Inikah Hadiah Istimewa Itu?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 27 May 2017

Ditengah paparan sinar matahari yang menyengat, seorang gadis melangkah dengan riangnya, langkahnya yang cepat dan senyuman yang tak pernah pudar dari wajahnya mengiring perjalanan pulangnya.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya. itu sebabnya ia selalu terlihat gembira hari ini. Ia sudah tak sabar untuk sampai di rumahnya, untuk melihat kejutan apa yang telah disiapkan orangtuanya. Seperti diulang tahun sebelumnya, setiap ia membuka pintu rumah selalu saja ada kejutan yang membuatnya ingin menghentikan waktu. Gadis itu tersenyum gembira mengingat momen-momen bahagia dihari ulang tahunnya.

Ini ulang tahun yang spesial, ulang tahun yang selalu dinanti oleh kebanyakan remaja. Gadis itu pun menanti hari ini, menerka-nerka hadiah apa yang akan didapatkannya. Apakah hadiah kali ini akan menjadi hadiah terindah dalam hidupnya? atau mungkin… saking asyiknya bermain dengan pikirannya ia tak sadar jika ia telah sampai. Gadis itu berhenti tepat di depan pintu rumahnya, sebelum membuka pintu ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia tersenyum dan membuka pintu, namun, sedetik kemudian senyumnya memudar. matanya memandang ke setiap sudut rumahnya. Tidak ada yang berubah masih sama seperti hari-hari biasanya. Rumahnya sepi tak menunjukan adanya penghuni di rumah itu. Dengan rasa kecewa ia melangkah memasuki rumahnya, seakan akan sedang mencari sesuatu, tapi entahlah apa yang dia cari.

Di dalam kamar, gadis itu berbaring di ranjangnya. Menatap langit-langit kamarnya. Kenangan manis dihari ulang tahunnya kembali menari nari dalam benaknya. Di ulang tahunya yang ke-16 ia mendapatkan hanphone baru. Dan disetiap ulang tahunnya orang tuanya selalu membuatkan pesta sederhana untuknya. Tapi hari ini… orangtuanya saja tidak ada di rumah, Apa mereka lupa? rasanya tidak mungkin. Ia mencoba menebak alasan orangtuanya tak memberi kejutan, bahkan kejutan ucapan selamatpun tak mereka ucapkan meski hanya sekedar lewat pesan.

Gadis itu bergelut sendiri dengan perasaannya, membantas setiap kemungkinan-kemungkinan buruk yang terlintas dalam benaknya. Ia mencoba mengingat wajah kedua orangtuanya pagi tadi. Astaga, dia baru sadar bahwa tadi pagi kedua orangtuanya bersikap dingin tak sehangat biasanya. Bahkan saat sarapan pagi pun kedua orangtuanya tak saling menyapa. Ia masih ingat wajah murung ibinya saat sarapan bersama, Dan sikap ayahhnya yang acuh tak acuh.

Ckrek…
Lamunannya buyar oleh suara pintu. Mungkin ibunya telah pulang, dengan senyum kecil yang terukir di wajahnya ia bangkit dari tempat tidurnya untuk menemui ibunya. Berharap ada sesuatu yang akan diberikan untuknya.
gadis itu keluar kamar, dan berjalan ke ruang tamu tempat dimana ibunya sedang istirahat. tapi, ia seakan ragu untuk mendekat, ibunya duduk sambil memegang kepalanya, dan ia pun melihat bahwa ibunya menangis, sadar akan kehadiran anaknya, ibu dari gadis itu cepat cepat menghapus air matanya. Dan mencoba tersenyum kepada anaknya. Sedetik kemudian ibu itu bangkit dan berjalan memasuki kamar setelah mengatakan pada anaknya bahwa dirinya sangat lelah, ada banyak masalah di kantornya.

Gadis itu masih mematung di tempatnya berdiri, menahan air mata yang sebentar lagi akan tumpah. kecewa, iya dia kecewa, bagaimana mungkin ibunya melupakan hari penting untuk dirinya. Ia menggigit bibir bawahnya mencoba menahan setiap gejolak di hatinya.
Ketika ia ingin melangkah memasuki kamar. langkahnya terhenti ketika mendengar suara ayahnya yang membuka pintu dengan kasar, suara ayahnya yang berteriak-teriak dan memaki seseorang. Entahlah! siapa yang membuat ayahnya begitu marah. Padahal sebelumnya ia tak pernah melihat atau mendengar ayahnya berteriak sekeras itu.
Gadis itu berlari kecil menuju ruang utama, dan ternyata di sana sudah ada ibunya. Dia sama sekali tak mengerti denngan keadaan ini, ayahnya marah pada siapa? namun, melihat air mata ibunya membuatnya sadar bahwa orangtuanya sedang bertengkar. Gadis itu mundur beberapa langkah setelah mendengar ibunya berteriak dan memaki-maki ayahnya. Ia tak kuasa melihat pertengkaran itu. Dan pada akhirnya ia masuk dan mengunci kamarnya, Duduk di lantai dan menangis sejadi-jadinya.

Prang… ditengah tangisannya yang pilu ia mendengar suara pecahan beling. Ia tak mau melihatnya lagi, rasanya sudah cukup. ini sangat menyiksa batinya, Inikah hadiah dihari ulang tahun spesialnya?. Hadiah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Orangtuanya yang biasanya terlihat sangat harmonis, tepat dihari ulang tahunnya bertengkar begitu hebat. Tidak ada yang mau mengalah. Bahkan ditengah isak tangisnya ia mendengar ibunya menggugat cerai. Tak kuasa rasanya mendebgar tangisan pilu ibunya dan teriakan-teriakan ayahnya. Gadis itu menutup telinganya berharap ia tak akan mendengarkan pertengkaran itu lagi. Tapi apa? tangis dan kemarahan ayahnya semakin ia rasakan. Bayangan ketakutan menjadi yatim piatu membuatnya kembali terisak.

Tiba-tiba…
Padangannya mengarah pada meja belajarnya. Matanya terpusat pada benda di atas meja itu. perlahan-lahan, Ia mulai berdiri dan melangkah mendekati meja belajarnya, mengambil benda tersebut dan menatapnya tajam. Air matanya seakan tak mau berhenhenti, apakah harus seperti ini? tapi dia tidak tahan, mendengar teriakan ayahnya serta melihat tangisan ibunya. Ia takut jika harus sendiri, Ayah dan ibunya akan bercerai, itu yang ia dengar.

Sementara itu di ruang utama ibu gadis itu duduk di kursi yang tersedia. Menangis dan membantah setiap tuduhan suaminya. Sementara ayah gadis itu bersandar pada dinding ruang utama. Matanya terliha memerah, mungkin karena menahan air matanya sejak tadi. Tangannya mmengepal menunjukan kemarahannya. Namun bibirnya bungkam, Hanya isak tangis sang istri yang membuat suasana seakan pilu. Suaminya melangkah meninggalkan rumah setealah menggebrak pintu.

Gadis itu mendengar suara mobil ayahnya melaju, membuatnya yakin ingin menakhiri hidupnya. Sekali lagi ia memandang benda tajam di tangannya. Memejamkan matanya lalu menggoreskannya tepat pada urat nadinya. Darah segar mengalir begitu saja. Ia menahan rasa sakitnya. Ini tak seberapa dibandingkan dengan pertengkaran orangtuanya tadi. Keseimabangan tubuhnya mulai menurun, kakinya tak mampu lagi menopang berat badannya. Ia jatuh ke lantai, di detik-detik terakhir hidupnya memori kebersamaan kembali menari-nari dalam benaknya. Saat dimana ia bersenda gurau bersama orangtuanya, kejutan-kejutan dihari ulang tahunnya, bercerita apa saja pada ibunya, dan nasehat-nasehat ayahnya. Semua itu masih terekam jelas di memorinya. Pertengkaran orangtuanya di ulang tahunnya yang ke-17. Jeritan ibunya, isak tangis ibunya dan teriakan ayahnya terngiang-ngiang dalam benaknya. Dan terakhir pada pilihannya mengakhiri hidupnya yang kejam ini. Perlahan-lahan matanya mulai terpejam, ia tak lagi menghembuskan nafasnya. Ia telah sampai pada keabadiaan.

Ibunya yang sejak tadi masih termenung dalam diamnya. Entah firasat atau apa ia berdiri dan melagkah memasuki kamar anaknya. Perlahan-lahan tangannya mulai memegang gangag pintu, hatinya berdebar-debar. Entahlah! apa yang membuatnya merasa kacau seperti itu. Perlahan tapi pasti pintu itu mulai terbuka, betapa terkejutnya si ibu saat melihat anaknya tergeletak tak bernyawa dengan darah yang masih mengalir dari tangannya.
Ibu itu langsung berlari mendekati anaknya. Menatap anaknya, memeluk tubuh tak bernyawa itu. Mengapa ia bisa seegois itu. Ia menangis di hadapan jasad anaknya. Tak pernah ia bayangkan bahwa anaknya akan senekat ini. Andai ia bisa mengulang waktu. Mungkin, ia tak akan melakukan kesalahan itu. Ia akan minta maaf pada suaminya. Namun, semua sudah terlanjur dan anaknyalah yang menjadi korban.

Ditengah nisak tangisnya yang pilu, perhatiannya tersita oleh secarik kertas yang ada di atas meja ia bangkit dan mengambilnya. Sebuah surat terakhir dari anaknya…..

Untuk ayah dan ibu….
Ayah, ibu apa kalian lupa kalau hari ini ulang tahunku? di mana hadiah istimewa yang ayah dan ibu janjikan padaku. Atau inikah hadiah itu? ayah ibu tadi aku begitu bersemangat menjalani hari ini, aku begitu bahagia dengan berbagai khayalan yang indah dihari ini. Tapi siapa sangka bahwa yang indah berubah menjadi suram. Ayah ibu, hatiku begitu pilu, Aku takut dengan segala kemungkinan buruk yang ada. Dan inilah yang aku pilih.
Ayah, Ibu mungkin ketika kalian membaca surat ini aku telah sampai pada keabadian. Kumohon pada kalian jangan berpisah. Tetaplah menjadi pasangan yang harmonis meski tanpa aku. Percayalah Ayah, Ibu aku ada di samping kalian.. Aku ada bersama kebahagian kalian, Ukirlah kebahagiaan itu, kumohon.
Peluk dan cium dari anakmu

Ghea

Air matanya mengalir begitu deras, tubuhnya bergetar, ia menatap sendu wajah putri tunggalnya yang tak bernyawa lagi. Kemudian ia mngambil Hp yang ada di saku bajunya dan mulai menelepon seseorang.

Di sebuah rumah yang sederhana namun tetap terlihat elegan. Pasangan suami istri dengan pakaian putih bersih yang mereka kenakan. Duduk di teras rumahnya, mnikmati sejuknya udara pagi, hari ini adalah hari yang fitrah. Hari yang sangat dinanti oleh seluruh umat islam, merka tersenyum bahagia, melihat orang-orang yang sedang berlalu-lalang di depan rumahnya. Kejadian itu, membut mereka sadar akan pentingnya keharmonisan keluarga. Kehadiran seorang gadis remaja itu membuat senyum di wajah keduanya merekah.. si gadis langsung duduk di antara ayah dan ibunya. Memeluk erat ibunya, sungguh ia ingin menghentikn waktu. Ia ingin tetap berada dalam kebahagiaan sederhana ini.

The End

“jangan gegabah dalam memutuskan sesuatu. Ujian adalah bagian dari kehidupan, jangan berlari untuk menghindarinya.. tetapi hadapilah”.

Cerpen Karangan: Nurjanah
Facebook: Ain Lam Mim

Cerpen Inikah Hadiah Istimewa Itu? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyum Ku Bersemi Kembali

Oleh:
Satu tahun yang lalu, mimpi itu pernah hadir membawaku melayang ke angkasa. Dua garis itu ku dapati ketika lima bulan pernikahanku. Kebahagiaan itu tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Namun

Senyuman Terakhir Mikha

Oleh:
Mikha sedang tertidur pulas dengan infusan di tangan nya. Mama menangis melihat kondisi mikha yang semakin parah. Mikha mengidap penyakit kanker darah (leukemia). Mikha terbangun oleh tangisan mama. “Mama,

Daisy Putih (Part 2)

Oleh:
Sudah seminggu lamanya semenjak hari pertama kedatangan Daisy ke rumah ini. Tapi kedua orangtuanya yang katanya akan menyusul tak kunjung tiba juga. Memang, waktu itu Daisy telah menjelaskan alasan

Pulanglah Bu

Oleh:
Tap! Tap! Tap! Kaki mungilku bergerak memasuki pintu yang terbuka. Aku berdiri mematung di depan pintu masuk cukup lama, memastikan penglihatanku tidak salah. Bapak sedang duduk menghadap dinding dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *