimana-mana.
Aku menunggu dengan sabar di setiap malam di sampingnya.
pada hari ke dua mamaku sembuh, tapi.. setelah itu, sehabis Kaka dan Ayahku di kuburkan…

Ya begitulah keadaannya sampai sekarang?, dan aku berjanji untuk menjaganya. Wanita tua ini, kulitnya mulai kusut dan kadang keriput mulai mengambil masa remajanya. Tapi pengorbanan dan cintanya akan selalu sepanjang masa. Bagai sang surya menerangi dunia. Ya, itulah mahkluk tuhan paling sempurna yang kita sebut IBU

Cerpen Karangan: Alfred Pandie
Facebook: alfredpandie[-at-]yahoo.com
Semoga kalian termotivasi

Cerpen Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Menyesal Ibu

Oleh:
Aku pulang sore hari. Sudah Kuduga, semuanya akan terjadi. Memilih untuk menunda pulang karena hujan yang begitu deras. Namun apa yang ibu pikirkan berbeda. Badai nampaknya akan datang menghampiriku.

Semua Ini Terjadi Secara Tiba Tiba

Oleh:
UASBN hampir tiba. Aku belajar dengan bersungguh-sungguh. Aku ingin menunaikan harapan ayah terhadapku, menjadi orang yang berjaya dalam hidup. Bagiku, UASBN adalah langkah pertama untuk mencapai kejayaan. Aku hanya

Bunga Tidur Jagoan Mama

Oleh:
Terlahir menjadi seorang laki-laki dari sepasang raja dan ratu yang telah mengindahkan hidupku. Ucapan beribu terimakasih sama sekali tidak cukup untuk kupersembahkan kepada mereka. Bahkan sekuat apapun usahaku tetap

Papa, Peluk Aku Sekali Saja

Oleh:
Namaku Annisa Ekayanti Putri Utami. Umurku tahun ini menginjak angka 16. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Adikku bernama Anindita Dwi Putri. Usiaku dan usia Dita hanya selisih dua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *