Jalan Terbaik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 12 August 2016

Kedatangan Mbak Rina adalah warna dalam hidupku. Dia adalah kakak perempuanku. Tiada hari kami isi dengan kisah, ceria dan bahagia. Seperti menghiasi anak kucing dan sebagainya adalah hiburan yang menyenangkan buatku. Kedatangannya bukan tampa sebab, Mbak Rina pulang karena sakit tumor jinak di lutut kirinya membuat dia pulang dan memutuskan untuk berhenti sekolah. Namun Mbak Rina menepis kesedihannya dengan bermain bersamaku.

Waktu itu aku berumur 8 tahun dan masih kelas 2 SD. Waktu itu aku pulang sekolah dan memainkan duit logam di tanganku. Aku mengantungkan tasku dan duduk di samping Mbak Rina, menemani Mbak Rina adalah tugasku. Aku harus mau mengambilkan tongkat ketika Mbak Rina akan berjalan atau membuatkan susu, atau juga ke toko membeli apa yang Mbak Rina mau dan juga yang lainya. Uang yang selalu ada di tangannya pemberian dari tetangga yang prihatin atas sakit yang diderita Mbak Rina.

“Kamu tau? Uang logam itu kalo kamu simpan akan berkembang loh…!” kata Mbak Rina.
“Masa iya Mbak?” tanyaku.
“Iya, kalau tidak percaya coba saja selipkan di bawah lipatan pakaian itu dan apa yang terjadi?” jelas Mbak Rina.

Aku pun menyelipkan uang logam di bawah lipatan pakaian dan besoknya aku melihat uang logamku bertambah. Tak terpikir rupanya Mbak Rinalah yang secara diam-diam menambah uang logam tersebut. Akhirnya ketahuan olehku dan dia tertawa cengengesan. Walau dibalik senyum dan tawanya Mbak Rina tersiksa dengan menyakit yang dideritanya. Pernah aku melihat Mbak Rina meneteskan air mata sambil menulis Diary teman sejatinya. Pernah juga Mbak Rina menangis sejadi-jadinya dan menyumpahi dirinya agar Allah lekas mencabut nyawanya. Aku hanya diam dan ikut merasakan penderitaan yang Mbak Rina rasakan.

Bermacam-macam pengobatan telah didatangi namun hasilnya Nihil. Tidak membuahkan hasil, bengkak di lutut kirinya bukannya mengempis tapi malah membesar. Sementara ke dokter solusi satu-satunya adalah dengan jalan amputasi.
“Ngak Pak… Rina ngak mau diamputasi! Soal ajal pasti akan menemui setiap Manusia! Rina nggak sanggup melihat kaki rina hanya satu! Rina ngak sanggup Pak!”
Ibu memeluk dan menenangkan Mbak Rina, karena Mbak Rina menangis. Bapak hanya diam lalu menemui Dokter. Aku juga sempat mendengarkan.
“Jika pasien tidak mau, maka kami pun tidak bisa melakukannya! Kami khawatir”
Bapak hanya mengangguk mendengar perkataan Dokter.

Hari pun berganti bulan, bulan juga terus berganti dengan tahun. Penyakit yang Mbak Rina derita juga semakin memburuk! Dari bisa berdiri dengan tongkat kini hanya bisa dengan mengesot di lantai. Jelas semakin menyiksa Mbak Rina, tapi Mbak Rina selalu optimis suatu saat nanti dia pasti akan sembuh. Apalagi besok ada Tabib terkenal akan mengobatinya, menurut kabar jarang yang tidak sembuh jika Tabib itu yang mengobati. Mbak Rina pun memanggil aku, aku melihat Mbak Rina duduk di atas kasur dengan senyum.
“Dek, duduklah disini!”
“Iya Mbak!”
“Kamu sering doakan Mbak, ketika di langgar?”
“Sering Mbak!”
“Nanti doakan Mbak lagi ya? Yang serius dan sungguh-sungguh!”
“Iya Mbak!”
“Soalnya Mbak, bermimpi tadi malam! Di mimpi itu terlihat nyata bahwa Mbak akan sembuh dan menikah dengan lelaki tampan. Jika Mbak sembuh Mbak akan belikan apapun yang kamu mau. doakan Mbak ya?”

Seperti biasa aku ke langgar untuk mengaji, tapi sebelum semua itu dimulai seperti biasa aku menyempatkan diri untuk berdoa agar Mbak Rina sembuh. Kali ini dengan khusuk dan tetesan Air mata.
“Ya Allah… kasihanilah Mbak Rina yang aku sayangi. Dia begitu tersiksa oleh penyakitnya, tidakkah engkau mengkasihaninya? Sembuhkan Ya Allah untuk selama-lamanya! Berikan dia kebahagiaan yang sesunggunya! Aku tidak sanggup mendengar tangisnya, tak sanggup mendengar rintihan. Rintihan penderitaan yang memilukan. Sesungguhnya engkau Maha Pengasih, tunjukan pengasihmu… sesungguhnya Engkau Maha Penyayang tunjukan Sayangmu… Wahai yang Maha Pendengar!”
Kali ini tertetes air mataku, tak terhingga. Doa yang benar-benar tulus dari hati yang terdalam. Entah mengapa timbul di hatiku sebuah ketenangan. Aku yakin Allah akan mengabulkan doaku.

Di malamnya seperti biasa Mbak Rina menyuapiku makan. Aku benar-benar menikmati suapannya, berbeda dengan hari lainnya suapan itu terasa nikmat di mulutku. Tapi mulutku berucap tidak sesuai dengan hatiku.
“Sudah Mbak… aku sudah kenyang!”
“Sudah ya dek?”
Mbak Rina pun menaruh piringku di atas meja yang tidak jauh di sampingnya. Dilihat bengkaknya mengeluarkan darah, semua pada panik! Ibuku, pamanku dan bapakku ada yang mencari mobil untuk membawa Mbak Rina ke rumah sakit. Ada yang mecari lap untuk mengelap lantai yang terkena darah. Namun Mbak Rina terlihat lemas dan selang beberpa menit dia memejamkan mata dengan tenang.

Aku berpikir Mbak Rina hanyalah pingsan, namun ketika dicek nadinya tidak berdenyut lagi. Setelah aku tahu bahwa Mbak Rina meninggal, disaat itulah aku menangis sejadi-jadinya. Dimana doaku yang aku pintakan kepada Allah? Kenapa Allah malah mencabut nyawanya? Kenapa Allah begitu kejam padaku? Semua kekesalanku terluap hingga aku menangis dengan histeris.
“MBAK RINAAA….” tangisku.

Setelah satu minggu aku tidak dapat melupakan kejadian itu. Aku terus mengingait Mbak Rina, semua yang aku lihat seperti ada bayang Mbak Rina. Ketika melihat kursi di depan rumah terbayang Mbak Rina membacakan buku cerita untukku. Ketika melihat meja terbayang Mbak Rina menyuapiku. Ketika melihat kasur terbayang Mbak Rina memelukku.
“Mbak, kenapa Mbak pergi begitu cepat? Sepi rumah ini rasanya!”
Tiba-tiba pamanku menepuk bahuku.
“Iklaskan saja! Inilah jalan terbaik! Dari pada dia lama tersiksa lebih baik seperti ini! Dia sembuh untuk selama-lamanya! Paman mendengar dia sempat mengucapkan syahadat secara perlahan, insya Allah dia masuk surga dan kebahagiaan menunggunya”
Aku tersadar, inilah jawaban atas doaku. Ya, inilah jalan terbaik untuknya. Aku tersenyum semoga dia bahagia disana.

Cerpen Karangan: Saib Ibrahim
Facebook: Baim Sabtu Ibrahim

Cerpen Jalan Terbaik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja di Imajinasiku

Oleh:
Hari sudah mulai malam. “Aku pasti bakal telat karena ekskul ini” gumamku. Tapi aku hanya berjalan santai ke stasiun sambil melihat keadaan kota ini. Jam sudah menunjukkan pukul 5.30

Temanku Yang Setia

Oleh:
Aku melihatnya. Aku melihat seekor kucing atau mungkin seekor anak anjing, sepulang bermain ternyata aku melihat seekor anak anjing yang sedang duduk dan aku melihat tidak ada seekor anjing

Kerja Keras Lisa

Oleh:
Lisa adalah murid kelas 5 SD. Ia anak yatim piatu. Ia anak pertama dari tiga bersaudara. Adiknya bernama Lukman dan Lina. Lukman berumur 7 tahun, sedangkan Lina berumur 4

Takdir

Oleh:
Sore ini hujan kembali jatuh membasahi bumi, kupandangi tetes demi tetes butiran hujan dan sesekali kuulurkan tanganku untuk merasakan dinginnya hujan sore ini dari jendela kamarku. Angin bertiup seakan

When I See You Again

Oleh:
Benarkah ini akan segera berakhir? Ataukah malah baru dimulai? Tak tahu jawabannya akan dunia ini. Karenannya banyak nyawa terenggut, banyak harta tersia-siakan. Karena dunia aku kehilangan mereka. Orangtuaku. Menjadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *