Indahnya Saling Memaafkan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 7 May 2018

Gema takbir memenuhi langit, membuatku terbangun dari mimpi indahku. Segera ku mandi dan kupakai baju baru yang dijahitkan ibu. Putih, sebagai pertanda ketulusan hatiku, kata ibu.

Ini kali pertama aku merayakan idul fitri tanpa kehadirannya, ibu pergi dari rumah 10 hari sebelum hari raya. Ibu tak sanggup lagi harus berdebat dengan ayah, apalagi saat bulan ramadhan. Keputusan ibu membuat diri ini sedih. bagaimana tidak, sudah bertahun-tahun kami bersama. Ayah, ibu dan aku. Dan sekarang hanya tinggal kami berdua.

Ayah juga terlihat begitu terpukul semenjak kepergian ibu. Mungkin ayah merasakan hal yang sama seperti yang kurasa. Ibu… ‘kumohon pulanglah kemari bersama kami, agar keluarga kita menjadi keluarga yang utuh’.

Segera kulangkahkan kaki ini menuju masjid yang jaraknya lumayan dekat dengan rumah kami. Terlihat tepat di depanku ayah yang juga ingin menunaikan salat ied.
‘Semoga setelah ayah selesai beribadah ayah dapat tersenyum kembali setidaknya’.

Sholat ied berjalan begitu khusyuk. Kebahagiaan terpancar dari wajah setiap orang. Tua, muda berkumpul menjadi satu kesatuan. Masjid dan pelatarannya tidak menyisakan tempat luang. Sanak saudara dari luar berdatangan. Dan hanya keluargaku yang terpuruk sendirian.
Sholat ied telah usai, seluruh jamaah pun pulang menuju kediaman mereka, termasuk juga aku.

Air mata ini tak dapat kubendung, aku sangat kehilangan sosok yang menyayangiku, ibu. Apalagi di hari yang suci.
Tiba-tiba dari belakangku ayah muncul dan memelukku. Ayah merasa kesedihan yang keluarga kami lalui adalah salahnya. Dengan berlinangan air mata, Ayah meminta maaf kepadaku atas keegoisannya selama ini. Tak pernah sedikitpun aku kira, Ayah yang begitu keras terhadapku menangis tersedu-sedu dan minta maaf. Apa ini benar Ayah? Ataukah dia malaikat yang dikirim Allah untuk menghilangkan segala kesedihanku? Entahlah, aku harap Ayah akan selalu seperti ini.

Ketika aku dan ayah hanyut dalam suasana yang penuh haru, terdengar bunyi bel di rumah kami. Segera kami bergegas untuk membuka pintu. Tak kuduga dan sangka, ternyata yang datang adalah Ibu. Aku dan Ayah benar-benar bahagia, begitu juga ibu. Kami bertiga saling berpelukan dan mengakui kesalahan. Ibu telah memaafkan kesalahan Ayah, begitu pula aku dan ayah kami memaafkan ibu.

Cerpen Karangan: Inayatul Mardiyah
Facebook: Ina Yatul Mardiyah

Cerpen Indahnya Saling Memaafkan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Tak Lagi Berdua

Oleh:
Kusisipkan kedua tanganku ke dalam jari-jarinya. Kuelus lembut kepalanya sampai mereka pun tak terasa. Kukecup lembut keningnya agar mereka merasakan kehangatan dari kasih sayangku. Teringat perkataan papanya bahwa kita

Perjuangan Ibu

Oleh:
Teman-temanku bilang aku bodoh. Guruku bilang aku anak yang tak bisa menerima pelajaran dengan cepat. Dan aku juga merasa begitu. Namun, hanya satu yang selalu memberiku semangat ketika aku

Selamat Jalan Adikku

Oleh:
Alfi berjalan menuju kamarnya, yang berada tepat di samping kamarku. Tak ada yang aneh dari kamar anak yang berusia 9 tahun itu, tapi tiba-tiba perasaanku jadi tak enak. Karena

I’m Your Brother

Oleh:
Annyeong Haseyo, naneun Kim Shin Jung imnida. Kalian bisa memanggilku Shin Jung. Aku tinggal di Seoul bersama kedua orangtuaku. Terkadang aku merasa kesepian. Andaikan saja aku punya Kakak, aku

Believe

Oleh:
Nadya adalah gadis dua belas tahun yang memiliki mimpi menjadi penyanyi terkenal. Tetapi, Ibunya melarangnya untuk menjadikannya penyanyi. Nadya pun termenung. Apakah dia akan berhenti menggapai mimpinya atau melanggar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *