Ibuku Sayang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 25 November 2018

Di suatu perkampungan yang dipenuhi dengan sawah ada sebuah keluarga yang tinggal secara harmonis. Mereka mempunyai dua orang anak perempuan yang bernama Ita dan Mita.

“Anak kita sudah besar ya bu,” kata Bapak Sutomo, Bapak paruhbaya ini bekerja sebagai seorang petani di kampung mereka tinggal.
“Iya Pak anak kita sudah besar”, Sahut Hartati sambil tersenyum ke arah suaminya.

Tidak disangka Hartati Istri dari Bapak Sutomo ini orangnya pemarah, dia sering memarahi anaknya sendiri dengan nada keras dan berkata kasar, karena emosi labil disebabkan pernikahan muda yang sudah dialaminya membuatnya belum bisa berfikir dewasa sehingga sering sekali dia memarahi kedua buah hatinya itu.

“Mbak kenapa sih Ibu selalu memarahi kita?” Tanya Mita
“Ga marah Dek Ibu sayang kita kok!” Kata Ita dengan lembut kepada adiknya yang masih berumur 6 tahun dan terpaut usia dengannya 2 tahun.

Berbeda dengan sifat Istrinya Sutomo seorang suami yang penyayang. Pria ini tidak pernah marah sedikitpun terhadap kelakuan Istrinya yang kadang memarahinya jika dia tidak pergi ke ladang. Karena Sutomo menyadari Istri yang sudah dinikahinya selama 10 tahun itu terlalu muda untuk menjadi seorang Istri sekaligus Ibu dari dua anak mereka.

Pagi hari sebelum ke ladang untuk membantu suaminya Hartati harus terlebih dahulu mengurus keperluan rumah tangga, tetapi semua pekerjaan rumah tangga itu bukan dia yang mengerjakan melainkan mengandalkan tenaga dari putri sulungnya Ita.

“Ita!!! Ita!!! Kemana sih tu anak dipanggil ga nyahut”, dengan nada marah Hartati terus berteriak memanggil anak sulungnya itu. Setelah membuka kamar emosi Hartati kembali memuncak karena anak sulungnya itu masih tertidur dengan lelap.
“Heh bocah pemalas enak-enakan kamu tidur udah jam segini juga ga bangun.” Cepet kerjain semua pekerjaan rumah ini bentak Hartati dengan nada tinggi.

Karena masih merasa mengantuk Ita kembali melanjutkan tidurnya, hingga Ibunya datang lagi dan kembali memarahinya.
“Ita kamu ga mau bangun? mau kusiram dengan air? kamu enak ga nyari uang bisanya cuma minta doang pengen ini itu tapi malas, bodoh kamu!! Cepat bangun!!” sambil menjambak rambut anaknya.
“Iya bu Ita minta maaf”, sahut Ita dengan nada lirih.
“Maaf katamu? Maaf aja terus sampai mampus!! Cepet kerjain semua pekerjaan rumah ini, kalau sampai aku pulang dari sawah masih belum beres jangan harap kamu makan hari ini!” pergi berjalan menuju ladang.

Ita menangis menahan Amarah dalam hatinya dia berkata, “Ibu kamu malaikatku kamu sosok panutanku tapi kenapa dirimu memarahiku setiap hari seperti ini, jikalau aku salah kamu seharusnya memberikan aku nasehat dan menyuruhku dengan baik bukan dengan cara memarahi dan mngeluarkan cacianmu, Ibu aku sangat menyayangimu!”.

Walaupun sang Ibu memarahinya setiap hari Ita tidak pernah merasa dendam kepada ibunya, dia hanya bisa menangis menahan Amarah saja karena dia tau betapapun Ibu marah kepadanya itu semua karena salahnya. Mita adiknya yang masih kecil pun kerap dihardik Ibunya, karena kelakuan nakal yang tidak pernah mendengarkan perkataan ibunya.

Hari sudah Siang orang-orang di ladang sudah kembali satu persatu ke rumah mereka masing-masing, begitupun dengan Bapak Sutomo dan Istrinya, Ita yang dibantu Adiknya Mita tengah asyik di dapur memasak makanan untuk Bapak dan Ibunya sehingga tidak mendengar Ibunya memanggil-manggil mereka di luar.

“Ita…!! Mita..!! Di mana sih tu Anak” Perasaan kesal.
“Sabar Bu mungkin mereka sibuk di dapur” Sahut Bapak.
“Bapak ini selalu saja membela mereka, Anak-anak itu kurang ajar setiap dipanggil lama sekali menjawabnya andai aku mau mati itu anak berdua pasti sudah liat jasadku saja lagi” Sahut Hartati nada tinggi.
“Astagfirullah Ibu… keterlaluan kamu, sama anak sendiri saja begitu” Pergi menuju dapur.

Benar saja apa yang ada dipikiran Sutomo terhadap kedua anaknya, mereka memang tengah asyik memasak makanan sehingga tidak mendengar suara ibunya memanggil-manggil.
“Nak, (Ucap Sutomo) keluar sana, Ibumu dari tadi memanggil-manggil kalian berdua”. Dengan Nada lirih Sutomo menyuruh kedua anaknya keluar karena terlalu lelah Sutomo akhirnya merebahkan badannya dikasur dekat dapur.
“Baik Pak” Sahut kedua anaknya serempak.

Sebelum menghampiri Ibunya Ita berpesan kepada Adiknya agar jangan kesal kalau nanti mereka dimarahi sang Ibu. Karena Ita tidak mau sampai Adik kecilnya ini menaruh dendam kepada ibunya sendiri.
“Dek jangan kesal ya kalau ibu entar memarahi kita”, mengelus Adiknya dengan penuh kasih sayang.
“Iya Mbak,” sembari menyempatkan senyum.
Dalam hati Ita berkata “ia harus sanggup menahan segala Amarah yang ada dalam dirinya bagaimanapun juga yang memarahinya adalah Ibu mereka sendiri, Ibu yang sudah mengandung dan berjuang untuk kelahirannya di dunia. Ya Allah lapangkan hatiku dan hati Adikku agar tidak ada dendam sedikitpun terhadap Ibuku”.

Sesampainya di depan Ibu, Ita memberanikan diri memulai pembicaraan dengan nada tergetar karena ada perasaan takut.
“Ibu… maaf, kami tidak mendengar Ibu sudah memanggil-manggil tadi.” Kata Ita.
“Iya Bu Maafin Mita sama Mbak Ita yaa..” Sahut sikecil.
“Kalian berdua memang sering sekali kalau Ibu memanggil lama untuk menjawabnya” Sambil menjewer telinga kedua anaknya.
“Telinga kalian ini harus dibersihkan biar tidak tuli seperti ini lagi, andai saja Ibumu ini meminta tolong, kalian lama untuk menjawabnya dan bahkan lama untuk menengok apa yang sedang terjadi terhadap ibumu, apa kalian tega melihat Ibumu mati? Hah..!!!” Dengan Nada keras sambil meneteskan Air mata.
“Ibu sangat menyayangi kalian anak-anakku tapi sifat Ibu yang pemarah inilah yang menyebabkan kalian harus setiap hari terkena omelan Ibu”, Kata Hartati dengan suara lirih.
Melihat Ibu menangis Ita dan Mita lekas memeluknya.
“Ibu jangan menangis Ita tau kok Ibu menyayangi kami berdua, Ibu memarahi kami bukan karena tak sayang tapi karena kelakuan kami sendiri,” Sahut Ita sambil terisak karena dia juga menangis.
“Iya Bu, benar kata Mbak Ita Ibu jangan menangis lagi ya.” Pinta sikecil Mita.

Suasana yang menegangkan tadi perlahan berubah menjadi suasana haru, emosi Hartati pun sudah menghilang, akhirnya mereka bertiga saling berpelukan dan berkasih sayang sebagaimana biasanya sikap seorang Ibu terhadap anak-anaknya.
“Sudahlah anakku, Kalian jangan bersedih lagi Ibu sudah tidak marah dan Ibu ingin meminta maaf kepada kalian berdua, karena Ibu sering sekali marah bahkan menjewer kalian seperti tadi.” Sembari kembali memeluk kedua anaknya.

“Kalian sudah masak tadi?” Tanya Hartati mengembalikan suasana yang semula mengharukan.
“Sudah kok Bu ayo kita makan sama-sama” Sahut Mita dengan wajah semeringah karena bahagia sudah bisa merasakan kasih sayang sebenarnya dari sang Ibu.
“Ayoooooo…” Ucap Ita dan Hartati serempak.

Dengan riang mereka bertiga masuk kedalam rumah menuju dapur untuk makan siang bersama-sama.
“Bapak ayo bangun, Kita makan sama-sama” Ucap Hartati kepada suaminya yang tengah terlelap di kasur dekat dapur.
“Iya Istriku sayang” Sahut Sutomo sembari bangun dari tempat tidur dan melempar senyum kepada istrinya.

Akhirnya mereka semua pun menikmati hidangan makan siang yang sudah disajikan kedua anak mereka dengan penuh rasa syukur.
Dalam hati Ita berkata kembali, “Ya Allah terima kasih sudah memberikan kesempurnaan dalam hidupku, aku mempunyai seorang Bapak yang penyayang dan penyabar mempunyai seorang Ibu yang penuh kasih sayang, walaupun sering marah aku tetap sayang padanya. Karena mereka Bapak Ibu aku bisa hadir di dunia ini. Terimakasih juga Ya Allah engkau telah anugerahkan kepadaku seorang Adik yang lucu dan pintar seperti Mita, Ya Allah terima kasih banyak atas semua ini aku merasa hidupku terasa sempurna karena hadirnya mereka di sisiku”.

“Ibu Bapak semoga kalian sehat terus ya, Aku dan Adik sangat menyayangi dan mengormati kalian berdua” Ucap Ita memecah suasana hening karena sekeluarga sedang menikmati makan siang.
“Iya Anakku kalian berdua memang segalanya bagi Ibu dan juga Bapak” Sahut Hartati sembari melempar senyum kearah suaminya.

Mereka hidup dalam keharmonisan dimana sifat Ayah dan Ibu mereka yang berbeda jelas sangat menguji perasaan, apalagi sifat Ibunya yang pemarah kadang menyisakan emosi yang menyesakkan dada. Tetapi meskipun begitu, tidak sedikitpun Ita dan Mita menaruh dendam terhadap sang Ibu, karena mereka tahu Ibunya sangat menyayangi mereka berdua dan jika Ibunya marah itu karena kesalahan mereka sendiri.

Cerpen Karangan: Miftah Zainah
Blog / Facebook: Miftah Challa

Cerpen Ibuku Sayang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Hero

Oleh:
Namanya adalah Nova Ayunda, panggil aja Nova. Dia hidup dibesarkan oleh seorang ayah yang pekerja keras. Ibunya meninggal ketika dia berumur 5 tahunan. Dia belum mengatahui penyebabnya, dan dia

Kasih Sayang Seorang Ayah

Oleh:
Suatu hari saat diriku masih kecil, ketika aku masih berumur 3-4 tahunan. Aku belum kenal sama sekali akan suara “burung”, hanya saja aku mengerti namanya. Dihari pagi yang cerah

Satu Surah Untuk Kepergianku

Oleh:
Senja kembali menghadirkan warnanya yang indah, warna merah dengan kuning keemasan dan memantulkan cahayanya di lautan hingga tidak nampak lagi lautan biru. Angin meniup kerudungku seakan ingin membawanya bersamanya,

Aku Rindu Kedamaian

Oleh:
Malam dingin menemani, simpang siur suara jangkrik yang khas menjadi musik pengiring tidur. Ku lihat jam dinding menunjukkan pukul 22.00, mataku belum ingin terpejam masih beradu pada pena dan

Ayah

Oleh:
Aku masih terduduk di atas tempat tidur yang beralaskan tilam kusut dan lecet. Sebuah ruangan kecil dan sempit hanya berisikan lemari baju dan tempat tidurku. Dengan sebuah daun jendela

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *