Ini Sudah Terjadi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 June 2017

Apakah ia tidak berpikir bahwa sebenarnya itu salah? Mungkin begitu. Tetapi mungkin juga tidak. Tidak setiap saat, kecuali jika suasana sedang mendukung. Memang itu sangat berguna untuk kebaikkanku maupun kebaikkannya. Dan aku pun tahu bahwa ia sangat mengharapkannya. Mengharapkan perbuatan baik yang akan kulakukan. Kerena kebaikkanku akan mengalir kepadanya. Itu pun sudah kewajibannya. Tetapi, ya, itu tadi, ia tidak berpikir jua kalau itu tidak baik. Tak patut juga berbuat demikian. Kalau dirinya pun sudah baik, itu tak mengapa. Tetapi mengapa tak mngerti juga? Aku sangat heran.

Kasihan sekali dia. Hidupnya selalu merasa was-was dan terkekang dalam ketidakadilan. Hampir setiap hari dia dimarahi oleh bapaknya karena hal yang sepele atau bahkan hal yang tidak jelas. Tetapi selalu dia jalani dengan sabar dan tabah. Karena sebagaimanapun juga ia adalah orangtuanya yang telah merawatnya ketika pertama kali lahir ke dunia.

Sebenarnya, di hati kecilnya, dia sangat kesal diperlakukan seperti itu. Sangat tidak adil. Karena dia juga manusia. Punya perasaan. Padahal dia adalah anak sulung dan mempunyai dua orang adik yang semuanya adalah laki-laki. Tetapi mengapa dia yang sering disuruh oleh bapaknya. Dia serasa menjadi pembantu rumah tangga. Dan apa yang istimewa pada dua orang adiknya itu. Dia kira semua manusia sama di mata Tuhan. Mungkin tdak di mata bapak. Tak habis pikir pula pada benaknya tentang itu. Tetapi yang jelas dia adalah anak sulung dan harus memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada adik-adiknya, kata bapaknya. Mengapa tidak semua anak saja yang memikul tanggung jawab dari orangtuanya, tidak hanya anak yang paling besar. Begitu enak saja bapak menyuruhnya. Seolah ia tidak memikirkan apa yang terjadi padanya. Tetapi dia juga bersyukur memiliki ibu yang selalu membelanya ketika dia dimarahi oleh bapaknya.

Pernah pada suatu malam bapaknya menyuruhnya untuk membeli sesuatu ke warung.
“Nak, tolong belikan rok*k satu bungkus untuk Bapak!” Perintah bapaknya.
“Nanti, Pak. Sebentar lagi. Aku sedang menghapal,” dia menolaknya. Bukan tanpa sebab. Karena dia sangat letih sehabis pulang pada sore hari dari sekolah karena ada kerja kelompok dan apalagi ada tugas yang belum diselesaikan. Dia sudah bilang yang sejujurnya pada bapaknya. Dan dia bilang bilang agar adiknya saja yang membeli. Tetapi bapak bilang adiknya sudah disuruh dua kali. Apa istimewanya hanya baru disruh dua kali, sedangkan aku sudah berkali-kali? Dia berbicara dalam hati. Dan langsung saja bapak memarahinya dengan suara keras.
“Dasar kamu anak tidak tahu terima kasih! Sudah dirawat dari kecil hingga sekarang masih saja membantah! Pergi saja dari sini!” Bapaknya juga mengancam akan mengusirnya. Yang hanya bisa dilakukannya tak lain dan tak bukan adalah menangis.

Ibu terbangun dari tidurnya setelah mendengar keributan. Keluarlah ibu dari kamar.
“Sudahlah, Pak, kasihan dia. Mungkin masih capek.” Sepertinya ibu tahu apa yang sudah terjadi. Kemudian dia duduk di sampingnya.
“Ibu terus saja memanjakannya! Jadinya dia seperti ini! Usir saja dari rumah ini sekarang juga!” Terus saja cacian dilontarkannya dari mulutnya.
“Apakah bapak tega mengusir anaknya sendiri begitu saja? Seharusnya dia juga mengerti,” gumamnya dalam hati.
Kemudian, dia bersedia akan pergi ke warung. Tugasnya terbengkalai untuk sejenak.
“Ya sudah, Pak, mana uangnya?” Jawabnya dengan wajah dingin sambil menengadahkan tangannya.
Seolah tak didengar perkataannya. Bapaknya begitu saja masuk ke dalam kamarnya.

Kemudian dia pun pergi ke kamar untuk tidur. Pikirannya terus tertuju pada kejadian yang baru saja terjadi.
“Memang benar juga apa yang dikatakan Bapak. Tapi uang untuk keperluan sehari-hari saja masih sering kurang, ditambah lagi dengan membeli sesuatu yang tidak bermanfaat,” hatinya terus berkata-kata.
Rasanya jadi anak sulung terasa begitu berat untuknya.
Dan masih banyak lagi kejadian-kejadian lainnya yang membuatnya tidak betah di rumah. Sehingga dia lebih senang berlama-lama di sekolah. Persetan apakah bapak mencemaskannya atau tidak.

Sepertinya bapak merasa bahwa dirinyalah yang paling benar hingga berani berbuat seperti itu. Rasanya ingin sekali dia kabur dari rumah. Tetapi bagaimana caranya hidup? Kerja saja belum. Ingin menjadi gelandangan yang berkeliaran di jalanan? Tentu tidak mungkin. Karena dia juga tidak menginginkannya. Terus bagaimana? Entahlah. Untung saja ibu selalu menjadi penengah. Memang biasanya ibu lebih sayang pada anak-anaknya.

Aku tahu bahwa semua ini tidak aku inginkan. Tetapi juga tidak bisa aku tolak. Karena aku juga tahu bahwa semuanya sudah menjadi skenario Tuhan. Dan pasti Tuhan memiliki rencana lain di balik semua ini. Aku hanya bisa mengambil hikmahnya, yaitu aku harus seorang penyabar, karena mungkin Tuhan akan mengujiku lagi dengan ujian yang lebih rumit di kemudian hari. Karena penyesalan datang di akhir. Yang pasti semua itu untuk meniggikan derajatku. Aku juga hanya bisa menerima kenyataan karena ini untuk kebaikkanku kelak. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Tak bisa mengelaknya karena ini sudah terjadi.

Cerpen Karangan: Wisna Romdona
Facebook: Wisna Romdona
Wisna Romdona
Kelas VIII E
SMPN 1 Subang

Cerpen Ini Sudah Terjadi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Beri Aku Cahaya

Oleh:
Arina semakin memeluk erat lututnya, sesekali menutup telinganya saat orangtuanya semakin meninggikan suara mereka. Tiap hari harus mendengarkan pertengkaran kedua orangtuanya membuat Arina stres berat, padahal dia baru berusia

Salah Paham

Oleh:
“Apa? Lo jadian sama Rival?”, suara Ribkha membuat semua pengunjung menoleh ke kami berdua. Kami hanya bisa cengar cengir melihat seluruh mata yang menoleh ke kami. Memang dasar deh

Tinta Hitam

Oleh:
“Innalillahi wainnailaihi rajiun. Telah berpulang ke Rahmatullah, salah satu rekan kita, Bapak Abdullah. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT. Amin.” Pengumuman itu disampaikan tepat sebelum jam

Pahitnya Pengkhianatan

Oleh:
Nama aku Felly, aku sekolah di salah satu SMA di Yogyakarta aku kelas XII ipa 1. Aku mempunyai seorang pacar yang bernama Angga dan seorang sahabat bernama Keshi, kami

Setelah Luka

Oleh:
Tak hentinya mataku bertatap, seolah ia berharga untukku. Tak hentinya aku tersenyum, seolah ia adalah hal yang terindah. Iya, saat ini seluruh pandanganku tak hentinya berpusat pada dia. Dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *