Ibuku Surgaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 10 July 2017

Masih kugenggam novel berwarna merah dengan judul “Air Mata Terakhir Bunda”. Air mata yang terus berjatuhan seakan tak ingin berhenti menangisi kepergiannya. Seandainya waktu berputar lebih lambat, aku ingin sekali memahami setiap barisan kata yang kau ucap. “Ibu, kasihmu takkan pernah mengalahkan bintang yang menyinari langit. Tak seperti purnama yang menghiasi bulan-bulan di antariksa, Kau melebihi segala apa yang ada”.

Perempuan yang sering terlupakan. Wujudnya sebagai daun. Rahimnya melahirkan manusia berarti, meski dia terkadang sudah tak dimaknai lagi. Sosok kuat yang menerima garisnya tidak mencari, menggugat atau meminta pertanggungjawaban suami atas kehidupan semua anaknya. Seorang ibu hanya penjejak tetes air mata yang mengukir sejarah luka, duka dan apa saja yang begitu sering membuatnya menangis. Perempuan dapat menjadi selembut sutra, sesejuk daun dan sebening embun dengan cintanya. Laki-laki yang sering menjadi angin berhembus berlalu begitu saja setelah rindunya habis pada perempuan(sang daun) hingga daun itu menguning, kering, berusaha bertahan bergelantungan dengan tangkainya. Bersanding dengan ranting-ranting kurus. Sang angin pun hanya datang untuk menghembusnya. Mengencangkan nafasnya bukan atas rindu lagi, hanya sebatas lalu dia pun pergi setelah sang daun harus gugur ke bumi rapuh terinjak.

“Ayo, Tangkap aku. Tangkap ibu”. “Hahahahaha, awas kalian ya. Kalau ketangkap, ibu makan kalian. Hihihihihi”. “Aaaahhh ibu, awwwww sakit tahu”. “Ibu sini, lihat sini. Aku dapat sesuatu ibu”. “Arghhhh kaka, ibuuuuu”. “Hahahahaha”. Kami sangat bahagia, aku sangat menyayangi mereka. Bagiku hidup bersama mereka tanpa ayah pun aku sudah sangat menikmatinya. Aku sangat membenci ayah yang lebih memilih hidup bersama mereka daripada bersama dengan aku, rena dan ibu.

Ibuku adalah seorang perempuan yang hebat. Membesarkan kami dengan kasih sayang yang seperti air di laut yang takkan pernah ada habisnya. Perempuan penggoda itu hanya menikmati hidupnya dengan harta yang berlimpah pemberian ayah. Aku tak butuh semua itu karena ada ibu di sampingku. Namaku yara, aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Aku bekerja paruh waktu di sebuah mini market dekat rumah. Jika nanti aku sudah bekerja dan mempunyai cukup banyak uang, aku takkan pernah membiarkan ibu bekerja lagi. Melihat senyum di bibirnya membuat aku merasakan indahnya surga.

“Aku pulang”. “Kaka, Kaka bawa roti kesukaanku tidak? Mana kaka, mana?”. “Tadaaaaa, roti isi strowberry dengan topping coklat di atasnya. Yummy”. “Sini”. “Eits, kabulkan dulu permintaanku”. “Baik tuan puteri yara. Akan aku kabulkan permintaanmu”. “Tutup mata lalu cari aku”. “Kakaaaaaaaaa”. Kami berdua tertawa dengan riang. “Tok tok tok tok” Suara pintu diketuk seseorang. “Ya tunggu sebentar”. Aku membuka pintu dengan pelan. Ibuku bekerja di sebuah rumah mewah di persimpangan jalan. Sehabis maghrib ia pulang dan pergi lagi setelah kami berangkat sekolah. Menjadi seorang asisten rumah tangga membuat ibuku sangat letih. Aku sebagai anak tertuanya membantu ibu di rumah. Hari-hari kami bersama ibu kami habiskan setelah senja berlalu. Akhir pekan kami selalu bermain di atas bukit sandiago. Melihat senja yang indah dengan senyum yang menghiasi di atasnya. Waktu menunjukkan pukul 05:30 wib. “Ah, apa ibu sudah pulang? Mungkin hari ini ibu pulang lebih cepat” batinku. “Apa yang anda lakukan di sini? Cepat pergi sebelum aku meludahi wajahmu”. Rena berlari menghampiri kami. “Kaka, Ibu sudah pulang ya”. “Rena, anakku sayang”. “Lepaskan rena, anda tidak berhak menyentuhnya”. “Kamu siapa? Kamu orang jahat itu kan. Pergi dari sini penjahat”. “Ayo rena kita masuk”. Aku menutup pintunya dengan erat. Takkan pernah aku membiarkan orang itu masuk ke istanaku.

“Rena, jangan bilang ibu kalau penjahat itu datang ke sini ya. Kamu tahu kan, ibu akan sangat khawatir”. “Baik tuan puteri yara”. “Hap, ayo kita mandi. Kamu bau sekali. Uweeee”. “Aaaaaargggh, tunggu tuan puteri. Rotinya belum habis”. “Arghhhh ayolah”.

Adzan maghrib berkumandang. Kami segera menunaikan ibadah shalat maghrib bersama-sama. Kebetulan ibu sudah pulang setelah orang itu pergi. Aku takkan pernah membiarkan mereka bertemu. Ibu bilang “Menyimpan dendam pada ayahmu itu tidak baik nak, kamu harus menghormati dan memaafkannya” Ibuku memang perempuan yang sangat baik hingga tidak pantas orang itu melukai hatinya. Aku tak pernah ingin memaafkannya seumur hidupku, aku juga yang menanamkan kebencian di hati rena terhadapnya. Rena tak perlu mengenalnya, ia hanya sampah yang perlu aku buang jauh ke dasar curam yang dalam.

“Ibu, apakah ibu masih mencintai ayah?”. “Mengapa kau tanyakan itu nak? Ibu memang masih mencintainya tapi ayahmu sudah bahagi bersama mereka” Katanya. “Tapi dia telah melukai hati ibu, meninggalkan kita. Ia tak pantas menerima maaf dan kebaikanmu bu”. “Yara…”. “Aku sayang ibu”. Aku berlari ke dalam kamar dan mengunci pintu. Mengapa ayah begitu tega pada kami. Ayah menceraikan ibu demi hidup bersama perempuan itu. Bahkan ketika ibu telah melahirkan rena kedunia ini, ayah lebih memilih perempuan penggoda itu. Apa salah ibu? Ibu hanya tidak ingin membagi cintanya.

8 tahun telah berlalu. Selama itu pula aku menyimpan kebencian padanya. Aku tak pernah mengenalkan rena pada ayahnya. Begitupun ibu, ibu hanya melakukan apapun yang kumau. Sekeras itu ia membesarkan kami dengan keringatnya sendiri. Ibu tak pernah berkata lelah. Ibu tak ingin melihat anak-anaknya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah, pernah ibu memberinya kesempatan. Tapi aku yang tak pernah menginginkannya.

“Ayah berjanji takkan meninggalkan aku kan? Ayah juga akan menjaga adik. Benarkan yah?”. “Iyah sayang, Ayah janji. Jika adikmu lahir, kita akan main bersama”. Saat itu usia kandungan ibu sudah besar, 2 bulan lagi dokter bilang ibu akan melahirkan adikku. Aku tidak sabar menantikan hari itu. Semuanya berubah setelah perempuan itu datang dengan perut seperti ibu. Ia datang mengaku sebagai isteri simpanan ayah. Aku tak pernah ingin mempercayainya. Karena aku sangat menyimpan harapan di sana. Langit ikut menangis bersamaku, ingin sekali aku menjatuhkan perempuan itu dengan bayinya. Aku tidak ingin memiliki adik selain dari rahim ibuku. Ayah telah menorehkan luka yang sangat dalam padaku begitupun juga ibu. Meskipun usiaku saat itu masih 9tahun, aku tahu apa yang terjadi. Ayah mengkhianati ibu. Setelah rena dilahirkan, ayah pergi meninggalkan kami menunggu kelahiran anaknya dari perempuan itu. Aku sangat membencinya.

“Sayang, ayo bangun nak. Nanti kamu terlambat”. “Aku tidak mau sekolah bu, aku mau kerja saja. Aku tidak mau terus merepotkan ibu”. “Yara, ibu tidak merasa direpotkan. Jika karena ibu bekerja, itu semua demi kamu dan rena. Jangan buat usaha ibu sia-sia”. “Arggh, 1tahun itu masih lama bu. Yara ingin cepat kerja”. “Sudahlah, ayo berangkat. Ibu antar”. “Oya, iya. Tapi ibu tak perlu antar. Nanti ibu dimarahi si nenek lampir itu”.

Aku beranjak dari tempat tidurku dan bergegas mandi. Setelah sarapan dan mengantar rena ke sekolah. Aku telah merencanakan sesuatu, aku akan pergi bekerja untuk meringankan beban ibu. Tak pernah kusangka, hari ini pertama kalinya aku bolos sekolah. Demi ibu, aku pasti bisa.

Aku bekerja di sebuah cafe hingga pukul 05:00, ibu tak akan curiga karena aku pulang seperti biasa. Aku dengar ibu belum bisa membayar iuran sekolah rena. Menyekolahkan kedua anaknya seorang diri membuat ibu sangat bekerja keras. Ibu selalu menolak pemberian ayah. Maka dari itu, aku harus kerja lebih giat.

“Apa, pinjam uang katamu. Tidak tahu diri ya. Apa aku terlalu baik terhadapmu. Dengar ya hani. Pembantu seperti kamu, mana bisa melunasinya. Jangan-jangan kamu mau kabur dan tidak mau membayar. Gajimu sebulan saja tidak cukup untuk membayar. Dasar bodoh” Perempuan itu mendorong ibuku hingga jatuh kelantai. Gaji dan pekerjaannya tak sebanding. Seperti yang sudah kukatakan. Ibuku selalu baik terhadap semua orang. Kerja kerasnya hanya dibayar dengan harga murah. Harga dirinya diinjak demi anak-anak yang dicintainya. Mereka, hanya datang dan pergi. Aku sangat benci laki-laki.

“Dari mana kamu?”. “Ibu, ibu sudah pulang? Ibu pulang lebih awal ya?”. “Dari mana kamu?”. “Aku kan kerja paruh waktu. Ibu juga sudah tahu kan”. “Ibu tadi kesana dan pemiliknya bilang kamu tidak masuk bekerja”. “Ah, aku bekerja kok bu”. “Tadi kamu sekolah?” Tanya ibuku. Aku hanya diam karena tak berani berbohong. “Jawab yara, ibu tak pernah mengajarkanmu untuk berbohong”. “Iya, tadi aku tidak masuk sekolah dan bekerja”. “Sudah ibu katakan jangan bekerja, kamu harus sekolah. Sudah berapa kali ibu katakan itu yara. Ibu hanya ingin kamu menggapai cita-citamu. Ibu hanya ingin kamu lulus dan belajar dengan rajin. Jika ibu sudah tak ada, setidaknya ibu akan tenang anak-anak ibu tak menderita”. “Ibu, Ibu bilang apa. Ibu jangan bilang begitu. Maafkan yara ibu”. Rena datang memeluk kami. Aku berjanji pada ibu akan terua menjaganya seumur hidupku. Aku akan bertanggung jawab atas kehidupan adikku. Aku berjanji aku akan menjadi anak yang selalu menuruti kata-katanya. Aku akan terus berusaha membanggakan ibu, aku akan belajar dengan giat dan membuktikan padanya bahwa kami bahagia tanpa orang seperti ayah. Baru pertama kali ibu memarahiku dan melontarkan kata-kata itu. Seakan ibu akan pergi meninggalkan aku dan rena.

2 Bulan kemudian…
Aku ingin segera pulang dan memeluknya. Tapi tak perlu menunggu waktu pulang, ibu akan datang ke sekolah karena hari ini diadakan pensi kenaikan kelas. Ibu hadir di tengah-tengah kerumunan orang yang tengah duduk di bawah panggung. Bulan lalu aku membawa nilai yang bagus dan peringkat1 di kelasku. Membuat ibu bangga padaku adalah salah satu cita-cita yang perlu kugapai.

Beberapa jam berlalu. Tiba waktu aku menampilkan pentas di atas panggung. Aku membacakan puisi untuk ibu.
Seperti yang pernah kukatakan…
Tak ada bukit yang seindah parasmu…
Tak ada lautan yang mengalun indah seperti lantunan setiap bait doamu…
Ibu kaulah penuntun langkahku, menuntun aku menjauhi petaka kematian…
Ibu kau bagai air yang jernih…
Tanpa bening yang menjadikannya rasa…
Alam dan isinya tiada pernah menggantikanmu sebagai tempat peneduh…
Aku ingin selalu menjadi buah hatimu ibu…

Begitulah puisi yang kubacakan untuknya. Kulihat ibu meneteskan air matanya. Sungguh aku tak ingin melihatnya walau sekali. Tiba saatnya mengumumkan juara umum 1 tingkat provinsi. Aku tak pernah menyangka. Kepala sekolah membacakan semua prestasi yang pernah diraih sang juara. Piala, medali dan sertifikat yang pernah didapat sang juara sangat mengaharumkan nama baik sekolah. Dan aku, akulah sang juara. Namaku dipanggil beberapa kali, aku berlari. Tapi bukan untuk naik ke atas panggung. Aku harus membawa ibuku ke rumah sakit.

Sesampainya di sana. Dokter berkata ibuku telah tiada. Ibu sudah meninggalkan kami ke surga. Aku berkata pada rena, Ibu hanya pergi sebentar. Apa arti semua itu jika tanpa ibu. Aku tak pernah ingin menjadi sang juara jika aku harus kehilangannya. Kenapa harus sekarang? Kenapa saat aku belum siap untuk hidup tanpanya. Ketika aku baru saja membanggakannya. Aku belum sempat membahagiakannya. Bagaimana hidup rena yang belum mengerti apapun? Aku rapuh di antara penghargaan itu. Aku tak pernah ingin bahagia tanpanya.

“Ibumu mengidap penyakit jantung. Beliau sudah lama merasakannya tanpa ada niat untuk mengobatinya. Maaf kami tidak bosa menyelamatkannya, andai saja lebih cepat mungkin ibumu dapat tertolong. Kami turut berduka cita”. Saat itu satu hal yang aku tahu penyebab semua ini adalah aku. Andai saja ibu tak datang, andai saja ibu diam di rumah. Ini semua takkan terjadi. Di bawah batu nisannya, aku menyampaikan sesuatu pada tuhan. “Jaga ibuku, tempatkan dia di surgamu. Ia adalah ibu yang sangat baik. Sudah lama ia menderita tanpa mengeluh. Sudah lama ia mengabdi padamu. Aku ingin kau membalasnya hanya dengan tempatkan dia disurgamu”.

Setelah kematian ibu. Ayahku datang menjemput kami. Aku tak pernah ingin melihatnya, begitupun juga rena. Kini rena sangat mengerti. Bahkan dia lebih dewasa dari yang kubayangkan. Rena tahu ibu telah dipanggil tuhan. Rena tak pernah menangis. Rena lebih banyak diam tanpa ingin berkata banyak padaku. Aku hidup berdua bersama rena. Pihak sekolah berjanji akan membeasiswai aku hingga lulus dan memasuki pendidikan yang lebih tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan kami, aku masih bekerja paruh waktu. Ayah bangkrut dan jatuh miskin. Istrinya meninggalkannya begitu saja. Bebanku semakin bertambah. Ayah jatuh sakit dan hanya bisa terbaring di tempat tidur. Ibuku mengajarkanku untuk selalu berbakti pada orangtua. Aku memaafkan ayah dan mengurus mereka. Kata ibu, aku tidak boleh terus membencinya karena surga. Tuhan tak akan suka padaku jika aku terus memusuhinya. Adikku bertambah satu, usianya sama seperti rena. Mereka berdua sangat mirip. Kini aku harus berjuang lebih keras lagi. Ibuku adalah surgaku!

The end

Cerpen Karangan: Dheea Octa
Facebook: Octavhianie Dheea

Cerpen Ibuku Surgaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berkat Gunung Merapi

Oleh:
Ada seorang anak bernama Sasha dia sangat boros, setiap minggu dia selalu Saja meminta barang-barang baru kepada orang tua nya dia pun tidak peduli kepada orang-orang yang kekurangan waaah

Putri Simfoni

Oleh:
Hai… aku bernama Sheila, aku sih anak biasa aja tapi aku suka sekali dengan menyanyi, kalau dulu kata mamaku suaraku bagus sekali, sayangnya entah kenapa orangtua angkatku bilang orangtuaku

Kesakitanku

Oleh:
Hari itu hari minggu, hari dimana ayahku libur kerja, dan kebetulan tidak ada kerja tambahan jadi ayahku ada di rumah, hari minggu adalah hari kesukaanku, hari yang sangat menyenangkan

Matahari di Timur

Oleh:
Matahari baru muncul di timur, tetapi Ana telah berjalan bersama ibunya ke sekolah sambil ngobrol. Tak terasa telah sampai di gerbang sekolah dan terlihat Pak Ngadiman yang lagi membetulkan

Tak Bisakah Aku Seperti Mereka?

Oleh:
Mentari berlalu untuk menyinari dunia kini kegelapan malam mulai nampak hanya sinar rembulan yang begitu indah memancar di balik awan hitam. Hari ini tepat pada tanggal 30 September 2015

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ibuku Surgaku”

  1. Gylan says:

    Sellalu suka sama cerpenny dheea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *