Jangan Tangisi Aku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 14 January 2016

Ia tak pernah tahu kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga setiap hari hanya tatapan penuh kebencian dan sikap dingin yang selalu ia terima dari orang yang sangat ia cintai. Air mata kepedihan dan rasa sakit yang menyesakkan dada hampir setiap hari ia rasakan. Ia selalu berusaha untuk tetap tegar dalam menghadapi semua hal yang bahkan ia sebenarnya tak mampu untuk melaluinya. Ia yakin apa yang ia harapkan pasti akan terwujud. Akankah gadis itu dapat melalui semuanya dan mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan?

Pagi itu, ku pandangi langit melalui jendela kamarku. Ku pandangi dunia luar, ku tatap langit yang memancarkan aura kesedihan dan sebentar lagi akan menangis. Langit seakan mengerti perasaanku, ia seperti mengetahui masalah yang sedang ku hadapi. Tempat ini merupakan saksi buta jika aku sayang mereka. Di sinilah aku selalu memandang kepergian dan menanti kepulangan mereka.

Namaku Anindya. Anindya Fauziah lebih tepatnya, sekarang aku duduk di bangku kelas 2 SMA, aku bersekolah di salah satu sekolah unggulan di kota kelahiranku. Aku dilahirkan di keluarga yang dapat dikatakan mampu. Ayah adalah seorang direktur utama sekaligus pemilik perusahaan semen di kotaku, sementara Bunda bekerja sebagai sekertaris Ayah. Aku juga mempunyai seorang Nenek yang sangat sayang kepadaku, Nenek juga tinggal bersama kami.

Mungkin orang-orang di sekitarku selalu berpikir kalau aku bahagia dengan semua ini, tinggal di rumah mewah dan dapat menikmati semua fasilitas yang ada di dalamnya. Tapi sebenarnya tidak, aku tidak bahagia dengan semua ini, karena kebahagiaanku yang sesungguhnya ada pada diri mereka, yaitu perlindungan, perhatian, dan kasih sayang dari kedua orangtua, hal inilah yang tidak pernah aku rasakan.

Jarum jam sekarang menunjukkan pukul 02.00 dini hari, aku terbangun dari mimpi yang sangat mengerikan. Aku segera beranjak dari tempat tidurku dan segera mengambil air wudu. Aku menunaikan salat tahajjud. Setelah menunaikan salat, aku mengambil mushaf Al-Qur’an untuk ku baca. Kegiatan ini rutin aku laksanakan setiap harinya guna untuk mendekatkan diri kepada Sang Ilahi. “Shodaqollohul’adzim.” kata terakhir yang ku ucapkan sambil menutup mushaf itu.

Ku langkahkan kakiku menuju meja yang berada di sudut kamarku, di sinilah aku biasanya menghabiskan waktuku untuk menunggu adzan subuh. Aku biasanya mengulang kembali materi-materi pelajaran yang telah ku peroleh dari sekolah atau hanya sekedar membaca buku-buku yang menyangkut ilmu kedokteran. Iya, impianku untuk menjadi seorang dokter sangat tinggi. Setelah lulus nanti aku sangat berharap bisa melanjutkan pendidikanku di Universitas ternama di luar kota, aku selalu membayangkan diriku mengenakan jas putih dengan stetoskop yang mengikat di leherku dan menyelamatkan jiwa banyak orang.

“Allahu akbar.. Allahu akbar…”

Suara adzan subuh berkumandang, menyadarkanku dari lamunanku. Aku segera beranjak dari tempat dudukku, dan segera mengambil air suci untuk menunaikan kewajibanku sebagai umat muslim. Dengan menggunakan mukena putih pemberian nenek, ku langkahkan kaki menuju tempat suara adzan itu berkumandang. Seusai menunaikan salat aku tidak langsung menuju istanaku, ku sempatkan diri untuk membantu Mbak Marwah yang merupakan tukang bersih-bersih di masjid ini. Mbak Marwah sangat baik kepadaku, aku sudah menganggap Mbak Marwah sebagai kakak, maklum aku ini anak tunggal yang sering ditinggal oleh orangtuaku yang sangat sibuk, tapi aku masih punya nenek dan Mbak Marwah yang bersedia menemaniku.

Ku pandangi bayangan diriku di dalam cermin, seragam kotak-kotak ungu yang merupakan seragam kebesaran sekolahku menambah beberapa tingkat derajat kecantikanku. Sekarang aku sudah siap untuk berangkat ke tempat yang hampir setiap harinya aku datangi guna menuntut ilmu, tempat itu pulalah yang nanti akan mengantarku untuk menggapai cita-citaku. Aku berlari sambil menuruni anak tangga demi anak tangga, di sana sudah terlihat ayah dan bunda sedang sarapan.

Ku hampiri mereka dan duduk tepat di hadapannya. Kutatap mata itu. Mata yang selama ini tak pernah mau menatapku. Mata yang penuh amarah dan penuh kebencian terhadapku. Sepertinya ia tidak senang dengan kehadiranku. Ia tidak pernah menganggap aku bagian dari mereka, dia adalah Ayah. Aku sangat berharap dapat merasakan perlindungan dan perhatian dari seorang ayah, tapi hanya sikap dinginlah yang aku dapatkan. Ku lirik jemari lembut itu, jemari yang bahkan tidak pernah mau menyentuhku.

Ku pandangi pemiliknya berharap ia akan menatapku dan memberiku sedikit perhatiannya, tapi tidak, tak sedikit pun ada di dalam dirinya rasa sayang kepadaku aku dapat merasakan jika ia juga membenciku. Dia adalah Bunda, sepertinya bunda sama seperti ayah yang tak pernah senang dengan kehadiranku. Belum sempat aku menyentuh sarapanku, ayah dan bunda sudah beranjak dari tempatnya. Ku tinggalkan tempatku sekarang menuju ke tempat di mana biasanya aku menatap kepergian dan menunggu kedatangan mereka, ya jendela kamarku. Inilah yang setiap hari aku lakukan.

“Ayah, Bunda seandainya saja aku bisa memeluk dan mencium tangan kalian maka akulah anak yang paling beruntung di dunia ini,” batinku. Tangan yang mulai keriput itu tapi penuh dengan kasih sayang membelai kepalaku dengan lembut, dia Nenek. Neneklah yang selama ini membesarkanku dan mengajarkanku bersabar dalam menghadapi sikap ayah dan bunda.

“Anindya cucu Nenek yang sabar yah, sebenarnya Ayah dan Bunda sangat sayang sama Anindya cuma mungkin mereka sekarang sibuk.” Inilah kata-kata yang sering nenek ucapkan ketika aku memandangi kepergian mereka. Nenek seakan mengerti perasaanku dan tahu apa yang aku inginkan.

“Tapi Nek, Anindya hanya ingin kasih sayang dari mereka, Anindya hanya ingin..” ucapan Anindya terputus karena nenek tiba-tiba menempelkan jari telunjuknya di bibir Anindya.
“Sstt… sudah, sarapan gih terus berangkat sekolah, nanti telat loh.”
“Iya, Nek.”

Dengan perasaan yang penuh dengan tanda tanya, ku habiskan sarapanku dan kemudian berpamitan kepada nenek.
“Nek, Anindya berangkat sekolah dulu yah,”
“Iya Nak, hati-hati di jalan. Belajar yang baik dan terakhir jangan lupa salat yah,”
“Siap Nek, assalamualaikum,” sambil mencium pipi nenek.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”

It’s time to begin the first lesson pertanda jam pertama akan dimulai. Tampak dari kejauhan seorang perempuan yang kira-kira berumur 40 tahun berjalan menuju ruangan persegi tempatku sekarang duduk, dia adalah Guru kimia di sekolahku. Hari ini jam pertama di kelasku adalah kimia. Pelajaran ini merupakan pelajaran yang paling aku senangi, walaupun terkadang banyak temanku yang mengatakan kalau ini sulit tapi menurutku tidak, ini semua tak sesulit hidupku.

“Assalamualaikum anak-anak,”
“Waalaikumsalam Bu…” jawab siswa-siswi bersemangat.
“Baiklah hari ini kita akan membahas materi terakhir di kelas sebelas, yaitu sistem koloid. Pada tahun 1907, Ostwald mengemukakan istilah fase terdispersi dan medium pendispersi. Sistem koloid terdiri atas fase terdispersi dengan ukuran tertentu dalam medium pendisperi…”

Seperti itulah kurang lebih penjelasan yang ibu guru berikan kepada kami mengenai materi hari ini. Semua siswa di kelasku menyimak materi ini dengan baik, tapi tidak dengan aku. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri, dengan tanda tanya besar yang sekarang memenuhi benakku. Bagaimana tidak, dengan usiaku yang sudah hampir 17 tahun aku tidak pernah sedikit pun mendapat kasih sayang dari kedua orangtuaku. “Apa sebenarnya salahku? Mengapa mereka begitu membenciku?”

“Baiklah anak-anak Ibu rasa pertemuan hari ini cukup, Ibu harap kalian belajar dengan baik dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi ulangan akhir semester yang akan kalian hadapi 2 minggu lagi.”

Teriknya matahari membuat keringat mengalir deras di wajahku. Ku tatap dari kejauhan gubuk tua itu, di sana tinggal sepasang suami istri dan seorang anaknya. Tampaknya mereka sangat bahagia, benar setiap kali aku lewat di sini sering kali aku mendengar bapak itu bercerita mengenai berbagai hal yang mampu membuat anak dan istrinya tertawa terbahak-bahak.

“Seandainya saja anak itu adalah aku, pasti aku akan sangat bersyukur dengan nikmat Tuhan yang satu ini. Aku ingin kasih sayang itu, perhatian itu, kapan hal itu ku miliki? Akankah aku merasakan kasih sayang dari kedua orangtuaku? Tuhan aku ingin seperti mereka yang bisa merasakan lembutnya kasih dan sayang dari seorang bunda dan hangatnya perlindungan dari seorang ayah. Akankah keluargaku bisa seperti keluarga mereka?” Batinku. Tak terasa cairan hangat itu mengalir di pipiku membayangkan perlakuan yang selama ini ku terima dari ayah dan bunda.

Ku tinggalkan tempat itu menggunakan motor menuju ke tempat selama ini aku dibesarkan tanpa kasih sayang dari ayah dan bunda. Selama perjalanan semua orang memberikan tatapan ah entah aku tak tahu, sekarang di pikiranku hanya bagaimana aku bisa sampai ke rumah dengan cepat. Bagaimana tidak aku baru saja mendapat kabar kalau nenek tak sadarkan diri. Dengan langkah tergesa-gesa ku masuki ruangan yang bernuansa cokelat muda itu, ku dapati sosok seorang wanita tua yang sedang terbaring lemah tak berdaya di atas lantai. Segera ku hubungi pihak rumah sakit. Tak lama kemudian ambulans pun tiba di rumah dan nenek segera dilarikan ke rumah sakit. Tapi sayang nyawa nenek tidak tertolong.

“Nek, bangun Nek. Kenapa Nenek ninggalin Anindya? Anindya sayang Nenek, Sekarang Anindya sendirian Nek,”
“Anindya nggak sendirian kok,” kata seorang wanita dari pintu ruangan itu.
“Mbak Marwah,” ucapku sembari mengusap air mata yang kini membanjiri wajahku.
“Iya, Anindya nggak sendirian masih ada Mbak Marwah,” ujar Mbak Marwah sambil berjalan ke arahku.
“Iya Mbak, tapi kenapa Nenek pergi begitu cepat?”
“Karena Allah sayang Nenek maka dari itu Nenek dipanggil sekarang, dan Allah tahu kalau Anindya adalah gadis yang kuat makanya Allah memberi ujian ini kepada Anindya.”
Aku hanya membalas ucapan Mbak Marwah dengan anggukan pertanda aku mengerti.

Seusai pemakaman nenek, aku, Mbak Marwah, ayah, dan bunda pulang ke rumah. Selama perjalanan ke luar dari pemakaman itu, ku pandangi punggung rapuh itu, di sana bisa ku lihat kesedihan yang teramat dalam karena kepergian nenek. Bunda pasti sangat terpukul dan sangat sedih dengan kejadian yang mendadak ini. Ingin rasanya aku memeluknya untuk sekedar membuatnya tenang tapi tidak, itu tak bisa aku lakukan karena untuk menyentuhku saja bunda tak mau bagaimana jika aku memeluknya bunda pasti akan marah, lagi pula aku tak ingin mengganggunya, bunda sekarang sedang sedih.

Kami pun menaiki kendaraan kami masing-masing, iya benar aku tidak pulang bersama mereka, ingin rasanya aku ikut pulang bersama mereka, tapi itu tidak mungkin mana mungkin mereka mau menerimaku untuk duduk di tengah-tengah mereka. Aku tak langsung pulang, aku dan Mbak Marwah melaksanakan salat Ashar di masjid dekat rumahku. Aku memohon kepada Sang Ilahi agar aku diberi kekuatan agar bisa melalui semua ini dan semoga nenek diberi tempat yang mulia di sisi-Nya.

10 Oktober 2015.
Tepatnya dua hari setelah kepergian nenek aku ulang tahun, ini ulang tahunku yang ke-17. Dulu sewaktu nenek masih hidup neneklah yang selalu merayakan ulang tahunku ini, tapi nenek sudah pergi berarti takkan ada lagi yang namanya tiup lilin bersama nenek. Kulihat dari balik jendela kamarku kendaraan beroda empat itu memasuki gerbang rumahku. Tak lama terdengar suara buuk itu suara pintu yang dibanting.

“Ini pasti karena anak itu! Kan dulu sudah aku katakan gugurkan saja kandunganmu,” kata pria itu.
“Iya Mas. Dulu sudah ku coba tapi hasilnya nihil, anak itu tetap saja ngotot lahir ke dunia,” balas wanita itu.
“Sekarang siapa coba yang akan mewarisi pekerjaan ini, yang akan melanjutkan semuanya, tidak ada kan? Ditambah lagi sekarang kau sudah tidak bisa untuk punya anak lagi.”

Dunia terasa runtuh di bawah kakiku. Ternyata aku hanyalah anak yang tak diinginkan oleh kedua orangtuaku, pantas saja selama ini mereka bersikap dingin terhadapku dan sangat membenciku serta tak pernah menganggapku bagian dari mereka. Aku hanyalah anak yang tak diinginkan. Tangisku pecah, hatiku hancur. Segera ku langkahkan kakiku untuk mengambil air suci, aku segera menghadap kepada Sang Ilahi agar hatiku bisa lebih tenang. Ku mohon kepada-Nya agar aku diberi kekuatan untuk menghadapi semua ini.

“Ya Allah apa salah hamba sehingga hamba harus menerima cobaan seberat ini? Berilah hamba kekuatan agar bisa melalui semuanya. Ya Allah, hanya kepadaMu-lah hamba memohon dan meminta pertolongan, walaupun ayah dan bunda tidak pernah menganggap Anindya ini bagian dari mereka tapi Anindya tetap sayang mereka, mereka adalah orangtua Anindya, berilah ketabahan kepadaku ya Allah. Aamiin.”

Ku ambil mushaf Al-Qur’an yang terletak di atas meja, ku baca ayat-ayat suci di dalamnya berharap hatiku dapat lebih tenang. “Shodaqollahuladzim.” ucapku sembari mencium dan menutup mushab itu. Sekarang aku sedikit lebih tenang. Ku rebahkan badanku di atas tempat tidur dan menatap kosong ke arah langit-langit kamar, sambil mengingat semua perlakuan ayah dan bunda selama ini ke aku. Tatapan itu, sikap dingin itu.

Padahal selama ini aku bermimpi agar suatu saat nanti aku bisa merasakan lembutnya belaian kasih seorang bunda dan hangatnya perlindungan dari seorang ayah, tapi semua itu tak akan pernah aku dapatkan, semua hanya mimpi yang tak akan mungkin menjadi nyata, bagaimana tidak aku hanyalah seorang anak yang kehadirannya tak pernah diinginkan oleh kedua orangtuaku. Tapi aku harus kuat nenek selalu mengajarkanku untuk bisa menjadi wanita yang kuat, wanita yang hebat dan selalu taat kepada-Nya. Aku tahu aku tak sendiri, Allah selalu bersamaku.

“Ya Allah inikah hadiah untukku ketika usiaku 17 tahun? Insya Allah aku akan belajar untuk kuat dalam menghadapinya. Aku tahu engkau tak akan menguji hambamu di luar batas kemampuan mereka.”

Bersambung

Cerpen Karangan: Diah Atifah Mahdiyah
Facebook: Cindyana Turut

Cerpen Jangan Tangisi Aku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rahasia Logam

Oleh:
Ini untuk pertama kalinya aku berulang tahun di negeri orang. Tidak ada teman, saudara, atau tetangga sebelah rumah yang bisa kuajak merayakannya. Ah, tapi tak apa-apa. Aku masih punya

Payung Merah

Oleh:
Pertengahan bulan November ini, bulan yang akan selalu aku banggakan karena aku sering bersamamu walau kau sendiri tidak tahu aku selalu ada untukmu. Awan yang melintas berwarna kelabu suram.

Remedial

Oleh:
Malam minggu sehabis ujian mungkin bagi para remaja adalah hari yang paling menyenangkan tapi bukan bagi ku atau mungkin siswa sekolah ku (kemungkinan ya). Aku bukan sibuk karena apapun

Papa, Aku Ingin Seperti Dahulu

Oleh:
Jam telah menunjukkan jarumnya tepat di angka 03.00 pagi, seperti biasa aku tidak pernah bisa untuk tidur lebih cepat. Entah mengapa mata ini malas sekali untuk terpejam. Sudah kubiasakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *