Impian Yang Hilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 February 2017

Hujan menyisakan gerimis membasahi bumi, cuaca semakin dingin di pagi ini. sementara jarum jam baru menunjukkan angka 04:30 itu tandanya kegelapan masih menyelimuti desaku tapi itu takkan lama, karena sebentar lagi akan cerah.

Kulangkahkan kaki menuju dapur kecil rumahku, di sana sudah ada mama yang sedang membereskan pekerjaanya. Entah jam berapa ia bangun untuk membuat jajanan pasar untuk dijual hari ini. Kuringankan tanganku untuk membantunya walau hanya sekedar memasak air juga sarapan sederhana. Membantu mama bukanlah hal yang baru juga berat bagiku, karena sejak ditinggal papa kembali ke surga kami sekelurga langsung berbagi tugas dan saling membantu meringankan beban keluarga.

Oya… kenalkan namaku Ariesta Graciella Putri (Ella), usiaku saat ini 15 tahun aku duduk di kelas 9a SMP Negeri di kota kecil kelahiranku di kabupaten baru minahasa utara. Aku anak pertama dari 2 bersaudara, adik bungsuku namanya Andreas Febrianto Putra (Andre) yang saat ini masih duduk di kelas 5 SD. kami berdua hanya hidup bersama mama sejak ditinggal pergi almarhum papa 2 tahun yang lalu. Sedih sudah pasti saat kami harus melepaskan kepergian papa untuk selamanya, sempat aku marah dan mempersalahkan Tuhan mengapa mengambil papa dari kehidupan kami. Tapi akhirnya aku sadar bahwa itu adalah takdirNYA di mana tak ada seorang pun yang dapat menghindar dari ketetapanNYA.

Kembali pada kehidupanku sehari-hari, pelan tapi pasti mama menuntun aku mengajarkan aku agar bisa mandiri dan tidak bergantung pada oraang lain. Di sekolah aku tetap menjadi gadis yang ceria, belajar dan bermain bersama para sahabatku tapi sering aku sedih melihat sahabat-sahabatku sering diantar jemput oleh ayahnya ke sekolah atau bahkan mereka bercerita bahwa mereka selalu berlibur bersama keluarga mereka setiap akhir minggu. Sering aku berkhayal andai papa masih ada mungkin nasibku juga adikku akan sama seperti mereka, tapi aku sadari itu mustahil dan takkan pernah terjadi.

Hari ini sangat melelahkan, setelah jam pelajaran terakhir begitu bel berdentang langsung bergegas kulangkahkan kakiku meninggalkan sekolah. Entah mengapa perasaanku gelisah, aku hanya bisa berdoa di sepanjang jalanku berharap tidak ada kejadian buruk menimpa keluarga kecilku.

Dibalik kegelisahan hatiku dan kepasrahanku pada sang pencipta ada sedikit bahagia saat melihat wajah mama dan adikku yang sedang duduk di ruang tamu sambil nonton tv. Saat memasuki rumah kuberikan salam seperti biasanya dan aku langsung masuk kamar berganti pakaian sebelum makan siang.

Disaat aku sedang berganti baju, mama masuk ke dalam kamarku dengan wajah cemas. “Ka, gimana tadi di sekolah?” tanya mama kepadaku “Puji Tuhan baik juga lancar ma, gak ada kesulitan” jawabku dengan penuh rasa penasaran melihat wajah mama, karena tidak biasanya beliau menanyakan aktifitasku di sekolah karena mama tau aku selain pintar aku juga bukanlah anak yang nakal seperti anak kebanyakan. “Ada apa ma? Kok mama gelisah begitu, gak biasanya juga mama nanya aktifitas di sekolah?” Ku berondong mama dengan pertanyaan yang saat ini berputar-putar di kepalaku. “Ka, maafin mama karena semua ini. Maafin mama karena mama sudah gak sanggup lagi membiayai sekolahmu nak. kalau kakak tidak keberatan lulus sekolah kakak tidak usah lagi lanjut sekolah ke SMU, mama sudah gak sanggu, mama minta kakak mengerti. maaf kan mama nak yang tidak bisa menjadi ibu yang baik buat kalian, maafkan mama yang tidak bisa meluluskn cita-citamu menjadi dokter. mengertilah dengan keadaan hidup kita kak” urai mama dengan linangan airmata, aku yang mendengarkan saat itu bagai disambar petir siang bolong kakiku gemetaran lalau aku terjatuh di lantai kamarku dengan menahan tangis juga amarah. Saat itu hatiku bimbang entah apa yang harus aku lakukan ketika aku harus mengubur masa depanku, mengubur cita-citaku menjadi seorang dokter. Entah kekuatan dari mana yang tiba-tiba merasuki jiwaku, langsung kupeluk kucium mama dan kukatakan bahwa aku ikhlas menerima keputusannya, aku akan bekerja membantunya mencari uang agar kelak andre adikku bisa melanjutkan pendidikannya dan menggapai cita-citanya. Kini impianku hilang mengabur bersama deru angin yang takkan mungkin kukejar dan kugapai.

Cerpen Karangan: Widyawati Najwa Sinadia
Facebook: Sinadia katiandagho widyawati jeanne

Cerpen Impian Yang Hilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selalu Ada

Oleh:
Aurel… sahabat baikku sekaligus seniman cilik. Beratus-ratus lukisan hasil karyanya dipajang di sebuah ruangan khusus yang sengaja dibangun untuknya. Kanvas, kuas, cat air, dan perlengkapan melukis lainnya tersusun lengkap

Penyesalanku Hingga Kau Pergi

Oleh:
Namaku biasanya dipanggil dengan sebutan Mala. Aku adalah anak kelas 3 SMA N 8 palembang pada tahun 2005. Anaknya minder karna bentuk tubuhku yang tidak ideal, humoris, care sama

Senyum Terakhir

Oleh:
Makan malam sudah siap, semuanya pun berkumpul. Dengan tangan yang bergetar Mbok Darmi pun turun ke bawah untuk makan malam. “Ini mak.” kata anaknya sambil menyodorkan piring kayu. “piring

White Rose

Oleh:
Seorang pemuda yang begitu senangnya menyambut hari ibu, dia mengupdate sebuah status di sebuah akun sosial media yang dia punya sebagai bentuk ungkapan “Selamat Hari Ibu” dan juga sekaligus

Mengapa Ya?

Oleh:
Namaku Toni Kiswanto, biasa dipanggil Toni. Sejak dulu, aku sudah sangat tertarik dengan pesawat. Aku selalu memandangi pesawat yang sedang terbang. Saat itulah aku mulai mencari pengetahuan tentang pesawat.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *