Jangan Iri Eli

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 16 June 2017

Eli berjalan bangga memakai baju putih biru untuk pertama kalinya. Sesampai di depan gerbang SMP, Eli melihat Andi teman SD nya dulu. Andi terlihat sedang turun dari motor dan mencium punggung tangan ibunya. Andi melintas tepat di depan Eli.
“Ck, sudah SMP masih saja diantar ibu, cium tanggannya lagi,” Eli mencibir Andi. Andi melihat Eli dengan ekor matanya lalu membuang muka dan terus berjalan.

Suara bel istirahat sudah terdengar, Eli dan kawan-kawan barunya pun langsung menyerbu kantin. Kali ini mungkin ia beruntung karena tidak sekelas dengan Andi yang termasuk musuh satu-satunya dalam belajar. Ya, Eli dan Andi selalu berebut peringkat pertama. Eli dan teman-temannya duduk di bangku kantin paling pojok kanan. Dan betapa terkejutnya Eli mendapati di bangku sebelah kirinya terdapat Andi duduk menyendiri sembari menyantap bekal yang ia bawa.
“Eh, liat tuh, sudah SMP masih aja bawa bekal kayak anak TK,” ejek Eli lagi sembari mengarahkan dagunya ke arah Andi. Teman-teman Eli pun bersorak-sorak dan ikut menertawakan Andi. Mendengar semua itu, Andi hanya dapat terdiam.

Dua bulan sudah dilalui oleh Eli dan juga Andi di SMP. Sudah banyak jenis sindiran dan ejekan yang diberikan Eli kepada Andi dan juga semakin banyak Andi mendapat ejekan dari Eli.
Hari ini Eli mendapatkan tugas piket kelas. Dan hari ini Eli datang paling pagi di kelasnya. Kira kira hanya ada lima sampai sepuluh orang murid yang sudah ada di sekolah tersebut.
Disaat Eli menyapu kelas, tiba-tiba
“Ekkhhmmm” Eli mendengar suara dehaman seseorang dari luar kelasnya. Eli berjalan mendekati pintu dan melirik ke luar kelas. Betapa terkejutnya Eli mendapati Andi sedang termenung di depan kelas C yang berada di sebelah kanan kelas Eli. Eli menuju ke arah
“Andi,”
“Hmm?” Andi menjawab dengan dehaman
“Maafin aku ya Ndii.” Ucap Eli dengan nada nanar. Andi melirik Eli dengan tatapan tak mengerti
“Maafin aku karena aku terus mengejekmu.” Eli menundukan kepalanya. Andi terdiam.
“Alasanku mengejekmu karena..”
“Kalau kamu ingin mencari peringkat pertama, cara ini salah Li!” Andi menyela, jujur ia sudah tak bisa menahan diri, isakannya mulai terdengar.
Eli langsung menggeleng. “Bukan Ndi tapi karena aku iri!” air mata Eli sudah menetes.
“Maksudmu Li?” Andi semakin tak mengerti apa maksud perkataan Eli ini
“Aku iri Ndi karena kamu masih bisa mencium punggung tangan ibumu, karena ibumu masih dapat memberikanmu bekal.” Buliran bening mata Eli menetes dengan deras
“Memangnya ibumu kenapa Li?”
“sudah tiada” Andi tak menyangka “Maaf Li aku enggak bermaksud buat kamu jadi kayak gini.”
Eli menggeleng “Enggak apa-apa Ndi.” “Kamu boleh kok pergi ke rumahku kalau kamu butuh tempat bercerita.” Ucap Andi. Eli melihat Andi nanar dan langsung memeluknya. “Makasi ya Ndi.”

Eli menuruni anak tangga dan mendapati papa sedang berada di dapur. Eli menghempaskan diri ke sofa dan memilih menonton TV daripada membantu papa di dapur.
Hari ini adalah Minggu pagi yang cerah tetapi bagi Eli adalah hari Minggu yang membosankan. Karena ia hanya bersama papa di rumah tidak seperti tujuh bulan yang lalu dimana ia masih bersenda gurau dengan orang yang sangat ia cintai, mama.

Karena merasa sangat bosan ditambah bunyi perutnya yang sudah menjadi, Eli memutuskan untuk pergi makan keluar.
“Pa, Eli pergi buat makan di warung sebelah ya!”
“Tapi papa sudah membuatkanmu makanan spesial Eli!” ucap papa dari dapur yang terlihat sedang mencuci perabotan masak.
“Enggak pa, makanan papa enggak enak! Jelek dan hambar!” ucap Eli dengan nada penekanan. Eli pun langsung keluar mencari makan.
Melihat tingkah laku sang putri semata wayangnya, papanya Eli hanya dapat menggeleng kepala.

Sesampainya Eli di rumah, Eli tidak melihat keberadaan papa. Mungkin papa sedang pergi ke rumah temannya. Itu yang ada di benak Eli, Eli tidak peduli dengan keberadaan papa dan Eli pun senang papa tidak berada di rumah. Ia merasa dirinya bebas.

Hari ini, setelah jam pelajaran berakhir dan waktu menunjukan untuk pulang, Eli memutuskan pergi berjalan kaki ke rumah Andi bersama Andi.
Di depan gerbang sekolah, Eli melihat banyak sekali siswa dan siswi di jemput oleh ibu mereka. Eli menatap pemandangan itu dengan nanar.
“Eli, ada apa?” tanya Andi yang melihat Eli seperti itu. Eli langsung menggeleng. “Mereka beruntung ya Ndi, masih dapat merasakan kasih sayang seorang ibu.” Eli berusaha meceritakan keirian hatinya. “Sudahlah Li, kamu masih beruntung memiliki seorang ayah.” “Tapi kasih sayang papa enggak sama dengan kasih sayang mama Ndi!”
“Tapi menurutku papamu adalah orang terbaik di dunia! Masakan yang ia buat sangat enak melebihi masakan chef berkelas!” kata Andi memuji
“HAH? Maksudmu? Kamu kenal papaku?!” Eli sangat terkejut mendengar perkataan Andi itu. Orang terbaik di dunia? Masakannya sangat enak? Sungguh di luar kepercayaannya. Andi hanya terdiam tidak menjawab petanyaan Eli.
“Kamu juga beruntung masih memiliki seorang ibu Ndi, kurasa hidupmu sangat sempurna.” Eli semakin menceritakan keiriannya
“Sudahlah Li, lupakan, ayo kita jalan!” kata Andi berusaha mengganti topik pembicaraan “Oke. Oiya, di mana ibumu? Dia tidak menjemputmu?” tanya Eli. Ia setuju mengganti topik, mungkin dengan menganti topik hatinya terasa lebih tenang. “Aku sudah bilang kepada ibu kalau aku jalan kaki bersamamu, jadi aku menyuruh ibu untuk tidak menjemput.” Kata Andi dengan terenyum.

Di perjalanan menuju ke rumah Andi, Andi dan Eli menceritakan banyak hal. Tibalah di suatu tempat, Andi tiba-tiba berhenti di tempat tersebut. “Panti Asuhan Sayang Bunda” Eli membaca palang yang bertuliskan nama tempat tersebut. “Andi, ada apa? Mengapa kita berhenti di sini?” tanya Eli tak mengerti.
“Nanti kamu pasti tahu! Ayo masuk dulu!” Andi menarik tangan Eli masuk.

Andi dan Eli terdiam di suatu tempat kini, ia berada di dalam panti. Andi menyuruh Eli untuk mengintip sebuah ruangan dari luar di celah pintu. Eli melihat banyak anak-anak yang berbaris rapi. Ternyata ruangan ini adalah ruangan untuk makan. Eli melihat sosok pria paruh baya sedang menyendokkan bubur kepada seorang anak. Eli menyipitkan mata untuk melihat sosok pria tersebut. “Papa?” alangkah terkejutnya Eli mengetahui pria tersebut adalah papa. Papanya! Eli terus mengintip. Ia melihat papa mengelus rambut anak-anak tersebut dengan kasih sayang. Bahkan Eli melihat papa mengendong seorang balita lalu menciumnya. Lalu papa mengambil lagi semangkok makanan. Eh, Eli tahu makanan apa itu, sup bubur yang dulu sering Eli makan dengan mama dan ketika mama telah tiada, papa pun sering membuatnya tetapi rasanya jelek, enggak enak dan hambar. “Bagaimana? Sudah melihat Li?” tanya Andi.
Eli mengangguk “itu papa. Papa! Orang yang selalu kujauhkan selama ini, ternyata dia sangat baik dengan anak-anak di sini!”
“Anak-anak disini sangat menyayangi papamu Li, papamu juga begitu. Papamu selalu datang kemari dengan membawa sup bubur yang enak!” ucap Andi. Eli pun menangis. “Aku, anaknya bahkan belum pernah mencicipi sup buburnya, aku anaknya bahkan belum pernah disuapi kecuali waktu kecil. Itu semua karena salahku menjauhi papa. Karena aku anggap papa adalah orang yang cuek dan kurang perhatian.”
“Dan papamu juga rela membuang pekerjaannya demi kamu dan juga demi panti ini Li!” Eli terdiam. “Dan satu lagi, kamu sering mengatakan kalau kau iri denganku, seharusnya aku yang iri kepadamu. Karena aku anak yatim-piatu Li, rumahku di sini dan orang yang selalu menjemputku dan mengantarku itu bukan ibuku melainkan ibu panti ini.” Air mata Andi menetes. Eli teringat, papanya selalu ingin mengantarkannya untuk ke sekolah tetapi Eli menolak dan papanya selalu membawakan bekal untuknya tetapi Ei tidak pernah memakannya.

Eli langsung membuka pintu ruangan itu, dan papanya langsung melihatnya terkejut.
“Eli?” Eli langsung mengangguk dan berlari menuju papa. Eli langsung memeluk papanya dan langsung dibalas oleh papa.
“Pa, maafin Eli, Eli sadar Eli menganggap papa cuek ternyata dugaan Eli salah, maafin Eli ya pa.” Suasana haru pun terjadi.
“Iya nak, maafin juga papa yang enggak bisa jadi mama kedua buat kamu.”
“Tapi Eli takjub kepada papa, karena papa sudah menjadi ayah pertama untuk panti ini.” Papa pun mencium kening Eli. Untuk pertama kalinya Eli mendapat ciuman dari seorang ayah dari sekian lamanya. Papa pun menyendokan Eli sebuah sup bubur, Eli langsung menyantapnya. Mata Eli membinar ternyata rasa masakan papa ini sangat lezat bahkan melebihi rasa masakan mama terdahulu. Sekarang Eli merasa sangan nyaman dan tenang. Andi, Eli dan papa berpelukan penuh haru.

Dua bulan berlanjut. Setelah kejadian tersebut, Andi diangkat oleh papa Eli menjadi anaknya. Sekarang Eli sadar, ternyata selalu ada kebahagian di setiap keluarga. Kebahagiaan tersebut tidak akan muncul dari pandangan mata apalagi dari keirian hati. Tetapi kebahagian muncul dari cara kita bersyukur memiliki apa yang kita punya. Janganlah melihat orang lain karena kebahagian keluarga kita tidak ada di sana. Bahkan dengan cara kita bersyukur kita merasa keluarga kita banyak keistimewaannya.

Cerpen Karangan: Putu Clara Rosalia
Facebook: Clara Rosalia (Facebok)
Putu Clara Rosalia, it’s my name. lahir di Denpasar 20 September 2003. seorang anak keas 7 smp yang bermimpi menjadi seorang penulis ^^

Cerpen Jangan Iri Eli merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berpisah

Oleh:
Tak terasa sebentar lagi aku akan lulus SD. Sedih rasanya, akan berpisah dengan kalian para sahabatku. Bagaimanapun dalam persahabatan pasti ada perpisahan. Anggi ingin melanjutkan SMP di luar kota,

Kehidupan Yang Kedua

Oleh:
Kuterdiam dalam kegelapan, kuhidup dalam kesunyian dan kuberlari dalam angan, benda benda yang menempel di tubuhku taklagi dapat kurasakan. Kutapaki lorong panjang yang tiada ujung. Lelah rasanya menentukan langkah

Puasa Ramadhan Pertama

Oleh:
Bulan Ramadhan pasti sudah tak asing lagi di telinga kita, bulan penuh berkah dan ampunan dari Yang Maha Kuasa, bulan dimana orang-orang berlomba-lomba mendapatkan banyak pahala, bulan suci yang

Boneka Robot Kucing

Oleh:
“Hua!! Pokoknya aku pingin melihara kucing!! “bentakku. “Tapi, kamu alergi sama kucing, sayang,” ucap Bundaku dengan lembut. “Tap.. Tapi, kucing itu imut,” tangisku. “Mengertilah dengan keadaanmu itu, adikku tersayang,”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Jangan Iri Eli”

  1. dinbel says:

    Kerenss Dan bermakna cih, tpi ada yang kurang kok tokoh adi tiba2 muncul di pintu kelas Eli, Dan Eli hanya terdiam. Inti nya konflik nya kuranh greget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *