Jangan Tangisi Aku (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 14 January 2016

Satu tahun kemudian.

Teriknya matahari membuat peluh membasahi sekujur tubuhku, tapi hal itu tidak membuat semangatku berkurang aku tetap bersemangat untuk mengerjakan pekerjaan yang selama setahun ini aku lakoni. Semenjak kejadian itu aku tak lagi tinggal di istana megah itu dan tak lagi menikmati fasilitas yang ada di dalamnya. Ku putuskan untuk meninggalkan istana itu, karena aku berpikir untuk apa aku berada di tengah-tengah mereka jika kehadiranku ini tak pernah diinginkan.

Tapi jangan salah walaupun begitu mereka masih tetap orangtua yang aku sayangi. Sekarang aku tinggal bersama Mbak Marwah di sebuah bangunan kecil yang berada di dekat masjid, setiap hari aku dan Mbak Marwah bekerja untuk membersihkan masjid, selain bersih-bersih di masjid aku dan Mbak Marwah berjualan gado-gado.

Semenjak kepergian nenek dan meninggalkan istana megah itu sekolahku terputus karena aku tak punya biaya untuk melanjutkan pendidikanku. Selama ini aku sekolah dibiayai oleh nenek. Impianku untuk mengenakan jas putih dengan stetoskop yang mengikat di leherku dan menyelamatkan jiwa banyak orang itu ku buang jauh-jauh, karena semua itu tak akan pernah terjadi, sekarang di pikiranku hanya bagaimana aku bisa menghasilkan uang untuk makan dan sedikit mencoba menabung siapa tahu bisa berguna ke depannya.

BRUKK!!
Suara keras itu mengagetkanku. Aku segera berlari ke sumber suara yang seketika langsung ramai dipenuhi orang, ternyata di sana telah terjadi kecelakaan. Ku pandangi kendaraan beroda empat itu yang telah hancur di bagian depan, ku lihat plat kendaraan itu DD 2703 ED, aku seperti mengenalnya.
“Ayaaaaaahhhh!! Bundaaaaaa!!!” teriakku sambil meneteskan air mata.

Seketika semua orang memandangiku dengan tatapan iba. Mereka segera membawa ayah dan bunda ke rumah sakit. Di rumah sakit mereka segera ditangani oleh dokter. Sambil menunggu ayah dan bunda ditangani oleh dokter aku tak henti-hentinya berdoa memohon kepada Sang Ilahi agar ayah dan bunda dapat selamat. Setelah beberapa lama tampak seorang pria yang mengenakan jas putih ke luar dari ruangan itu kemudian menghampiriku.

“Adik keluarga Bapak Surya dan Ibu Diana?”
“Iya dok, bagaimana keadaan Ayah dan Bunda?”
“Kami telah berusaha semampu kami tapi maaf kami tidak bisa menyelamatkan nyawa Pak Surya,” sambil menatapku dengan iba.
“Bagaimana dengan Bunda?” Tanyaku dengan suara bergetar.

“Alhamdulillah Bunda kamu dapat tertolong, tapiii…”
“Tapi kenapa Dok?” ucapku sedikit berteriak.
“Tapi Bunda kamu sekarang tidak bisa melihat,”
“Maksud dokter Bunda buta?”
“Iya, baiklah kamu yang sabar ya, saya tinggal dulu.”

Ku langkahkan kakiku menuju ruangan itu, ku pandangi sosok pria yang telah terbaring terbujur kaku di atas tempat tidur rumah sakit, ku hampiri pria itu ku dekatkan tanganku ke pemilik tubuh itu, sekujur tubuhnya telah dingin. “Ayah.” batinku, cairan hangat itu kembali mengalir di pipiku, ini kali pertama aku berada sedekat ini dengan ayah, duduk di sampingnya dan dapat memeluknya.

“Ayah walaupun selama ini ayah tidak pernah peduli dengan Anindya tapi ayah tetap ayah Anindya, ayah yang selalu Anindya sayang. Kenapa Ayah pergi sebelum Anindya merasakan hangatnya pelukan dan perlindungan dari Ayah? Aku sayang Ayah sekarang Anindya memeluk Ayah, hal ini adalah impian Anindya sejak dulu. Ayah bangun Ayah balas pelukan Anindya, Ayah jangan pergi,” ucapku di tengah isakan tangisku.

Ku tinggalkan ruangan itu menuju ke ruangan di mana bunda dirawat. Ku pandangi bunda yang sedang terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan alat-alat rumah sakit yang menempel banyak di tubuhnya. Seketika air mataku menetes, bagaimana tidak bunda orang yang teramat aku sayang sekarang terbaring lemah di hadapanku dengan alat-alat pembantu di tubuhnya sedang berjuang melawan masa kritisnya, aku tidak tega melihatnya. Selama ini memang bunda bersikap dingin terhadapku tapi aku yakin dia juga menyayangiku.

“Bunda yang kuat ya, Anindya yakin Bunda bisa melewati semua ini.”

Ku tinggalkan bunda. Ku langkahkan kaki menyusuri koridor rumah sakit yang ramai oleh pasien dengan berbagai macam jenis penyakit menuju ke masjid yang terletak di samping rumah sakit ini. Segera ku ambil air wudu dan kemudian melaksanakan salat maghrib di masjid itu. Setelah melaksanakan salat aku memohon kepada Allah agar bunda diberi keselamatan, dan dapat segera ke luar dari masa kritisnya, aku juga memohon agar Allah memberi tempat yang mulia untuk ayah di sisi-Nya. Seusai menunaikan kewajibanku aku segera kembali ke tempat di mana bunda dirawat.

Hari ini adalah hari pemakaman ayah. Ayah dimakamkan di tempat pemakaman Islam di kotaku, makam ayah terletak tepat di samping makam nenek. Bunda tidak ikut dalam pemakaman ayah karena bunda sampai sekarang masih tak sadarkan diri akibat kecelakaan tersebut, bahkan sampai sekarang bunda belum mengetahui kalau ayah telah tiada. Setelah mengirimkan surah Al-Fatihah untuk ayah satu persatu orang yang tadi memakamkan ayah meninggalkan pemakaman itu, tak terkecuali Mbak Marwah tadi dia mengajakku untuk pulang tapi aku bilang aku masih ingin bersama ayah. Sekarang hanya aku sendiri di pemakaman itu.

Ku pandangi sekelilngku semua terlihat putih, tak lama kemudian terlihat sosok pria muncul dari balik cahaya terang itu. “Ayah..” ucapku. Pria itu kemudian tersenyum kepadaku dan membuka tangannya pertanda ingin memelukku, aku ragu, “Apakah benar ini Ayah? Apakah benar Ayah ingin memelukku?” Pria itu kemudian mengangguk seakan mengetahui apa yang sedang ada di dalam pikiranku. Ku langkahkan kakiku dengan ragu mendekati sosok itu dan kemudian menenggelamkan tubuhku ke dalam pelukannya. “Akhirnya aku bisa merasakan hangatnya pelukan Ayah yang membuatku merasa aman,” kataku dalam hati.

“Dek, bangun sebentar lagi akan hujan, nanti Adik kehujanan loh,” ucap seorang laki-laki tua sambil menepuk-nepuk pundakku.
“Hmm… Eh iya Kang makasih,”
“Ternyata ini semua hanya mimpi. Aku tertidur di samping makam Ayah. Walaupun tadi hanya mimpi setidaknya aku dapat merasakan hangatnya berada dalam pelukan Ayah, Anindya janji akan menjaga Bunda,” ucapku sembari mencium nisan ayah.

Terdengar suara teriakan histeris dari dalam ruangan itu, aku sangat mengenal pemilik suara itu, dia adalah bunda. Ku buka pintu ruangan itu ku dapati bunda sedang menangis di atas tempat tidur sambil menyebut-nyebut nama ayah. Sepertinya sekarang bunda sudah tahu kalau ayah telah tiada, aku tahu bunda pasti sangat terpukul dengan kenyataan ini ditambah lagi sekarang bunda tidak dapat melihat aku bisa merasakan kesedihan yang sedang dirasakan bunda. Ingin rasanya aku memeluk wanita yang berada di hadapanku ini dan dapat menenangkannya tapi aku takut nanti dia marah karena kehadiranku di dekatnya.

Semenjak kepergian ayah aku kembali tinggal di istana megah itu, tapi bukan sebagai Anindya Fauziah anak ayah dan bunda melainkan sebagai Nindy yang akan merawat Ibu Diana. Ku tuntun Ibu Diana memasuki istana megah itu, ternyata tempat ini tidak berubah masih seperti setahun yang lalu. Ku tuntun Bu Diana memasuki kamarnya, ini kali pertama aku memasuki kamar ayah dan bunda, pernah aku bermimpi untuk bisa tidur di kamar ini bersama ayah dan bunda, tapi sepertinya itu tidak mungkin.

Ku langkahkan kaki menaiki anak tangga menuju ruangan yang cukup besar di dalam istana megah ini, di sinilah sebagian waktuku ku habiskan, ruangan inilah yang selama belasan tahun menjadi saksi jika aku kesepian, aku butuh kasih sayang mereka dan ruangan ini pulalah yang tahu kalau aku sayang mereka. Ku pandangi sekelilingku, tak ada yang berubah, jendela itu, meja yang berada di sudut ruangan dan tempat tidur itu semua masih seperti setahun yang lalu.

Dan sepertinya semenjak aku tidak tinggal di sini tak ada lagi yang pernah memasuki ruangan ini semua tampak jelas karena ruangan ini berdebu dan tak ada benda yang bergeser dari tempatnya, semua seperti satu tahun yang lalu. Ku langkahkan kakiku menuju tempat di mana biasanya aku memandangi kepergian dan menanti kepulangan mereka, tempat yang selama belasan tahun menjadi saksi jika hatiku menjerit menahan kepedihan ini dan tempat inilah yang mengetahui seberapa banyak air mata yang telah aku keluarkan.

“Ayah, Bunda sebegitu tidak pedulinyakah kalian terhadapku? Sebenci itukah kalian dengan kehadiranku? Sehingga ketika aku tidak tinggal lagi bersama kalian di rumah ini kalian tidak pernah mencari tahu tentang keberadaanku bahkan kalian tak pernah peduli dengan keadaanku. Ayah, Bunda aku sayang kalian,” ucapku sembari menggambar sosok seorang pria dan wanita serta seorang anak gadis yang berada di antara mereka di atas kaca jendela yang berdebu, dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir di pipiku.

Sebulan sudah aku menjadi perawat Ibu Diana, tapi aku tak pernah sekali pun berbicara dengannya, karena selama ini Ibu Diana hanya diam memikirkan semuanya mungkin Ibu Diana belum bisa menerima kepergian suami tercintanya. Sehingga akhirnya ku beranikan diri untuk membuka percakapan dengan Ibu Diana.

“Bu?”
“Iya ada apa?”
“Ibu tahu siapa saya?”
“Iya, kamu kan orang yang ditugaskan untuk merewat saya, emang kenapa?”
“E.. e.. enggak kok.”
Ya Allah bunda bahkan tak mengenali suaraku. Tanpa ku sadari air mataku kembali menetes. Tapi aku tak boleh cengeng aku harus kuat, seharusnya aku bersyukur karena bisa berada sedekat ini dengan bunda dan bisa merawatnya.

“Kamu kenapa?”
“Aku teringat dengan seseorang Bu,”
“Siapa dia?”
“Diaa .. diaa Ibuku,” ucapku dengan suara bergetar.
“Kenapa dengan Ibumu?”
“Dia cantik seperti Ibu,” kataku sambil meneteskan air mata.
“Dulu Ibu juga punya anak, kira-kira usianya seperti kamu. Tapi sekarang Ibu tidak tahu dia ada di mana,”
“Ibu sayang dia?”

Ibu Diana hanya terdiam, entah apa yang sedang ia pikirkan. “Bunda seandainya engkau tahu Ibu yang aku maksud itu adalah Bunda, dan seandainya Bunda juga tahu kalau anak itu ada di hadapan Bunda sekarang. Anak itu aku Bunda, ingin rasanya aku menceritakan yang sebenarnya tapi aku takut Bunda menyuruhku pergi, aku tidak mau jauh-jauh lagi dari Bunda, Anindya sayang sama Bunda.”

Tak sadar ternyata aku memeluk wanita yang berada di depanku ini dan aku tak menyangka dia balas memelukku, baru kali ini aku merasakan ketenangan yang sesungguhnya aku merasa nyaman berada di dalam pelukannya. “Akhirnya aku bisa merasakan hangatnya pelukan Bunda, Bunda walaupun engkau tak mengenalku sebagai anakmu tapi aku sangat bersyukur bisa memelukmu dan berada sedekat ini denganmu,” batinku.

Ku lepaskan pelukan itu, ku pandangi wajah wanita itu dia sangat mirip denganku, air mataku pun kembali menetes tapi kali ini bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan karena aku bisa merasakan pelukan bunda. Ku lihat cairan merah mengalir dari hidung bunda dan seketika bunda langsung tak sadarkan diri. Segera aku menghubungi pihak rumah sakit, selang beberapa lama ambulans pun tiba di depan rumah. Bunda segera dilarikan ke rumah sakit.

Ku pandangi bunda dari balik kaca ruang ICU dan berharap agar bunda dapat terselamatkan. Tak beberapa lama dokter pun ke luar dan memberitahuku kalau ibu ternyata mengidap penyakit jantung bocor, sontak aku kaget mendengar perkataan dokter. Sekarang aku tak tahu harus berbuat apa, bunda harus segera mendapat donor jantung agar bisa terselamatkan, aku hanya bisa memohon kepada Allah semoga dokter dapat segera menemukan pendonor untuk bunda agar nyawa bunda bisa tertolong.

Ternyata operasi Ibu Diana berhasil, sekarang dia memiliki jantung yang sehat berkat pertolongan seseorang yang ikhlas mendonorkan jantungnya demi menyelamatkan Ibu Diana, tidak hanya itu Ibu Diana sekarang juga sudah bisa melihat berkat pertolongan orang yang rela kehilangan matanya demi Ibu Diana. Seorang wanita yang kira-kira berumur 20 tahun memasuki ruangan tempat dimana Ibu Diana dirawat, wanita itu memeberikan selembar kertas pink kepada Ibu Diana. Ibu Diana tampak heran karena ia sama sekali tidak mengenal wanita ini, diambilnya kertas itu dari wanita tersebut rupanya sebuah surat, Ibu Diana membuka dan langsung membacanya.

“Dear Bunda, Bunda ini aku Anindya Fauziah anak Ayah dan Bunda. Anindya tahu kalau Ayah dan Bunda tidak pernah menginginkan Anindya untuk ada di dunia ini, Anindya tahu kalau Ayah dan Bunda sangat membenci Anindya, maafin Anindya yah Bun. Bunda Anindya ingin bercerita sedikit tentang cita-cita Anindya. Dulu Anindya sangat ingin untuk menjadi seorang dokter yang dapat menyelamatkan jiwa banyak orang, dan sekarang Anindya telah berhasil mencapai cita-cita itu Bun karena Anindya sudah bisa merawat dan menjaga Bunda selama ini.”

“Bunda ingat nggak? Bunda waktu itu pernah bercakap dengan seorang gadis yang mengatakan kalau Bunda cantik seperti Ibunya, sebenarnya itu aku Bun, tapi aku takut mengatakan yang sebenarnya, aku takut Bunda akan marah kepadaku. Mungkin ketika Bunda membaca surat ini Anindya sudah tidak ada lagi di dunia ini, Anindya tak lagi menghirup udara yang sama dengan Bunda, tapi Anindya akan selalu berdetak di dalam tubuh Bunda. Karena tak ada hal yang lebih indah selain berdetak di dalam tubuh Bunda dan melihat indahnya ciptaan-Nya bersama Bunda. Anindya sayang Bunda. Love You Bunda. Salam hangat putrimu, Anindya Fauziah.”

Air mata membasahi pipi Ibu Diana, dia tak menyangka anak yang selama ini sangat dibencinya rela mengorbankan nyawanya hanya untuk seorang wanita yang tak pernah menganggapnya ada. Sekarang Ibu Diana hanya bisa menangis dan menyesal mengapa ia dulu melakukan hal itu, padahal jelas-jelas anak itu tak salah apa-apa, seharusnya dia menerima kehadiran gadis yang berhati mulia itu dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.

“Begitu berat penderitaan yang selama ini engkau jalani Nak, seharusnya kau tak merasakan semua itu. Maafkan Bunda Nak ini semua salah Ayah dan Bunda, Bunda juga sayang sama Anindya.”

Cerpen Karangan: Diah Atifah Mahdiyah
Facebook: Cindyana Turut

Cerpen Jangan Tangisi Aku (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lantunan Sendu Melodi Biolaku

Oleh:
Mungkin aku memang tak sempurna. Sedari kecil tak ada yang mau menerima kekuranaganku. Tak terkecuali orangtuaku sendiri. Bahkan nama indah yang kupunya bukan pemberian mereka. Namaku Angelica Melodi. Nama

Perjuangan Ayahku

Oleh:
Perjuangan seorang ayah baru disadari Abeng sejak dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Saat itu dirinya baru menjelang melihat pergulatan ayahnya mencari penghidupan sebagai Pegawai Negeri. Sementara temannya

Ayah, Ibu, Nenek

Oleh:
Aku melangkah ke kelas dengan wajah sedih, aku tidak mau bertatapan dengan siapapun sekarang. Nek Afi, nenekku yang merawatku sejak Ibu dan Ayah pergi ke italia dan meninggalkannya sendirian

Kesabaran Dan Perjuangan Putri

Oleh:
Pada sore itu Putri bermain dengan teman temannya di perkampungan yang ia tempati selama bertahun tahun itu. Banyak orang menyebutnya dengan Desa Pusi. Ia bersyukur bisa bertempat tinggal di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Jangan Tangisi Aku (Part 2)”

  1. kitaka says:

    kakak keren banget.ceritanya bikin nangis banget….. SEMANGAT KAK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *