Ini Salahku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 May 2015

Karin melangkahkan kakinya ke sekolah dengan tatapan matanya yang seperti biasa. Tatapan mata yang seakan tak ada kebahagian di hidupnya. “Tuhan, kenapa kau begitu tega mengambil kebahagiaanku selama ini?” Karin tetap melangkah dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Hingga sampai sekolah, dia langsung menuju kelas dimana ia belajar tidak seperti siswa-siswi yang lainnya yang pergi nongkrong dulu karena Karin tak memiliki teman. Bukan karena tak ada yang mau berteman dengannya tapi ini pilihan Karin. “Hei, kamu tadi jalan kaki lagi ya?” Dinda menepuk pundak kiri Karin. Seperti biasa, tak ada satu patah kata pun yang terlontar dari Karin. Dia hanya membalas dengan senyuman dan kembali membaca buku yang sedang dia pegang.

“Din, bisa gak? Gak usah emosi gitu?” Tanya dicky dengan pelan.

Dinda melangkah ke arah dicky, dengan menatap mata dicky tajam “Nggak dicky. Seharusnya dia gak gini, dia gak seharusnya bersikap seolah olah hanya dia yang menderita di dunia ini!!!” Lalu dicky menarik Dinda keluar dari kelas, sementara Karin dia tetap menangis dan menjadi tontonan gratis teman-temannya di kelas.

“Apaan sih, lepasin dicky!!!” Dinda memberontak, dan mencoba melepaskan tangannya yang digenggam erat dicky dan berhasil.

“Kamu puas buat Karin nangis seperti itu? Hah?”

“Aku Cuma mau dia sadar dicky, gak seharusnya dia seperti itu. Satu tahun itu sudah cukup lama, apa kamu gak sadar Kak Rafa sangat merasa bersalah gara-gara sikap adiknya itu?” Ujar Dinda, dan kini air mata Dinda mulai menetes dan membasahi pipinya “Aku ingin Karin bangkit dari keterpurukannya selama ini, aku pengen dia kembali seperti dulu sebelum kejadian itu.” Lanjut Dinda sembari menghapus air matanya.

Dicky membuang muka ke arah taman sekolahnya, dia tak ingin Dinda mengetahui kalau dirinya menangis. “Aku pergi dulu” pamit dicky dan bergegas menuju ke kamar mandi. Langkahnya terhenti di depan kelasnya yang saat itu ada Karin di dalam kelas sedang menangis dan menjadi tontonan teman-temannya. dicky memandangi Karin di depan pintu kelasnya. Sesekali air mata turun ke pipinya. Karin, pacarnya dulu dan sampai saat ini yang sangat dia sayangi harus mengalami kejadian pahit itu. “Kenapa harus kamu yang mengalami semua ini? Aku ingin kamu kembali seperti dulu sebelum kejadian pahit itu datang menghampirimu.” Lirih dicky dengan suara Parau. Kejadian tahun lalu saat dimana dia melihat Kejadian Pahit yang dialami Karin dan keluarganya. Saat itu Keluarga Karin dan Keluarga dicky sedang ingin berlibur, dan Rafael yang mengemudi mobil keluarga Karin. Memang saat itu, Rafael tak begitu pandai mengendarai mobil.

Entah itu karena kelalaian Rafael, atau karena apa sehingga Mobil yang di dalamnya ada keluarga Karin itu masuk ke jurang. Sehingga mereka semua dilarikan ke rumah sakit, dan hanya Karin dan Rafael lah yang selamat. Kedua orangtua mereka tak dapat diselamatkan lagi. Karin yang mendengar kabar itu dari dicky, dia langsung menghampiri kedua orangtuanya, tak peduli dia saat itu merasakan kesakitan akibat luka bakar dari ledakan mobil yang ia tumpangi.

“Papah, mamah. Kenapa tinggalin Karin sendiri” Nampaknya karin sangat terpukul atas kejadian itu.

“Dek, kita harus menerima kenyataan. Kita harus merelakan mereka agar tenang di alam sana.” Rafael mencoba menenangkan adiknya itu, tapi tak dapat disangka. Karin berfikir, kecelakaan itu disebabkan kakaknya. “Ini semua gara-gara kamu kak, kalau saja bukan kakak yang mengendarai mobil itu kita semua gak akan masuk jurang!!!” Tuduh karin dengan rasa percayanya.

Dicky menghapus air mata yang meluncur di matanya “Aku harus bisa buat dia kembali seperti Karin yang dulu, Karina Landry Tanubrata yang ceria.” Dia diam sejenak memandangi gadis yang sangat ia cintai itu dan mulai melangkahkan kakinya ke arah Karin. Tapi nampaknya Karin malah menghindar darinya, dia malah pergi saat dicky menghampirinya.

“Mungkin dia masih butuh waktu sendiri, tak apalah. Aku tak mau putus asa, aku masih ingin dia kembali.” Ujar dicky dengan sedikit melontarkan senyumnya.

Tok.. tok.. tok.. suara seseorang mengetuk pintu itu terdengar oleh Rafael yang sedang melamun di kamarnya. Dia pun langsung pergi untuk membuka pintu itu,

“Hai kak” sapa gadis cantik itu, ya dia Dinda.

“Hai juga, ngapain kesini?” Tanya Rafael yang nampak sedikit tak suka kedatangan Dinda ke rumahnya. “Em ganggu ya? Ya udah Dinda pergi aja.” Ucap Dinda sembari membalik badan dan melangkahkan kakinya keluar dengan perasaan kecewanya. “Tunggu..” Rafael menarik tangan Dinda dan menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.

“Maafin aku Din, aku gak bermaksud buat nyakitin perasaan kamu. Tapi kamu tau kan aku ma..”

“Ssstt… aku ngerti kok kak.” Kata Dinda yang sedang menutup mulut Rafael dengan jari telunjuknya. “Aku akan nunggu kakak, aku akan selalu di samping kakak, mencoba membantu menyelesaikan permasalah kakak.” Lanjut Dinda sembari membalas pelukan Rafael. “Thanks ya Din, meskipun sikap aku ke kamu selalu cuek akhir-akhir ini. Tapi kamu harus percaya, aku sayang kamu.” Cupss, satu ciuman Rafael berhenti di kening Dinda. Keduanya saling berpelukan dan tampak senyuman di raut wajah Rafael.

Karin terdiam di balkon kamarnya, suasana malam sangat cerah, tapi tak secerah perasaannya kali ini. “Apa aku salah masih mengharap semua kebahagiaan dulu itu ada lagi? Apa aku salah jika aku memilih diam karena tak ingin lagi aku mengucapkan kata-kata yang tak pantas aku lontarkan untuk kakakku yang pembunuh itu” Liri Karin. Karin menatap ke arah seberang, memandang sebuah kamar kekasihnya dicky. “Maafin aku dicky, bukannya aku udah gak sayang lagi sama kamu, tapi saat ini aku ingin sendiri dulu. Aku masih sayang kamu dicky, gak akan pernah aku lupa tentang kita berdua dulu.” Terpancar sedikit senyuman di wajah Karin, Karin melangkah menuju ke dalam. Seketika dia tersadar, malam ini rasanya begitu sepi. Tak ada lantunan lagu yang terdengar dari kamar Karin. Biasanya setiap malam, Rafael selalu memainkan lagu-lagu ciptaannya dengan Gitar kesayangnnya. “Tumben banget sepi, kemana dia?” Ujar Karin dengan rasa penasarannya, dia mencoba untuk tidak memikirkan itu tapi rasa penasaran itu semakin besar. Tanpa berpikir panjang, dia pergi untuk melihat kakaknya yang dia anggap pembunuh itu. “Astaga, Kakak” pekik Karin saat melihat Rafael tergeletak tak berdaya sembari memegangi pisau, dengan baju yang berubah warna menjadi merah segar dan tampak ada sebuah kertas putih di sampingnya, Karin mengambil dan membaca surat itu.
“Maafin kakak dek, gara-gara kakak kita berdua kehilangan Papah dan Mamah. Kakak juga gak mau itu terjadi, kalau saja waktu itu kakak tau kalau kita akan mengalami kecelakaan itu kakak gak mau mengendarai mobil itu. Kakak juga merasa kehilangan Papah Mamah, kakak juga kehilangan kamu. Mungkin kamu sangat benci sama kakak, dan tak akan ada kata maaf dari adek buat kakak. Ini mungkin jalan satu-satunya agar kamu bisa lega, kakak sayang kamu. Kakak ingin kamu seperti dulu lagi, Karina Landry Tanubrata adiknya Rafael Landry Tanubrata yang ceria nggak seperti saat ini. Kakak pergi, karena kakak ingin kamu gak benci kakak lagi. Maafin kakak ya dek.
-Rafael Landry Tanubrata-”

Dokter masih memeriksa keadaan Rafael, Karin yang menunggu Rafael sangat ketakutan. Dia tak mau kehilangan keluarganya lagi. “Harapan kakak anda buat hidup sangatlah kecil, kita berdoa saja semoga ada keajaiban dari tuhan” lirih Dokter
Karin ternganga “Nggak Dok, dia gak boleh mati. Dokter harus lakukan cara apapun agar Kakak saya selamat” Pinta karin dengan lirih. “Kita berdoa saja, semoga Kakak anda bisa selamat.” Kata dokter yang lalu meninggalkan Karin.

“Rin, gimana keadaan kak Rafa?” Tanya Dinda

“Kata Dokter, harapan buat kakak hidup itu sangat kecil” Jawab Karin dengan nada tersedu “Iya aku emang bodoh Din, aku bodoh. Aku bodoh udah benci sama kakak aku sendiri”

“Sekarang setelah semua ini terjadi, kamu nyesel? Percuma Rin, udah terjadi. Dengan kamu nyesel, gak bakal berubah. Rafael tetap koma”

“Hei apa-apaan kalian ini? Dinda, bisa gak sih jangan bentak-bentak Karin?” Ujar dicky yang baru saja sampai di RS. “Haha, kamu masih ngebelain Karin dicky? Kamu sadar gak sih, kamu itu bego udah setia nungguin Pembunuh ini” Lanjut Dinda

“Cukup!!! jangan sebut Karin pembunuh. Kamu juga bego udah nungguin Kak Rafa, kita semua disini sama-sama bego. Sekarang yang seharusnya kita lakuin itu berdoa buat kak Rafa.” Kata dicky, sejenak semua menjadi hening. Kemudian Karin memilih pergi ke masjid, dan Dinda memilih untuk diam disana menunggu Rafael.

“Ya allah, maafkan aku. Aku telah berdosa, aku khilaf. Aku telah membuat hati kakak aku sendiri hancur. Ampuni hamba Ya allah, dan hamba mohon berikanlah kakak hamba kesehatan. Hamba rela menggantikannya ya allah, hamba telah dibutakan rasa benci sehingga hamba tak bisa melihat betapa tulusnya rasa sayang dia kepada hamba. Hamba mohon, sadarkanlah dia” Lirih Karin

Setelah tiga hari koma, akhirnya Rafael sadar. “Kak Rafa, alhamdulilah udah sadar” terlihat senyuman di raut muka Dinda. “Alhamdulilah” Kata dicky, dia langsung menghubungi Karin yang saat itu baru saja selesai sholat. Karin pun segera menuju kesana,

“Dinda, dicky. Adek aku mana? Karin mana?” Tanya Rafael kesakitan

“Dia sekarang udah berubah kak, dia mengakui kesalahannya selama ini. Selama kak Rafa koma, dia selalu pergi ke masjid mendoakan kakak.” Ujar dicky

“Alhamdulilah, dicky aku mau kamu janji buat jagain Karin buat aku.”

“Iya kak, aku janji. Kita jaga dia sama-sama”

“Nggak dicky, aku udah nggak kuat. Rasanya aku ingin menyusul Papah Mamah aku” Ujar Rafael yang membuat kaget Dinda. “kakak ngomong apa sih? Kakak jangan tinggalin Dinda, dinda sayang sama kakak” Dinda memeluk tubuh Rafael dengan tangisannya.

“Dinda jangan sedih, kamu masih bisa dapetin cowok yang lebih sempurna dari aku”

“Nggak kak, aku maunya kak Rafa” Air mata Dinda pun mengalir

“Boleh aku minta kertas dan bulpoin?” dicky pun memberikan dua buah kertas dan Bulpoint. Entah apa yang Rafael tulis di kertas itu. “dicky, aku titip dua buah kertas ini sama kamu. Jika nanti suatu saat tuhan memberikan restu agar aku bertemu dengan kedua orangtua aku, aku ingin setelah seminggu kepergianku kamu kasih surat itu ke Karin sama Dinda” Pintanya, dicky hanya menganggukkan kepalanya dengan raut muka sedih.

“Kakak, maafin Karin” Ujar Karin yang langsung memeluk Rafael.

“Adek gak salah kok, udah jangan nangis” Jawab Rafael di iringi dengan senyum manisnya. “Aku janji kak, aku mau berubah demi kakak demi orang yang sayang sama kakak.” Lanjut Karin, semua orang yang berada di ruangan itu pun tak dapat lagi meanahan air mata yang keluar.

“Adek harus jadi Karin yang dulu, yang ceria. Kakak gak mau liat kamu sedih lagi, kakak sayang kamu, sayang Dinda. Aku sayang kalian semua” Air mata tak henti-hentinya mengalir di wajah Rafael. Karin dan Dinda pun memeluk Rafael, entah kenapa Rafael lama-lama kemudian tak bersuara.

“Kak, kak bangun. Kenapa kakak diem? Bangun kak” lirih Karin sembari sedikit menggoyah-goyahkan tubuh Rafael. dicky segera memanggil dokter, tak lama kemudian mereka datang. “Dok, kakak saya kenapa? Dia gak papa kan?” Tanya Karin ketakutan. “kalian semua tunggu di luar ya” Pinta Dokter itu dan mereka menunggu di luar. “dicky, Kak rafa gak papa kan?” Tanya Dinda.

“Kita berdoa aja buat kebaikan dia, kalian yang tegar.” Ucap dicky, tapi tampaknya itu tak berhasil membuat Karin dan Dinda berhenti menangis.

“Maaf, kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi, akibat banyaknya dara yang keluar dari tubuhnya dia kehilangan nyawanya” Jawab dokter

“Nggak, kak Rafa gak boleh pergi” Ujar Karin yang langsung pergi menemui Rafael, Dinda dan dicky pun mengikutinya. “Kak, kenapa tinggalin adek? Kenapa kakak tega biarin adek hidup sendiri di sini? Kakak bangun!!! dicky, kenapa kak Rafa jahat sama aku? Kenapa dia tinggalin aku?” Tanya Karin tak karuan.

“Karin, ini udah takdir dari tuhan. Kita tak boleh menolaknya, aku yakin kamu bisa.”

“Nggak, aku gak rela” Ujar Karin terpotong. “Inget Rin, kamu udah janji sama kakak kamu buat berubah, jangan kecewain dia.” jawab dicky yang lalu merangkul kekasihnya itu. Dinda kini tak bisa berkata apa-apa, dia memeluk erat Rafael, lalu mengambil sepucuk surat di atas meja yang bertuliskan untuknya itu dan dia langsung pergi entah kemana.

“hei Din, udah aku duga. Kamu pasti baca surat ini bukan saat satu minggu kematianku. Aku yakin itu, karena itu sifat kamu. Dinda yang Kepo, hehe. Dinda, maaf ya kakak gak bisa jagain Dinda lagi. Dinda harus tetep jadi cewek jutek yah biar gak diganggu cowok-cowok genit. Dinda jangan nangis loh, ntat jelek. Kak Rafa sayang banget sama Dinda, meskipun Dinda sering buat kakak kesel dengan sikap Dinda yang ingin banget ikut campur urusan kakak. Tapi kakak seneng juga, itu bentuk rasa kasih sayang Dinda buat kakak kan. Kalo gitu, ada dua permintaan dari kakak buat kamu. Yang pertama, kakak ingin kamu jagain Karin buat kakak. Jadilah sahabat dia seperti dulu. Yang kedua, coba buka hati kamu buat orang lain, tapi jangan pernah lupain kakak. Karena sampai kapanpun Dinda gak pernah kakak lupain. Bye Dinda bawel.
-Rafael Landry Tanubrata-”

Seminggu sudah berlalu, tampaknya Karin menepati janjinya. Dia berubah seperti dulu lagi, karin yang ceria meskipun sebenarnya dia masih merasa kehilangan kakaknya itu. “Karin harus berubah, demi kakak” ujar karin dalam hatinya.

“Hei Rin bawel” panggil dicky dari depan gerbang sekolahnya, Karin pun berhenti melangkah.
“aku mau ngasih sesuatu sama kamu” Ujar dicky. “Ngasih apa dicky?” Tanya Karin penasaran. dicky pun mengeluarkan kertas putih dari dalam tasnya. “Itu apa dicky?” Tanya Karin lagi. “Ini surat dari Kak Rafa, dia nulis ini seminggu lalu waktu dia sadar.” Jawab dicky.
“Emm gitu yah, yaudah thanks yah.” kata Karin dengan melontarkan senyum manisnya untuk dicky.
“Karin, thanks yah kamu udah berubah. Aku seneng kamu bisa tersenyum seperti ini.” Ujar dicky yang tampak bahagia. “Iya dicky ku sayang, aku kan udah janji sama kak Rafa” Jawab Karin.

Karin duduk di taman rumahnya yang ditemani Bintang-bintang, dia membukan surat itu. Air mata tumpah begitu saja saat ia membaca kata demi kata yang tertulis di surat itu.
“Hai KARINA LANDRY TANUBRATA, adikku yang cantik. Makasih yah adek sudah mau berubah, tetaplah seperti itu selamanya. Jangan ada tangis lagi, kakak gak mau liat air mata kamu mengalir lagi. Kakak disini bersama Papah Mamah melihat kamu dek, kita akan melindungi kamu dari sini. Jangan pernah berfikir kami meninggalkanmu, kami tetap ada di dekat kamu. Jangan sering bertengkar lagi ya sama dicky, kasian dia. Selama ini dia hanya bisa mengalah sama kamu, dan adek harus baikan lagi sama Dinda. Kakak gak mau kaliah musuhan gara-gara kakak, kakak sayang kamu. Kakak juga sayang Dinda, kakak ingin kalian jadi sahabat seperti dulu. Love You karin,
Dari: kakakmu yang cakep ini”

Kini, Karin hidup seperti mereka yang dulu sering dibuat iri olehnya. Karin tinggal bersama keluarga dicky, karena saudara-saudara dari orangtua karin berada di luar kota semua. Jadi Karin memustukan tinggal bersama keluarga dicky. Hubungan Karin dan dicky pun makin harmonis, begitu pula Karin dan Dinda. Mereka bersama lagi layaknya seorang sahabat, dan Dinda sudah menemukan pengganti Rafael yaitu Bisma Karisma saudara sepupu dicky.

END

Cerpen Karangan: Dwi Septianie
Facebook: Dwi Septianie
Karyaku ini tak sebagus dan sekeren mereka semua, tapi aku sudah berusaha untuk membuat cerita ini. Thanks 🙂

Cerpen Ini Salahku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Handphone Ajaib

Oleh:
Dina Angelina Marina, namanya. Ia sering dipanggil dengan nama Dina atau Lina. Tapi seringnya dipanggil Lina, sih. Pasti, semua orang mengira, ia adalah anak baik, sopan, dan rajin. Akan

Pengganti Ibuku

Oleh:
Awan mendung disertai petir yang menggelegar seperti keadaan hatiku. Hari ini, adalah proses pemakaman almarhumah ibuku. Dia meninggal karena saat itu, Ibuku sedang ke rumah teman. Karena tidak hati-hati,

Sahabat Yang Terlupakan

Oleh:
Sewaktu SD aku dan temanku selalu bersam tertawa bersama. Kita bermain bersam kita berbagi suka duka bersama. SD ku tempat aku bergembira sahabatku alasan aku bahagia, sahabatku orang yang

Derita Seorang Anak

Oleh:
Di suatu desa terpencil, ada keluarga yang hidup harmonis. Mereka hidup berkecukupan, ayahnya bekerja sebagai seorang petani dan ibunya sebagai seorang ibu rumah tangga. Kehidupan mereka sangat bahagia. Mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ini Salahku”

  1. Marsha Jasmine Kusuma says:

    Karyamu bagus kok =)) sampe bikin aku nangis. Huhuhu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *