Jangan Petik Mawar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 June 2014

“Apa yang dapat aku sukai dari setangkai bunga? Mencintai bunga hanya perlambang lemahnya seorang perempuan. Bunga bukanlah identitasku sebagai perempuan. Aku menolak mencintai bunga, bukan lantaran aku membenci keindahan, tetapi bunga selalu membawa misteri baru dalam hidupku.”

Raka masih tak percaya cintanya tertolak, ia seperti telah kehilangan kepercayaan dirinya sebagai seorang lelaki. Aku mengenal Raka sebagai seorang yang santun dan tak banyak bicara. Keberaniannya untuk menyatakan cinta kepadaku, bisa jadi hal terhebat dalam hidupnya. Tetapi, aku tak seharga dengan mawar putih yang ia berikan, tidak, meski mawar putih itu, berbicara padaku soal ketulusan.

Sejak peristiwa penolakanku terhadap Raka, aku semakin yakin, bahwa perempuan tak perlu takluk di hadapan bunga. Siapa yang berani menjamin laki-laki baik yang bersamaku sekarang ini, tak akan menjadi laknat di kemudian hari. Laki-laki itu ya laki-laki, mereka sama saja, dan Raka, bukan pengecualian atas hal ini, dia mungkin baik, ya, itu karena dia belum saja terbukti berbuat jahat.

“Mawar, bangun Nak sudah pagi, jangan sampai kamu terlambat ke sekolah!” panggil ayah.

Aku hanya merubah posisi tidurku yang semula menghadap kiri menjadi ke sisi kanan. Dari posisi ini tak sengaja mataku memandang bingkai foto di atas meja belajar. Aku melihat seorang perempuan ayu tersenyum di balik bingkai, dan entah sejak kapan, pipiku telah tergenang air mata.

Aku terduduk, di atas ranjang, mengusap air mata dengan cara khas seorang anak perempuan. Air mata itu menguar, aromanya menyeduh pekat masa lalu, membawa hangat perempuan dalam bingkai kaca. Aku telah lupa kapan terakhir kali aku menangis, yang ku tahu hanya bagaimana cara agar tak menangis lagi.

Setelah mandi kuturuni tangga satu demi satu menuju ruang makan. Di bawah aku melihat ayah sudah menungguku sambil membaca Koran, dan, seorang perempuan yang tak pernah aku harapkan juga duduk disana, di sebelah ayah.

“Mawar, cepat sini duduk, Papa dan Mama sudah menunggumu dari tadi.” pinta ayah.

Aku mengambil tempat duduk paling ujung, Tanpa banyak bicara, kuambil nasi dan beberapa lauk, tetapi saat hendak mengambil lauk tiba-tiba perempuan itu menyodorkan piring berisi telur ceplok setengah matang kepadaku. Aku memang suka telur ceplok setengah matang, tetapi tidak dengan keramah-tamahan semacam ini, aku bisa mengambilnya sendiri.

Sejenak kami saling menatap, membaca kebisuan yang terselip di antara bola mata yang beradu. Perempuan itu mencoba tersenyum kepadaku, tetapi aku hanya tergerak mengambil telur di piring yang ia sodorkan, kutusuk dengan garpu, lalu cepat–cepat kupindah ke atas piring makanku. Ayah melihat lakuku, raut wajahnya tak lagi ramah, aku benci tatapan itu.

“Terimakasih.” Ucapku.

Perempuan itu hanya membalas dengan senyuman. Menyesal rasanya, harus mengatakan sesuatu yang bukan atas kehendak hati. Tetapi biar, biar kupuaskan mereka dengan sandiwara ini, toh penonton hanya tahu apa yang mereka saksikan, susah senang di belakang panggung siapa yang peduli, mereka itu hanya penikmat kepalsuan, sebuah lakon drama dengan ending yang mereka pesan.

Ayah adalah seorang yang kaya, juragan sapi potong terpandang di desa. Sebagai seorang yang kaya dan punya pengaruh di desa, ayah menjadi incaran berbagai macam partai politik, hingga akhirnya tahun 2009 ayah pun menerima tawaran bergabung dengan salah satu partai politik.

Setelah menjadi orang partai, ayah sering pulang larut, ketika ibu bertanya perihal kesibukannya, jawaban ayah selalu sama “ada rapat penting di partai” dan ibu hanya menerima tanpa protes. Ayah juga punya kebiasaan baru, yaitu membawa bunga untuk ibu setiap kali pulang kerja, dan sekali lagi ibu selalu menerima tanpa banyak tanya.

Malam itu ibu jatuh sakit, ibu memang punya jantung lemah sehingga selama ini ia tak boleh banyak kerja. Sudah menjadi langganan ketika ibu lelah, ibu akan jatuh pingsan, jika sudah seperti itu, ayah akan lekas menggendong ibu dan mengistirahatkannya di kamar. Tetapi malam itu, ayah tak pulang, sakit ibu kambuh, aku yang masih duduk di bangku SMP tak tahu harus berbuat apa. Jam 12 malam, aku berteriak-teriak minta tolong. Saat ibu terkulai di lantai, di tangannya aku melihat setangkai mawar merah digenggam erat ibu, aku mengambil mawar itu, ada secarik kertas disana dengan tulisan nama, aku pikir itu dari ayah, tetapi nama yang tertulis disana bukan nama ibu.

Ayah baru menemui ibu esok harinya, ia membawakan bunga lagi untuk ibu, Tetapi kali ini ibu tak menerimanya. Aku mendekati ibu, aku diam menggenggam bunga, menabur mawar di atas pusaranya.

Cerpen Karangan: Rio Pamungkas
Facebook: Rio Fisabilillahh Pamungkas

Rio Pamungkas, lahir pada tanggal 11 April 1992 di ujung Sulawesi utara yaitu Manado dari pasangan Muryanto yang berprofesi sebagai TNI-AL dan Puri Sulistyarini. Rio merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dan semuanya laki-laki. Rio memulai pendidikan dasar di SD NEGERI TAMBAK AGUNG 2, kemudian ia melanjutkan di SMP NEGERI 1 MOJOANYAR, setelah itu melanjutkan di SMA NEGERI I KOTA MOJOKERTO. Sekarang menuntut ilmu di Universitas Ahmad Dahlan pada jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang juga alumni dari Pesantren Kyai Haji Ahmad Dahlan (PERSADA) ini juga mempunyai hobi menulis dan memasak. Kini tinggal di Semawung Daleman, Kutoarjo, Jawa Tengah. Email :sastra_muslim[-at-]yahoo.com, blog: rio-sipamungkas.blogspot.com, twitter :@Rio_fisAbil.

Cerpen Jangan Petik Mawar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kepedihan Hati

Oleh:
Rasa sakitku semakin hari kian bertambah, aku sudah tak kuat dengan siksaan ini. Aku sudah bosan melihatnya lagi. Rasanya aku ingin pindah sekolah, tapi tanggung aku sudah kelas 6,

Salju Di Jendela

Oleh:
Angin malam berhembus melalui jendela, menusuk bak ingin mencabik-cabik kulit dan membekukan tulang. Tak hujan, hanya senyap, serasa hanya diriku satu-satunya manusia di bumi ini. Dengan malas ku singkapkan

When I Die?

Oleh:
Enam tahun silam aku mengalami kejadian yang aku sendiri tak sanggup menceritakannya kepada orang lain, sekalipun orangtuaku sendiri. Dan aku tak bisa mengungkapkannya kepada siapapun karena trauma yang sangat

Masker

Oleh:
Aku kira lantai teras rumahku ada yang merubah warnanya, tapi ketika kuinjakkan kakiku di atasnya ada sesuatu yang halus yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku segera mencari sapu

Hay

Oleh:
“Hay”, kata inilah yang membuat perjalanan hidup seorang remaja seumuranku seakan lupa akan kehidupan nyata. Yapp, bagaimana tidak? seorang yang mengucapkannya adalah wanita pujaan di hidupku. Aku yang sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *