Ini Rumah Kita Bu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 May 2016

Sakit itu selalu membuatnya menderita. Pikirannya yang mulai pikun pun menyiksanya. 7 hari sudah dia dirawat di rumah sakit dan dia pun selalu bertanya.

“Kapan aku pulang?”
“Sungguh aku tak betah di sini,”
Jawabku sambil membelah apel untuknya, “Sabar Bu, dikau belum terlalu pulih untuk pulang,”
Sesekali memang dia juga lupa padaku dan ayahku, maklum penyakit alzheimer yang telah mengidapnya setahun belakang ini. Dia bertanya, “Kamu siapa? teman anakku ya?”
“anakku mana?” tapi aku hanya bisa tersenyum dan menjawab, “Aku anakmu Ibu, dan aku mencintaimu.”

Hari demi hari dia hanya bisa terbaring di tempat tidur karena leukemia dan alzheimer yang dia derita. Menangis menahan sakit yang terkadang datang secara tiba-tiba. Haaah.. Pilu rasanya hatiku melihatnya menahan sakit itu. Andai aku bisa menggantikan rasa sakitnya, Tuhan. Saat dia terlelap, hanya tangan mungil ini yang bisa memberinya kenyamanan, yaah.. Dengan cara mengelus-elus rambutnya yang rentan karena kemo.

Aku bertanya pada ayah, “Ya, apa kau masih mencintai Ibu?”
Dan ayah menjawab dengan ikhlas, “Tiada wanita hebat di dunia ini kecuali Ibumu dan kau anakku. Kalian berharga di mataku, detik demi detik setiap hariku hanya untuk melihat kalian tersenyum dan bangga padaku dan berkata pada orang lain, “Dia suamiku dan dia Ayahku,”
Dengan tatapan sejuk aku mendekati ayah dan bilang, “Aku juga mencintai Ayah,”
Barangkali ibu mendengar percakapan kami, dia terbangun dan memanggilku, “Anakku, Ibu haus,” dengan gerak cepat aku mengambilkan ibu air. Ibuku kembali bertanya, “Kapan aku boleh pulang Nak, aku rindu rumah kita,”
“Sabar Bu, kita tunggu keputusan dokter dulu yaa,” jawabku sambil mencium keningnya.

Tak lama kemudian dokter masuk dengan paras yang aku merasa ada yang berbeda dan sepertinya kabar tidak mengenakkan, tapi semampunya aku berusaha berpikir positif. Dan akhirnya dokter pun memberikan ibu izin untuk pulang. Senyum ibuku lebar dan aku tahu dia sangat senang mendengar hal itu, meski perasaan khawatirku tak bisa ku pungkiri. Sesampai kami di rumah, aku membawa ibu ke kamar untuk beristirahat, tapi dia masih ingin duduk di kursi rodanya tidak mau segera rebahan. Ibuku terus memandangi pemandangan dari jendela kamarnya.

“Sore ini indah sekai yaa Nak?”
“Dulu setiap sore seperti ini aku dan ayahmu sering mengajakmu bermain, mengepang rambutmu yang panjang nan indah. Sekarang kau sudah tumbuh menjadi wanita yang hebat Nak, wanita yang punya masa depan dan aku bangga padamu. Setiap orang yang bertemu dan melihatmu pasti memberi pujian untukmu,”
“Anakku, jadilah wanita yang berdiri di kakimu sendiri. Jadilah wanita yang punya pendirian da prinsip dalam hidupmu,” Sambil meneteskan air mata aku memeluk ibuku, dan mencium rambutnya yang terlihat jarang itu. “Ibu, aku berjanji akan menjadi wanita yang kau inginkan Bu. Akan ku buat dikau dan Ayah bangga padaku.”

Dalam helaan napasnya sedikit demi sedikit mulai terengah-engah. Matanya mulai sayu dan pandangannya mulai berbayang-bayang. Aku memanggil ayah dengan nada panik. “Ayah.. Ayah,” ayah datang dan melihat ibuku yang sudah sangat lemah. Air mata ini terus menerus menetes tak henti-henti.
“Ibu.. Aku masih ingin hidup lebih lama lagi denganmu. Ibuu.. Ini rumah kita Bu. Kita sudah sampai di rumah Bu.”

Ibuku memandang aku dan ayah dan menghelakan napas terakhirnya. Seketika aku memeluk ayah dan menangis tak tertahan di pelukan ayahku. “Ayaaaaah, ibuuu yaaah ibuuuu!!” kataku.
Dengan air mata tertahan ayahku berkata, “Setiap manusia memiliki masanya masing-masing Nak, termasuk aku dan kau. Jangan sesali dan ratapi kepedihan Ibumu, tapi selalulah berdoa untukmya di setiap salatmu.”

Cerpen Karangan: Tika Nurwanti Rizki
Facebook: Tika binti Iwand
Antropologi. Copywriter. 24yo. Lagi berusaha kurus.

Cerpen Ini Rumah Kita Bu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terlalu Cepat Kau Pergi

Oleh:
Di tengah kesunyian malam. Suara jangkrik terdengar begitu keras. Desir air bersorak begitu ria. Cahaya rembulan tampak tersenyum di malam itu. Dimas, sang pemuda tanggung yang menjadi tulang punggung

Pesan Ayahku

Oleh:
Pada hari itu Nurmala sedang ada di sekolah ketika semua orang panik lari tunggang langgang sementara ayah nurmala yang sedang terbaring di gubuk yang reot nan kumuh tak dapat

366 Hari Matahari

Oleh:
366 Hari Matahari Buku diary yang kusam dan penuh debu. Entah siapa gerangan pemiliknya. Matahari Ke-1 (Mata yang terpejam) 22 Jam… Kau masih terlelap dalam tidurmu. Aku melihat senyuman

Uang Untuk Operasi Istriku

Oleh:
“Maaf mas, Tapi saat ini saya masih belum bisa bantu, Bukanya saya tak memiliki uang, tapi uang yang saya punya juga sedang saya butuhkan untuk biaya sekolah anak saya

Wanita Bertopi

Oleh:
Panasnya mentari tak menyurutkan niat wanita berbaju abu-abu itu. Aku selalu melihat ia berdiri di samping tiang lampu merah. Tepatnya di perempatan jalan yang ada di samping masjid besar.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *