Iku (Pergi)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 14 August 2015

Suara begitu meriah walau di sini adalah tempat yang sederhana. Di tempat ini juga sedang berbahagia suatu keluarga. Itu keluargaku. Mereka semua telihat riang gembira dan tertawa ria walaupun kondisi keluarga ini cukup pas-pasan. Semuanya kecuali Kakakku.

Hari ini adalah hari yang spesial, menurutku. Ya, itu hanya menurutku. Tidak menurutnya. Di setiap sudut rumah yang kecil ini, semua orang berbahagia. Terkecuali dia. Lho? kok ngulang-ngulang mulu? Maaf saja ini bukan panggung COMEDI atau pun teater. Ini adalah ceritaku. Mengerti? Huh. Mari kita langsung To The Point saja.

Tadi siang, aku dipanggil kepala sekolah. Jujur saja, aku sempat takut. Kukira rencanaku untuk membuat gedung sekolah yang kosong sebagai tempat persembunyian rahasia terungkap. Dan kalau mereka menggeledahnya. Aku akan mati. Tidak, mungkin bukan mati. Tepatnya lebih baik mati daripada semua rahasiaku yang ada di sana terungkap.

To The Point. Sebenarnya, ini bukanlah suatu kabar yang mengejutkan. Tapi mari kita PlesBek dulu. Hmm? Tulisannya salah? Ah terserah kau saja. Asal kau ngerti saja. Nggak ngerti? Tanya ke orang lain gih.

“Apa kau baik-baik saja?” Kepala Sekolah terlihat khawatir dengan keadaanku saat ini.

Dengan otak yang keluar asap dan hampir meledak itu, aku hanya bisa memaksakan diriku berkata. “aku baik-baik saja. Tapi, maaf pak kepala sekolah. Bolehkah anda mengulangi perkataan anda yang barusan?” mencoba tetap tenang dan seimbang.

Kepala sekolah itu menghela napas panjang, sementara aku sibuk mencubiti pipiku dan terus berharap agar ini adalah mimpi.

“Ini sudah yang ke-20 kalinya kita mengulang kejadian ini. Jadi tolong pasang telinga dengan paku dan dengarkan baik-baik”

Sepertinya kepala sekolah mulai marah. Kupikir juga begitu. Siapa yang takan marah jika ada murid yang sekurang ajar seperti diriku ini. Tapi diriku yang satu ini malah tak peduli dengan kemarahan sang kepala sekolah. Dan merasa ngeri dengan paku yang tadi dibicarakan oleh pak kepala sekolah.

“Kau terpilih sebagai murid yang berprestasi dan akan dikirim ke Jepang! Tapi beginikah kelakuanmu terhadap seorang kepala sekolah? Sekarang aku sibuk jadi cepat pergi!!!” Sepertinya kepala sekolah sedang menyindirku. Jadi bersin mulu nih.

Dan begitulah kejadiannya. Unik tapi tak nyata. Ini fiksi atau bukan, kan sudah kubilang tadi bahwa ini adalah ceritaku jadi terserah padaku dong. Back To The Story.

Semua orang di keluargaku senang dan meloncat-loncat bagaikan anak kecil yang baru saja mendapat hadiah ulang tahun paling hebat. Seperti yang sudah kuulang-ulang di awal. Kakakku sama sekali tidak tersenyum sedikitpun. Mukanya kelihatan muram sekali. Mungkin dia iri kepadaku.

Bagaimanapun juga, Kakakku adalah… bahasa halusnya apa ya? Terserah. Pokoknya aku itu lebih berprestasi daripada Kakakku. Jadi nggak ada salahnya kalau aku tiba-tiba kepedean. Karena itu memang fakta.

“Hey, Ul! Tidakkah kau mengucapkan selamat saja pada adikmu ini?” Akhirnya Ayah menegurnya juga.

Yah, percuma. Kakakku malah makin cuek denganku. “Ayah hanya tidak tahu apa yang akan terjadi” Sebuah suara darinya terdengar sebelum ia keluar dari rumah ini.

“Ada apa, Tear? Kau kelihatan begitu muram hari ini. Sini biar kutraktir” Dia Jean sahabatku, namanya memang laki-laki tapi dia itu perempuan.
“Nggak usah. Makasih udah nawarin.” Aku tersenyum cuma sesaat dan setelah itu kembali muram.

Jean mendekatkan wajahnya ke wajahku. Sepertinya ia penasaran. “Ayo beritahu aku.”

Aku tak menghiraukan kelakuan Jean. Tapi yang kulakukan hanya ngedumel sendiri.

“Kenapa Kakak cuek banget ya? Semenjak berita itu, dia jadi sering keluar rumah. Jadi terus diem di kamar dengan pintu terkunci dan semua orang nggak boleh masuk. Dia itu kenapa sih? Makin hari makin rumit aja. Laki-laki memang tak mudah untuk dimengerti”
“Haha! Tapi kata laki-laki, perempuan itu yang susah untuk dimengerti” Jean terlihat sedikit terhibur. Ya, dia memang hobi menjadi penguping.
“Sudahlah, ayo pulang. Hari ini aku akan mengajakmu jalan-jalan. Sebelum itu, beli cemilan dulu yuk!”
Aku hanya bisa menghembuskan napas. Mungkin ini sekedar menenangkan hati. “Oke, tapi jangan lama-lama!”

Jean, itulah namanya. Ia tomboi, punya hobi yang menjengkelkan dan anak orang kaya. Tapi ia adalah temanku dari kecil, ia sungguh perhatian dan pengertian. Walaupun jelas sekali latar belakang keluarga kami sungguh berbeda. Ia ta pernah mau membahas hal itu. Seramnya lagi, jika ada orang yang berkata begitu kepadanya, dia akan langsung mengamuk bagaikan banteng yang melihat warna merah sengaja diletakkan di depan matanya. Hah, dia itu memang seorang manusia yang rumit, lebih rumit dari laki-laki. Walaupun jika dibandingkan dengan Kakak masih lebih rumitan Kakak sih.

Sedari tadi kerjaanku cuma ngelamun doang. Dan akhirnya terjadi juga yang beginian. Sedetik langsung nyampe.

“Tunggu dulu. Kau yakin mau makan di sini? Bukankah ini restoran Yare yang terkenal akan masakannya yang enak dan mahal ini? Kalau kita akan makan di sana. Lebih baik aku menunggumu di luar sini.”

Jean tetap keras kepala ingin mentraktirku di sini. “Ayolah, lagipula jika kau khawatir akan orang-orangnya. Itu bukanlah berbentuk restoran pada umumnya. Kita akan memilih tempat untuk makan di saungnya. Aku yakin di sana akan lebih baik daripada kita berada di antara mereka yang rakus dan lebih suka pada dunia yang tidak kekal ini. Jadi ayolah!” Setelah berbasa-basi cukup panjang, dia kembali menarikku. Bedanya, tarikan ini lebih kencang dari yang sebelumnya, sehingga bisa membuatku ikut terbawa arus.

“Apa ada hal yang lain?” ujar Pelayan itu memastikan. Jean menyikutku dengan sikutnya.
“Hey, kalau belum memesan. Mau pesan apa?”
“Pesankan sesuatu untukku” jujur saja, aku sangat malas berada di sini.
“Baiklah. Tapi janji saja kau harus memakan apapun yang aku pesan. 1 mangkok besar takoyaki, 1 piring sushi, 1 mangkok matcha ice cream dan milkshake vanila” Jean terlalu memaksakan dirinya.
“Baiklah. 2 piring besar takoyaki, 1 piring okonomiyaki, 2 piring sushi, 1 mangkok matcha puding, 2 mangkok matcha ice cream, segelas ocha, dan segelas milkshake vanila” setelah itu, sang pelayan pergi.

“Apa kepalamu terbentur sesuatu? Berapa banyak uang yang kau keluarkan hanya untuk membeli ini?” Aku hanya bisa gemeteran saat melihat bon yang ditinggalkan pelayan itu.
“Tenang saja, restoran ini milik Ayahku. Btw, emang Kakakmu itu umur berapa?” Jean mengalihkan pembicaraan. Aku tahu itu.
“17-18 tahunan. Memangnya ada apa? Sampai mengganti topik begitu.” Aku bertanya balik lagi.
“17-18 ya… mungkin setingkat SMA kelas 3. Mungkin?” Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah bertanya balik.
Aku tak menjawab pertanyaannya. Malah melihat ke arah lain. Yah, bisa dibilang aku mengacuhkannya.

“Terimakasih atas makanannya” Jean ini, dia adalah blasteran. Ibunya Indonesia, tapi Ayahnya berasal dari Jepang. Seperti yang ia bilang tadi, restoran ini milik keluarganya.

“Ayo kita pergi jalan-jalan” tambahnya lagi.
“Baiklah” Aku menyetujuinya.

Baru saja aku ingin menodongkan kakiku untuk keluar dari saung mini itu. Seseorang lewat dengan wajah yang samar karena larinya begitu cepat tapi aku yakin itu adalah Kakak. Hanya memastikan kutodongkan kepalaku keluar, dan Jean mengikutiku.

“Ada apa? Apa lelaki yang baru saja lewat adalah seseorang yang kau kenal? Hihi…jangan-jangan pacarmu” Jean menggodaku seperti seorang ibu-ibu yang genitnya bikin merinding.
“Aku tak punya pacar. Berhentilah bersikap genit. Semakin hari kau semakin ngeselin” Aku tak berani bilang itu adalah Kakak. Mungkin aku salah lihat. Mungkin.

“Ini minumlah dulu” Jean menawarkanku segelas soda yang barusan ia beli di apalah itu namanya, aku tak tahu, namanya juga bopung. (bocah kampung)

Aku menerima soda itu, Jean hanya tersenyum lalu duduk. “Hey, Jean. Kira-kira seminggu yang lalu, aku diberitahu oleh kepala sekolah bahwa aku mendapatkan beasiswa untuk pergi ke Jepang dan keberangkatannya kurang lebih satu minggu lagi. Bukan maksudku pamer akan hal itu, tapi semenjak berita itu, Kakakku menjadi semakin muram, cuek dan tak peduli padaku. Dia bahkan sering kali pulang malam dengan kondisi yang kelelahan. Apakah dia benci padaku ya?” Aku menundukan kepala, keluar deh yang biasa orang sebut dengan curahan hati atau curhat.

Jean kelihatan berpikir sejenak, lalu dia mengarahkan pandangannya kepadaku, “Kakakmu itu, apakah dia pernah menatap sinis ke arahmu? Atau menjauhi atau apalah itu”
Aku menggangguk.

Dia kembali bertanya, “Apa kau pernah mengetahui atau membocorkan rahasianya?” sekarang Jean malah terlihat seperti sedang mengintrogasiku.
“Tidak, tidak. Berhentilah bersikap sperti detektif prefesional! Aku malah berpikir dia iri padaku” Aku mengungkapkannya, lagi.

Sebaliknya, Jean malah tidak menyetujui pikiranku tersebut. Padahal menurutku, iri adalah jawaban yang paling tepat di antara sekian banyaknya alasan mengapa Kakakku bertingkah seperti itu padaku.

“Hey, bolehkah aku mengikutimu saat kau pergi ke Jepang nanti?” sungguh permintaan yang sangat bodoh. Maksudku aku tak bisa membawanya begitu saja. Punya duit saja tidak. Apakah dia ingin masuk dengan cara Ilegal? Tak mungkin!
“Boleh saja. Tapi aku ingin tahu bagaimana cara kau mengikutiku.” untuk sementara ini, aku menyerah berdebat dengannya.
“Apa kau lupa bahwa Ayahku orang Jepang. Sekarang dia ada di sana. Jadi aku tinggal meminta padanya untuk satu sekolah denganmu. Apa kau mau saat di Jepang nanti tak ada satu orang pun yang kau kenal?” Benar juga perkataannya. Tapi terserahlah.

Hari berhari makin berlalu dan terasa semakin cepat. Kini tinggal tersisa 2 hari lagi untuk berangkat ke negeri sakura itu. Tapi Kakak makin pulang larut dan semakin terlihat lelah. Bahkan ia tak pernah berdebat lagi denganku seperti biasanya.

Ah! Aku harus mengurangi jumlah barang yang harus dibawa kesana. Kini tinggal satu hari lagi atau besok aku akan pergi. Walaupun besok aku pergi, aku sama sekali belum melihat batang hidung dari Kakak. Apa ia benar-benar membenciku?

“Hey, Tear! Apakah kau sudah siap?” dari jauh terlihat Jean yang sedang melambaikan tangannya.

Kau tahu? Jika Jean bertingkah seperti itu, bukan aku yang dianggap bopung melainkan dia. Apalagi ini berada di bandara. Aku semakin gelisah. Kakak tak mengantarkanku ke bandara hari ini. Seberapa besarkah kebenciannya terhadapku?

“Bandara yang akan berangkat ke Jepang dengan pesawat JPN9 akan segera berangkat 10 menit lagi, harap semua penumpang untuk bersiap-siap.” Sebuah suara terdengar di seluruh penjuru bandara. Yang lebih penting lagi, ini detik-detik terakhir perpisahan.

5 menit sebelum keberangkatan. Aku sudah siap untuk meninggalkan tanah air. Tapi dari belakang terdengar suara seseorang memanggil namaku dan itu adalah suara yang selama ini ingin sekali aku dengar. “Kakak!”

Kakak berlari mengejarku. Saat ia sampai di hadapanku yang ia bisa lakukan hanya terengah-engah.

“Kenapa, apa ada sesuatu barang yang tertinggal?”

Ia tak menjawab. Tapi mengulurkan tangannya yang sedang menggenggam sebuah dompet.
“Ini”

Aku mengambilnya. Apa ini barangku yang tertinggal? Bukan, kurasa ini bukan barangku, aku tak punya dompet seperti ini. Penasaran dengan isi yang ada di dompet ini, aku membukanya. Isinya adalah sejumlah uang, tentu saja ini bukanlah milikku. Dan uang itu bukanlah mata uang Indonesia atau rupiah yang biasa kita lihat.

“Yen?” aku mencoba menebak mata uang itu kepada Kakakku.
“Orang Jepang menyebutnya, en” Jawab Kakakku tanpa mengarahkan pandangannya padaku sama sekali.
“Ini bukan milikku, kan?” aku mencoba memastikan bahwa ini bukanlah suatu barang yang tertinggal.
“Tadinya bukan milikmu, tapi sekarang sudah menjadi milikmu.” Kakak selalu begitu, menjawab pertanyaan tanpa mengarahkan pandangan pada si penanya. Dan pasti hasil jawabannya semakin membuat orang bingung. “Aku berikan untukmu” tambahnya.

“Eh?” tunggu, tunggu! Apa aku tadi sedang bermimpi? Kakak yang biasanya cuek ini memberikanku sejumlah uang yen? maksudku en?
“Maaf menyela, tapi tanpa sepengetahuanmu Kakakmu ini bekerja sebagai koki di restoran orangtuaku. Tapi yang lebih anehnya kenapa sudah gajian?” Kebiasaan Jean yang lain adalah suka menyela urusan orang lain dan suka basa-basi.

Aku terharu. Begitu tak menyangka jika selama ini dia sangat peduli padaku. Aku mengerti mengapa ia selalu pulang larut malam dan kelelahan. Tapi satu yang masih menjadi pertanyaan, mengapa ia terlihat membenciku akhir-akhir ini? Apakah karena aku dia harus berkerja sampai larut malam atau dia yang ingin pergi ke Jepang?

“Lalu mengapa Kakak terlihat membenciku dan menjauhiku?” kata-kata itu tiba-tiba saja keluar dari mulutku. Aku meletakkan kedua tanganku menutupi mulut. Bodohnya aku sampai bisa mengucapkan kata-kata itu. Pasti Kakak akan semakin membenciku.
“Jelas karena aku heran melihatmu malah senang bisa meninggalkan keluargamu begitu saja. Dasar bodoh!” kali ini dia melihat ke arahku.

Aku spontan memeluknya. Tiba-tiba saja aku menjadi enggan untuk meninggalkan Kakakku yang satu ini. Aku memeluknya sangat erat. Kakak hanya mengusap kepalaku.

“Sudahlah. Cepat pergi sana! Dasar cengeng!” usirnya.

Aku mengusap bulir-bulir yang ada di mataku. Aku tahu dia bercanda, tapi… “Aku nggak nangis!”

Yah, saking kesalnya aku jadi menjitak kepalanya deh dan kabur sambil melambaikan tangan.
“Selamat berjumpa kembali!”

Cerpen Karangan: Luz
Facebook: Toshiko Hikari
Add facebook: Hikari Toshiko, Lightz Blusky
Follow twitter:
@lightzblusky
@toshiko_hikari

Cerpen Iku (Pergi) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ulang Tahunku Yang Kelima

Oleh:
Yang menjerit di bawah kakimu -aku adalah kanak yang pernah singgah di rahimmu. Aku tahu kau adalah wanita yang cantik, bermata bulat, berhidung mancung, bibirmu bak rekah bebungaan di

Ayahku Yang Lain

Oleh:
Seorang pria terus memandang ke arah gerbang sekolah memandangi setiap orang berpakian putih abu yang ke luar dari gerbang itu. Mata pria itu bertemu dengan mataku, dia menatapku begitu

Juara Pertama Yang Berkesan

Oleh:
Pagi ini, adalah hari pengambilan raport di salah satu SD yang berada di desa Sriwangi. Para wali murid telah berdatangan memadati halaman sekolah, untuk mengambilkan raport anaknya. Tak hanya

Unlimited Ikhwan

Oleh:
Dua buku pelajaran sastra dan dua pulpen berwarna merah dan hitam, juga penghapus karet yang tidak lagi utuh karena tugasnya. Mengahapus kesalahan menulis. Aku yang masih betah di meja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *