Jalan Terbaik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perpisahan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 January 2014

Pagi ini tak seperti biasanya, terlihat di salah satu kompleks perumahan yang biasanya sepi, khusus pagi ini sangat ramai sekali orang di luar rumah. Oh… ternyata mereka sedang menyambut keluarga yang baru pindah ke kompleks perumahan itu. “Bu semoga Ibu dan keluarga bisa senang ya tinggal di sini”, kata seorang penghuni kompleks.
“iya mudah-mudahan bu, amin…” kata penghuni baru kompleks itu. Setelah dua jam kemudian semuanya pun beranjak pergi menuju rumah mereka masing-masing.

“nah anak-anak ini rumah baru kita, pasti tinggal disini menyenangkan, benar kan?”, kata ibu itu kepada anaknya.
“benar dong ma… tinggal di rumah sebagus ini siapa sih yang nggak mau”, jawab Rewfardh, anak ibu itu.

“hei Jesson kamu kenapa, apa kamu nggak senang tinggal disini?”, kata ibu itu.
“what, oh… i’m sorry, aku capek jadi mau istirahat dulu, byee…”, sahut Jesson sambil berjalan menuju kamarnya.
“aneh ya, ada apa dengan Jesson?”, tanya ibunya
“mm… mam, mungkin Jesson tidak suka tinggal disini, dulu dia kan bilang kalau dia mau tinggal sama dady”, kata Rewfardh.
Ibu itu pun seraya berkata sambil mengambil makanan di atas meja. “benar Fardh… mam lupa kalau dulu Jesson pernah bilang begitu, tapi ya sudahlah, sekarang sudah larut malam sebaiknya kita tidur”.

“ya, silahkan masuk,” kata Jesson ketika mendengar kata-kata ‘excuseme’. “Jesson… kenapa you sepertinya nggak happy tinggal di Indonesia?” tanya Rewfardh pada Jesson.
“saya tidak bahagia karena daddy tidak ada disini, you understand?”, kata Jesson lirih “yes, i’m understand but kasihan mam, melihat kamu sedih, mam jadi bingung. Apa you nggak kasihan dengan mam?” tanya Rewfadh.
Jesson pun tak menjawab dan meminta Rewfadh meninggalkan dirinya sendiri.

Pagi-pagi sekali mom Jesson dan Rewfardh pun sudah menyiapkan makanan untuk sarapan, karena hari ini adalah hari pertama anak-anaknya masuk sekolah mereka yang baru di indonesia, “ayo Rewfardh, Jesson… breakfast yuk!” ajak Mom.
“Ok mom…!” jawab mereka serempak.

Setelah selesai sarapan mereka pun bersiap-siap untuk berangkat. Untuk hari pertama ini mom pun ikut mengantar mereka ke sekolah baru.
“let’s go… ini sekolah baru kalian ‘Internasional High School’ “, kata mom setelah sampai.
“wow… great… thank you mom” kata Rewfardh kagum mendengar kalau sekolah itu bertaraf Internasional.

Mereka berdua pun menuju ke kelas masing-masing setelah dibimbing oleh guru yang akan mengantar mereka, Rewfardh di kelas XI A dan Jesson di kelas X A.

Setelah berada di dalam kelas Jesson disambut dengan senyum simpul yang diberikan oleh siswa siswi kelas tersebut. “nah, hari ini ada teman baru untuk kalian, silahkan perkenalkan dirimu”, kata pak guru yang sedang mengajar di kelas X A itu.
“ok, sebelumnya terima kasih pak atas kesempatannya, hi… my new friends, perkenalkan my name is Hagelt Muhammad Jesson and I pindahan dari Amerika, any question?”, kata Jesson dengan cara bicara yang masih kaku disertai senyum di wajahnya.
“boleh tau nggak alasaan kenapa kamu pindah ke Indonesia”, kata salah satu teman barunya.
“oh… i’m sorry i can’t tell you”, jawabnya dengan wajah sedu.

Jam istirahat telah berbunyi, Jesson dikerumuni oleh teman-teman barunya. Mereka semua menanyakan berbagai hal kepada Jesson sebelum ada suara seseorang yang menghampiri kerumunan itu, “permisi… permisi… Jesson ayo kita ke cafe!” kata Rewfardh yang menyelinap di antara kerumunan di sekeliling adiknya itu.
“mmm… sorry my brother ngajak aku pergi, jadi nanti kita lanjutkan ngobrolnya ok, bye…”, kata Jesson sambil berlalu dari kerumunan itu.

“kamu mau makan apa?”, tanya Rewfardh setibanya di kafe.
“kak, ini apa? Bentuknya unik, kita coba yuk”, ajak Jesson.

Mereka pun sudah pulang sekolah, dan kedua-duanya nggak ada main keluar. Walau pun Mom nggak ada di rumah, mereka tetap saja di kamarnya masing-masing. Ya bagaimana tidak mereka kan masih baru tinggal di sana, jadi mereka belum punya teman untuk bermain.
“uh… uh… uh… I bored in the house”, kata Jesson berteriak
“Jesson… what is it?”, tanya Rewfardh keras karena kaget mendengar teriakan Jesson tadi.
“kak, aku bosan di rumah terus.. kita main ke luar yuk, ayo kak, please ayo temani aku, ya kak…”, bujuk Jesson pada kakaknya.

Rewfardh pun mau tak mau meenemani adiknya main keluar, tapi suasana di luar mungkin bisa di bilang lebih membosankan. Tidak ada anak-anak yang bermain di luar dan tidak ada kendaraan yang berlalu lalang.
“aneh ya Kak, sebenarnya ini kompleks perumahan atau apa sih?” tanya Jesson heran
“iya ya, masa siang begini yang ada kita berdua saja, ya sudah kita jalan-jalan saja tapi jangan bawel”, kata Rewfardh.

Mereka berjalan dari satu tempat ke tempat lain, sekeliling kompleks itu mereka kelilingi. Sampai mereka melihat sebuah taman yang indah’
“Jesson duduk disana yuk”, ajak Rewfardh
“dimana Kak, di taman itu, ah… nggak mau aku itu kan paling anti duduk di taman”, katanya sambil cemberut
“udah kali ini aja please, masa sih nggak mau” rayu Rewfardh.

Keesokan harinya di sekolah, teman-teman sekelas Jesson masih banyak yang mau berekenalan dengannya “wo…o… I’m sorry… aku nggak sengaja”, kata Jesson dengan raut wajah bersalah karena telah menabrak teman sekelasnya.
“ah… nggak apa-apa, ya udah saya ke meja saya dulu”, kata teman sekelas Jesson itu dengan gugup.
Jesson pun memberanikan diri untuk mencoba berkenalan dengan teman sekelasnya itu. “hmm… boleh kenalan nggak”, kata Jesson kaku
“tentu boleh nama aku Shyakila”,
“m… I’m Jesson, thank you.. kamu sudah mau kenalan dengan aku, permisi aku mau go out dulu, bye..” kata Jesson sambil melambaikan tangan
“oh ya… sama-sama bye… bye…”, jawab Shyakila yang terihat cantik dan lembut itu.

Siang hari di rumah Jesson yang terlihat sepi seperti rumah kosong, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang ternyata adalah Rewfardh yang sedang memanggil adiknya “Jesson… Jesson… where are you?” kata Rewfardh sambil berteriak
“what’s wrong, aku lagi malas keluar kamar, bilang aja kalau mau ngomong apa, palingan yang mau dibicarakan yang nggak ada hubungan sama Daddy, ya kan?” teriak Jesson.
“sabar dong Jesson, kakak Cuma mau bilang kalau… kamu harus ingat menjaga perasaan Mom, udah itu aja”, kata Rewfardh sambil melangkah pergi.
Jesson pun kebingungan karena kurang paham dengan apa yang dikatakan kakaknya itu. Lagi pula menurutnya dia nggak pernah nyakitin hati Mom nya.

Jesson duduk di ruang depan sambil melamun, tiba-tiba suara Mom memecahkan lamunannya “what happen?” tanya Mom yang tidak di jawab Jesson sedikit pun dan langsung beranjak dari tenpat duduknya menuju kamar.

Rewfardh pun mendekati Mom “don’t be sad Mom, ya… itulah Jesson yang tidak mengerti masalahnya sehingga dia jadi nggak karuan gini” kata Rewfardh mencoba menghibur Mom nya agar tidak sedih melihat Jesson yang aneh seperti itu.

Memang Jesson sangat menyayangi Daddy nya, sehingga dia nggak bisa bahagia tanpa kehadiran Daddy di dekatnya. Dia pun sebenarnya terpaksa pindah ke Indonesia, kalau Mom dan Daddy nya tidak bertengkar pasti mereka tidak akan terpisah.
“oh my god… I need Daddy…, Daddy aku kangen Daddy, kenapa sih aku waktu itu nggak ikut Daddy aja, bodoh… I’m very stupid… ah… a…” prak, puk, prak, teriak Jesson dengan melempar barang-barangya tang ada di kamar.

Ibunya dan Rewfardh yang mendengar teriakan itu pun langsung pergi ke kamar Jesson “Jesson… Jesson… berhenti, kenapa kamu jadi begini, kalau kamu begini terus Mom jadi sedih melihat kamu seperti ini Jesson” kata Mom menangis tersedu-sedu.
“Mom aku nggak bisa hidup tanpa Daddy… rasanya dunia jadi berhenti, aku butuh Daddy… I need Daddy Mom, pokoknya Mom dan Daddy harus bersatu kembali” teriak Jesson bersikeras pada Mom nya.

Semenjak pindah ke Indonesia, Jesson belum pernah terlihat bahagia dan ceria. Dia beda dengan teman-temannya yang lain, kerjanya cuma murung, menyendiri di tempat-tempat yang jauh dari keramaian. Saat dia duduk di salah satu kursi panjang di sekolahnya, tiba-tiba Shyakila menghampirinya “permisi, boleh saya duduk disini, soalnya semua bangku sudah penuh cuma bangku ini yang nggak penuh”, kata Shyakila gugup “oh… boleh silahkan!” kata Jesson santai.

Shyakila pun memperhatikan Jesson yang tampak melamun, sebenarnya Shyakila ingin tahu apa yang sedang terjadi dengan Jesson tapi dia malu untuk menanyakannya.
“hm… boleh tahu nggak? apa kamu ada masalah, sepertinya sejak tadi kamu murung terus”, kata Shyakila lembut.
Jesson menjawab dengan kata yang kasar “bukan urusanmu, sorry ya”, kata Jesson sampai wajahnya merah
“lho… lho… kenapa lagi tu anak” ujar Rewfardh bingung
“maaf Dek tau Jesson kenapa?”,
“nggak tahu Kak, tadi itu aku cuma nanya, Jesson kamu ada masalah, karena aku perhatiin dia murung terus”, kata Shyakila.
“ya udah, tapi kamu nggak marah kan sama dia, maafin Jesson ya, dia orangnya memang kayak gitu, maaf ya, ya udah saya pergi dulu”, ujar Rewfardh
“nggak apa-apa Kak” jawab Shyakila.

Ternyata Jesson itu anaknya keras kepala, emosional dan egois, apalagi semenjak dia sudah berpisah dengan Daddy nya, sifat-sifat negatifnya itu semakin menjadi-jadi. Mungkin itu karena dia sangat menyayangi Daddy nya itu, pada hal dia tidak mengetahui dengan pasti mengapa Daddy dan Mommy nya bercerai.

Sepertinya yang selalu mendukung Mommy nya hanya Rewfardh, dia nggak mau membuat Mommy nya terluka lagi. Dia merasa Mommy nya tidak boleh terluka lagi karena sudah cukup Daddy nya saja yang membuat Mommy nya terluka dan kecewa.
“Mom… masih sedih ya dengan masalah kemarin?” ucap Rewfardh dengan penuh kasih sayang
“nggak, Mom Cuma takut kalau nanti Jesson tahu apa sebab sebenarnya Mom dan Dad bercerai”, kata Mom.
Rewfardh pun mendekati Mommy nya itu dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. “Mom, nggak usah pikirin itu, kita semakin tahu kalau Jesson itu…”, katanya sambil mendadak berhenti karena tiba-tiba Jesson muncul.
“apa Kak… aku itu apa, Kakak pasti mau bilang kalau aku keras kepala, egois and emosional kan, Kak aku kayak gini karena Kakak dan Mom nggak mau ngasih tau kenapa Mom and Dad bercerai”, kata Jesson
“ah… pusing aku setiap detik, menit, jam bahkan setiap hari kita itu nggak pernah bisa ngelupain masalah ini, apa cuma ini yang harus kita bahas dan aku terpaksa kasar sama kamu…, eh kamu nggak kasihan aku sama Mom, Mom itu juga nggak bisa terima semua ini dan aku pun begitu, tapi kita bersabar menghadapinya, tapi kamu cuma mikirin diri kamu saja, dipikiran kamu itu cuma ada Daddy… Daddy… Daddy… yang nggak jelas itu, oh atau mungkin kamu merasa nggak perlu mendukung Mom karena Mom bukan Ibu kandung kamu, iya kan!” teriak Rewfardh dengan emosi.
“ah… semua itu sama saja, aku udah nggak tahan tinggal di rumah yang seperti neraka ini lebih lama lagi”, kata Jesson
“oke kalau kamu nggak mau tinggal di rumah ini, sekarang juga pergi dari rumah ini”, bentak Rewfardh.
“Rewfardh… kenapa kamu ngusir Jesson?” ucap Mom “Mom sudah cukup kita sabar selama ini, akau nggak ngusir dia, kan dia sendiri yang ingin pergi dari rumah ini, udah Mom biarin aja”, kata Rewfardh.

Jesson pun segera pergi dari rumahnya itu, dia membawa semua barang-barangnya, namun Mom pun mencoba membujuk Jesson untuk tidak pergi “Jesson… kalau kamu pergi dari rumah ini, kamu mau tinggal dimana, Mom mohon jangan pergi Jesson”, ujar Mom sambil memegang tangan Jesson
“maaf mulai hari ini anda bukan Mom saya lagi dan Rewfardh bukan Kakak saya lagi, anggap saja kita nggak pernah punya hubungan keluarga sebelum ini, dan berarti kita juga nggak pernah kenal, sorry saya harus pergi”, kata Jesson sambil mengangkat barang-barangnya ke mobil.
“tunggu Jesson… ingat jangan pernah kembali ke rumah ini lagi, tapi kamu nggak punya malu silahkan kembali ke rumah ini lagi”, kata Rewfardh
“tenang saja, aku nggak akan pernah kembali ke rumah ini lagi never, and thank you karena kalian sudah nerima aku untuk menjadi salah satu anggota kalian”, kata Jesson dan segera pergi dengan mobilnya.

Jesson pun pergi dan kini dia akan memulai hidup barunya tanpa seorang ibu dan seorang kakak, tapi apakah mungkin Jesson sanggup sebatang kara tanpa keluarga, Jesson memang sungguh keras kepala.

Pagi hari di sekolah, ini adalah hari pertama Jesson pergi sekolah tanpa ditemani Mom dan Kakaknya. Dia merasa nggak tenang, karena dia takut kalau nanti dia bertemu dengan Rewfardh yang sekarang bukan dia anggap siapa-siapa lagi
“hai Jesson, kamu kok gelisah banget?” tanya Shyakila
“eh.. aku nggak apa-apa, I’m fine, udah aku mau ke kelas dulu”, kata Jesson gugup
“mm.. tunggu aku mau minta tolong, kamu bisa kan ngasih buku ini sama Kak Rewfardh, lagian kalian kan adik kakak, pasti tinggalnya serumah, please tolong ya Jesson”, kata Shyakila.
“aduh.. gimana nih, nggak mungkin aku nggak maun nolongin Kila, nanti aku dibilang sombong, ah… gimana ya” pikir Jesson.
“Jesson… Jesson… kok kamu malah bengong”, kata Shyakila heran “oh… nggak apa-apa, mana bukunya biar aku kasih sama dia”, kata Jesson
“nih… makasih ya Jesson, gimana kalau kita ke kelas bareng yuk” kata Shyakila
“oh.. yes let’s go, ya udah aku ke bangkuku dulu ya”, ujar Jesson.

Jesson pun mencoba memberanikan diri untuk bertemu dengan Rewfardh “mm… nih your book from Shyakila”, katanya terburu-buru “oh…thank you”, kata Rewfardh
“lho.. kok aneh, kalian kan adik kakak tapi kok kayak orang nggak kenal dan musuhan? kenapa sih loe Fardh” tanya Defray teman Rewfardh
“loe tu salah lihat, kita itu biasa aja kal” kata Rewfardh.

Deefray pun merasa ada yang tidak beres di antara Rewfardh dan Jesson. Namun Rewfardh mengajak Defray ke kantin agar dia nggak mikirin dia nggak akur dengan Jesson.
“hi Jesson… how are you doing?”, tanya seseorang tiba-tiba memegang pundaknya dari belakang. Ternyata itu adalah Daddy nya “oh my god, Dad.. aku kangen sama Daddy… Daddy kemana aja?” tanya Jesson dengan wajah yang berseri-seri.
“Daddy juga kangen sama kamu, Rewfardh and your Mom” kata Daddy
“Dad sebenarnya aku, Rewfardh, wanita itu nggak tinggal serumah lagi, mereka bukan keluargaku” kata Jesson
“Jesson kok kamu bicara seperti itu, Mom itu ibumu, Rewfardh itu kakakmu jadi kamu nggak boleh kayak gini dong, sekarang kita ke rumah kamu yuk!”, kata Daddy.
“maksud Daddy rumah yang dihuni Rewfardh dan wanita itu?” kata Jesson
“Jesson panggil dia Mom, ok, ayo kita ke sana”, ajak Daddy.

Tok… Tok… Tok… Daddy pun mengetuk pintu rumah itu.
Mom pun segera membuka pintu “ya tunggu sebentar” ujar Mom
“Gerrad… untuk apa kamu kesini lagi?” kata Mom
“Diana… aku kesini…” katanya terputus karena Rewfardh tiba-tiba muncul dari dalam rumah
“oh.. dasar kalian nggak punya malu, masih berani ya datang kesini, mau apa, mau nyakitin Mom, kalau hanya untuk itu sebaiknya sekarang juga pergi dari sini, saya muak ngeliat wajah kalian, go out now…” kata Rewfardh geram
“tenang saya pasti akan pergi, lagi pula saya kesini untuk meminta maaf dan ingin menitipkan Jesson lagi”, kata Daddy
“WHAT… Dad you’re kidding me” kata Jesson kaget.
“nggak Daddy nggak bercanda, Daddy cuma ingin kamu bahagia, karena Daddy nggak akan mungkin lagi tinggal bersama kamu, sebab sebentar lagi akan pergi untuk selamanya, I’m sorry Jesson, Diana aku mohon, kamu mau kan merawat dan menjaga Jesson lagi, Rewfardh kamu mau kan terima adik kamu lagi, kalian itu saudara kandung, jadi Daddy mohon kalian harus selalu akur ya” ujar Daddy penuh haru.
“tau tuh, aku sih terserah Mom aja”, kata Rewfardh
“ya, tentu saya mau nerima Jesson” kata Mom
“I’m sorry, thank you because mau nerima saya lagi, tapi saya akan memikirkan ini dulu, Daddy yuk kita pergi dari sini” ujar Jesson pada Daddy nya.

“Jesson, kenapa sih kamu nggak langsung disana aja” kata Daddy
“nggak, aku harus berpkir matang-matang, karena nanti aku nggak mau milih jalan yang bakal nyesati aku, lagian memang Daddy mau kemana?” kata Jesson.
Daddynya pun menjawab pertanyaan anaknya itu dengan gugup “mm… Daddy akan pergi jauh, pokoknya jauh, jadi Daddy mohon kau mau ya tinggal sama mereka lagi”.

Dua hari pun telah berlalu namun Jesson masih belum bisa menentukan pilihannya
“hai Jesson, lagi ngapain?” tanya Shyakila
“aku lagi bingung milih tinggal sendiri atau kembali bersama Rewfardh dan ibu tiriku” katanya pilu.
“Jesson menurut aku sebaiknya kamu kembali tinggal sama Mom kamu lagi, kamu kan tau betapa besarnya kasih sayang Mommu itu pada kamu, semenjak kamu lahir sampai sekarang semua yang kamu butuhkan dia siapkan, dia udah menganggap kamu sebagai anak kandungnya sendiri dan aku rasa ini satu-satunya cara kamu membahagiakannya dan membalas semua kebaikannya hanyalah dengan kamu kembali tinggal bersamanya bukan membenci dan menjauhinya seperti sekarang, jadi aku rasa hanya ini jalan terbaik, aku yakin pasti kamu akan bahagia, udah dulu ya aku mau pergi ke rumah nenekku dulu, dah…” kata Shyakila panjang lebar.
“aduh… apa sebaiknya aku nurutin saran dari Kila tadi aja yah” kata Jesson.

Tiba-tiba HP-nya berdering, Jesson segera mengangkat telponnya yang ternyata dari Rumah Sakit yang mengabarkan Daddy nya masuk Rumah Sakit yang langsung mengejutkan Jesson dan segera menuju tempat Daddy nya dirawat.
“maaf suster pasien yang bernaama Abdul Jonathan Gernodlie di ruang mana?” tanya Jesson panik kepada suster
“di ruang UGD tingkat dua” jawab suster itu.

Ketika sampai di depan pintu ruang UGD, keluar seorang Dokter yang menangani Daddy Jesson
“Doctor, what happen to my dad” tanya Jesson
“Daddy adik mengidap penyakit kanker stadium akhir” kata Dokter
“what… no, no, doctor, this impossible, kenapa Daddy tidak pernah bercerita kepada Jesson” ucap Jesson lirih
“sebaiknya kamu masuk menemui Daddy mu”

“Dad… why you not told to me, kalau Daddy sakit kanker” kata Jesson
“udah kamu nggak usah mikirin Daddy, Daddy ingin kalau Daddy udah nggak ada kamu bisa hidup bahagia bersama Rewfardh dan Mom” kata Daddy.
“nggak Dad sekarang yang penting Daddy harus sembuh, urusan itu nanti aja, Daddy pokoknya harus lawan penyakitnya” ujar Jesson tegas.
“my son, Daddy cuma ingin kamu memilih jalan yang tidak menyesatkan kamu, tanpa Daddy kamu pasti bisa, good bye my son… I.. lo.. love you “kata Daddy untuk terakhir kalinya.
Jesson pun tidak sanggup lagi menahan air mata yang kemudian jatuh di pipinya, menangis sekeras-kerasnya berharap semua yang terjadi hanya mimpi belaka.

Hari ini adalah hari pemakaman Mr. Gerrod, Jesson terlihat jelas sudah kehilangan tenaganya karena selama semalaman menangis terus-menerus dan di sampingnya Rewfardh dengan pandangan sayu menatap Jesson memapah adiknnya itu agar tidak jatuh, tiba-tiba terdengar seruan dari Jesson “jangan… jangan… jangan ditimbun, kasihan Daddy kan gelap” kaatanya histeris
“Jesson udah sayang, Daddy udah pergi, tapi disini masih ada Mom, Kak Rewfardh dan teman-temanmu, kamu harus kuat, kamu nggak boleh kayak gini” tutur Mom.

Seminggu berlalu, Jesson pun menemui Mom dan Rewfardh kemudian meminta maaf kepada mereka. Semenjak itu mereka pun hidup bahagia, memang Jesson telah memilih jalan yang terbaik.

The end

Cerpen Karangan: Winda Irza Yanti
Facebook: Winda Irza Yanti Waw

Nama: Winda Irza Yanti
Tgl Lahir: 15 Desember 1994
Alamat Asal: Bukittinggi, Sumatera Barat
Alamat Sekarang: Tembalang, Semarang
Status Pekerjaan: Mahasiswi Universitas Diponegoro, Jurusan Business Administration, FISIP

Motto: Kesederhanaanku adalah gambaran Kekuatanku

Cerpen Jalan Terbaik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Broken Home Tak Selamanya Menyakitkan

Oleh:
Namaku Afrizal Prambudi. Aku biasa dipanggil dengan sebutan Rizal atau Ijal. Menurut kebanyakan orang aku adalah anak yang beruntung. Tapi kenyataannya tidak, aku adalah anak broken home yang selalu

Satu Jam

Oleh:
Hiduplah seorang anak dan ibunya di dalam rumah yang miskin. Bapak mereka telah lama mati. Kini tinggalah mereka berdua. Sehari hari sang ibu sibuk mengurus pekerjaan dan rumahnya, dan

Untukmu

Oleh:
Rumah Cahaya, sebuah rumah dan juga rumah sakit yang berisi anak-anak dengan penyakit mereka, yang tidak mempunyai rumah dan orangtua. Di sini mereka tertawa, bermain dan belajar. Berjuang dan

Percikan Api

Oleh:
Sudah lima menit ia menatapi percikan api yang timbul saat mesin las menyentuh pipa besi. Memerhatikan ayahnya yang sedang bekerja. “Kamu nggak main, Nak?” tanya si Ayah, sambil terus

Ketujuh Putri Putriku

Oleh:
Di suatu desa hiduplah sebuah keluarga, dimana di tengah-tengah keluarga ini tidak terlestarikan lagi kerukunan dan keharmonisan. Pak ernata dan bu ernata adalah sepasang suami istri yang mempunyai enam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *