Jalan Pulang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 28 April 2017

Samar-samar kudengar dehasan nafas Ayahku. Kami sedang mendaki sebuah gunung menuju rumah tempat kami bercerita, tempat kami melepas piluh, tempat kami tertawa.

“Ayah, biarkan Aku Jalan sendiri Yah.” mintaku kepada Ayah.
“Jangan, ini jalan mendaki Ayah masih kuat,” jawab Ayah sembari memeluku erat. Kulihat wajahnya penuh keringat, sesekali kuusap keringatnya dengan kain yang aku pegang. Beliau menatap Aku sambil senyum simpul. Aku membalasnya.
Kami baru saja pulang dari desa seberang. Jualan kerupuk ubi buatan Ayah dan hari ini terjual habis.

Sebuah pohon asam sedang menunggu kami di tengah pendakian. Kami sering singgah di pohon itu tatkala lelah.
“Adit, nanti kamu mau jadi apa?” tanya ayah sembari mengusap-usap kepalaku.
“Aku mau menjadi burung yang bisa terbang bebas itu Yah,” jawabku sambil menujuk burung merpati putih yang terbang rendah melewati lereng gunung.
Ayah hanya tersenyum mendengar jawabanku. Kemudian Ia menggendongku lagi dan melanjutkan perjalanan.
“Coba Ibu masih ada, pasti Dia yang menggendong Aku,” ocehku.
Mendengar itu aku melihat jelas air mata Ayah keluar dari kelopaknya bersamaan dengan keringat di wajahnya.
Ibuku sudah meninggal dua tahun lalu saat aku berumur empat tahun. Aku adalah anak tunggal.
Ayah memelukku dengan penuh rasa.

Tibalah kami di atas gunung. Ayah, kemudian menatap ke bawah dan tersenyum kepadaku.
“Kita sudah melewati pendakian ini Dit. Ayah selamat dan Adit juga selamat walaupun ada air mata yang sempat jatuh di bawah sana.” kata ayah tersenyum. Ayahku memang murah senyum. Namun
Aku tak mengerti apa maksud ucapan itu.
“Nanti kalau kamu menjadi Burung, terbanglah semaumu bila perlu ke Jerman.”
“Jerman?” tanyaku dalam hati.
Ayah memandangku dengan penuh kasih. Terikan mentari tak terasa, lantas angin masih berlalu-lalang di atas gunung ini. Kemudian Ia memelukku lagi.
Kami melanjutkan perjalanan pulang.
Angin, kicauan burung dan pepohonan ikut menemani perjalanan kami.

“Ayah masak apa hari ini?” tanyaku
“Kita masak ubi saja ya, Dit,” jawab ayah.
Kemudian kulihat ayah memasak layaknya seorang pemasak profesional.

“Ayah… Aku tak mau makan Ubi lagi, Sudah bosan… Apa tidak ada masakan lain gitu?” celetukku memaksa Ayah.
Ayah menatapku dalam-dalam. Aku takut melihat tatapan Ayah. Kemudian Ia mengelus-elus pundaku.
“Tidak mau!.. Aku mau makan yang lain saja…” aku meronta.
Kulihat ayah menarik nafas dalam-dalam dan tersenyum.
“Dit,” suara ayah dengan nada datar dan lembut.
“Kitaa hanya punya Ini Dit, mau ya..”
“Tidak mau! Pokoknya Aku tidak mau makan ubi lagi…” aku menangis.
Ayah, kemudian tersenyum lagi. Ayah belum pernah marah kepadaku selama ini.
“Kalau begitu, Adit tunggu di sini ya. Tunggu ayah sampai pulang. Ayah pergi beli makanan di desa seberang” Lalu Ayah megeluarkan recehan uang hasil dagangannya. Sebagiannya Ia berikan kepadaku. Kuperhatikan ayah meninggalkan rumah gubuk sambil menarik nafas serta tak lupa ia selipkan senyum simpulnya.

“Ayah kenapa menangis?” tanya anakku dengan seksama.
Anakku megusap air mata yang menderai di pipiku dengan selembar tissu dari Ibunya.
“Ayah… Jawab aku. Ayah kenapa menangis?” Tanya anakku memaksa.
Aku tak menjawab.
“Ayah, lanjutin ceritanya. Apa yang terjadi setelah kakek pergi dari rumah itu, apa Dia membawah makanan untuk Ayah?”

Aku meneteskan air mata lagi mendengar anakku bertanya terus.
“Nak… Hari itu adalah hari terakhir Ayah melihat Kakekmu,” mendengar itu, Anakku menagis tersedu-sedu. Lalu Ibunya yang berasal dari Jerman itu ikut meneteskan air mata.

Cerpen Karangan: Johan Arkiang
Facebook: Johano Arkiang

Cerpen Jalan Pulang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ratapan Anak di Luar Nikah

Oleh:
Sehabis pulang kerja Marni tampak sangat berang karena lantai kamar mandi rumah kontrakannya sangat becek malah kamar mandi itu banjir air baknya luber sampai setengah lantai kamar mandi itu

Hanya Untuk Adikku

Oleh:
Rizal? Bagiku, dia memang sesuatu, yang kukenal dalam hidupku. Aku dan adikku yang manis, Liza. Benar kawan, ia memang paling istimewa dalam hidupku. Kami berdua mencintai pria yang sama.

Perbicangan Senja

Oleh:
Senja itu, awan mendung dan mulai mengeluarkan amarahnya yang biasa disebut petir, Ratni dan sang Ibu duduk di teras rumah menikmati hembusan angin dengan ditemani secangkir teh manis buatan

Miggy

Oleh:
Suatu hari, Miza, Ayah, Ibu pergi ke warung. Setelah selesai makan, mereka nongkrong di warung sebentar. Kebetulan hari itu hujan. “Meong.. Meong..” terdengar suara kucing mengaungkecil. Tampaknya ia kedinginan.

Lagu Terakhir Untuk Bunda (Part 1)

Oleh:
Namaku Tya, Ayahku meninggal ketika aku berumur 11 tahun, tepatnya 4 tahun yang lalu. Kini aku tinggal bersama Ibu yang sangat menyayangiku dan Kakakku yang selalu mendukungku. Nama Kakakku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *