Impian Kayra

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 27 February 2014

Halo! Namaku Kayra. Aku lahir dalam keluarga kurang berada. Aku tidak bisa sekolah karena tidak bisa membayar buku-buku sekolah. Kehidupan ini tidak akan berlangsung lama, kok.

Pagi itu, aku bersiap-siap sambil membawa keranjang biru yang sudah reyot. Di atas keranjang itu, berjejeran makanan-makanan ringan untuk dijual. Upah ayah dan ibuku belum cukup membeli kebutuhan kami, maka aku dan adikku, Rio, juga ikut mencari nafkah.

Aku berjalan kaki menuju sebuah jalan raya, Jalan Setu Raya. Disana, aku mulai beraksi menjual makanan-makanan ringan yang aku bawa.
“Dibeli makanannya, dibeli!” aku mulai beraksi saat lampu merah menyala.
Aku memasuki sebuah metromini, lalu aku menjajakan makananku.
“Dik, beli!” teriak seseorang saat aku hampir menuruni metromini.
“Mau apa, Kak?” tanyaku sambil mendekati orang itu. Dia juga anak-anak, tapi mungkin lebih tua dari aku.
“Aku mau ini!” pinta kakak itu sambil menunjuk makanan yang dipilihnya. Makanan itu berkemasan besar dan isinya pun cukup banyak.
“Itu tiga ribu rupiah, Kak!” kataku sembari menyerahkan makanan yang dipilihnya.
“Ini uangnya, tidak usah kembalian, Dik!” jawab kakak itu. Dia menyerahkan uang lima ribu rupiah.
“Tidak usah, Kak, ini kembaliannya!” aku menyodorkan uang kembalian seharga dua ribu rupiah.
“Saya lebih ikhlas, Dik! Terimalah!” jawab kakak itu tulus. Aku tersenyum, lalu keluar dari metromini tersebut.

Hari mulai sore, aku pun segera pulang ke rumah.
“Ibu! Aku mendapatkan dua puluh tiga rupiah hasil payahku, Bu!” jawabku girang. Ibu yang sedang menganyam, tersenyum senang.
“Alhamdulillah, taruh saja di celenganmu, Nak!” jawab Ibu. Aku tersenyum tipis.
“Ibu, dimanakah Rio?” tanyaku sambil menatap kamar Rio yang kosong melompong.
“Sedang bermain bola.” Seperti biasa lah Rio bermain bola di lapangan bola terdekat dari rumah kami.

Aku pergi ke dapur. Rupanya, ada sebuah roti gandum yang ditaruh dalam piring besar. Aku meminta roti ke ibu untukku.
“Boleh, Nak! Sisakan untuk adikmu dan orangtuamu!” sahut ibu. Aku mengangguk, lalu lahap memakan roti gandum tersebut.

Jam enam malam, aku duduk-duduk di tepi sungai. Biasanya, setiap malam aku pasti duduk disitu sambil membayangkan impianku yang belum terwujud.
Kalian mau tahu kan, apa impianku?
Impianku adalah menjadi orang yang sukses dan suka bersedekah, menghajikan kedua orangtuaku, memberikan rumah untuk orangtuaku dan adikku dan aku juga ingin, aku bisa bersekolah di sekolah berkualitas tinggi agar aku semakin pintar.
Dari dulu, aku hanya diajarkan oleh temanku yang orang kaya. Buku kelas dulunya, diberikan kepadaku dan adikku untuk belajar. Kami pun masih bisa belajar walau pun tak terlalu bisa.

Ayahku hanya sebagai pengemudi becak di daerah kami. Sedangkan ibuku hanya sebagai buruh cuci di beberapa rumah di daerah kami. Aku dan adikku menjual makanan, minuman dan biasanya koran atau majalah.
“Kayra! Kamu belum sholat Maghrib, Nak!” panggil Ayahku.
Aku bangkit dan berwudhu dengan air di sungai itu. Air yang dingin tapi membuatku kembali berwajah segar.
Selesai berwudhu, aku segera menunaikam ibadah sholat Maghrib.
Selesai sholat, aku diberikan makan malam. Yaitu beras kencur dan roti gandum buatan ibu. Itu pun sudah sangat bersyukur bagi kami.

Itulah kisahku yang dulu. Impianku akhirnya terwujud! Sekarang aku sudah menjadi orang yang sukses yang suka bersedekah, menghajikan keluarga, sudah bisa bersekolah dan memberikan rumah dan harta kepada keluargaku.

Syukuri yang kamu punya, janganlah sombong, berusaha dan belajar bersungguh-sungguh, Teman!
~Kayra~

Cerpen Karangan: Sharifa Hasna Mahira
Facebook: Sharifa Hasna Mahira

Cerpen Impian Kayra merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Laila

Oleh:
Hujan rintik-rintik. “Laila, bangun! Jangan tidur terus kamu! Cari duit!” Bentak seorang Ibu dari ruang depan rumah. “Pagi ya?” Laila masih sedikit ngantuk sambil mengucak matanya. Laila seorang gadis

Cita Citaku Yang Sebenarnya

Oleh:
“Kring… Kring..” bel pulang berbunyi dengan diiringi sorakan senang yang dikeluarkan mulut setiap murid. Tapi tidak dengan Fania, Ia nampak murung dengan mata yang melihat ke sepanjang jalan yang

Koki Cilik

Oleh:
Franita Siskya Ayuningtyas, itulah namanya. Dia biasa dipanggil Tyas. Tyas hobi memasak. Tyas juga mempunyai toko kecil-kecilan di gazebo rumahnya. Pagi itu, Tyas jogging-jogging di dekat taman kota bersama

Si Sombong Chacha

Oleh:
Aku senang mentari kembali bersinar lagi… Karena ini hari aku pertama sekolah! “Hoam..” kataku sambil membuka mata. “Ayo.. non mari saya antar ke bawah… Makanan menunggu.” ujar Bik Siti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *